
Alberth membawa Pedro telah kehilangan kesadarannya. Marelin dibawa oleh Samuel dan Miller ke Beverly. Sementara Carlos, Fernando dan Tommy diawasi oleh anggota Liu di kediaman Carlos tidak jauh dari Bell Air.
Pedro mengalami koma, tentu dalam pengawasan Alberth dan Edward.
"Tulang rusuknya patah Tuan!" Alberth memberi tahu pada Edward melalui telfon. "Sedang dilakukan tindakan operasi!" Jelasnya lagi.
"Ya! Beri yang terbaik! Kabari jika ada perkembangan!" Tegas Edward menutup telfonnya.
Veni tak bisa berucap mendengar kabar bahwa Stela melakukan hal segila ini.
"Aku akan bawa Stela ke Netherland Dri! Takutnya dia trauma dan depresi disini!" Ucap Veni membawa Adrian keluar dari kamar Dedrick dan Stela.
"Apa perlu kita panggil dokter Vin?" Tanya Veni tampak bingung.
"Ntar dulu Ven! Aku takut Stela masih masih shook!" Jawab Kevin.
Dedrick keluar dari kamar, menyusul Adrian dan Kevin. "Dad! Maaf, aku tak menyangka Stela melakukannya!" Jelas Dedrick tertunduk.
"Hmm! Lain kali kamu tidak usah mengikuti keinginannya Boy! Harus bisa memilah!" Jelas Adrian.
"Ya! Wanita itu berbeda! Nggak semua kita harus ceritakan!" Jelas Kevin lagi menatap nanar Dedrick.
Dedrick memeluk Veni, "Aku tak menyangka Stela tau senjata Daddy Adrian, Mi!" Isaknya masih shook.
"Stela mengetahui apapun tentang aku, Boy! Dia sering aku ajarkan menembak saat usianya 13 sampai 14 tahun! Dia sangat manja, tapi pemberani!" Kenang Adrian.
"Kalau nggak gue tahan, mati ditempat anak Carlos!" Kekeh Kevin sambil menikmati secangkir kopi hidangan Veni untuk mereka.
"Assalamu'alaikum!" Suara Fene terdengar oleh Adrian.
"Sayang! Kenapa kalian disini? Ada apa?" Tanya Fene penasaran.
"Hmm! Stela! Eeehm!" Adrian menarik nafas dalam.
"Kenapa? Stela kenapa?" Tatapan Fene penuh tanda tanya.
"Stela menghujamkan senjataku pada Pedro!" Jelas Adrian tenang.
"What? Kenapa Stela ada disana? Bukannya tadi kalian izin akan ke Beverly! Jujur sama saya!" Kesal Fene menatap Dedrick yang tak jauh dari mereka.
"Dari kemaren kami mendengar omongan kalian diruang kerja Grandpa, Mi!" Jujur Dedrick.
"Ya Allah! Aaagh! Grrrrh! Kamu ceroboh! Kalau ikutkan hati, udah saya bunuh Pedro tanpa kalian!" Geram Fene berlalu menuju kamar Dedrick mencari Stela.
Cekreek, Fene membuka hendel pintu kamar Dedrick.
"Mami!" Teriak Stela saat melihat Fene memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Oogh dear! Kamu kenapa?" Peluk Fene memeluk Stela dengan erat.
"Maafin aku, Mi! Aku telah membunuh bajingan itu! Aku berdosa Mi! Mami aku takut!" Tangisnya pecah dipelukan Fene.
"Tenang sayang! Kamu tenang! Jika terjadi sesuatu, Mami akan akan membela kamu!" Pujuk Fene.
"Aku takut Mi! Aku akan dipenjara! Tapi dia membunuh Grandpa! Dia harus mati! Dia membunuh Grandpa, Mi! Dia mengakui, dia pikir itu aku! Dia bilang sama Daddy! Aku dengar semua! Aku akan mencekik lehernya jika dia tidak mati!" Isaknya.
"Uuups! Jangan bicara seperti itu! Kita akan menyelesaikan semua." Pujuk Fene.
"Dedrick mana Mi?" Tanya Stela manja dibahu Fene.
"Biar dia diluar, Mami lagi kesel! Selalu ngikutin kemauan kamu!" Geram Fene.
"Dia mencintai aku! Aku mendengar semua pembicaraan Daddy kemaren sore! Aku yang mengajaknya! Aku yang harus kalian marahkan, bukan dia! Aku tau, Daddy sengaja menutupi semua dari kami! Aku akan membalas perbuatan Pedro. Wait and see! I'm promise. Aku takkan pernah melupakan semua ini! Aku akan menerima cintanya!" Geram Stela semakin meracau membuat Fene semakin berang.
"Dengar Stel! Jangan kamu nodai pernikahanmu! Setidaknya dengan kejadian ini, kalian harus lebih bijak memilah semua kejadian! Mereka akan mendapat karmanya." Geram Fene pada keputusan Stela.
"Tapi dia membunuh Mi! Nyawa harus bayar nyawa!" Jawabnya asal.
"Listen! Mami akan membawa kamu ke Jakarta jika kamu seperti ini!" Ancam Fene.
"Aaagh! No! Aku mau disini! Aku mau setiap hari mengunjungi Grandpa. Pasti Grandpa sedih, hari ini aku tidak melihatnya. Aku rindu Grandpa, Mi!" Isaknya semakin menjadi.
"Hmmm! Kamu udah makan? Kita makan yah? Daddy Miller sepertinya sudah pulang!" Jelas Fene.
Fene menatap Marelin dengan penuh amarah, langsung menghampirinya.
Kevin dan Edward menatap arah mata Fene, "ogh no, Dad!" bisik Kevin pada Edward.
PLAAAK, tamparan Fene mendarat di wajah cantik Marelin, seketika Fene meremas geram wajahnya, "sudah ku katakan, jangan pernah mengganggu keluarga ku, bich!" Sarkas Fene.
"Oogh, shiit!" Kevin dan Miller meringis.
"Oogh my God, Dri!" Veni mendekati Adrian.
"Aaugh!" Marelin mengerang.
"Fen!" Adrian melepaskan tangan Fene dari wajah Marelin.
"Aku tidak tau Pedro telah berbuat seperti ini Nyonya! Aku hanya kasihan padanya!" Jawab Marelin jujur.
PLAAK, Fene tersulut emosi mendengar kata-kata kasihan, "Kau sudah sangat kami kasihani, jangan sok jagoan kamu! Membantu seorang pembunuh! Kau akan ku seret ke penjara!" Sarkas Fene.
"Nyonya! Maafkan aku! Aku sama sekali tidak tau! Pedro datang padakku! Aku membantu karena kemanusiaan! Aku mohon Nyonya! Aku tidak akan mengganggu siapapun di keluarga anda! Kasihani aku, Nyonya! Aku sudah sangat sakit kehilangan Brian saat ini!" Isaknya berlutut dihadapan Fene.
"Uuups! Berdirilah! Jangan seperti ini! Bersihkan dirimu! Kita akan bicarakan semua!" Ucap Veni menenangkan Marelin tengah meratap.
__ADS_1
Fene berlalu dengan wajah kesal, membawa Stela yang masih berdiri dibelakangnya.
Kevin, Edward, Miller dan Samuel menelan saliva menyaksikan amarah istri Adrian Moreno Lim.
Veni meminta pelayan menemani Marelin ke kamar tamu.
Dedrick dan Stela menunduk takut menatap mata Fene.
"Dengar buat kalian berdua! Aku kecewa! Aku tak pernah membayangkan kalian melakukan ini. Kalian segera meninggalkan La, agar tidak terjadi sesuatu hal! Carlos tidak akan tinggal diam. Apalagi Uncle Tommy! Mami Marisa terancam dikeluarga mereka! Apa kalian pernah berfikir sampai kesana? Haaah? Kalian terlalu berani! Mami nggak suka! Siapa yang nggak sedih dengan kepergian Grandpa! Percuma kita minta semua bekerja! Jika kita masih mengotori tangan kita!" Fene benar-benar meluapkan emosinya pada Stela dan Dedrick. "Jika Grandma tau semua ini! Mami yang akan disesalkan! Kalian ceroboh! Mau jadi penjahat! Haah!" Tambah Fene.
Stela menunduk semakin menangis, mengingat kejadian hari ini.
"Uups, Fen! Udah!" Bisik Veni menarik tangan Fene membawa keruang kerja mereka. Veni tau, Fene sangat kesal. Masih berkabung kondisi semakin rumit.
Fene menangis sejadi-jadinya. "Gue strees Ven! Nggak nyangka bakal begini! Oogh, Ya Allah! Mimpi apa gue kemaren! Pengen mati aja gue!" Tangis Fene benar-benar pecah.
"Sabar Fen!" Bisik Veni mengusap lembut bahu yang bergetar.
Tok tok tok,
"Ya!" Veni menatap arah pintu.
"Bisa gue nemanin Fene?" Tanya Adrian.
"Oogh! Ya udah! Lo aja disini! Gue keluar." Veni berlalu keluar.
Adrian mendekati Fene yang masih menangis. "Sayang!" Senyum Adrian membuka tangannya untuk Fene.
"Aku nggak kuat Dri!" Fene memeluk erat Adrian.
"Hmm! Ada aku! Jangan limpahkan kekesalanmu pada mereka, Marelin hanya membantu! Dia sudah sangat menderita Fen! Begitu juga Stela, masih belum bisa nerima kenyataan. Kalau kamu begini, semua hancur sayang! Kamu biasa menjadi wanita tegar, berfikir jernih! Kuat! Kenapa kamu jadi kasar? Aku ingin kamu tenang! Kita semua sedih Fen, kehilangan Papi! Sangat terpukul, apalagi tau pelakunya! Tapi kita akan menyerahkan semua pada Loyer. Kondisi Pedro kritis! Tulang rusuk patah, 4 peluru menembus tubuhnya. Aku yakin dia akan pulih! Kita bisa melanjutkan prosesnya." Jelas Adrian menenangkan Fene.
"Tapi aku sudah membuat Stela dan Dedrick takut Dri!" Isaknya mendekap erat tubuh Adrian.
"Calm down oke baby! Semua akan ada jalan keluar Fen! Kita tunggu kabar Pedro yah!" Pujuk Adrian.
Fene mengangguk.
Adrian mengecup kening istrinya. "Aku suruh anak-anak kesini yah! Carlos tidak akan berani mengganggu kita! Apalagi Uncle Tommy! Semua akan membaik jika Pedro kita selamatkan. Mereka sudah menanda tangani berkasnya." Senyum Adrian mengecup lembut bibir Fene. "I love you! Cup."
Fene tersenyum, "I love you too!"
"Kita ngobrol baik-baik sama Marelin, setelah kamu selesai sama Dedrick dan Stela." Pujuk Adrian.
"Kamu disini aja! Aku gemes ama putrimu! Pengen nonjok! Biar pingsan!" Rengek Fene.
Adrian terkekeh, "Stela ternyata sama sepertimu! Iya, aku temanin!" Kecup Adrian, berlalu memanggil Dedrick dan Stela.
__ADS_1
____Jangan lupa Like and Vote____