
Dedrick membawa Stela atas izin Hanz Parker dan Fene. Pasangan muda penuh gairah, semangat masih power full, tidak memikirkan hal lain atas pernikahan mereka yang terlalu cepat. Marcedez Benz-AMG GT R sebagai hadiah pernikahan untuk Stela yang telah bersedia menikah dengannya, sangat romantis.
Dedrick membawa Stela pulang kekediamannya menghabiskan waktu bersama di Beverly. Stela berkali-kali mereguk kenikmatan bersama Dedrick Visser. "You great wife!" Bisik Dedrick pada telinga Stela, telapak tangan Dedrick masih berada diatas dada Stela sangat pas ditangan Dedrick dan menggemaskan saat dicumbu.
Stela tersenyum, "you to hubby, I love you so much!" ucap Stela dengan nafas belum beraturan.
Mereka masuk kepikiran masing-masing setelah memberikan kepuasan luar biasa, tanpa menghiraukan keluarga. Darah muda masih menggelora antara Dedrick dan Stela.
Dedrick sangat pandai memanjakan istrinya, menemani Stela menghabiskan waktu dikolam renang miliknya, sesekali mencumbunya didasar kolam.
"Aaagh! Kamu tu suka banget buat aku jadi pengen!" Tawa Stela terdengar manja, karena Dedrick terus menggodanya.
"Kamu sangat sexy wife!" bisik Dedrick, saat menggendong tubuh Stela keluar dari kolam, meletakkan istrinya dikursi santai pingir kolam, saling mencumbu disana.
Pelayan tersenyum melihat anak majikan, membuat mereka salah tingkah.
Pengawal memberi tahu jika Adrian Moreno Lim sudah ada dikediaman mereka.
"Mana mereka?" Sarkas Adrian.
Pelayan menunjuk ke arah kolam, Adrian seketika murka melihat anak gadisnya dicumbu walau itu suami putrinya sendiri.
"Anjing!" bisik Adrian menggeram. Adrian menghampiri kedua pasangan bahagia itu.
BHUUK..
"Daddy!" teriak Stela terlonjak kaget.
Adrian menghajar Dedrick tanpa ampun, "kau pengkhianat, sama seperti ibumu!" Sarkas Adrian menggeram.
Adrian menarik paksa tangan Stela, agar segera meninggalkan Beverly.
"Daddy! No! Dedrick suami ku!" Teriak Stela.
Adrian menggendong tubuh putrinya yang berontak seperti karung beras.
"Jangan kau dekati putriku! Bangsat!" Sarkas Adrian meninggalkan Dedrick terluka lebih parah dari Vegas.
"Dedrick! Dedrick! Dedrick! Please!" Teriak Stela melihat suaminya hanya duduk menahan sakitnya di gebukin mertua sendiri.
__ADS_1
Pelayan segera membantu Dedrick, "Tuan Muda! Mari aku bawa ke dalam!" Pelayan memapah Dedrick dengan wajah babak belur.
"Apa kita menghubungi Tuan Miller, Tuan?" Tanya pengawal.
Dedrick melarang untuk menghubungi Miller, "no, biar saya urus masalah ini!" tegas Dedrick.
"Tapi anda terluka Tuan, istri anda bagaimana?" Tanya pelayan.
"Saya yang salah!" Ucap Dedrick menahan rasa sakit. "Tinggalkan saya sendiri! Jangan ganggu saya." Dedrick merasakan rahang dan gigi hampir rontok kenak pukulan mertuanya.
Dedrick menghubungi Dovi dan Lois, untuk membawanya ke Bel Air membuat perhitungan. "Shiiit! Dasar mertua menyebalkan!" geramnya membatin.
Disituasi yang berbeda, Stela menangis sejadi-jadinya disamping Adrian. "Daddy, dia suamiku dad! Kenapa daddy begitu kejam padanya! Aku mencintainya. Aku nggak mau lihat daddy lagi! Daddy kejam." Stela terus memukul Adrian yang tidak memperdulikannya.
Mobil memasuki parkiran Bel Air kediaman Hanz Parker.
"Panggil pelayan! Bawakan baju Nona!" Perintah Adrian.
Hanz mendengar teriakan Stela berlari keluar, "oh my God!" Hanz melihat cucunya berterlanjang dibawa oleh Adrian. Hanz berlari kearah Stela yang masih histeris.
"Tenang sayang! Tenang! Grandpa disini! Semua akan baik-baik saja." Hanz memeluk tubuh Stela yang menangis meratapi kisah cintanya. Hanz menatap sinis pada Adrian, "aku akan bicara padamu diruangan! SEKARANG!" tatapan mata Hanz membuat Adrian tertunduk takut. Hanz memberikan Stela agar ditangani pelayan.
PLAAK..
Fene tak bisa menahan emosi, Stela tambah shook melihat Fene menampar Adrian didepannya. Fene menatap Stela, "honey! Aaagh!" Geram Fene menunggu pelayan terlalu lama memberikan pakaian pada putrinya.
"Ini nyonya!" tunduk pelayan sedikit takut.
"Urus Stela! Saya mau mengurus Tuan!" Perintah Fene pada pelayan.
"Baik nyonya!" Pelayan memapah tubuh Stela
Fene berlalu mengejar Adrian keruangan Hanz, ternyata Hanz lebih sadis menghajar Adrian.
"Papi!" teriak Fene.
"Kau ayah tak punya hati! Aku yang memberi izin, aku yang mengundangnya! Bangsat! Kau nggak lebih dari orang tua yang egois Adrian! Apa kau pernah mengurus Stela? Hah? Jawab aku?" Mata Hanz menatap Fene, "Tinggalkan kami berdua! Hubungi Dedrick untuk datang kesini! Aku mengundangnya!" Sarkas Hanz sangat emosi.
"Pi! Please, Adrian suami ku!" Isak Fene memohon.
__ADS_1
"Suami? Mengurus anak nggak becus! Suami seperti apa kau! Stela sudah memilih! Itu pilihan hidupnya Tuan Adrian. Takdirnya! Kau mau merubah takdir putrimu? Haaah? Jawab aku! Atau ku pecahkan kepalamu!" Murka Hanz.
Irene mendengar keributan, menghampiri suaminya. "Ooh my God! Hanz! Adrian menantumu!" Irene memapah Adrian yang sudah terluka. "Bisakah kita bicarakan baik-baik!" kesal Irene pada Hanz.
"Jangan tanya aku! Tanya menantu bodoh mu ini!" kesal Hanz berlalu keluar kamar menuju kamar Stela.
"Pi!" isak Fene mengejar Hanz.
"Aku kecewa sama kalian! Kalau kalian tak siap kenapa kalian nikahkan? Bodoh!" Sarkas Hanz di wajah Fene kemudian berlalu meninggalkan Fene dipintu ruangan mereka ribut.
Fene menangis sejadi-jadinya dipintu, canda tawa tadi malam berubah seketika menjadi horoh karena Adrian membaca media beberapa waktu lalu. Kepulangannya tidak memberi kabar pada Fene. Adrian langsung menuju Beverly Hills tanpa peduli perasaan Stela putri kesayangan. Fene meninggalkan Adrian dirawat Irene, Stela dirawat Hanz, Fene pergi ke Beverly Hills untuk mengobati Dedrick yang terluka, tanpa pengawal dan sopir pribadi.
Fene melajukan kecepatan menuju Beverly Hills, "ck! Kenapa Adrian begitu kejam sama Dedrick?" Bisiknya.
Fene memarkirkan mobil didepan rumah mewah milik Keluarga Van Visser. "Hmm!" Fene menghela nafas dalam, melepas kaca matanya, agar lebih menikmati summer.
Pengawal mendekati Fene, "siang nyonya! Apakah anda Keluarga Lim?" tanya pengawal menunduk hormat.
"Ya! Sampaikan pada Dedrick saya diluar!" Perintah Fene.
"Baik nyonya." Pengawal meninggalkan Fene tengah menikmati suasan di Beverly.
"Hmm! Sangat nyaman! Pantas Stela betah!" Batinnya.
Pelayan menghampiri Fene, "Nyonya, silahkan! Tuan Muda ada didalam, tidak bisa keluar!" ucap pelayan.
"Ya!" Fene bergegas kedalam menemui Dedrick. Mata Fene menatap menantunya memar dibagian mata dan pelipis tertutup plaster. "Oogh boy! You oke dear?" sentuh Fene pada wajah Dedrick.
"Hmm! Bagaimana istriku nyonya? Apa dia baik-baik saja?" wajah Dedrick tampak khawatir dengan keadaan Stela.
"Ya!" ucap Fene membendung air mata.
"Mari sini nyonya, kita ngobrol diruangan kerja ku saja! Dovi dan Lois akan kesini! Aku tidak mau mereka tau permasalahanku." Dedrick membawa Fene masuk keruangannya. "Duduklah nyonya!" Dedrick mempersilahkan Fene duduk disofa.
"Maafkan suamiku boy!" ucap Fene.
"Ya! Aku yang salah Nyonya! Apakah begini cara kalian menyelesaikan masalah? Aku kecewa! Sangat kecewa Nyonya!" Tangis Dedrick pecah mengenang Stela. "Apa aku salah terlalu cepat mencintai putrimu? Aaagh God!" Kesalnya.
"Tenanglah boy! Aku kesini untuk menemani mu!" Fene mendekap tubuh tegap menantunya.
__ADS_1
Dedrick menangis sejadi-jadinya dibahu Fene. "Aku ingin mati saja! Sangat sakit memperjuangkan cinta ku, karena aku harus melawan mertua ku, nyonya!" Isaknya.***