
Deru ombak terdengar merdu ditelinga Fene, dia memejamkan matanya. Kali ini dia tidak akan kalah selangkahpun dari wanita manapun. Dia sanggup berdiri tegak dihadapan suaminya yang tengah berselingkuh. Setidaknya Adrian berselingkuh bukan dengan wanita hebat seperti Maria Alexa atau Veni Smith yang sudah mengganti namanya dengan Veni Van Visser. Dia lebih memilih wanita sekelas Camille Clark, yang tak jelas asal usulnya.
Fene melangkah dengan mantap mendekati Adrian dan Kevin yang tengah duduk menikmati keindahan pantai.
"Selamat siang Tuan Adrian!" Senyum Fene menatap lurus deru ombak yang menggulung sama seperti hatinya saat ini.
Deg, jantung Adrian terasa berhenti mendengar suara yang tidak asing ditelinganya. Menoleh pelan tanpa ragu, "Fen!"
BHUUK... Tinjuan pertama Fene berada tepat di rahang Adrian.
"Fen!" Adrian mengusap rahangnya hampir merontokkan giginya.
BHUUK.. Tinjuan kedua tepat diulu hati Adrian.
"Aaagh Fen! Please!" Adrian seketika mengerang.
Fene dengan tegas menarik kerah baju Adrian, "Aku akan menggantungmu di Vegas! Anjiing!" Mata Fene menuju Camille dan Kevin.
"Fen!" Kevin berusaha menenangkan Fene.
PLAAAK.. tamparan Fene berada di pipi Kevin, membuat Kevin terluka disudut bibirnya.
"Nyonya! Apa yang kau lakukan!" Teriak Lovely.
"Diam kau!" Tunjuk Fene membuat Lovely terdiam.
Fene tersenyum sinis menatap Camille yang menunduk ketakutan. "Aku sudah mengetahui siapa kau! Dan kau bukan level ku untuk bersaing, jika kau menginginkan Adrian, ambillah! Hmm! Karena kau akan tahu siapa pembunuh keluargamu!" Sarkas Fene membuat keempat mata mereka membulat besar.
Adrian menarik lengan Fene, "I love you Fen!" Ucap Adrian tanpa malu.
PLAAAK.. Tamparan Fene melayang ke pipi Adrian.
__ADS_1
"Auugh Fen! Please listen to me!" Adrian makin menggeram.
"No! No Adrian. Benar kata Papi! Kau adalah anak pengkhianat dan selamanya akan berkhianat." Sarkas Fene.
Alberth dan Luisa menyaksikan semua kejadian direstoran merasa geram menatap Adrian dan Kevin.
"Luisa hubungi Frans! Kita buang mereka dari FeneSwiss Group dan Fene Group! Aku tidak ingin bertemu mereka lagi!" Tegas Fene terdengar lantang oleh Adrian dan Kevin.
"Fen! Nggak bisa! Jangan campurkan masalah pribadi dan perusahaan." Teriak Kevin.
"Pikirkan sebelum berbuat! Saat ini kalian pecundang dimataku! Dan kau Camille, aku pastikan kasino dan butik mu akan tutup." Sarkas Fene tersenyum berlalu meninggalkan mereka.
"Fene! Come on! Aaugh!" erang Adrian.
Fene tidak memperdulikan apapun saat ini. Dia berbisik pada Aberth, "sekap dua wanita itu, kalau perlu hilangkan mereka dari dunia ini! Seret Adrian ke kamar ku! Aku akan buat perhitungan dengannya." Tegas Fene pada Alberth.
"Baik Nyonya!" Tunduk Alberth, meminta pengawal yang lain membawa Camille dan Lovely meninggalkan hotel.
"Adrian! Please!" Tangis memohon Camille pada Adrian, dapat didengar oleh Luisa yang menyaksikan kedua wanita itu diseret paksa.
Alberth membawa Adrian dan Kevin tanpa ada perlawanan menuju kamar Fene.
Fene duduk manis tanpa mengeluarkan air mata setetspun. Memijat pelan pelipisnya. Menunggu Alberth membawa Adrian. Luisa ikut menyusul, karena Adrian harus menandatangani semua berkas pelepasan hak.
Adrian berdiri dihadapan Fene, wajah yang tampan membiru seketika. Kebahagiaan bersama Camille pupus sudah.
"Aaugh Fen! Aku mohon maafkan aku!" Tunduk Adrian di lutut Fene.
"Hhmm! Bisa ceritakan! Apa kesalahanku pada mu?" Fene mengusap punggung tangannya yang terasa sakit, stelah sekian lama tidak menghajar orang. Terakhir yang dia pukul adalah Bram, Almarhum suaminya. Fene meringis, tapi tersenyum tipis mengenang kisah itu.
Adrian terdiam, menatap kedua mata indah Fene tak tersirat kedamaian disana.
__ADS_1
"Lo denger gue? Atau lo emang sudah pekak Adrian? Lo selesaikan, atau gue akan meliput semua ke media dan lo tau konsekwensinya!" Tegas Fene.
"Bisa kita bicara baik-baik, tanpa kekerasan? Aku mohon! Aku yang salah. Lepaskan Camille dan Lovely. Aku akan menyelesaikannya Fen! Aku tidak ingin kita berakhir disini. Maafkan aku! Aku mohon Fen." Adrian menatap mata Fene.
"Sejak kapan kau memohon padaku? Bukankah kau selalu benar? Saat ini kenapa kau mengemis padaku? Kau yang memulai! Kau yang memancing! Kau yang berkhianat! Kau tau Adrian, aku tidak pernah membencimu! Aku menunggumu! Chay-in dijemput Rchard, Stela kau suruh pulang dengan Dedrick tanpa pengawalanmu! Kau egois Adrian! Sangat egois! Apakah yang kita lakukan selama ini bukan perjuangan Adrian? Sulit mempertahankannya. Aku mau kau selalu jujur pada ku!" Fene terisak, menutup wajahnya dihadapan Adrian.
Adrian terdiam, tak berani menyentuh Fene.
"Ceraikan aku! Pergilah! Aku akan membagi rata hak mu! Aku tidak ingin bersamamu!" Fene menatap Adrian dengan penuh kelukaan.
"Nggak Fen! Gue cinta sama lo! Maafin gue!" Isak Adrian di pangkuan Fene.
Alberth dan Luisa lebih memilih meninggalkan mereka, melihat Fene sudah sedikit melunak.
"Lo tau! Gue bukan Jasmine, yang rela berbagi suami! Sakit Dri! Lo bermesaraan dengan wanita sekelas Camille! Gue salah apa sama lo? Gue nggak pernah sesakit ini! Kenapa nggak lo paksa gue buat layanin lo sampai pagi! Kenapa ini yang lo lakuin ke gue Adrian! Anak-anak butuh lo, ternyata lo begini diluar! Hebat banget lo buat sandiwara. Gue nggak bodoh Adrian! Gue diam, karena gue pengen lo bahagia sama gue, tanpa Camille atau Jasmine yang lain! Cuma buat gue Adrian." Tangis Fene pecah dihadapan Adrian.
Adrian tak sanggup melihat kesedihan Fene seperti ini. Baginya Fene adalah cintanya, tapi dia memberi neraka dihati istrinya sendiri. "Fen!" Adrian memeluk Fene yang tengah terisak hingga bahunya bergetar. "Maafin gue! Gue yang salah! Gue yang berkhianat! Gue akan ikut lo pulang! Tapi gue mohon lepaskan Camille dan Lovely! Mereka tidak salah apa-apa! Gue yang salah! Kita perbaiki semua dari awal Fen! Gue mohon. Please!" Adrian mengecup kepala Fene lebih dalam.
"Lepasin gue! Gue nggak butuh lo! Gue mau pulang." Fene melepas pelukan Adrian.
"Gue ikut! Gue nggak mau lo pergi tanpa gue!" Mohon Adrian.
Fene menyeka wajah mulusnya berdiri, berlalu ke kamar mandi.
"Fen!" Adrian duduk termenung dipinggir pintu. Jujur hatinya berkecamuk, kepalanya terasa mau pecah. Mendapat kejutan luar biasa dari Fene ditengah-tengah kebahagiaannya bersama Camille, kebutuhan seminggunya.
Fene terlalu pintar bergerak cepat menemukan Adrian. Adrian tidak pernah berfikir, Alberth akan membantu Fene. Saat di Vegas Adrian benar-benar tidak ingat akan menelfon Alberth untuk mengawasi Nichole dan Stela selama di Paris.
'Apa kata Parker dan Lincoln jika Aberth buka suara! Bisa hancur dan mungkin dia akan menyusul Bram ke surga!' Batin Adrian menekuk kepalanya menunggu Fene keluar dari kamar mandi.
Dikamar mandi Fene menghubungi Alberth, segera membawanya bertemu Camille di sebuah tempat yang sepi. Agar Camille tau pria mana yang dia cintai.
__ADS_1
"Wanita bodoh! Menjajahkan diri, tanpa mengenal keluarga terlebih dulu." Senyum Fene menatap cermin. Merasa puas akan hasil yang dia peroleh kali ini. Setidaknya dia telah membuat Adrian merasa lebih bersalah padanya. "Aku akan membuat dia mati perlahan." Fene membatin. "Setidaknya aku wanita yang tak pantas diselingkuhi oleh Adrian. Aku akan menunjukkan siapa aku!" Tambah Fene dalam hati.***