See Eye Stela

See Eye Stela
Besan Kejutan.


__ADS_3

Adrian mengecup lama punggung Fene masih tertutup selimut, "aku nggak nyangka, hari ini kita akan menikahkan Stela, Fen!" Adrian mendekap membawa Fene ke dadanya.


"Kita sudah tua Dri!" Kekeh Fene, menikmati sentuhan Adrian.


"Ya! Bikin lagi yuuk! Kali aja secantik Stela!" Adrian membalikkan tubuh Fene, segera menindihnya.


"Emang Stela cantik?" tanya Fene menaikkan alisnya sebelah, masih menerima kecupan Adrian.


"Stela itu foto copy kamu banget! Matanya sangat indah! Sama seperti mu! Dia modis, propesional, tapi dia terlalu cepat jatuh cinta." Jelas Adrian menyatukan kening mereka.


"Ya! Dedrick telah membuatnya jatuh cinta." Senyum Fene, menerima cumbuan Adrian yang sudah beraksi diatas tubuhnya.


Tepat pukul 10.00 waktu Netherland, disebuah gedung pertemuan Amsterdam, akan diadakan akad nikah anak pengusaha Adrian Moreno Lim dan Miller Van Visser.


Mata Adrian tertuju pada sosok Willems Dedrick Visser putra tunggal Miller turun dari Limausine Maybach Landaulet, sangat gagah dan tenang dibalut jas desaigner terbaik negeri kincir itu. "Woow! Pria yang sangat sempurna menikahi putriku! Benar-benar dia pria bertanggung jawab!" Batin Adrian.


Fene merangkul lengan Adrian, memasuki gedung pertemuan yang sudah diamankan dari sorotan media.


Miller dan Veni tak kalah mewah, menyambut kehadiran besan kejutan mereka.


Fene dan Veni saling berpelukan, mereka menggunakan baju senada, sesuai permintaan Dedrick.


"Secepat inikah sayang?" bisik Fene dengan mata berkaca-kaca.


"Hmm! Aku jadi terharu dear! Kamu menjadi besan ku!" Senyum Veni mengelus punggung Fene.


Adrian dan Miller saling berpelukan, menyapa ala bapak-bapak jaman now. Ternyata mereka saling mengagumi ketampanan masing-masing.


Dedrick terlihat gugup bertatapan dengan penghulu sekaligus matanya beradu dengan manik Adrian. "Gila, bapak mertua aku ganteng banget! Pantes anaknya secantik Stela." Kekehnya dalam hati.


Seorang gadis berpenampilan eksekutif muda mempersilahkan para tamu duduk dikursi yang sudah disiapkan.


Adrian menelan salivanya, jantungnya berdegup kencang, berkali-kali memeluk Fene, istrinya mengetahui kegelisahan Adrian, menatap mata Adrian, "are you nervous?" tanya Fene berbisik ketelinga Adrian.


Adrian mengangguk, memeluk Fene erat, "aku takut kehilangan putriku Fen! Aku belum siap!" ucapnya.


"Oooh my God! Stela masih sama kita sayang, kita sudah menandatangani semua perjanjian! Mereka juga tidak mau Dedrick melakukan hal bodoh! Semua demi putri kita Adrian!" Fene mengecup tangan Adrian, menatap meyakinkan.

__ADS_1


Adrian mengusap wajah halus Fene, menghela nafas dalam. "Thankyou sayang! I love you!" Adrian berlalu menuju meja, menatap lekat wajah Dedrick, sangat tenang untuk melakukan ijab kabul.


Suasana hikmat, Fene dan Veni saling berpegangan tangan, merasakan degupan yang sama, mengusap mata yang basah karena terharu dengan keputusan anak mereka.


Terdengar sangat lantang saat Adrian menyebutkan ijab kabul, disambut tegas oleh Willems Dedrick Visser, dengan mas kawin Yellow Canary Diamond bernilai USD 2.8 juta dollar atau senilai 37 milyar jika dirupiahkan.


"Oogh God! Aku resmi jadi suami Stela Moreno Lim!" batin Dedrick lega, mengusap berkali-kali wajahnya.


Adrian menatap Dedrick dihadapannya, "anak ini sangat tenang walau gugup!" batin Adrian.


Fene berdecak kagum pada Veni dan Miller, mereka mempersiapkan semua dengan sangat sempurna.


"Sah, sah, sah!" ucap penghulu kepada saksi yang hadir.


"Sah!" Miller terdengar lebih bersemangat.


Adrian memijat pelipisnya pelan, "Alhamdulilah, aku telah melakukan tugas ku dengan baik!" batinnya.


"Alhamdulilah!" ucap Fene dan Veni bersamaan, kemudian saling tatap.


"Apa lo akan menjadi ibu mertua yang galak pada putraku?" Ejek Veni.


"Aaagh! So sweet, hal yang sama dilakukan Miller pada ku hingga saat ini Fen!" Veni memeluk Fene erat.


"Ck, kau membuat aku cemburu!" Cubit Fene pada lengan Veni. Mereka tertawa bahagia, setidaknya hari ini adalah hari bersejarah bagi kedua keluarga, hingga usia Stela 20 akan dilaksanakan pesta besar untuk kedua anak mereka.


Dedrick menghampiri Adrian, "apakah aku boleh memanggil daddy pada mu Tuan?" tanya Dedrick menunduk hormat.


"Hmm, kalau berdua! Didepan Stela kau panggil aku seperti biasa! jangan berubah!" bisik Adrian menggeram melihat menantunya ternyata memiliki jiwa humor yang sama dengannya. Mereka saling berpelukan.


Miller mendekati Adrian, "sekarang kita besan! Apakah kita akan liburan bersama sebagai hadiah pernikahan anak-anak kita?" tawar Miller pada Adrian.


"Of course! Why not!" tawa Adrian.


"Aku akan menghubungimu lusa! untuk tempat dan waktunya." ucap Miller, "karena jadwal Veni lebih padat dari jadwal ku!" Kekeh Miller.


Adrian tertawa, "Aku mungkin akan ke Berlin dulu! Mengunjungi Jasmine dan Brian!" Ucap Adrian.

__ADS_1


"Oogh oke! Terimakasih Adrian!" Tunduk Miller sangat sopan.


Mereka melakukan foto bersama, tentu hanya untuk dokument Miller dan Adrian.


Dedrick sangat menawan bak pengusaha kelas atas, tapi dia selalu berpenampilan biasa dihadapan siapapun.


"Aku akan ke Berlin Ven! Jenguk daddy! Next kita akan bertemu lagi, oke sayang!" Fene memeluk Veni.


"Ya! Aku menunggu kapan waktumu ada untuk ku! Aku rindu suasana Swiss." Jujur Veni dihadapan Miller dan Adrian.


"Sayang! Kita akan jalan bersama, tapi jadwalmu sangat padat! Mungkin aku akan mengatur terlebih dahulu, dan mengabari mereka!" ucap Miller lembut pada Veni.


"Apa kita akan ke Swiss?" tanya Veni senang.


"Ya! Kita akan ke Swiss bersama!" tegas Miller.


"Ooogh! You my best husband!" bisik Veni manja.


Adrian dan Fene tersenyum melihat kedua pasangan ini semakin bar bar.


Dedrick mendengar ucapan kedua orang tuanya, "apakah aku boleh ikut bersama dengan kalian membawa istriku?" tanya Dedrick dengan wajah menyebalkan.


Mata orang tua dan mertuanya sangat garang menatapnya. "No! Bereskan kuliah mu segera! Lanjutkan bisnis Momy dan Daddy!" tegas Veni.


Dedrick hanya tersipu malu, menarik tangan Fene, "nyonya, aku menitipkan ini untuk Stela! Aku mohon berikan pada istri ku!" Dedrick memberikan hadiah untuk Stela.


"Apa ini?" Tanya Fene tegas.


"Buka saja nyonya, pasti putrimu menyukainya." bisik Dedrick pada Fene.


Fene membukanya, "hmm, wooow." batin Fene. "Kenapa kau membuang uang mu untuk semua ini?" tanya Fene menatap Dedrick.


"Aku ingin memberikan yang terbaik untuk istriku nyonya. Mas kawin aku tiitipkan juga disini! Katakan aku mencintainya, aku sangat mencintai putrimu! Semua ini takkan berarti baginya, karena kalian bisa memberikannya. Aku hanya bingung apa yang harus ku berikan pada gadis sesempurna putrimu." bisik Dedrick.


"Ok boy! Sweet, terimakasih! Kamu sangat pandai memanjakan wanitamu. Saya pamit yah! Ingat, jangan nakal! Oke!" Kecup Fene pada pipi Dedrick.


Dedrick memeluk Fene, "terimakasih nyonya! Aku sangat mencintai Stela! Terimakasih kau mau menerimaku! Sekali lagi terimakasih!" Dedrick merasakan tangan mulus Fene mengusap lembut punggungnya.

__ADS_1


Adrian dan Fene berpisah dengan besannya, melanjutkan perjalanan mengunjungi Edward Lincoln dikediamannya.


Dedrick tersenyum lega, melanjutkan perjalanannya menuju Los Angeles, melanjutkan kuliahnya. Tentu tidak mudah menjalani semua kepura-puraan ini.***


__ADS_2