
Sudah lebih dari seminggu Stela menghabiskan waktu di rumah sakit. Memulihkan kondisinya agar benar-benar fit atas anjuran dokter. Stela dikawal oleh Mr.Kenny diluar ruangan.
Stela tengah berbaring diatas kasur rumah sakit yang empuk ala hotel bintang 5 sambil menonton TV. Berkali-kali tertidur, kembali terjaga. "Ck! Pengen pulang! Kangen kamar hubby!" Rengeknya manja.
Dedrick tengah menyelesaikan kuliahnya, harus meninggalkan istri tercinta beberapa jam sendirian.
Miller dan Veni belum mengunjungi Stela karena ada beberapa pekerjaan diresto Van Visser. Adrian dan Fene, masih mengurus urusan di Bell Air.
Drrrt, drrt. "Hubby!" Batin Stela.
"Ya sayang!"-Stela.
"Kamu udah makan? Mau aku bawain apa?"-Dedrick.
"Hmm! Choklat aja, white choklat dua!" Kekehnya.
"Oke! Ada lagi wife?"-Dedrick.
"Milkshake Vanila and popcorn! Kita nonton dikamar!" Ucap Stela manja.
"Oke!" Dedrick menutup telfonnya.
Stela tersenyum, merebahkan kembali badannya dikasur.
Tok tok tok.
Kenny masuk mendekati Stela, "Nona, diluar ada Tuan Fernando ingin bertemu!" Ucap Kenny.
Stela menaikkan alisnya, hanya mengangguk setuju.
Fernando masuk membawa Pedro dihadapannya menggunakan kursi roda.
Stela tertegun, menatap mata itu, mata elang milik Pria Spain yang tegas.
"Haii, girl! Surprise!" Senyum Fernando bak menggoda Stela.
Stela menelan salivanya, menatap manusia yang sangat asing dihadapannya.
"Eeegh, hai! Kenapa kalian menemui ku?" Tanya Stela gugup.
"Kebetulan Pedro sudah membaik girl! Dia ingin menemuimu!" Jelas Feranando. "Uncle tinggal yah!" tepuk Fernando pada bahu Pedro.
Stela hanya menatap Pedro dikursi roda. Cukup lama mereka terdiam. "Kamu mau ngapain kesini?" Tanya Stela benar-benar gugup.
"Bagaimana kita jalan ke taman bawah?" Senyum Pedro menanti jawaban.
"Oogh! Oke!" Stela mengangguk setuju.
Stela meminta Kenny membantu Pedro untuk mengantarkan mereka ke taman. Duduk di kursi taman menikmati air mancur. Pemandangan yang luas nan indah, khusus pasien yang ingin menghabiskan waktu jika sudah membaik. Udara yang sangat segar dan tenang.
__ADS_1
"Apa kabar Stel?" Tanya Pedro ramah.
"Cukup baik!"Senyum Stela.
"Terakhir kita bertemu kamu masih usia 9 tahun, aku masih usia 12 tahun. Sekarang kamu udah nikah sama Dedrick." Senyum Pedro menatap Stela.
"Ya! Kami memilih menikah, agar hidup lebih teratur!" Jelas Stela.
Pedro mendekatkan duduknya pada Stela. "Terimakasih, kamu mau menemui aku, kamu sudah mau memaafkan aku! Maaf kan aku Stela!" Pedro menggenggam jemari Stela.
Stela yang tidak pernah mendapat perlakuan agresif seperti itu selain sama Dedrick merasa gugup. Berkali-kali dia mengusap dada, menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Hmm!" Stela membalas genggaman jemari Pedro, membalas tatapan dan tersenyum.
"Kamu nggak berubah! Selalu senang jika aku genggam!" Kenang Pedro tersenyum senang.
Deg, Stela tersadar. "Sory! Aku sudah menikah." Senyum Stela melepas pelan genggaman mereka.
"Oogh ya! Maaf, aku terlalu larut!" Senyum Pedro mengembang diwajahnya yang dingin.
"Bagaimana luka mu! Apa kamu sudah bisa berjalan." Stela bersimpuh dihadapan Pedro hanya untuk meyakinkan kondisinya.
Mereka saling bertatapan, Stela tersenyum, tersipu malu. Melihat mata Pedro membuat hatinya berbunga-bunga.
"Bisa aku lihat lukamu?" Bisik Stela tanpa segan.
"Oogh ya! Ini disini, disini, dan disini!" Tunjuk pedro.
"Hmm! Kamu masih mengingat nama itu!" Pedro menggenggam jemari Stela yang berpegangan pada tuas kursi roda.
"Ya! Kamu tidak bilang bahwa kau Pefi ku! Kenapa kau tidak mengingatkan ku? Kau menjadi pria yang menyebalkan dan tega!" Kenang Stela. Ada perasaan sakit dan sedih, jika diikutkan hati ingin rasanya Stela meremas jantung sahabat kecilnya itu.
"Maaf Stela! Aku mohon maaf! Aku bersedia mejalani hukuman demi menebus dosa ku!" Jelas Pedro tegas.
"Ya! Memang sepantasnya kamu menjalani proses hukum. Grandma akan menuntut mu! Kami semua akan menuntutmu!" Jawab Stela enteng.
"Jika aku sudah menjalani hukuman, mau kah kau menjadi sahabat ku, Stel?" Tanya Pedro.
"Ya! Aku mau, maaf jika sekarang hati ku masih menolakmu, kau telah menyakiti aku dan keluarga ku!" Jelas Stela. "Aku berfikir kau sudah mati Pef! Aku sangat sakit oleh mu! Kalian terlalu egois dalam menyikapi sesuatu! Kalian memaksa ku dan keluarga ku agar kami tidak ada pilihan. Kenapa kalian begitu jahat dan egois?" Tiba-tiba Stela mengingat perkataan Dedrick membuat dirinya kesal.
"Itu Papi, Stel! Not me! Jangan samakan aku sama mereka." Tegas Pedro membela diri.
"Pefi! Look at me, didarahmu! Mengalir darah Febian Arlan, sampai kapan pun kau adalah Keluarga Arlan! Pemilik tambang emas dan Agent bokep Spain. You remember! And one more, aku tidak akan tinggal diam!" Stela menantang mata Pedro yang menatapnya berbeda.
"Stel! Lakukan apapun yang ingin kau lakukan! Aku menerima semua! Aku ikhlas! Aku ingin melihatmu bahagia seperti dulu! Kau telah membiusku Stela! I love you! I love you Stela!" Jelas Pedro masih menatap.
"Why? Why do you love me?" Tanya Stela mencari jawaban dan keyakinan hatinya.
"Because you are my best friend! Best friend I have to keep for the rest of my life! I promised you, I would take care of you! Why did you forget me? Why don't you give me space?" Tatapan Pedro mampu mengalahkan mata indah Stela.
__ADS_1
"Ruang seperti apa yang kau mau?" Tanya Stela dengan tubuh bergetar.
"Ruang untuk ku! Mengisi hari-hari mu! Kau telah membuatku cemburu dengan menikahi sahabatku Dedrick!" Pedro memaksa Stela agar mengingat kenangan mereka.
"Aaaugh, Pefi! Aku tidak bisa mengingat!" Stela menyentuh kepalanya, seketika pandangannya membayang, berubah gelap.
"Stela! Stela! Suster, Suster!" Teriak Pedro memanggil Suster, seketika Pedro panik dengan keadaan Stela.
BHUUK, Stela pingsan dihadapan Pedro.
"Suster! Please, bawa Stela!" Teriak Pedro panik.
Suster bergegas membawa Stela menggunakan brankar.
Kenny menelfon keluarga, menjelaskan kondisi Stela.
"Ada apa dengan Stela?" Batin Pedro mengikuti suster dan Kenny.
Fernando mendekati keponakannya dengan panik. "Ada apa dengan Stela?" Tanya Fernando.
"Ntahlah Uncle! Stela sulit untuk mengingatku." Tangis Pedro.
"Apa kau menyakitinya?" Tanya Fernando penuh khawatir.
"Aku tidak pernah ingin menyakitinya! Aku sangat mencintainya. Aku cemburu dia menikahi sahabatku Dedrick!" Tangisnya pecah ditangan Fernando.
"Tenanglah! Semoga tidak terjadi sesuatu!" Jelas Fernando menenangkan Pedro.
Dokter menangani Stela bergerak cepat. Stela mengalami depresi disebabkan adanya perubahan hormonal yang dapat meningkatkan depresi, selain perubahan hormonal, berbagai pemicu lain dapat tingkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Kondisi ini dapat memengaruhi sistem saraf yang dapat berperan pada suasana hati. Hal ini juga sangat rentan menyebabkan gangguan kesehatan mental. Hilangnya minat pada beberapa aktivitas yang biasan dijalani. Menarik diri dari hubungan sosial atau kegiatan yang biasanya dijalankan. Dia mengalami insomania dan lebih sering berteriak dan menangis sendiri.
Adrian dan Fene yang sudah mendengar dari dokter keadaan Stela sesungguhnya sangat prihatin. Kesehatan Stela semakin memburuk semenjak Hanz meninggalkannya.
Sejak usia 13 tahun, Stela sudah sangat dilelahkan oleh dunia pekerjaan karena ambisi orang tuanya. Ditambah dengan pernikahan muda menjadi pilihan hidupnya. Stela menerima pinangan Dedrick karena ingin menjauh dari keluarganya. Tapi pernikahan yang dia bayangkan indah, seketika tidak seperti yang dia harapkan. Dedrick membawanya kedunia mereka yang biasa.
Dedrick menatap Pedro dengan tatapan marah.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?" Sarkas Dedrick.
Pedro diam menatap Dedrick geram. "Egois!" batin Pedro.
Veni mendengar Dedrick menggeram, lebih memilih menenangkan keduanya. "Ssst! Ini rumah sakit, jangan brisik! Kita akan membawa Stela secepatnya. Daddy sudah mengurus izin Stela untuk meninggalkan Los Angeles." Bisik Veni pada Dedrick dapat didengar oleh Pedro.
"Kenapa mereka akan membawa Stela?" Batin Pedro.
Tampak kesedihan yang mendalam diwajah Pedro. Akan kehilangan Stela kembali.
Andai saja Pedro tidak menjalani proses hukum, mungkin dia akan ikut menemani Stela dalam menghadapi kondisi tersulitnya seperti saat ini.
Kevin menatap kedua pria yang kaku dihadapannya. "Heii boy! Apakah kalian berdua akan bermusuhan hanya karena seorang Stela?" Sindir Kevin terkekeh menatap Dedrick dan Pedro.
__ADS_1
Kevin menaikkan bahunya, ini adalah kejadian Adrian dan Bram kala itu. Hanya status mereka yang berbeda, Kekeh Kevin membatin.
Like and vote...❤️❤️