
Fene masih terlelap saat Adrian memasuki kamar. Adrian membuka horden, kembali keranjang mecium punggung Fene dengan lembut.
"Eehm! Dri, I love you!" Ucap Fene dengan mata masih tertutup.
"I love you too Fen!" Balas Adrian ketelinga Fene.
Fene masih mendengkur, Adrian tersenyum tipis. Mencari kabar Kevin sahabat terbaiknya dalam segala hal, tapi diurungkan karena Fene kembali menggeliat.
Adrian mengusap lembut punggung Fene, "Sayang, wake up! Sarapan dulu dear! Nanti dingin!" Kecup Adrian lagi dan lagi di punggung Fene.
"Hmm! Untuk berbalik aja aku nggak kuat Dri!" Rengek Fene kembali terdengar manja oleh Adrian.
Adrian membalikkan tubuh Fene, dia kembali mendesah. "Fen! Stop! Kamu makan dulu! Nanti kita lanjut lagi yah!" Jelas Adrian. "Bangsat, berapa banyak Carlos ngeracunin bini gue!" Adrian menggeram kesal dalam hati.
Fene menduduki perut Adrian. Adrian spechles menelan salivanya menatap tubuh mulus istrinya begitu sexy menggairahkan.
"Ehm! Kamu sarapan dulu, aku suapin!" Pujuk Adrian.
"No! Aku nggak mau makan! Aku mau kamu, sampai sore! Aku menginginkan mu hingga aku benar-benar lelah." Ucap Fene mencuri bibir Adrian lebih dulu dengan lembut.
"Eeghm! Huufgh! Fen!" Adrian mengumpulkan tenaganya agar fokus pada Fene.
Adrian melakukan yang terbaik untuk istrinya, Fene kembali memohon Adrian agar melakukan manuver hingga pelepasannya. Cukup lama Fene bermain ditubuh Adrian, memegang kontrol melampiaskan semua perasaannya, sangat liar dan gila. Adrian yang awalnya menikmati sangat kewalahan karna kondisi tubuh yang berbeda. Adrian melakukannya dengan normal, sementara Fene masih dalam pengaruh benda haram itu. Fene terus mengerang meminta.
Saat pertempuran terakhir Adrian benar-benar membuat Fene semakin menegang, "I'm sorry Dri, but I love you!" Nafas Fene terengah, menatap langit kamar yang indah. Adrian menatap Fene dengan wajah lelah dan bahagia.
"I love you too Fen!" Adrian mendudukkan Fene agar menerima asupan makanan.
Fene mengikuti semua perkataan Adrian, menerima suapan dari sahabat terkasihnya, cintanya, suaminya, belahan jiwanya, musuh bebuyutannya. "Lo ngapa masih peduli sama gue?" Wajah Fene cerah setelah perut tipisnya merasa kenyang dengan perhatian Adrian memperlakukannya sangat baik.
"Setidaknya gue datang tepat waktu! Dibanding lo digenjot Carlos! Mending gue!" Ucap Adrian membuat Fene tersenyum tipis.
"Tapi gue nikmatin kok ciuman sama dia!" Fene sengaja manasin Adrian.
Adrian memang tersulut emosi, "sekarang lo mandi! Nanti kita bahas! Atau gue yang mandiin lo! Lo nggak lihat tu hasil karya Carlos dileher lo! Lo pikir gue bisa maafin lo! Lo perempuan Fen! Istri gue! Carlos urusan gue! Lo nggak tau siapa dia? Lo mau main-main sama dia? atau lo emang mau sama dia? Haaah?" Kesal Adrian terdengar egois di telinga Fene.
"Lo bisa selingkuhin gue! Gue juga bisa dong! Dia memperlakukan gue dengan baik kok!" Bela Fene pada perbuatannya.
__ADS_1
Adrian menggeram, "lo mandi!" Adrian menggendong tubuh Fene agar nggak ngelantur kemana-mana. Kali ini Adrian harus berbesar hati, apapun yang dilontarkan Fene saat ini.
Setelah memandikan istrinya, bahkan Adrian juga ikut mandi juga atas permintaan Fene yang menggila meminta lagi dan lagi pada Adrian. Adrian merasa dikerjain oleh Fene.
"Kita keluar kamar yah?" Pujuk Adrian lembut.
"Nggak! Gue mau disini sama lo! Lo pergi gue hubungi Carlos!" Ancam Fene membuat Adrian semakin kesal.
"Lo kenapa begini? Nggak kasihan sama Stela? Brian! Tadi aku denger Brian dipanggil Daddy! Please Fen. Dewasalah!" Mohon Adrian kembali melunak.
"Lo yang buat begini Adrian! Lo hancurin hati gue! Lo bener-bener ngilang dari gue! Tanpa peduli gue! Seminggu lo kemana? Mesum lagi lo sama Camille yang jelek, miskin itu? Haaah?" Fene benar-benar menantang Adrian.
"Gue di Swiss Fen! Gue ngurusin hotel! Gue nggak ada kontak sama dia, sama Kevin sama siapapun! Gue kerja, merenung! Stela yang hubungi gue, lo sakit! Makanya gue balik! Gue balik lo malah begini! Mau lo apa sekarang? Lo nggak mau sama gue? Lo mau sama Carlos yang kembaran Fernando yang ingin merebut lo dari gue karena Brian mengambil Marelin dari dia! Gue capek ribut! Please! Gue ngaku gue salah! Tapi bukan begini lo balas ke gue! Gue pengen Fene yang dulu! Manja! Butuh gue dimana pun, kapan pun!" Jelas Adrian dengan nada sedikit lembut.
Tapi Fene malah tertidur pulas mendengar Adrian mencurahkan isi hatinya. "Mati gue! Kalau dia bangun, dia bakal nyerang lagi ni! Mending gue makan dulu, minum obat kuat Daddy!" Kekehnya membatin.
"Carlos anjing! Udah cupangin bini gue, ngeracunin! Gue kewalahan!" Bisik Adrian, berlalu keluar kamar.
"Adrian!" Katty melihat Adrian sedikit lemes. "Fene gimana?" Tanya Katty khawatir. Stela menatap Adrian masih sinis.
"Di kamar, molor lagi!" Jelas Adrian.
Katty yang mendengar penjelasan Adrian tersenyum tipis, ingin tertawa tapi tak mampu. Melihat kelakuan anak menantunya sangat lucu. "Kamu makan yang banyak! Nanti minum vitamin Daddy!" Jelas Katty.
"Iya Mi! Setidaknya aku butuh doping kali ini! Carlos kurang ajar!" Bisik Adrian dapat di dengar oleh Katty dan Dedrick.
Dedrick mendengar pembicaraan dewasa lebih sedikit menguping, untuk memberikan kepuasan juga pada Stela. "Emang Momy diapain sama Carlos, Dad?" Tanya Dedrick ingin tahu.
"Ck! Susah di ungkapkan." Ucap Adrian.
Katty tersenyum, "Momy di beri obat terlarang untuk menaikkan gairahnya! Kira-kira dua butir Dri! Kamu harus lebih all out! Agar tidak remuk!" Jelas Katty pada Dedrick menatap Adrian.
"Hmm! Obat perangsang gitu yah Grandma?" Tanya Dedrick penasaran.
"Bukan, hmm! Forget that! Yang penting tidak baik!" Jelas Katty mengusap lembut punggung Dedrick.
"Hmm!" Dedrick menaikkan kedua alisnya. "Berapa lama pengaruhnya Mom?" Tanya Dedrick.
__ADS_1
"Lebih kurang sampai Fene benar-benar istirahat. Biar Daddy yang menanganinya!" Goda Katty.
Adrian menatap Katty dengan tatapan iba. "Please stop Mom. Oya, Alberth dimana Mom?" Tanya Adrian.
"Ada di luar, dia juga mencarimu!" Jelas Katty.
"Mom! Tolong perhatiin Fene, jika dia terjaga panggil aku!" Adrian berlari kearah Alberth.
Alberth sedang melatih anjing kesayangan Edward untuk menjadi anjing handal menangani lawan. Setidaknya helder sungguhan Edward lebih patuh.
"Alberth! Dimana kediaman Carlos? Dimana Fene menemukannya?" Tanya Adrian penasaran.
"Bukannya dia teman sekolah anda Tuan?" Tanya Alberth meyakinkan.
"Iya, dia kembaran Fernando, rupanya keponakan Uncle Tommy!" Jelas Adrian.
"Ya, saya tau Tuan! Dia menjemput Nyonya, membawa ke kediamannya. Mereka makan bersama, Carlos memberikan bunga indah dikamarnya, Saya mengikuti mereka, memantau dari kejauhan. Dia mencumbu Nyonya, memberikan beberapa obat untuk menghabiskan waktu bersama. Saya juga heran kenapa Nyonya mau menerima itu. Saya minta bantuan pembelot dari mereka membuka akses masuk. Saat saya masuk, Nyonya sudah Setengah telanjang Tuan! Carlos sudah mengikat Nyonya. Saya menghajar Carlos tepat diwajahnya, Nyonya marah sama saya! Saya kasih bius dulu! Biar Nyonya tidak bernafsu saat perjalanan bersama saya. Pengawal mereka beberapa orang mengejar saya. Saya antar Nyonya! Saya bereskan mereka. Saat ini mereka meminta Fernando menyandra salah satu dari kita Tuan!" Jelas Alberth panjang lebar.
"Kamu melihat Nyonya? Tubuh Nyonya?" Kerut Adrian berlipat.
"Iya Tuan! Maaf! Nyonya sangat menikmatinya! Saya khawatir!" Jelas Alberth menunduk.
"Oogh! Benar-benar diluar kendali saya." Bisik Adrian.
"Adrian! Adriaaaan!" Teriak Katty.
"Ya Mi!" Adrian berlari menuju kamar melihat Fene menghancurkan seluruh barang dikamar miliknya. "Ya Allah Fen! Fene! Please stop!" Adrian berusaha memeluk tubuh Fene, tapi Fene terus meronta. "Fen! Fen! Please! Tenang sayang aku disini." Ucap Adrian. "Call dokter! Now!" Perintah Adrian.
Edward segera menghubungi dokter pribadinya. Menggeram, menahan amarahnya.
"Alberth, bawa Carlos hidup-hidup ke rumah ku! Aku tunggu paling lambat malam ini, bawa dia ke basemen bawah!" Perintah Edward.
"Baik Tuan!" Albert berlalu.
Suasana makin kalud. Adrian panik menatap Fene semakin menggila. Stela dan Dedrick tak berani mendekat, apalagi Brian.
Brian segera menghubungi Jasmine, setidaknya anak-anak harus mengetahui kondisi Fene dan Adrian saat ini.***
__ADS_1