See Eye Stela

See Eye Stela
Perasaan.


__ADS_3

Fene dan Veni sibuk dengan kenangan mereka masa lalu, saling menggoda, memuji, mengenang semua yang sudah berubah menjadi lebih baik.


Adrian menikmati makanan pembuka, tanpa menunggu Miller. Berfikir membuat perutnya terasa lapar, sesekali matanya beradu tatap dengan Dedrick. Ada perasaan iba dihati Adrian, mengenang kisah di Vegas. Jujur Adrian tak menyangka, jika Dedrick adalah putra Veni, mantan kekasihnya. "Kenapa dunia ini begitu sempit?" batinnya. "Hmm! Aku harus membuat keputusan demi Stela, demi putri ku!" tambah Adrian dalam hati.


Pengawal membukakan pintu untuk Miller, terlihat wajah Miller yang sejuk tapi tegas menghampiri mereka. "I'm sorry Adrian, I'm late!" Peluk Miller sangat ramah.


Adrian menyambut kedatangan Miller, memeluk erat teman yang dulu tidak begitu mengenal, kali ini harus kenal karena Stela dan Dedrick, huufgh, makin menyebalkan dan rumit.


"Sayang apakah kamu mengenal Tuan Lim dan Nyonya Fene?" tanya Miller penasaran karena menyaksikan istrinya menggenggam tangan Fene.


"Dia sahabat ku darling! Saat di Jakarta dulu!" Veni memeluk Fene dihadapan Miller dan Adrian.


"Oya, Dedrick dimana? Sudah datang?" Tanya Miller mencari putra kesayangannya.


Adrian tertegun, menatap Fene agar tenang tetap tenang.


"Tuh! Sedang patah hati!" Bisik Veni dapat didengar Adrian dan Fene.


"Hmm! Aku menghampirinya dulu! Dia harus duduk sama kita!" Miller berlalu mendekati putra kesayangannya.


Adrian meminta Fene duduk disampingnya, agar Miller bisa duduk bersebelahan dengan Veni.


"Ada apa seeh Dri? Kok ngajakin Dedrick putra kami? Emang kalian mau buka restoran juga di Los Angeles?" kekeh Veni, belum menyadari apa yang terjadi.


"Ck, biar Miller saja yang menjelaskan, yang penting aku senang bisa menemukan mu lagi! Karena kau masih punya hutang sama kami!" goda Adrian.


"What? Hutang? Hutang apa?" kejut Veni.


Fene tertawa, mengingat masa kehamilannya. "Nggak penting, Adrian jangan didenger! Masih suka iseng." kekeh Fene.


"Iigh! Buat bingung aja!" Geram Veni.


Mereka tertawa hangat, melirik kearah Dedrick dan Miller.


"Itu anak kelamaan yah! Kita juga lapar kali!" Jengkel Veni.


"Udah biarin dulu!" Senyum Fene.


Mereka masih bercerita seputaran bisnis mereka, bertukar pikiran, sesekali tertawa. Entah apa yang ada dikepala masing-masing, yang penting saat ini mereka saling merindukan masa dulu.

__ADS_1


Miller membawa Dedrick gabung bersama. "Sini duduk dekat daddy!" Pinta Miller sangat memanjakan Dedrick.


"Sayang, kenalin! Ini temen momy, sahabat momy masa muda!" kekeh Veni.


'Emang sekarang udah tua!' batin Dedrick menundukkan kepalanya lesu, memberi senyum garingnya pada Adrian dan Fene.


Adrian mengehela nafas dalam, memijat pelipis, "kalau diluar udah gue tendang ni bocah!" geram Adrian membatin.


Veni mengusap lembut punggung putranya. "Fen, anak lo ada cewek kan? Kita jodohin aja gimana?" Kekeh Veni menatap Adrian dan Fene.


Adrian dan Fene saling tatap menelan salivanya, "ogh my God!" batin mereka, "apakah Miller tidak cerita tentang Stela?" Pikiran Adrian dan Fene ternyata sama.


"Hmm! Kita makan dulu yah mi, nanti kita bahas masalah perjodohan!" ucap Miller agar semua terasa tenang dan nyaman.


Miller menatap Adrian, mereka berbicara lewat mata, disela-sela makan siang mereka.


"Berapa lama kalian disini?" tanya Veni menatap Adrian dan Fene.


"Sampai semua beres mi! Daddy sudah menyiapkan hotel untuk mereka." Jawab Miller tenang.


"Oogh!" Veni mengangkat alisnya jujur mulai merasakan atmosfer kebingungan.


Adrian mengeluarkan rokoknya, memetiknya, mendengar alunan musik Madison Beer rackless, sangat lembut ditelinganya. "Huufh!" Adrian menghembuskan asap rokok ke udara sedikit menenangkan pikirannya.


"Kalau bukan kau yang merokok, sudah aku suruh kau menelan asap mu kembali!" Kekeh Miller menggoda Adrian.


"Ck! Saya sengaja merokok disini! agar kalian dapat mengingat saya! Karena saya tamu satu-satunya yang kalian biarkan merokok disini!" Jawabnya sedikit sombong.


Miller makin terkekeh, "ternyata selera humor mu sangat tinggi bung!" goda Miller.


"Oogh, tentu! Karena humorku, Fene terus mengingatku Tuan Miller!" Adrian melirik Fene.


"Hmm!" Fene menyandarkan kepalanya kedada Adrian.


Adrian mengusap bahu Fene, mencium kepala Fene.


Dedrick tertegun, ternyata orang tua mereka sama bar barnya, kadang galak, berantem. Terkadang bisa seperti Romeo and Juliet tak terpisahkan, batinnya.


Mereka tertawa bersama, seperti bukan ingin saling melamar atau meminta anak mereka segera menikah.

__ADS_1


"So! Bagaimana? Apa kalian setuju untuk menikahkan Dedrick dan Stela putri anda Tuan Adrian." ucapan Miller membuat Veni membelalakkan matanya.


"What? Kamu membahas pernikahan?" Kejut Veni menatap Adrian dan Fene meminta penjelasan.


"Hmm! Putra kita jatuh cinta pada putri mereka sayang!" Jelas miller.


"Aaaugh! So sweet! Kenapa kamu nggak cerita sama momy, Dedrick? Apakah kamu anggap momy hanya teman tidur kamu saja?" Goda Veni.


"Aagh malas mi! Tuan ini galak sekali sama aku!" jelas Dedrick menatap tajam Adrian.


"Hmm! Beliau memang galak! Tapi istrinya lebih galak! You know, momy tidak mengizinkan kamu menikah sekarang! Kuliah belum selesai, semua belum beres Dedrick Visser! Kau tidak menghamili putri mereka kan?" Tatapan Veni sangat tegas pada Dedrick.


"Come on mi! Aku mencintai putri Tuan dan Nyonya ini! Tapi rumit, masak aku nggak boleh hangout, nonton, happy! Momy tau aku susah dekat sama wanita! Hanya Stela yang bisa membuat aku lebih hidup! Lebih bergairah, lebih fun! Bibirnya sweet mi!" Jujur Dedrick dihadapan Adrian dan Fene.


"Oogh my God! Kau mencintai putri mereka Dedrick! Sayang kenapa kamu nggak cerita kalau yang kamu cintai dari keluarga mereka? I'm sorry dear! Momy terlalu sibuk tak pernah tau hati anak mami!" Veni membelai lembut kepala putranya.


"Ven, gue kesini mau membahas tentang kawin gantung yang disarankan Kevin saat kami di Vegas! Tapi aku mohon kita tutup rapat-rapat semuanya, demi Stela putri kami, dan Dedrick putra kalian, agar mereka lebih saling mengenal lagi, tanpa pengawalan." ucap Adrian menatap mata Miller dan Fene.


"Hmm! Gimana sayang? Jujur gue nggak ngerti kawin gantung Dri! Tapi gimana, kalau memang ini yang terbaik buat anak kita! Aku setuju. Kamu menikahkan anak kamu disini tanpa Stela! Gitu kan? Yang pasti kalian harus selesaikan kuliah kalian hingga usia berapa?" Tanya Veni pada Miller dan Adrian.


"Kawin gantung itu, biasa dilakukan untuk anak yang usianya belum cukup! diwakilkan oleh kedua orang tua, berhubung Dedrick sudah 18 tahun, Adrian selaku ayah kandung Stela, wajib menikahkan anak gadisnya dengan Dedrick anak kita! Walau Stela nggak ada, pernikahan tetap sah!" Jelas Miller pada Veni dan Fene.


"Usia kita buat sampe 20 yah sayang?" tanya Veni pada Miller.


"Hingga usia Stela 20 tahun Ven!" Jawab Fene.


"Emang anak lo umur berapa Fen?" tanya Veni membesarkan matanya.


"16 mi!" Jawab Miller.


"What? Oogh Dedrick, kamu kenapa jatuh cinta sama anak belia? Aduh, hmm! Momy bingung sayang! Gue pikir anak kita seumuran, sama-sama 18!" kesel Veni mencubit Dedrick disampingnya.


"Oke! Aku cinta mi, cinta pada pandangan pertama! Aku sangat nyaman berada didekatnya! Aku akan menjaganya, aku janji tidak akan merusaknya hingga usia 20!" Aura wajah Dedrick berubah seketika.


"Tapi kalian tidak bisa tinggal bersama, sampai usia Stela 20, dan jangan diberitahu pada keluarga besar!" tegas Adrian menatap Dedrick dihadapannya.


"Ya! Kalau kesini bisa momy kawal! Ingat janji kamu yah Dedrick!" ucap Veni.


'Hmm! Yang penting nikah!' batin Dedrick.

__ADS_1


Miller dan Adrian membuat beberapa perjanjian, semua dia lakukan demi Stela, agar bisa hangout, tanpa helder.***


__ADS_2