
Dedrick meratap tanpa malu didepan ruangan Adrian. Para karayawan FeneSwiss Group terkekeh geli mendengar rayuan pulau kelapa Dedrick.
"Mister, kalau Stela nggak mau! Saya mau kok sama Mister!" Goda karyawan terkekeh geli.
Ya, iyalah mau sama Mister, secara bule kaya dan tampan. Itung-itung rubah keturunan, hehehe.
Dedrick berdiri, mencari bantuan pada secretaris Fene. "Mba! Tolong pujuk Stela agar mau membuka pintu buat saya!" Tangis penyesalan Dedrick pada Luisa.
Luisa menaikkan alisnya sebelah. "Dulu Daddynya bermasalah, sekarang menantu!" Kekeh Luisa membatin. "Berjuang Mister! Kami nggak berani sama Nona Muda!" Goda Liusa.
"Ck!" Dedrick berlalu keruangan Fene, mendengus kesal mendudukkan bokong disofa. Memijat pelan pelipisnya. "Sakit banget! Ternyata Stela lebih keras dari bayanganku!" Batin Dedrick.
Fene dan Veni terkekeh geli mendengar godaan karyawannya. "Emang enak! Kamu fikir Keluarga Lim gampang dipujuk!" Kekeh Veni mengejek.
Miller yang masih malas melihat putranya memilih berlalu mengikuti langkah Adrian. Hanya Adrian yang mampu meluluhkan hati Stela.
Adrian dan Miller sudah berada didepan pintu ruangannya, mengetuk pelan. "Stel! Bisa Daddy bicara sayang?" Panggil Adrian pelan.
Pintu terbuka otoamatis tanpa harus menunggu lama.
Adrian menatap Stela duduk disofa, tengah sibuk dengan layar handphone tanpa peduli ada Miller bersama Adrian.
"Stela! Bisa Daddy bicara?" Tanya Adrian.
Stela menatap mata Adrian, meletakkan ponsel dimeja. "Ya! Bicaralah!" Stela duduk dengan manis menatap Adrian dan Miller secara bergantian.
"Apakah kamu memang tidak mencintai Dedrick?" Tanya Adrian.
"Dad! Aku sudah memohon dan menahan, tapi apa? Aku dipermalukan, dikasari, disakiti, dibentak! Aku aku aku nggak mudah memaafkan dia! Dia terlalu egois! Dia juga nggak pernah memberikan yang berbeda pada ku! Kalau hanya uang, mobil, perhiasan, apartemen, aku juga bisa beli!" Sombong Stela. "Dia nyakitin aku, Dad! Lahir bathin!" Tegas Stela.
"Itulah pernikahan, ada suka duka!" Potong Miller.
"Aaagh! Aku capek! Kalau dia mau balik sama aku! Dia harus pindah ke Swiss! Aku udah menghubungi Uncle Mesi! Aku mau disana." Pinta Stela seperti nggak ada syarat lain.
"Jangan aneh-aneh Stela! Nggak nyambung! Ngapain kamu di Swiss? Visit sebentar juga selesai. Karier kamu di Fashion sayang. Kembalilah!" Pujuk Adrian. "Ingat, Grandpa Hanz menghadiahkan pesta untuk kalian!" Kenang Adrian.
Stela tertegun, mengenang semua masa-masa indahnya saat ada Grandpa Hanz. "Jangan ngomong sama aku! Dia yang bilang pisah! Aku nggak pernah minta pisah! Mau sama aku oke! Nggak juga nggak apa-apa! Toh aku nggak mati, nggak ada dia! Masih ada Uncel Kevin, Uncle Mesi, Uncle Michel, Daddy, Brian, all! Sayang sama aku! Aku nggak butuh dia." Rundung Stela yang tak ingin bersama.
Miller melirik Adrian, "Apa yang kamu mau? Apa kamu nggak kangen ama Dedrick sayang? Manja-manja! Ketawa, ada yang merhatiin!" Goda Adrian.
"No way! Aku sudah cukup di cuekin di Netherland. 6 bulan Dad! Aku tahan." Kesal Stela meluapkan emosinya.
"Baru 6 bulan, Daddy dulu 4 tahun baru bisa balik bahagia sama Mami! Kamu tau ceritanya kan? Daddy dicuekin Mami, dimarahin, dikasarin, hingga kini masih dimarahin!" Kekeh Adrian.
"Aku nggak mau buang waktu Dad! Kalau dia mau bawa aku jalan-jalan! Dia minta mulai dari Nol! Oke, aku coba! Tapi aku nggak janji aku bisa semesra kemaren." Sombong Stela.
__ADS_1
Miller mau tertawa, tapi malu. "Adrian, putrimu mau saya makan karena kesombongannya!" Bisik Miller.
"Ssst!" Adrian tersenyum. "Kamu mau kemana? Kita ke Jogja besok? Sekalian kita visit sama Uncle Richard! Kamu pikir jika kamu berpisah, Daddy nggak pusing apa? Mengurus media? Apa kamu mau Daddy mati berdiri? Please! Come back to your husband!" Mohon Adrian seperti disinetron.
"Dedrick yang nggak sayang sama aku, Dad! Cemburu sama Pedro! Aku sama Pedro nggak ada hubungan Dad! Kami hanya berteman! Sampai kapan dia cemburu? Dia persis Daddy! Aku cuma cerita. Nggak serius! Pedro sahabat ku! Sama kayak hmmm!" Stela mendekat, duduk di pangkuan Adrian. Tampa malu mengalungkan tangannya keleher Adrian, masuk kecurug leher Adrian.
"Kamu mau apa sayang?" Bisik Adrian pada Stela.
"Hmm! Beliin aku mobil di Netherland! Aku mau balik!" Bisik Stela.
"Mobil apa?" Tanya Adrian mengusap lembut kepala Stela.
"Hmm! Mobil Grandpa!" Rengeknya.
"Ya! Besok kita minta mereka membawa Ferrari ke Netherland! Daddy akan mengurusnya!" Janji Miller.
"You serius?" Stela menatap Miller.
"Ya! Daddy serius!" Miller memberi kelingkingnya pada Stela.
"Aaaaagh! I love you Dad! I love you Daddy Miller! Cup! Cup!" Teriak Stela bahagia. "Gendong! Aku nggak mau menemui dia deluan!" Rengek Stela manja.
"Dia suami kamu sayang! Istri harus sabar! Kamu harus memahami dia! Harus patuh!" Bisik Adrian.
"Gendong!" Manyun Stela.
"Depan!" Kekehnya manja.
"Hmm!" Adrian menggelengkan kepalanya, membawa Stela keruangan Fene sambil bercanda.
Miller membukakan pintu untuk menantunya. "Taraaaa!" Kejutan Miller untuk keluarga.
Adrian menurunkan putrinya dihadapan Dedrick, Fene dan Veni.
"Stela!" Dedrick berdiri langsung memeluk tubuh langsing istrinya.
Fene dan Veni tersenyum bahagia. "Alhamdulilah Fen!" Bisik Veni.
"Hmm!" Jawab Fene.
"Hubby! I love you!" Elus Stela menatap wajah suami yang masih memar.
Dedrick memeluk erat tubuh Stela, "Maafkan aku sayang! Maafkan aku!" Bisiknya.
Stela mengalungkan tangannya keleher Dedrick, mencium mesra bibir suami yang sangat dia rindukan.
__ADS_1
Miller dan Adrian tersenyum melihat kemesraan anak menantunya.
"Ternyata nggak susah bujuknya, Dri!" Rangkul Miller pada Adrian.
"Huuufgh! Kita keruangan Daddy aja! Ada kamarnya!" Bisik Stela.
"No! Kita ke hotel! Aku rindu kamu wife!" Ucap Dedrick.
Stela mengangguk setuju. "Mami, aku permisi, aku nggak pulang! Bye! I love you all! Thankyou Dad!" Stela dan Dedrick berlari tertawa bersama di tiap lorong kantor FeneSwiss Group Luisa menatap aneh menuju lift.
"Hati-hati! Kasih tau hotel mana! Biar besok dijemput! Kita ke Jogja." Ucap Fene, tapi tak dihiraukan anak menantunya.
"Tadi berantem, sekarang ngalahin Romeo and Juliet." Batin Luisa terkekeh.
"Lo bujuk dia pakai apa Dri?" Tanya Fene.
"Ferrari Papi!" Ucap Adrian jujur.
"What?" Tanya Fene dan Veni bersamaan.
"Dia minta Ferrari dibawa ke Netherland, Fen!" Senyum Adrian.
"Ya! Saya janji akan urus besok! Yang penting dia kembali." Senyum Miller merangkul Veni.
"Mahal bener bujuk anak lo, Fen! Matre!" Rungut Veni.
"Dari pada cantik-cantik janda, ganteng-ganteng duda! Mending diikutkan sayang!" Kekeh Miller.
"Iya dong! Wanita itu harus mahal. Kalau murah tu yaaah peniti." Tawa mereka pecah.
"Kamu bisa membujuk Stela yah Dri?" Tanya Miller serius.
"Stela itu fotocopy Nyonya Lim! Saya paling tau kelemahannya. Ajakin judi, shoping, yang enak-enak deh! Luluh hatinya. Beda sama Chay-in dan Jasmine." Kenang Adrian. "Saat di Vegas, dia ngamuk! Saya cuma ngajakin makan pitzaa! Kasih Gaun suruh dia berdandan! Hilang semua kesal dihatinya." Tawa Adrian.
"Iya, saat di rumah sakit gimana? Dia bangun, berubah mood kan? Dia itu mengalami emosi yang berubah ubah. Stela sangat mudah melupakan, karena dikepalanya hanya Fashion. Saat Dedrick kasar, dia selalu disibukkan di butik saja!" Kenang Miller.
"Karena dunianya Fashion. Dia nggak mikir yang lain! Stela akan ke Paris untuk mewakilkan Nichole! Coba disuruh belajar, kayak Jasmine! Bisa ngamuk dia! Karena bukan hobynya!" Kenang Adrian lagi.
"Iya ya, Dri! Fene kalau ngambek dulu, lo ajakin beli makanan diresto udah anteng!" Kenang Veni.
"Iiighs! Ya, gue hanya sebatas pitzza dan pasta! Tapi sekali marah, jangankan pitzza, air putih aja nggak lewat!" Kekehnya.
Mereka saling bercerita kembali, tak lupa memberi kabar pada Kevin, tentang Dedrick dan Stela.***
__ADS_1
Rujuk lah yah_____❤️❤️