
Chay-in Moreno Lim, anak keempat Keluarga Lim. Usia 14 tahun. Senior High School akhir di Marlborough Los Angeles. Chay-in wanita sangat cuek, tidak begitu mau mengurusi keluarganya. Dia gadis penurut, sangat mencintai Stela, baginya Stela harus bahagia dengan pilihan hidupnya. Semua pertikaian yang terjadi dikeluarga saat ini, karena keegoisan Adrian, tidak ada yang lain. Baginya Adrian terlalu menanamkan ambisi pada kedua putrinya. Yaaah, belajar dari pengalaman pribadi yang rumit tentunya.
Chay-in tampak gugup saat Lois membawa lunch diresto miliknya, setelah mengurus Dedrick dan Stela.
"Makasih yah, kamu mau bantuin Dedrick!" Ucap Lois desela makan siang mereka.
"Hmm! Ya! Kalian sahabatan udah lama?" Tanya Chay-in mulai kepo.
"Dedrick tu sahabat aku paling baik! Paling kaku! Bisa tunduk sama Stela kakak kamu!" kekehnya.
Chay-in tersenyum menatap Lois duduk dihadapannya.
"Hmm! Lo udah punya cewek?" Tanya Chay-in agak sensitif ditelinga Lois.
"Kenapa? Tertarik sama aku?" Kekeh Lois.
Chay-in menelan salivanya, tersenyum malu dihadapan Lois.
"Kamu lucu dan kaku! Persis daddy kamu yang galak itu." ucap Lois.
"Ck!" Chay-in meletakkan sendoknya, menyandarkan punggungnya dikursi.
"Why? Aku salah yah?" Tanya Lois.
"Lo lucu! Udah tau nanya! Bisa nggak, tidak bahas daddy. Jujur aku kecewa, tapi sudahlah. Semua akan baik-baik saja." Jelas Chay-in terdengar pasrah.
"Sorry! Aku hanya heran! Kamu nggak dijaga ketat seperti Stela dan Lusi, why?" Tanya Lois lebih dalam.
"Hmm! Karena gue nggak mirip momy! Stela foto copy momy!" Jelasnya.
"Oogh! Ambisi berarti!" Jawab Lois mengerti.
"Begitulah! Stela lebih dijaga, lebih special, lebih disayang, dari gue dan Jasmine." Senyumnya.
"Kamu jeules?" Goda Lois.
"Ya nggak lah! Gue free! Bisa bergaul sama siapa saja!" Kekehnya.
"Hmm! Good!" senyum Lois. "Kalau kamu ada waktu, besok aku jemput! Kita hangout, gimana?" Lois menatap mata sendu milik Chay-in.
"Eeeh! Nggak aagh! Ntar cewek lo cemburu! Takut gue." Jebak Chay-in.
"Ck! Aku, Dovi dan Dedrick nggak ada pacar dulu! Sekarang lagi deket aja sama beberapa, tapi rata-rata banyak maunya! Minta ini itu, dipikirnya aku akan seroyal itu." Kekehnya terdengar sombong.
"Terus! Maksud lo ngajak ngedate?" Tembak Chay-in.
"Hmm! Seperti itu lah, kalau mau! Kalau nggak ya udah! Aku nyusul Dedrick dan Stela, liburan." Godanya.
"Emang mereka kemana?" Tanya Chay-in.
"Bulan madu!" Jawab Lois asal.
__ADS_1
"Ck! Mesum!" Ejek Chay-in.
Lois terkekeh melihat wajah Chay-in yang sangat menggemaskan menurutnya, "kamu bisa nggak ngomongnya aku kamu! Biar kita terlihat dekat! Jangan Lo Gue, perasaan kita temenan!" Lois menaikkan alisnya sebelah.
"Oke! Jadi besok jam berapa?" Tanya Chay-in menyuapkan steak salmon kesukaannya.
"Ehm! Tulis nomor kamu disini." Lois memberi handphone miliknya diatas meja.
Chay-in tersenyum tipis, mengambil handphone milik Lois, memberi nomor pribadinya, "nih!" Chay-in menyodorkan handphone kearah Lois.
"Thankyou Chay-in Moreno Lim!" Senyum Lois.
Mereka saling bercerita tentang keluarga dan aktifitas sehari-hari. Kegiatan Chay-in lumayan padat jika Nichole ada acara di New york, bisnis keluarga sudah dibagi oleh keluarga, sangat sempurna, batin Lois.
'Ternyata gadis ini lebih friendly dibanding Stela kakaknya!" batin Lois.
"Kita kemana lagi?" Tanya Lois.
"Terserah! Aku ikut aja!" Kekehnya.
Lois dan Chay-in menghabiskan waktu keliling California penuh canda tawa remaja, tanpa ada yang mengganggu kegiatan mereka.
Lois mengantar Chay-in kerumah Hanz Parker, tampak kepanikan keluarga kehilangan Stela dan Dedrick. Mereka sengaja diam, menutup rapat semua.
Pengawal bertanya pada Lois, saat mobil keluar perkarangan, diperiksa secara keseluruhan dijaga ketat oleh helder kulit hitam. "Iiigh!" Batin Lois.
Chay-in masuk kerumah, dikagetkan kehadiran Grandpa Edward dan Grandpa Hanz diruang keluarga.
"Iya!" Senyum Chay-in.
"Mami mana Grandpa?" tanya Chay-in.
"Dari tadi pagi nggak keluar kamar!" Kesal Hanz.
"Aku akan ke kamar mami!" Chay-in menuju kamar Fene, saat tiba didepan kamar, Chay-in mendengar keributan antara Fene dan Adrian. "Oogh my God! Akan menjadi masalah besar." Batin Chay-in berlalu kekamarnya.
Ada kesedihan luar biasa menyeruak didalam kalbunya, mendengar pertikaian kedua orang tuanya. "Ada apa ini? Kenapa Grandpa Edward turun gunung? Hmm!" batin Chay-ini.
Dua hari Adrian dan Fene mengurung diri dikamar, tanpa memperdulikan perasaan Hanz dan Irene, apalagi Edward, sengaja datang dari Berlin untuk bertemu mereka atas permintaan Hanz.
"Gue minta cerai!" Sarkas Fene pada Adrian, setelah diperlakukan kasar oleh Adrian.
"Apa! Cerai? Lo pikir gue mau menceraikan lo? Gue cinta sama lo, Fen! Gue cinta!" Tawa Adrian seperti orang kesetanan menggenggam keras lengan Fene mendorong tubuhnya keranjang.
"Adrian lepasin gue!" Tolak Fene, saat Adrian mencumbunya lagi dan lagi secara paksa.
"Lo istri gue, Fen! Gue sangat bernafsu sama lo!" Adrian memainkan jarinya diwajah Fene sangat cantik dan mulus! Adrian mencium Fene sangat kasar.
"Lepasin gue, Dri! Lepasin gue! Lepasin gue, Adrian! Oke! Gue mengalah sama lo! Lo lepasin gue! Gue mohon jangan sakiti gue lagi!" Isak Fene menangis.
Adrian tak melepas Fene dari dekapannya. Membuat Fene terkulai lemas, saat Adrian menghujamkan lagi miliknya. "I love you, Fen!" Adrian mencium Fene berderai air mata.
__ADS_1
"Beginikah rasanya dicintai?" Batin Fene.
Adrian menghempaskan tubuhnya diranjang mewah yang tak berbentuk. Tak ada lagi keindahan disana, keromantisan Adrian pupus saat dia mengalami cemburu akan masa lalu Fene.
"Gue mohon lepasin gue Adrian! Tubuh gue udah nggak sanggup nerima perlakuan kasar lo." Isak Fene.
"Gue bakal lepasin lo! Jika lo cabut semua fasilitas Stela." Bisik Adrian.
"What? Stela nggak akan miskin, jika gue ambil alih saham miliknya!" Tangis Fene.
"Gue mau lihat, mampu nggak mereka bertahan tanpa kita!" Adrian membawa tubuh Fene dalam dekapannya.
"Oke! Gue ikutin semua! Gue akan lakukan apapun buat lo, biar nggak nyakitin gue!" Nafas Fene terasa sesak mendengar permintaan suaminya.
Adrian mengecup Fene dengan wajah frustasi. Fene berusaha memejamkan matanya, berharap semua segera berakhir.
Tok tok tok.
"Fen! Fene!" Suara Irene terdengar khawatir.
Fene melepas dekapan Adrian dari tubuhnya secara perlahan, turun dari ranjang dengan kaki menggigil, "Ya Allah! Sakitnya!" Fene berjalan menuju pintu berjalan lumayan jauh untuk membuka pintu kamar, wajah tampak pucat dan kusut, dibalut lingeri tanpa underware.
"Ya mi!" Fene melihat Irene dengan pandangan kabur.
Irene terkejut melihat putrinya, sangat lemah, "oogh my God! Fene! You oke! Hanz! Haaanz! Fene, Hanz!"
BHUUUK.
Fene pingsan didepan pintu kamarnya disambut pelukan Irene, Adrian terlonjak kaget terjaga dari tidurnya dengan tubuh masih telanjang, karena mendengar suara Irene.
"Fene!" Teriak Adrian.
Adrian memakai boxer dan baju kaos secara asal, disaksikan oleh Irene. Berlari mendekati Fene.
Hanz dan Edward sudah ada dihadapan Adrian, memandang anak menantunya lebih berantakan dari pikiran mereka.
"Fen, Fene! Maafin aku, Fen!" Adrian mengambil sehelai kain tipis, menutup tubuh istrinya, membopong menuruni anak tangga. Segera meminta supir membawanya kerumah sakit, disusul oleh Irene, Hanz, Edward, Katty dan Chay-in.
"Fen! Maafin aku! Aku salah Fen! Bangun Fen." Isak Adrian masih memeluk tubuh Fene sangat pucat.
"Pak! Cepat!" Teriak Adrian semakin panik.
"Iya Tuan!" ucap sopir pribadi Adrian.
Edward dan Hanz saling diam dimobil berbeda. Menggeram, menahan emosi pada Adrian.
Chay-in menangis dipelukan Irene. "Kenapa jadi begini grandma?" isaknya.
"Ssst!" Irene mengusap lembut punggung Chay-in.
Katty menghubungi Jasmine dan Brian agar segera pulang ke La.***
__ADS_1