
"Kamu lama banget seeh Stel!" Rungut Fene saat memasuki mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Nunggu hubby Mi!" Kekeh Stela.
"Hmm!" Fene mencari tau tentang Carlos. "Minta Alberth aja!" Batin Fene.
"Mi, besok kita ke Netherland yah? Kangen sama Mami!" Jelas Dedrick melirik Fene dari kaca tengah.
Dedrick menatap wajah Fene, menyimpan sejuta rahasia. "Mi! Mami oke?" Tanya Dedrick.
"Ya! Lagi pengen menyendiri aja!" Jawab Fene membalas tatapan Dedrick.
"Hmm! Bisa aku ngobrol sama Mami?" Dedrick berusaha menghibur Fene.
"Ya! Setelah Mami bicara dengan Grandpa Edward yah." Jelas Fene.
Fene membuang tatapannya melihat kearah jalan, dia sangat merindukan masa-masa indah kala bersama Bram dan sahabatnya. "Aku merindukan kalian semua ada di sampingku, tapi saat ini semua berubah!" Tunduknya dengan mata berkaca-kaca dalam hati coba menahan isaknya.
Dedrick menatap Fene dari balik spion kembali, " Mi! You oke?" Tanya Dedrick menatap Stela. Jujur Dedrick dan Stela sangat curiga dengan hubungan Adrian dan Fene, alasan pekerjaan mereka berjauhan. Mereka tidak pernah berpisah selama ini. Bahkan mereka selalu bersama walau ribut seperti gendrang perang. Stela pernah menyaksikan Fene dan Adrian, saling debat, saling berkata kasar, saling diam, saling menyatakan benci, tapi tak pernah kedua orang tuanya berpisah. "Apa karena kedekatan Daddy dan Camille?" Batin Stela dan Dedrick sama. Dedrick menambah kecepatannya agar segera tiba.
Mobil terparkir di Mansion milik Edward. Pintu utama terbuat dari jati terbaik, tentu import dari Indonesia, lantai marmer mewah nan sejuk jika menggeser suatu benda tidak akan tergores apa lagi teriris. Suasana yang sangat damai disana. Fene merasakan sesak di dada. Dia membuka tuas pintu mobil tergesa-gesa, Dedrick mengejarnya meninggalkan Stela yang memang tidak peka dengan keadaan.
"Mi!" Dedrick merangkul bahu Fene, Fene melangkah cepat menuju dapur, mencari Maya tengah menyiapkan makan malam mereka.
"Bisa ambilkan aku air putih Maya! Air kran saja! Nafas Fene terasa hampir terputus.
Maya segera mengambil air dari kran utama, segera mendekati Fene. Tangan Fene merogoh obat dalam tasnya, seketika meminum obat itu dengan sangat cepat. Katty dan Edward mendekati Fene. Dedrick sudah sejak tadi berdiri dibelakang Fene.
"You oke Fen?" Tanya Edward mengusap punggung Fene.
Sesak nafas Fene semakin menjadi, Fene berusaha tenang, mengambil handphone miliknya. Mencari nomor Adrian, karena selama ini Adrian menyimpan obat-obatan Fene jika berada di Berlin. Tangan Fene bergetar, Edward dengan cepat menyambungkan panggilan ke Adrian.
Fene tak bisa bicara hanya memegang dadanya yang masih terasa sesak, "Mi!" Dedrick menyambut tubuh Fene yang tak mampu menopang tubuhnya. Segera Dedrick menggendong Fene menuju sofa ruang keluarga tak begitu jauh dari dapur. Tampak kepanikan disana.
"Angkat Dri!" Panik Edward.
Wajah Fene seketika pucat, karena obat yang baru dia minum tak dapat mereda sesak nafas yang dia derita.
"Ya Dad!"-Adrian.
__ADS_1
"Obat-obatan Fene dimana kamu tarok Dri? Sesaknya kumat!" Jelas Edward.
"Apa?"-Adrian. "Ada dikamar dalam lemari laci kedua Dad!" Jelas Adrian.
Edward menutup telfonnya, meletakkan ponsel dinakas kecil.
"Halo! Halo Dad! Aaagh!" Geram Adrian.
Stela melihat ponsel masih On, menggapai handphone milik Fene berbicara dengan Adrian.
"Dad! Mami sakit! Daddy dimana?" Jelas Stela membuat Adrian tambah panik untuk menjawab.
"Hmm! Okay! Daddy segera kesana! Jaga Mami yah sayang! I love you Stela."-Adrian.
"I love you Dad!" Stela meletakkan handphone kembali dinakas.
Edward membawa beberapa obat khusus milik Fene, jika sudah berada di Berlin. Karena cuaca sangat dingin, Fene akan mengkonsumsi lebih sering.
Maya memberikan air kembali ketangan Edward. Dedrick mengambil selimut tebal menutup tubuh Fene agar hangat.
"Nyalakan penghangat ruangan Maya! Biar Fene istirahat disini!" Perintah Edward, "buatkan kettafel kesukaan Fene, mozarela hanya sedikit. Seperti biasa!" Tambah Edward.
"Baik Tuan!" tunduk Maya, berlalu menyalakan penghangat ruangan, kembali ke dapur.
"Hmm! Peluk Grandpa. Daddy sedang sibuk sayang! Mengertilah! Oya, Brian sudah menuju kesini. Mungkin 1 jam lagi nyampe." Edward mengalihkan permbicaraan Stela.
"Hmm! Semenjak kami menikah, semua berubah Dad! All! Tak seperti dulu!" Rungut Stela menatap wajah tampan Edward.
"Ya! Semua ada masa perubahannya. Begitu juga dengan kamu dan keluargamu, suamimu, anak-anakmu! Semua dear! Yang pasti Grandpa tidak berubah denganmu!" Goda Edward pada puncak hidung Stela yang sangat mancung.
"Hmm! Aku mencium Daddy selingkuh dengan Aunty Camille, Grandpa. Saat di New york mereka mesra! Sangat mesra. Aku kesal, Aunty Nichole juga kesal sama Uncle Kevin. Aku jadi bingung! Daddy meminta aku menghubungi Dedrick! Biasanya dia selalu mengutamakan aku. Aku melihat Camille menatap Daddy penuh gairah! Seperti mau menerkam, haaauum!" Dengan kedua tangannya memperagakan menerkam.
"Hmm! Mami sudah tau sayang! Biarlah Mami dan Daddy menyelesaikan semua permasalahan mereka. Kamu dan Dedrick kuliah dan bekerja! Mumpung masih muda!" Jelas Edward tersenyum menatap cucu tercantiknya.
"Grandpa, aku melihat foto-foto kebersamaan Grandpa dulu bersama Mami ku dan Daddy Adrian dikamar ku. Apakah kalian dari dulu sudah saling mengenal?" Tanya Dedrick polos.
Deg, Edward memang lupa mangalihkan semua album kenangan anak-anak masa dulu. "Aaagh! Itu hanya foto! Apalah arti sebuah foto!" Kekeh Edward.
"Ya berarti dong, aku juga banyak menyimpan foto bersama Momy di Spanyol, Jakarta, saat visit!" Tawa Dedrick.
__ADS_1
"Hmm! Sombong!" Kesel Stela. "Sengaja buat aku sirik, karena foto aku sama Momy dan Daddy paling terakhir umur 14, waktu judi di Vegas! Grandpa, pujuk Daddy kesini! Kasihan Momy!" Rengek Stela. "Biar aku lihat mesumnya mereka, daripada begini! Jauh-jauh aku nggak suka! Apalagi jika sampai pisah! Aku pastikan Aunty Camille akan jatuh miskin kehilangan butik dan kasinonya. Grandpa Hanz pasti tidak akan tinggal diam! Daddy akan menyesali perbuatannya jika itu terjadi!" Tegas Stela meracau dihadapan Edward dan Dedrick.
Katty menatap Edward, tersenyum agar bisa menenangkan cucunya dari pikiran-pikiran negatif.
"Hmm! Kalau Dedrick selingkuh kamu gimana?" Goda Edward menatap mata Stela.
"Ck! Apakah orang dewasa suka selingkuh Grandpa?" Tanya Stela memanyunkan bibirnya.
"Tidak semua sayang! Tapi pria lebih suka melihat wanita dari luar saja." Usap Edward pada kepala Stela.
"Kalau kamu selingkuh yah hubby, aku pastikan kamu akan ku lindas pakai mobil pemberianmu! Biar senjata makan tuan!" Kekeh Stela.
"Mati dong aku, wife!" tambah Dedrick.
"Biarin mati! Aku bisa cari baru! Dari pada hidup nyakitin mulu!" Repet Stela.
Fene tersenyum mendengar racauan Stela. Menaikkan selimut hingga kepala. "Dad!" Bisik Fene pada telinga Edward.
"Oogh love! Syukurlah kamu sudah baikkan." Senyum Edward mengusap lembut kepala menantunya.
"Mom!" Stela menatap mata Fene. "Daddy aku suruh kesini buat jaga Mami! Mami nggak boleh marah! Aku rindu lihat Mami bugil, mesra-mesra! Karena Dedrick suka nyobain ke aku! Enak ternyata Mom!" Stela tekekeh geli menatap Dedrick, "Oogh, I love you hubby!" Stela menggoda Dedrick.
"Ya, I love you to!" Ucap Dedrick mengecup kepala Stela tanpa malu dihadapan keluarga.
Fene hanya tertawa, jujur dia sangat merindukan Adrian, sangat. "Hmm! Dad, Alberth dimana?" Tanya Fene berusaha duduk disofa.
"Sebentar!" Edward memanggil Alberth, dengan nada berat naik 3 oktaf. Stela dan Dedrick tertawa mendengar suara Edward ternyata sangat sexy.
"Ya Tuan!" Alberth sudah berdiri tegap dihadapan Edward dan Fene.
"Cari tau tentang Carlos Febian Arlan! Who! Semua bisnisnya. Dia akan mengajakku berkencan besok!" Tegas Fene tanpa malu dihadapan Stela dan Edward. Membuat mereka ternganga mendengar pernyataan kencan Fene.
"Oogh my God! Not funny Mom! Ternyata Mami, Devil berwajah Anggel yah!" Rungut Stela.
Fene tersenyum tipis. Edward dan Ketty menaikkan bahu, membiarkan Fene melakukan apapun karena kecewanya.
Dedrick mengusap punggung Stela yang kecewa mendengar pernyataan Fene.
"Ck! I don't like this!" Stela merebahkan kepalanya masuk kepelukan Dedrick.
__ADS_1
"Baik Nyonya, 10 menit." Alberth berlalu melakukan sesuai perintah.
Fene dan Edward saling tatap, hanya bisa bicara melalui mata sambil tersenyum.***