See Eye Stela

See Eye Stela
Back home.


__ADS_3

Edward membawa Fene pulang ke Berlin. Fene meminta Dedrick dan Stela menemaninya, agar berkumpul di Berlin, setidaknya semenjak kejadian perselingkuhan itu, Fene memilih benar-benar berpisah dari Adrian.


Fene berziarah kemakam Bram, ada setitik kerinduan pada Bram.


"Bram, Assalamu'alaikum! Aku merindukanmu!" Fene meletakkan buket mawar putih diatas batu bertuliskan nama Bram Edward Lincoln. Marmer hitam yang menghiasi batu nisan Bram, disertakan foto tampan diusia muda, menandakan Bram adalah orang yang setia dan hangat.


"Adrian jahat sama gue! Dia selingkuhin gue! Kasihan anak-anak!" Tangisnya pecah seketika, membayangkan semua kenangan terindahnya bersama Bram dan Adrian.


"Ternyata sakit yah Bram! Merindukan orang yang sudah nggak ada di dunia ini!" Isak Fene.


Fene mendoakan Bram, agar tenang dialam syurga, setelah lama duduk disana, Fene berlalu meninggalkan pemakaman. Melewati taman nan indah. Bunga-bunga sebagai pagar jalan penuh warna, pepohonan sebagai hutan pelindung sangat sejuk. Fene menghubungi Stela agar menjemputnya disalah satu cafe. Cuaca Berlin yang tidak pernah bersahabat ditubuhnya, Fene memutuskan duduk didalam restoran yang nyaman. Fene menikmati avocado latte ditemani cemilan ringan.


"Hmm!" Fene menghela nafas dalam. "Gue bawa anak-anak Umroh aagh! Bawa Veni juga!" Senyumnya.


Sudah beberapa minggu Fene sengaja lose contac dengan Adrian dan Kevin, Fene mengerjakan perkerjaan sesuai porsinya. Dia tak mau merusak reputasi perusahaan. Membiarkan mereka disana sementara waktu lebih baik, setidaknya mereka sudah melihat kegilaan ku dalam menghancurkan selingkuhan suami dan sahabatnya.


Mata Fene menatap seorang pria tegap, tampan, brewok, berantai emas 24 karat besar, dijari manisnya tersemat cincin batu rubi dilapisi emas 24 karat. Dihiasi jam Rolex terbaik.


"Fene!" Sapa pria itu. "Fene Calire Zurk!" Senyum pria itu membuat Fene menyatukan kedua alisnya.


Pria itu mendekati Fene, "Aku Carlos! Carlos Arlan. Sahabat saat di sekolah bersama Adrian dan Petter, Ronald, siapa lagi yaah?" Pikirnya meletakkan telunjuknya ke dagu.


"Ck! Iya! Gue inget! Carlos Febian Arlan!" Senyum Fene.


"Nah itu lo inget gue!" Kekehnya. "Lo nunggu suami? pacar? atau kekasih?" Tanyanya SKSD.


"Gue nunggu anak Carlos! Duduklah!" Senyum Fene.


"Jiaah! Udah punya anak aja sahabat gue paling cantik sejagad! Bukannya lo nggak suka cowok?" Kekehnya.


"Enak aja! Suka lah! Udah dua suami gue!" Tambah Fene.


"Becanda lo! Dua? Satu aja dari dulu ampe sekarang nggak pernah gue tau, mau dua!" Kekehnya. "Boleh peluk nggak ni?" Tanya Carlos sudah mendekat pada Fene.


Fene menaikkan alisnya. "Iya! Peluk aja! Kebetulan gue free!" Carlos dan Fene terkekeh saling berpelukan.


"Lama banget kita nggak jumpa Fen! Lo kaget yah lihat kalung gue, makin gantengkan? Ngiler lo?" Kekehnya pada Fene.


"Ck! Gimana mau ngiler! Berat! Kecilin dikit napa seeh! Biar gantengnya keliatan, nggak kayak gigolo gitu!" Kekeh Fene menggoda Carlos.


"Ya udah! Gue copot!" Carlos melepas kalung rantai kapal dan cincin. Memanggil pengawalnya dengan jentikan jari, menukar dengan kalung berlian berlambang Simbol Satanisme.


Fene tersenyum, mengagumi Carlos nggak pernah berubah gaya humornya.

__ADS_1


"Lo ada waktu nggak? Kita ngedate!" Carlos menggoda Fene.


"Iisgh! Asal aja ngajakin ngedate!" Ucap Fene geram.


"Ya ampun Fen! Lo mau gue beliin apa?Yang penting lo ngedate ama gue besok! Oke! Mau gue jemput pakai apa kerumah Mark?" Sombong Carlos.


Deg, 'Carlos sama sekali tidak mengetahui tentang aku!" Batin Fene tersenyum.


"Jemput gue pakai mobil terbaru lo! Oke!" Tantang Fene.


"Serius! Dimana?" Senyum Carlos.


"Disini lah! Mau dimana lagi!" Kesel Fene.


"Oke! Jam berapa?" Senyum Carlos mengembang bahagia.


"Serah lo!" Ucap Fene menyesap minumannya.


"Tulis nomor lo Fene cantik!" Kekeh Carlos.


"Ogah!" Jawab Fene asal.


Carlos menjentikkan jari, pengawal memberi handphone termahal, pastinya blink-blink ula la. "Ni!" Carlos memberikan handphone dihadapan Fene.


"Udah, gue ikhlas buat Bu Hajah Fene Claire Zurk!" Carlos tersenyum.


"Hmm!" Fene memijat pelipis pelan.


"Lo mau apa dari gue? Emas gue?" Carlos mejentikkan jari kembali, pengawal membawa satu kotak perhiasan.


"Lo jualan?" Tanya Fene tersenyum tipis menutup bibir mungilnya.


"Ya lo pilih! Lo mau yang mana! Gue kasih ikhlas! Besok lo pake! Ya Fen! Jujur gue senang bisa ketemu lo lagi! Betewe lo udah free berapa tahun? Gue isiin deh! Biar full!" Kekeh Carlos menggoda Fene.


"Sialan lo! Emang tangki mobil!" Sembari melihat-lihat koleksi Carlos bernilai fantastis.


"Ya kali aja udah lama free! Gue nikahin lo! Gue ikhlas deh! Ikut lo kerumah Mark! Tinggal sama beliau." Senyum Carlos melentikkan mata indahnya.


"Papi udah meninggal Carlos." Jelas Fene.


"What? Serius? Kapan? Sama Mami Marisa juga?" Tanya Carlos terlonjak kaget.


"Mami Marisa masih ada, udah nikah lagi! Kecelakaan. Suami gue juga meninggal!" Senyum Fene.

__ADS_1


"Oogh baby! I love you! Sabar yah! Aku akan menanggung hidupmu! Setidaknya kamu akan bahagia bila bersama ku! Bisa jalan-jalan kemana kamu suka! Aku akan memberi kebahagiaan buat kamu, Fene!" Tatap Carlos serius.


"Gombal! Gue bukan abege Carlos! Jangan buat gue melayang. Gue nggak percaya jika nggak ada bukti." Tantang Fene.


"Oke, besok lo gue bawa pakai jet pribadi gue! Kita buktikan. Carlos mengeluarkan beberapa kalung berlian indah memberikan kepada Fene. "Ni buat kamu! Biar kamu kelihatan cantik besok! Kalau sekarang kamu terlihat seperti janda miskin Fen!" Goda Carlos.


"Iya! Gue emang begini! Senang begini. Biar lo betah." Fene makin asal melihat kelakuan Carlos sangat menghiburnya.


"Ck! Gue turut prihatin Fen! Anak lo berapa orang?" Tanya Carlos lagi menyandarkan punggungnya dikursi.


"Empat, paling kecil sekolah di Jogja, kelas 12." Jelas Fene santai.


"Ooogh! Lo susah sekali sayang! Nggak bisa lo sekolahin anak lo di Berlin dengan kualitas yang baik!" Goda Carlos pada puncak hidung Fene.


"Ck! Males gue!" Fene menatap Carlos tersenyum tipis.


"Hmm! Sekarang kegiatan lo apa? Anak lo yang besar dimana?" Tanya Carlos semakin penasaran.


"Anak gue pertama di Netherland, kedua disini, ketiga udah nikah di La, keempat di Jogja!" Jelas Fene.


"Oogh sweety! Gue akan memberikan kado special buat keempat anak lo!" Carlos memilih beberapa kalung berlian. Fene tersenyum tipis menyaksikan sahabat terkonyol dihadapannya.


"Lo ngapain?" Fene memangku tangannya didada.


"Ini buat anak kita! Lo kasih sama mereka. Biar mereka bahagia dan cantik." Carlos memberikan kalung bermotif sama dihiasi berlian terbaik.


"Kita! Emang lo nggak punya anak dan istri Carlos?" Goda Fene.


"Ck! Anak gue cuma satu Fen! Istri pertama gue meninggal, cewek gue dibawa kabur oleh pemuda! Anjing banget kan!" Kekehnya. "Udah tajir gini, nggak ada yang mau jadi pendamping gue!" Tawanya menatap wajah Fene.


"Nasib lo lah!" Kekeh Fene.


"Oke! Besok kita ketemu disini yah Fen! Jangan lupa lo kasih ke anak kita. Gue tunggu lo disini. Lo suka nggak gue brewokan?" Carlos mengusap lembut wajahnya.


"Hmm! Good! Bersihin aja." Jawab Fene menatap malas.


"Ya udah, besok lo lihat gue pasti beda! Kita pakai sopir atau gue yang nyetir?" Tanya Carlos lagi.


"Lo ngajak ngedate berdua! Jadi kita berdua aja, tanpa sopir. Deal! Kita nonton, makan siang." Jelas Fene.


"Nggak langsung main ke Mansion gue?" Sombong Carlos.


"Ck! Nggak usah mesum deh! Jijik gue!" Fene melihat mobil Stela sudah didepan. "Gue permisi yah! See you Carlos!" Fene berlari meninggalkan Carlos, meninggalkan ponsel dan perhiasan yang tertumpuk dimeja.

__ADS_1


"Fen! Fene! Uuugh!" Geram Carlos. "Cari identitas wanita itu segera." Perintah Carlos pada pengawalnya.***


__ADS_2