
Fene menikmati segelas juice kesukaannya di salah satu tempat kecantikan. Seperti biasa dia akan menghabiskan waktu merawat tubuhnya selama di Jakarta tentu membawa Chay-in ke klinik dekat apartemen mereka.
"Nyonya, perawatannya pakai rempah-rempah? Biar Tuan Lim semakin ehem sama Nyonya!" Kekeh pelayan saat membalurkan scrub ke tubuh mulus Fene.
"Boleh! Yang penting biar Lim nggak selingkuh mba!" Kekeh Fene.
"Gimana mau selingkuh! Nyonya cantik, kaya, mulus, kalau Tuan selingkuh kita gantung sama-sama di Monas Nyonya." Mereka terkekeh bersama.
"Mba! Tuan Lim itu pernah bandel nggak selama di Jakarta?" Goda Fene bertanya.
"Nggak lah Nyonya! Waktu itu aku mijet Tuan pakai minyak zaitun dia sibuk terima telfon aja!" Jelas pelayan.
"Dari siapa?" Tanya Fene asal.
"Hmm! Saya nggak tau Nyonya! Cuma denger Tuan ketawa, kesal ngomel-ngomel!" Kekehnya.
Adrian dan Fene sering menghabiskan waktu di tempat ini. Apa lagi Adrian, termasuk pria metroseksual, lebih menjaga kesegaran tubuh, perawatan khusus walau sudah usia 46 tahun dia masih terlihat bersemangat dan menggairahkan.
"Mba! Hmm, kalau cowok fuber usia berapa yah?" Tanya Fene sama pelayan, karena pelayan emang berusia lebih tua dari Fene, jadi pasti tau masalah pria fuber.
"Usia 45 Nyonya, pokoknya 40 keatas tu harus extra pelayanan Nyonya. Biasanya mereka akan lebih respeak sama wanita yang menggoda! Apalagi kalau perempuan itu lebih agresif, lebih hmm! Pastilah tergoda." Jelasnya masih mengelus area punggung Fene.
"Hmm! Kalau Tuan Lim, kamu percaya dia selingkuh Mba?" Tanya Fene hanya penasaran. Baginya si Mba juga tau Adrian gimana. Pasti punya penilaian sendiri untuk Adrian. Batinnya.
"Ck! Tuan Lim itu susah ditebak Nyonya! Dia lebih kenyaman. Jika dia nyaman, dia akan berani! Tapi kalau nggak nyaman, yaaah! Dia nggak mau! Gitu aja seeh Nyonya! Penilaian saya." Jelasnya.
Fene menarik nafas dalam. 'Bener seeh kata si mba ini!' Batin Fene. 'Aagh! Biarin aagh! Pusing mikirin dia! Jika macam-macam lagi aku nggak akan kasih ampun!' Kenang Fene.
"Mba percaya sama namanya cinta?" Fene ingin bertukar pikiran.
__ADS_1
"Ck! Saya udah malas ama cinta Nyonya! Suami ku kabur ama wanita lain karena cinta! Aku sendiri sakit karena cinta." Kekehnya. "Emang kenapa? Nyonya merasa Tuan menjurus ke selingkuh yah?" Goda Pelayan.
"Hmm! Saya ragu mba! Jika belum menemukan bukti." Fene memejamkan matanya, mengenang perasaannya yang tak karuan beberapa hari ini.
"Kevin gue telfon nggak di angkat! Mereka memang sangat tertutup akhir-akhir ini!" Kenang Fene. "Dulu waktu ada Bram, dia selalu tau gerak-gerik sahabatnya. Mata dan nalarnya gerak cepat! Siapa yang mau gue jadiin detektif! Kevin sibuk sama Nichole. hmmm!" Fene memejamkan matanya, menikmati sentuhan dari si pelayan.
Ting! Fene yang sedang terlelap terjaga, tubuh masih ditutupi sehelai kain tipis. Perawatannya masih memakan waktu 1 jam lagi.
Fene mengambil handphone miliknya diatas nakas, melihat layar memeriksa pesan yang masuk.
"No number." Mengirim sebuah fhoto saat Adrian berbicara dengan Camille diresto hotel.
"Ck! Nggak ada kerjaan apa! Ngirim foto beginian." Fene meletakkan kembali handphone, kembali memejamkan matanya. "Camille memang cantik dan menggoda! Tipe Adrian juga, wanita mandiri dan pintar. Ck! Kangen sama suami kuh!" Fene mencari nomor Adrian memasang headset ditelinganya.
"Angkat Dri!" Bisiknya.
"Ya sayang! Assalamu'alaikum!"-Adrian.
"Hmm! Aku masih di Vegas sama Kevin juga! Baru ketemu, dia kabur dari Paris, ninggalin Stela dan Nichole." Jelas Adrian.
"Terus kamu kapan pulang? Chay-in minta ke Jogja segera! Kemaren aku udah pesen mobil buat dia. Brisik sayang! Rengeknya buat aku gemes. Minta Lois nyusul kesini." Cerita Fene panjang lebar.
"Mungkin besok atau lusa aku udah di Jakarta. Aku nunggu kabar Liu aja!" Jelas Adrian lembut.
"Oya Dri, kamu ketemu Camille?" Tanya Fene meyakinkan.
"Iya! Kenapa?" Adrian jujur, tapi ada rasa takut.
"Ada yang ngirim foto kamu sama Camille! Yaah, orang iseng! Kamu hati-hati aja yah! Aku percaya kamu!" Ucap Fene.
__ADS_1
"Ck! Media pasti sengaja ambil moment! Mungkin lusa aku ke Jakarta. I miss you Fen!" Ucapan Adrian tak pernah berubah pada Fene.
"Miss you too Dri! Love you! Salam buat Kevin, Liu dan Camille."-Fene.
"Love you to Fen! Iya, nanti aku sampaikan, salam sayang buat Chay-in! Pulang darisini kita langsung ke Jogja yah!" Kecup Adrian dari jauh.
Fene menutup telfonnya. "Setidaknya, nggak ada yang ditutupi oleh Adrian dari aku!" Batinnya melanjutkan perawatannya keruangan khusus kewanitaan.
"Nyonya duduk disini yah! Saya jamin Tuan Lim akan ketagihan sama Nyonya!" Goda pelayan pada Fene.
Fene tertawa. "Chay-in sudah beres mba?" Tanya Fene pada pelayan.
"Belum mba! Dia lagi waxing. Sama tatto alis nyonya." Jelas pelayan.
"Iiigh! Dari kemaren saya nggak setuju dia tatto itu! Lebih bagus natural! Dia masih kecil." Gerutu Fene.
"Ini nggak kayak kebanyakan Nyonya! Masih kelihatan alami kok! Karena nggak permanen. Hanya beberapa bulan." Jelas pelayan lagi meyakinkan Fene bahwa sangat aman bagi Chay-in.
"Oya Nyonya! Tuan Lim sayang banget yah sama Nyonya! Saya dengar Nyonya manja banget sama Tuan!" Goda pelayan.
"Ck! Sebenarnya saya sedang merasakan pengkhianatan mba! Jujur ada ketakutan di saya! Tapi saya nggak mau terlalu berfikir negatif! Dia suami saya! Jadi harus percaya." Senyum Fene menggambarkan kegundahan.
"Sabar Nyonya! Saya yakin Nyonya pasti mampu melewati itu. Pikirkan anak-anak nyonya. Beliau sangat membutuhkan perhatian kalian." Senyum pelayan memijat bahu Fene.
"Saya punya feeling yang kuat sama Lim, Mba! Dia suami saya! Saya tahu dia berbohong atau sedang bersandiwara. Jika dia menutupi sesuatu dari saya! Semua akan terbuka dengan sendirinya." Jelas Fene berusaha menikmati pijatan lembut pelayan.
"Sabar aja Nyonya! Masalah tidak akan pernah habis Nyonya! Sebelum waktunya kita dipanggil Sang Pencipta. Saran saya, Nyonya lakukan perjalanan religi! Biar saling mendoakan demi keluarga utuh kembali." Jelas pelayan mengangkat rempah dari dudukan Fene.
"Saya mau banget Mba! Terlalu banyak kecewa saya! Putri saya memilih menikah muda! Lim seperti ini! Saya hanya ingin menikmati hidup saya Mba! Jika dia berbuat jahat pada saya! Karma akan ada untuknya, saya jamin dia akan kehilangan semua termasuk saya." Senyum Fene memejamkan matanya masuk ke whirlpool bathtub.
__ADS_1
Pelayan memijat kepala Fene pelan, sangat lembut dengan aroma lavender. Sangat menenangkan, untuk Fene. Setidaknya selama di La dia hanya menghabiskan waktu di kolam berenang. Itupun dia lakukan malam hari, bersama Adrian. Akhirnya berakhir diranjang. "Ck! Adrian sangat pandai memanjakan ku!" Batin Fene menikmati rendaman rempah tradisional.***