
Dedrick menggenggam tangan Stela, memeluk tubuh istrinya. Merasa kecewa karena telah menyebabkan Stela terluka. "Apakah dia selalu seperti ini? Jika frustasi, tidak dipahami? Ternyata dia wanita ceroboh dan keras kepala!" Batin Dedrick.
Fene dan Veni menunggu di kamar rumah sakit. Berharap cemas pada kondisi Stela.
"Gue akan bawa Stela ke Jakarta Ven." Ucap Fene saat duduk disofa ruang tamu VIP.
"Why? Fen, gue harap kita bisa sama-sama mendukung anak kita. Jangan memisahkan mereka. Mereka masih sangat muda, emosi masih turun naik. Stela depresi karena terlalu larut dalam kesedihan. Gue mohon, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya." Jelas Veni.
"Adrian nggak mau putrinya disakiti. Aku takut dia makin kasar sama Dedrick." Tunduk Fene.
"Ini masalah mereka, Stela mau bunuh diri karena Dedrick! Please, kita menjadi pendengar dulu! Gue mohon." Ucap Veni mengusap punggung Fene.
Fene mengangguk pelan mengusap sudut mata, kekhawatiran yang teramat sangat. "Apakah Dedrick tidak tulus mencintai Stela? Kenapa dia tidak bisa menjawab pertanyaan Stela! Apa niatnya? Ya Allah, aku lelah dengan semua cobaan ini. Ingin sekali aku lari pergi membawa semua anak-anak ku! Kuatkan aku Ya Allah!" Fene memejamkan mata lelahnya, setelah menyandarkan tubuhnya disofa ruangan.
CEKREEK, perawat masuk membawa buket mawar putih untuk Stela. Meletakkan bunga itu dinakas tidak jauh dari tempat tidur Stela.
Adrian dan Miller masuk keruangan putrinya, melihat istrinya sudah terlelap.
"Hmm! Mereka kecapean!" Bisik Adrian mengusap lembut kening Fene dengan jarinya.
"Maafkan putra ku Dri! Aku harap, setelah aku menceritakan semua, kau akan mengerti. Aku tau putra ku! Dia tidak akan pernah menyakiti putrimu, dia belum bisa jujur dengan perasaannya." Jelas Miller membawa Veni tidur dipangkuannya.
Para orang tua terlelap, tak menyadari Stela siuman.
"Eeegh! Hubby!" Rengek Stela seperti pulang berlari jauh.
"Sayang! Kamu sudah bangun!" Kecup Dedrick.
"Ya! Kepala ku terasa sakit sayang! Aku seperti mengingat sesuatu! Eeegh, hikz!" Stela semakin merengek pada Dedrick.
"Aku mau pulang, aku nggak mau disini hubby! Aku nggak suka." Jelas Stela.
"Ya! Kita akan pulang, tapi tunggu visit dokter dulu sayang." Ucap Dedrick lembut.
Mata Stela tertuju pada buket dinakas dihadapannya. "Siapa yang mengirim buket itu hubby?" Bisik Stela lembut.
"Aaagh!" Dedrick menggeram, "pasti Pedro." Batin Dedrick kesal. "Nggak tau sayang! Aunty Nichole mungkin!" Senyum Dedrick menatap mata Stela yang sendu.
__ADS_1
"Aku lapar! Kamu mau membelikan aku sesuatu?" Pinta Stela manja.
"Kamu mau apa? Aku minta perawat membawakan untuk mu!" Usap Dedrick pada kepala Stela.
"Hmm! Steak salmon, aku pengen!" Senyum Stela manja menatap Dedrick.
"Apa istriku sedang hamil?" Goda Dedrick mengusap perut ramping istrinya.
"No! Aku belum boleh hamil!" Kekehnya manja.
Dedrick menatap mata Stela, "kenapa kamu melakukan ini? Aku sangat mencintai mu! Aku sangat bahagia bersama mu! Apa kau ingin pergi dariku? Tanpa berjuang untuk ku?" Tatap Dedrick pada manik Stela yang biru.
Stela mengusap lembut rahang suaminya, "aku butuh jawabanmu! Aku tak pernah melihat mu menatapku seperti Pedro menatapku! Apa aku salah, terpesona pada tatapan Pedro? Hingga kau terlalu cemburu, bahkan kau tidak menjelaskan padaku." Jelas Stela lembut.
"Stel! Aku dan Pedro pernah bersama saat di Netherland, kami sekolah bersama, bermain bersama, dia sering menceritakanmu padaku masa itu. Aku tak menyangka itu kau! Aku benar-benar tidak ingat cerita masa kecil itu. Hingga aku tersadar saat kau mengakui cucu Hanz Parker. Kalian sangat dekat, saling mengenal! Jujur aku takut dia akan merebut mu jika aku menunggu terlalu lama! Aku mencintaimu dengan caraku! Aku sangat mencintaimu Stel! Aku terlalu ingin menjagamu, memberi yang terbaik untukmu! Please maaf kan aku! Aku sendiri tidak mengetahui perasaan ku pada mu menjadi gila saat didekat mu! Ingin segera memilikimu! Hidup bersama mu. Aku cinta pertamamu yang memilikimu dengan segenap jiwaku!" Dedrick masih masih menatap mata Stela.
"Saat dia memberi buket dipernikahan kita, di Hawaaii, aku marah Stel, aku cemburu! Dia ingin melukai ku! Bukan Grandpa. Dia berambisi untuk memilikimu dengan caranya." Dedrick mengecup punggung tangan Stela.
"Jadi Pedro sahabatku adalah yang membunuh Grandpa Hanz? Oogh! Pefi itu baik Dedrick, dia sangat melindungiku dulu. Aku baru ingat sekarang, aku terlalu disibukkan dengan dunia bisnis dari usia 9 tahun. Dunia ku sangat berbeda dengan kalian. Aku tumbuh bersama Aunty, Grandpa dan dunia pekerjaanku. Aku tidak pernah mengenal cinta, rasa suka! Apalagi tau jika Pedro mencintaiku. Aku fikir, sahabatku telah melupakan ku! Pantas Grandma Marisa memelukku memohon agar aku menemuinya! Ternyata dia Pefi ku! Dunia terlalu sempit hubby. Ck!" Senyum Stela membayangkan mata elang milik Pedro.
"Aku tak ingin kau bersamanya! Kau hanya milikku!" Kecup Dedrick pada jemari Stela.
"Apa kamu menyesal?" Tanya Dedrick menatap Stela.
"Hmm! Aku mulai ingat, aku pernah haiking bersama Pedro di California, itu terakhir aku bertemu dengannya." Kenang Stela tersenyum lirih. "Dia juga tau aku penyuka mawar putih, aku baru ingat!" Stela tertawa sendiri mengenang Pedro Arlan yang selalu dia sapa Pefi. "Kenapa aku bisa melupakannya hubby?" Tanya Stela pada Dedrick.
"Aku nggak tau sayang. Jika kamu sembuh, kita pindah ke Netherland yah, jangan disini. Kita mulai hidup baru disana. Merintis dunia mu! Kamu setuju?" Dedrick berusaha menahan rasa cemburunya.
"Oke! Aku setuju! Tapi kau harus membawa mobil kita dan aku nggak mau kita tinggal sama Daddy, aku mau berdua aja sama kamu." Goda Stela pada hidung Dedrick.
"Ya! aku akan menyiapkan apartemen kita disana. Aku akan selalu memanjakanmu!" Rayu Dedrick.
"Kenapa kamu mengizinkanku menjenguknya?" Tanya Stela penasaran.
"Karena Uncle Fernando meminta Stel! Kamu tau, kita harus menyelamatkan Pedro! Jika tidak Carlos akan membabi buta menyakiti keluarga kita sayang!" Jelas Dedrick jujur.
"Aku akan menemuinya jika dia sudah sembuh hubby! Itu janji ku!" Jelas Stela.
__ADS_1
Dedrick menaikkan alisnya, aku akan mengawasi Stela dimanapun dia berada, batinnya.
Stela tersenyum, sejujurnya kejujuran Stela, sangat menyakitkan bagi Dedrick. Tapi dia harus menerima kepolosan Stela. Usia masih belia yang harus dipahami.
Adrian dan Fene tertegun mendengar pembicaraan anak menantu mereka. Miller dan Veni hanya tersenyum.
"See! Mereka baikan seperti tidak ada kejadian yang berarti! Mereka menganggap pertikaian rumah tangga seperti bermain rumah-rumahan. Dasar anak-anak!" Kekeh Veni berbisik pada Fene.
"Syukurlah! Gue takut banget, mereka melakukan hal gila Ven!" Bisik Fene.
"Ssst! Gue akan ngomong sama Dedrick, harus saling memahami." Kesalnya.
Adrian menyandarkan punggungnya disofa. Memijat pelan pelipisnya yang terasa sakit.
Dedrick tersadar akan permintaan Stela, berlalu menuju telfon ruangan, melihat kedua orang tua menatapnya.
"Apa kalian mendengarkan ku?" Tanya Dedrick dengan wajah menekuk malu.
"Tidak Boy! Kami sedang tidur!" Jelas Adrian.
Dedrick menatap lirih pada orang tuanya yang menahan senyum. "Iiighs!" Geramnya.
"Hubby! Cepat, aku lapar!" Rengek Stela.
"Iya sayang!" Dedrick memesan beberapa makanan, kembali menemani istrinya.
Fene mendekat pada Stela, "hmmm! Cepet pulang! Ikut sama mami ke Jakarta!" Goda Fene.
"No! Aku mau sama Dedrick!" Tegas Stela.
"Hmm!" Fene mendengus kesal. "Jangan ulangi lagi! Mami khawatir Stel!" Peluk Fene.
"Cinta itu rumit Mom! Sahabat ku hadir saat aku sudah menikah! Aku sulit membedakannya." Rungut Stela.
"Dedrick halal untukmu! Jangan berfikir aneh!" Kesal Fene.
"Iya!" Jawab Stela menunduk.***
__ADS_1
......❤️❤️❤️......