See Eye Stela

See Eye Stela
Ketakutan.


__ADS_3

"Uups! Jangan ngomong mati boy! Stela sangat mencintaimu! Kita pulang kerumah mami yah? Kita selesaikan baik-baik! Aku ada bersama mu!" Fene mengusap lembut punggung Dedrick masih menangis terlalu dalam.


Dedrick merasa hidup ini tak adil, dia memang putra Miller Van Visser seorang pengusaha sukses dibidang kuliner dan mafia kelas kakap, Adrian dan Kevin sangat mengetahui sepak terjang Miller.


"Aku takut nyonya! Aku takut akan diperlakukan kasar oleh Adrian!" Isaknya masih terdengar.


"Hei! Ada aku! Aku akan membelamu! Kamu menantuku! Aku memahami cinta kalian." Pujuk Fene. "Look at me!" Fene menangkup pipi Dedrick, "Adrian suamiku sangat mencintai aku, dia terlalu menyayangi Stela karena dia mirip dengan ku." Fene menatap mata Dedrick meyakinkan.


"Aku takut daddy akan memarahi ku nyonya! Karena dia telah yakin aku tak mampu menahan semua ini nyonya!" Ucap Dedrick menatap Fene.


"Listen, Veni dan aku sama-sama menyayangi kalian! Mereka seperti itu karena mereka tidak mengerti akan hati mu! Tenanglah! Semua akan baik-baik saja. Ayo kita pulang! Aku akan menyelesaikan demi kalian. Kalian anak ku." Fene meyakinkan Dedrick.


"Suami mu mengatakan momy ku pengkhianat! Sama sepertiku nyonya!" Cerita Dedrick.


'Shiiit! Adrian masih dendam!' Batin Fene menggeram.


"Listen! Adrian dan mami mu pernah punya story yang buruk, karena pengkhianatan! Kamu tidak mengkhianati kami, kamu berhak bahagia bersama putriku! Aku akan menghubungi Edward Lincoln, beliau mengenal Miller lebih dekat, almarhum suami ku sahabat Miller. Saat pemakaman suamiku Bram, Miller datang, tapi aku tak begitu mengenal daddymu." Jelas Fene.


"Daddy pernah bercerita pada ku, dia mengagumi wanita Parker, aku tidak begitu ingat siapa namanya! Dia mencintai janda sahabatnya, tapi Lim lebih dulu menikahinya. Apa itu kau nyonya?" Cerita Dedrick polos.


"Hmm! Aku tidak ingat! Masa itu, masa tersulitku sayang!" Jawab Fene lembut. "Kita pulang sekarang, sebelum Adrian membawa Stela." Tegas Fene tak ingin mengenang masa lalu.


Dedrick mengikuti langkah Fene menarik tangannya. "Nyonya! Bisakah kau ceritakan sedikit tentang mu?" tanya Dedrick mengikuti langkah Fene.


"Why?" tanya Fene berbalik kearah Dedrick menatap tajam mata Dedrick.


"Karena, begitu banyak pria kaya yang mencintaimu dalam diam termasuk Papi Lois sahabatku." Jelasnya.


"Ck! Samuel Hu sahabat Adrian! Dia hanya salah mencintai, buktinya dia bahagia bersama Maria!" Jelas Fene menarik tangan Dedrick kembali.


"Iya! Siapa anda? Kenapa Adrian sangat menjaga anda? Apakah anda wanita hebat?" tanya Dedrick penasaran.


Langkah Fene terhenti, "dengar, Adrian dan aku sahabat lama! Kami saling membantu dan mengagumi. Itu masa lalu!" Fene mendengus kesal.


"Aku akan mencari datamu, jika kau tidak mau bercerita pada ku!" Senyum Dedrick meledek Fene.

__ADS_1


"Diam, atau aku akan menambah memarmu!" Sarkas Fene geram.


"Oogh! Oke!" Dedrick masuk ke mobil Fene.


Fene membawa Dedrick ke Bel Air, 'aku tidak mau menjadi orang tua yang jahat untuk putriku! Aku akan menentang Adrian!' Batinnya.


"Ck! Aku akan melawan mertua ku! Agar bisa membawa Stela istriku." batin Dedrick geram.


Mobil Fene terparkir dihalaman rumah Hanz Parker. Fene membukakan pintu Dedrick agar turun ikut bersamanya.


Fene masuk ke rumah, suasana sangat sepi mencekam. Fene menggandeng tangan Dedrick menuju kamar Stela. Saat pintu kamar Stela dibuka, Fene melihat Stela sedang tertidur ditutupi selimut agar tetap hangat, Dedrick langsung mendekati istrinya.


"Wife!" Kecup Dedrick pada kepala Stela, menghusap lembut. Dedrick menangis sejadi-jadinya melihat istrinya.


Fene mendekat, "istrirahatlah! Nanti pelayan akan membawakan makanan dan cemilan untuk kalian. Saya tinggal yah!" Usap lembut Fene pada punggung Dedrick, kemudian berlalu.


"Momy!" Panggil Dedrick pada Fene.


Langkah Fene terhenti.


"Bisakah aku memelukmu lagi?" Dedrick sudah berdiri dibelakang Fene.


"Terimakasih mi! Aku sangat mencintai mu dan putrimu. Kau begitu baik, pantas banyak pria menginginkanmu! Sekali lagi terimakasih!" Ucapan Dedrick membuat Fene menaikkan alisnya sebelah.


"Hmm!" Senyum Fene mengusap punggung Dedrick. "Istirahatlah! Kalian sangat lelah! Aku juga mencintaimu sebagai menantu. Kita akan bertemu keluarga besar beberapa hari lagi. Stelah itu, bawalah Stela! Jangan disini." Ucap Fene tegas.


Dedrick melepas pelukannya, "apa aku sedang terancam?" tanya Dedrick melepaskan pelukannya.


"Jangan fikirkan, kami menyayangi mu!" Fene berlalu meninggalkan kamar Stela. 'Setidaknya membawa Dedrick kembali kepelukan Stela akan mengobati lukanya karena shook hari ini.' Batin Fene.


Fene menutup pintu kamar Stela, menuju kamarnya berpapasan dengan Irene. "Mi? Adrian dimana?" tanya Fene lembut.


"Adrian dikamar, bicaralah! Aku sangat menyayangi kalian!" ucap Irene berlalu dengan wajah sedih.


"Mi!" panggil Fene.

__ADS_1


"Ya!" Irene menghentikan langkahnya.


"Dedrick ada dikamar Stela, mereka sedang istirahat. Jangan lupa antarkan makanan untuk mereka." Ucap Fene tanpa berbalik.


Irene menarik lengan Fene kemudian memeluk tubuh putrinya. "Terimakasih yah sayang! Stela sempat melempar semua barang-barangnya dikamar. Papi menenangkannya hingga dia tertidur. Dia ingin mati Fen!" Ucap Irene memeluk erat tubuh Fene.


"Hal yang sama dikatakan Dedrick pada ku! Aku tak sanggup kehilangan anak ku selamanya mi!" Fene merenggangkan pelukannya, menyeka wajah berlalu menuju kamar.


Irene tersenyum, mengusap lembut wajah Fene.


Fene membuka pelan pintu kamarnya, melihat Adrian berdiri dihadapan jendela tanpa berbalik padanya.


Fene tak menyapa Adrian, bagi mereka kali ini Adrian sangat keterlaluan memperlakukan putrinya. Sebagai istri Fene hanya mendekat menanyakan Adrian sebagai basa basi.


"Lo udah makan?" Tanya Fene sedikit ketus, karena sudah jarang dia menggunakan kata 'LO' pada Adrian, kecuali ngambek atau bersama Kevin.


"Belum! Gue nunggu lo!" Jawab Adrian dingin.


Fene meraih intercom meminta pelayan mengantarkan makanan kekamarnya dan Stela.


"Kenapa lo bawa pengkhianat itu kerumah kita?" Tanya Adrian tanpa menoleh.


"Ooh! Lo ngelihat? Siapa pengkhianat Adrian?" Kesal Fene.


"Anak itu telah melanggar janjinya pada ku! Wajar aku melakukan itu padanya." ucap Adrian tanpa melihat.


"Adrian! Dia punya hasrat! Kenapa dia menikahi putrimu, itu karena dia serius menjaganya! Tidak sepertimu, meniduri wanita, setelah itu lo tinggal! You remember?" Tatap Fene kearah Adrian dengan tatapan tajam.


"Apa? Gue ninggalin lo? Saat itu lo yang pergi ke Bram! Bukan ke gue, Fen!" bela Adrian pada dirinya.


"Oogh! Lo nelfon Veni depan gue! Lo bilang masih menginginkan dia saat di Shanghai! Terus lo bawa dia ke Paris, lo tinggalin gue sama Bram di Netherland, tanpa sedikit pun lo ngehargai perasaan gue! Apa seperti itu yang memegang janji dan komitmen Tuan Adrian. Lo ngecewain gue! Lo juga ngecewain Veni! Pantas lo dikhianati, karena ternyata lo pria paling egois selama ini!" Ucapan Fene membuat Adrian geram. "Siapa pengkhianat diantara kita sebenarnya Adrian! Gue, Veni atau lo!" tambah Fene.


"Tapi usiamu udah cukup Fen, saat itu 24 tahun kita melakukannya." Adrian masih membela diri.


"Hei Tuan! Aku dan Bram beberapa kali ingin menghabiskan waktu bersama! Tapi lo lebih dulu masuk dikehidupan gue! Lo lupa kondisi gue kayak apa?" jelas Fene.

__ADS_1


Adrian mendekati Fene dengan wajah sangat dingin dan geram. "Lo tau, saat itu lo mencintai gue, Fen! Lo berkali-kali bilang lo cinta sama gue!" Geram Adrian.


"Kenapa lo nggak perjuangin gue! Malah Bram datang dan lo pergi ke pelukan Veni! Apa lo lupa Adrian!" Tatapan mata Fene tak kala mengerikan pada Adrian. "Berapa banyak wanita diluar sana melakukan dibawah usia Stela tanpa ikatan pernikahan, jangan buat anak gue trauma karena masa lalu dan rasa cinta lo terlalu berlebihan sama gue, hingga mengorbankan anak kita. Lo akan berhadapan sama gue, Tuan Adrian." Sarkas Fene membuat Adrian makin mendekap Fene, memperlakukan Fene dengan kasar. "Dri! Adrian! Adrian!" Berontak Fene saat Adrian membawanya keranjang.***


__ADS_2