See Eye Stela

See Eye Stela
Beg dear.


__ADS_3

Setelah beberapa hari berlalu, Stela dan Dedrick menghabiskan waktu di Beverly atas permintaan Fene dan Adrian. Pihak terkait menyarankan agar Stela tetap di Los Angeles hingga Pedro siuman dari koma. Tentu dikawal oleh pengawal Parker, Mr.Kenny. Pria kulit putih keturunan Austria, memiliki tubuh kekar berotot besi, yang telah berpuluh-puluh tahun mengabdikan diri di Keluarga Parker.


Miller dan Veni menemani anak menantunya, tanpa merubah sikapnya agar Stela tetap nyaman. Mereka menutup rapat kondisi Pedro, tapi Stela tidak tinggal diam. Dia mencari kabar melalui Lois dan Lusi. Mereka yang mendengar tindakan Stela mendukung penuh jika Pedro langsung mati ditempat. Agar tau apa yang akan mereka lakukan setelah ini.


Stela tengah melakukan persiapan memulai hoby barunya sebagai pemain golf propesional. Dedrick sangat senang melihat keceriaan Stela yang mulai membaik semenjak kepergian Grandpa Hanz.


"Hubby! Help me please!" Stela berbalik, meminta Dedrick memasangkan resleting rok mininya.


"Hmm!" Dedrick melakukan sesuai permintaan istri, mengusap lembut paha mulus dihadapannya.


"Aaagh! Jangan goda aku hubby!" Stela membalikkan tubuhnya menatap Dedrick tengah duduk dipinggir ranjang.


"Kamu selalu menggairahkan aku! Nggak usah golf deh! Golf sama aku aja!" Goda Dedrick mendudukkan Stela di pangkuannya.


"Aagh! Aku udah janji sama Chay-in dan Lusi sayang! Lois dan Dovi juga ikut! Kamu jangan pasang wajah begitu dong! Aku jadi mau!" Rengeknya manja.


"Hmmhhfh!" Dedrick mencium lembut bibir Stela yang sangat menggoda imannya pagi ini.


"Aaagh! Hubby!" Stela menangkup pipi Dedrick, menatap manja mata suami tercintanya. "I love you!" Ucap Stela lembut.


Dedrick tak bisa menahan hasratnya, mengeksplor dengan mudah tubuh istrinya, membawa kembali keranjang mereka.


"Dedrick!" Stela tertawa manja menikmati cumbuan Dedrick saat menaikkan baju kaos ketat yang digunakan Stela. Terlihat mainan Dedrick sangat padat dan mempesona tertutup bra. Perlahan Dedrick membuka pengaitnya memainkan bagian empuk itu dengan penuh gairah.


"Hmm! Huufgh!" Stela meliukkan tubuhnya menikmati sentuhan Dedrick.


"Aku suka banget sama punya kamu wife! Sangat seger!" Dedrick terus bermain disana hingga berpindah dibagian paha. Stela mengeluarkan suara kecil membuat Dedrick melakukan lebih.


"Hhhuugh! Hmmh!" Nafas Stela makin tak beraturan. "Hubby! I want now!" Bisik Stela.


"Beg dear!" Ucap Dedrick yang masih asik bermain di belahan paha Stela.


"Please hubby!" Mohonnya.


Dedrick tak menghiraukan, masih menikmati sarapan paginya disana.


"Ooogh! Aaaagh!" Stela menegang, merasa akan ada sesuatu yang semakin menggila. "Hubby!" Stela menarik kepala Dedrick untuk melakukan manuver segera.

__ADS_1


Blees, "huuufgh!" Penyatuan cinta mereka sangat indah. Dedrick melakukan dengan sempurna, hingga mereka mencapai keindahan secara bersamaan.


Nafas keduanya masih terengah, menikmati keindahan cinta. Dedrick menciumi bibir Stela, menginginkan lagi. "Huuufgh! I never feel satisfied with your body dear! I love you so much!" Dedrick melakukan lagi membuat Stela benar-benar menggila melupakan janji golf bersama adik, sepupu dan sahabatnya.


Adrian dan Fene sudah berada dikediaman Miller dan Veni pagi itu, untuk melihat kondisi putrinya. Rumah yang indah dan nyaman, membuat kedua besan itu lebih akrab sarapan bersama.


"Dedrick mana Ven?" Tanya Miller pada Veni.


"Mereka mau golf! Masih dikamar. Daddy panggil aja! Mereka belum sarapan." Jelas Veni pada Miller.


Miller berlalu menuju kamar Dedrick yang tak tertutup rapat, kembali menyaksikan adegan mesum putranya. "Grrrgh! Kebiasaan tidak menutup pintu! Ck!" Miller menutup pintu pelan berlalu keruang makan.


Veni tersenyum menatap Miller kembali menikmati kopinya.


"Mereka sudah siap sayang?" Tanya Veni menatap Fene dan Adrian.


Miller menghela nafas dalam, "sedang manuver!" Ucap Miller dingin.


Fene menatap Adrian meringis geli, "Kok tau Mill?" Tanya Fene penasaran.


"Kebiasaan mereka nggak tutup pintu! Kadang nggak ngunci pintu! Sudah beberapa kali terlihat! Ven, kamu bilang dong ke Dedrick! Kebiasaan dan berbahaya!" Tegas Miller sedikit kesal.


"Nanti gue yang bicara! Gue juga pernah dapetin mereka nggak tutup pintu. Di Bell Air ada Chay-in! Kadang ada Jasmine," Kenang Adrian.


"Kok bisa gitu yah Fen! Ngidam apa kita dulu!" Kenang Veni.


"Gue saat hamil Stela, emang sering maunya makan ke restoran lo mulu! Ampe gue deposit untuk besok dan besoknya. Saat gue lahiran, restoran lo masih ada hutang beberapa makanan yang belum mereka antar! Makanya Adrian bilang lo ada hutang ama kita!" Kekeh Fene menatap Adrian.


Adrian menaikkan alisnya satu, membenarkan ucapan Fene.


Veni dan Miller tertawa mendengar cerita Fene, "Pantes anak kita jodoh! Rupanya lo emang suka sama keluarga gue dari dulu!" Kekeh Veni menggoda Fene.


"Iiighs!" Fene mendengus kesal.


40 menit kemudian Dedrick menggandeng tangan Stela menuju ruang makan, sudah ada orang tua mereka.


"Morning Mom!" Kecup Dedrick pada Veni dan Fene bergantian.

__ADS_1


"Morning Boy! Duduk, kita sarapan." Veni membuka kursi untuk Dedrick dan Stela.


Adrian dan Miller tersenyum, mengangkat alis mereka menggelengkan kepala.


"Dad! Ferrari bawa kesini! Aku rindu Grandpa!" Rengek Stela pada Adrian.


"Jika sudah selesai, Ferrari akan Daddy kirim kesini. Oke dear!" Senyum Adrian menatap mesra Stela.


Stela hanya memoleskan roti dihadapannya dengan malas, Dedrick lebih memilih menyuapkan Stela tanpa malu dihadapan kedua orang tua. Baginya Stela sangat special dan harus dimanja. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya untuk seorang Dedrick Visser.


Adrian menghela nafas dalam, "Hmm! Dedrick, bisakah kalau kalian dikamar pintu dikunci, ditutup rapat! Agar tidak terlihat oleh siapapun!" Senyum Adrian pada Dedrick dan Stela.


Dedrick menatap Stela, belum menyadari kecerobohannya. "Aku biasa sendiri dirumah Dad! Jadi terkadang lupa, saat ada Mami atau Daddy dirumah! Sorry!" Senyumnya tersipu malu.


"Tapi kebiasaan! Jakarta, Bell Air, disini! Semua! Atau jangan-jangan di Hawaaii kalian tidak menutup pintu?" Kejut Veni membayangkan yang mengerikan.


"Iigh! Mami suka horor deh." Kekeh Dedrick.


"Bukan horor boy! Hati-hati! Kamu harus menjaga Stela! Wajib!" Pesan Veni di angguki setuju oleh Fene.


"Iya!" Jawab Dedrick. "Kamu mau lagi sayang?" Tanya Dedrick mengusap lembut bibir Stela dengan jarinya membuat para orang tua iri.


"Hmm!" Fene menunduk malu menatap Adrian. "Kenapa anak kita jadi gini Dri?" Bisik Fene pada Adrian.


"Kamu banget! Manja!" Kekeh Adrian.


"Apa seeh Mi! Dedrick emang suka manjain aku, makanya aku nggak bisa jauh dari dia! Dia buat badan aku makin berisi!" Kekehnya tanpa malu.


Veni menatap Miller hanya tersenyum geleng-geleng kepala. "Kalian main dimana?" Tanya Veni mengalihkan pembicaraan mereka.


"Deket sini aja! Dad, helder nggak ikut yah! Dedrick kan ada nemanin aku!" Rengek Stela.


"No way! Daddy mau tenang dear! Dia melakukan yang terbaik. Jangan melawan!" Tegas Adrian.


"Iighs! Egois!" Rungut Stela memilih berlalu.


Miller menatap menantunya menggunakan busana golf yang serba mini, hanya mengusap pelan wajahnya. "Kenapa putri kamu sangat menggairahkan Dri!" Senyum tipis Miller berbisik ke Adrian.

__ADS_1


"Ya! Dia sangat sempurna! Putramu beruntung mendapatkannya! Semoga mereka selalu begitu, saling membutuhkan." Jawab Adrian, menatap kemesraan anak menantunya.***


__ADS_2