
Dedrick tampil malam ini sangat memukau. Menggunakan Lamborghini Aventador Ultimee, menggunakan baju kaos terbaru peberian Stela kala itu, sangat santai menawan hati wanita. Dedrick pria sederhana, hanya Rolex koleksinya, untuk kemewahaan membalut tubuh lebih elegant, dia akan tampil berkelas jika ada urusan pekerjaan dan moment tertentu.
Dedrick melirik mercy terparkir dihalaman rumah Hanz. "Hmmm! Ternyata selera Stela sangat sederhana! Cukup dua pintu!" Kekehnya dalam hati.
Stela berlari keluar, setelah pengawal memberi kabar melalui intercom diruang keluarga. "Dear!" Peluk Stela mengalungkan tangannya sangat manja keleher Dedrick kemudian mencuri bibirnya.
"Huuufgh! Hmmm," Dedrick menikmati bibir manis istrinya, matanya baradu tatap dengan Fene turut menyambut. Dedrick mendekap punggung Stela, melepas perlahan ciuman mereka.
"Assalamualaikum, malam Nyonya! Maaf!" ucapnya menunduk hormat.
"Waalaikumsalam, hmm! Masuklah! Hanz Parker sudah menunggumu!" Senyum Fene.
Dedrick merangkul pinggul Stela, masuk beriringan kerumah Hanz Parker.
"Kamu tidur disini yah? Kita akan menghabiskan malam bersama!" Pinta Stela manja.
"Hmm! Apakah kamu akan menemaniku malam ini?" Goda Dedrick pada istrinya.
"Ya! Aku akan selalu menemanimu!" Tambah Stela manja memeluk tubuh Dedrick.
Hanz dan Irene menyambut Dedrick sangat hangat, memeluk menantu barunya.
"Apa kau sudah lapar boy?" tanya Hanz membawa Dedrick duduk bersama diruang keluarga.
"Oogh! Aku masih kenyang! Sebentar lagi saja Tuan." Jawab Dedrick sopan. Jujur ada perasaan sungkan didalam hati Dedrick, karena telah merusak cucunya tidak sesuai perjanjian keluarga mereka.
Irene membawakan beberapa cemilan, menghidangkan dihadapan mereka.
Stela masih terus memeluk tubuh Dedrick tanpa memperdulikan Hanz.
"Selamat yah! Terimakasih kau telah menikahi cucu ketiga kami! Aku sangat terkejut mendengar kabar ini! Aku akan mengadakan pesta besar untuk kalian dihari ulang tahun Stela nanti." Jelas Hanz dihadapan Dedrick dan Stela.
"Ough! Saya yang harus mengucapkan terimakasih pada Tuan! Telah memberikan kepercayaan untuk menjaga cucu tersayang anda!" Jawab Dedrick menunduk. "Maafkan saya, karena saya tidak bisa menahan perasaan saya Tuan, agar segera memilikinya! Saya mencintai Stela pada pandangan pertama, sangat mencintainya." tambah Dedrick.
"Kau anak muda yang baik, bertanggung jawab! Didukung oleh semua kesederhanaan mu! Kau sangat humble seperti Miller." Senyum Hanz.
"Apa kalian mengenal daddy saya, Tuan?" Tanya Dedrick sedikit penasaran..
"Kami hanya mengenal sesama pengusaha! Tidak pernah berbisnis!" Jujur Hanz.
__ADS_1
Dedrick tersenyum sungkan, menerima suapan cake dari istrinya.
"Apa kau akan menginap disini boy?" Tanya Hanz tanpa sungkan.
"Oogh! Tidak Tuan! Saya hanya ingin menjemput istri saya Stela!" Jawab Dedrick.
"Why?" tanya Hanz.
"Saya akan membawanya menggunakan mobil terbaru di depan. Karena dia meminta saya untuk mencoba berdua Tuan! Maaf, saya hanya ingin membahagiakan Stela, menuruti semua keinginannya." Senyum Dedrick.
"Good boy! Kau pria romantis sama seperti ku!" Kekeh Hanz melirik Irene.
"Hmm! Dedrick, mami sudah membicarakan semuanya pada grandpa Hanz! Nih, kamu saja yang memberi mas kawin kamu didepan grandpa dan grandma pada istrimu! Jujur saya senang! Kamu anak muda yang sangat baik dan sopan." Jelas Fene, memberikan mas kawin yang diberi Dedrick saat itu.
Dedrick menelan salivanya, tak mampu berucap. Ada perasaan gugup didadanya jika mengenang ijab kabul mereka. Dedrick menerima dari tangan Fene, menatap mata Fene yang sangat mirip dengan Stela, teduh, pengguna eye shadow sejati, seperti penari timur tengah.
Dedrick bersimpuh dihadapan Stela, "lihat aku, Stela! Aku telah menikahimu dihadapan daddy dan mami! Aku ingin kau setia selalu pada ku! Terimalah ini sebagai mas kawin yang aku titipkan untukmu! Aku sangat mencintaimu Stela Moreno Lim!" Dedrick mengecup punggung tangan Stela, memberikan kotak mewah itu ketangan istrinya.
"Ooogh! You my best hubby! I love you! Thankyou Dedrick Visser." ucap Stela memeluk Dedrick dihadapan Hanz, Irene dan Fene.
"Tidak ada yang cepat honey! Jika tepat!" Goda Hanz pada telinga Fene.
"Lebih baik lambat, jika tidak sama sekali sweety!" Canda Hanz menyentuh puncak hidung Fene.
"Mi, Aku akan membuka butik bersama Stela disini! Mungkin kami akan menghabiskan waktu beberapa hari diluar!" Tegas Dedrick pada Fene, kembali kesofa duduk ditempat semula.
"Aaagh! Jangan terlalu mengumbar dulu diluar sana! Nanti daddy bisa membunuh kalian!" bisik Fene sedikit mengancam dengan terkekeh.
"Uuugh! Apakah aku akan dihajar setelah meniduri putrinya nyonya?" Goda Dedrick.
"No! Dia hanya takut, kamu membawa Stela tidak akan kembali seperti Petter membawa Holy!" Jelas Fene.
"Aku lebih dulu mengalaminya Fen!" Jelas Hanz. "Sakit diawal! Tapi aku mengalah demi kebahagiaan kedua putriku!" Hanz tersenyum. "Nikmati! Semua akan datang dan pergi!" tambah Hanz mencium puncak kepala Fene.
"Brian bagaimana dengan Marelin? Aku dengar mereka sudah menikah!" tanya Irene tanpa sungkan.
"Ya! Kevin jadi saksi mereka!" Tunduk Fene. "Aku yang salah mi! Adrian terlalu mencintai aku, hingga aku lupa anak-anak ku!" Fene menarik nafas dalam.
"Semua akan baik-baik saja sayang! Saat ulang tahun Stela kita akan mengundang Brian dan Marelin! Apa kau keberatan?" tanya Irene.
__ADS_1
"Ck! Marelin mantan Fernando mami! Aku takut dia akan menyakiti putraku." jujur Fene dengan suara seraknya.
"Saat mereka memutuskan, mereka sudah mempersiapkan semua resikonya!" Jelas Hanz menatap Dedrick dan Stela.
"Hmm! Bagaimana kita makan! Kita lupakan sejenak masalah Brian, yang kamu fikirkan cara menyampaikan pada Edward Lincoln! Oke!" Senyum Hanz menatap Fene dan Dedrick.
'Masalah mereka ternyata rumit!' batin Dedrick menggandeng tangan Stela menuju ruang makan.
"Dedrick apa kamu pernah ke Jakarta?" Tanya Hanz.
"Pernah grandpa! Sama Opa dan Momy." Jelasnya.
"Oke, jangan lupa undang Momy mu dan Miller untuk hadir diacara besok! Aku ingin mengenal besan putriku!"
"Baik grandpa! Aku akan mengabari mereka!" Senyum Dedrick menggenggam erat tangan Stela duduk disebelahnya.
"Pengawal!" teriak Hanz.
"Ya Tuan!" jawab pengawal melirik ke arah Dedrick dan Stela.
'Ini yang memegang tangan ku saat di Boulevard Mall Vegas!" Geram Dedrick membesarkan bola matanya.
"Siapkan tempat untuk tamu spesialku! Beri service terbaik di Los Angeles!" tegas Hanz.
"Oogh! Tidak usah grandpa! Kami ada rumah di Beverly!" tolak Dedrick.
"Aaagh! Kawal Beverly kediaman Dedrick dari Paparazi agar tidak ada berita murahan seperti kemaren! Mau muntah aku membacanya!" ucapan Hanz membuat kedua cucunya terkekeh.
"Semua media telah kami tutup Tuan, atas permintaan Tuan Adrian!" Jelas pengawal, membuat Fene dan Dedrick tersedak.
"What? Adrian menghubungimu?" tanya Fene. 'Dia melebihi detektif conan!' batin Fene.
"Ya, Nyonya! Tuan Adrian meminta saya menutup akses media! Tuan juga tau tentang Nona Stela menghabiskan malam bersama Tuan Muda Dedrick di Beverly Hills Nyonya!" Jelasnya.
"Ooogh! Adrian lebih cepat dari aku!" Kekeh Hanz.
"Pi, aku takut Adrian akan menghukum menantuku!" Rengek Fene, Dedrick membulatkan matanya.
"Tenang! Dia akan aku kuliti jika melawan!" Kekehnya didepan Dedrick dan Stela, membuat kedua cucu tambah nyaman.***
__ADS_1