
Hanz masih penasaran, "kenapa dia memberikan Stela mobil Fen? jawab papi jujur!" tegas Hanz menatap Fene setelah memasuki rumah mewahnya, dipenuhi dengan lukisan indah etnik Eropa masa dulu dan lampu gantung bernilai fantastis, hiasan-hiasan cristal nan menawan koleksi Irene memperindah keunikan ruangan karena sentuhan wanita berkelas. Mereka duduk diruang keluarga sangat luas dihadapkan dengan tempat pembakaran api saat musim dingin, Hanz pencinta musik jazz selalu memberi alunan musik setiap hari.
Fene menelan salivanya, menatap wajah Stela tampak bahagia dan lelah, Hanz masih penuh tanda tanya, Irene dengan wajah penasaran.
"Huufgh! Tapi papi jangan marah pada ku! Karena aku tak ingin media tau dan akan menurunkan reputasi kita." Tunduk Fene.
"Apa aku pernah memarahi mu?" Tanya Hanz masih menatap Fene dan Stela.
Fene mengusap lengan Stela, "Adrian telah menikahkan Stela dengan Dedrick Visser atas permintaan Dedrick, Pi. Saat kami di Netherland. Maafkan aku tidak memberi tahu papi, karena usia Stela masih 16, akan memasuki 17 Pi." Jelas Fene.
"Woow!" Hanz menatap Stela dan melirik Irene, "kenapa kalian tidak memberi tahu kami? Ada apa? Apakah dia telah menyentuh cucuku?" geram Hanz.
"No! No! kami takut itu akan terjadi! Tapi aku merasakan itu telah terjadi!" Fene melirik Stela.
Stela tertunduk takut, mau menatap tak mampu.
"Aku melihat perubahan padamu dan Stela! Kau membebaskannya tanpa pengawal sayang! Mungkin dengan menikahkan mereka kalian akan lega! Aku setuju dengan tindakanmu! Tapi aku tidak setuju kau merahasiakan ini pada ku! Kau tak menghargai aku dan istriku, Edward dan kami semua." Tegas Hanz.
"Pi! Kami kalud! Karena Adrian, telah memukul Dedrick saat di Vegas! Kami malu Pi, tak mampu menjaga Stela dan dia belum cukup usia." Jelas Fene pada Hanz.
"Kau akan dilaporkan ke Komnas HAM jika melarang mereka." Hanz menatap mata Fene.
Fene terdiam, "tapi mereka belum cukup umur pi!" Tegas Fene.
"Fen, aku menikahi mami mu, saat dia berusia 15 tahun! Karena aku sangat mencintai Irene. Aku tak keberatan, aku sudah tau pria itu cucu William Smith kan?" Hanz menatap Irene.
Fene mengangguk, "apakah papi tidak akan memarahi ku?" tanya Fene dengan wajah takut.
"Aku menyayangi kalian, siapapun menantuku, aku akan terima! Kau dengar, siapapun! Stela beruntung memiliki Dedrick! Tapi tidak untuk anak mu yang lain. Pahami mereka, tanya kebutuhan mereka. Jangan egois. Aku menyayangimu, karena aku tau perjuanganmu." Hanz membuka tangannya agar Fene segera memeluknya.
"Makasih Pi!" Isak Fene.
"Dan kamu Stela! Kemana tadi malam? Apa kamu telah melakukan semua? Aku membaca media kalian berduaan! Jawab mami Stela." Tegas Fene menatap Stela sangat ketakutan.
"Fen!" Suara Hanz terdengar lembut. "Jika mereka melakukan itu, sudah sah dan halal! Justru kamu berdosa menghalangi mereka, kalian harus tau! Kebutuhan *** kita sangat berbeda, tidak sama!" Jelas Hanz.
"Tapi kami sudah ada perjanjian hingga usia Stela 20 Pi!" Jawab Fene.
"Heeii, apa kamu gila! Hasrat seseorang tak bisa kamu tahan! Stela terlalu cepat? Ya! Tapi itu hal yang wajar! Karena dia merasa nyaman pada pemuda Netherland itu. Ingat, jangan egois." tegas Hanz.
__ADS_1
"Tapi Adrian papi!" Jelas Fene.
"Adrian mengenal *** usia berapa? Coba tanya dia." tantang Hanz pada Fene.
"Ck! Papi kenapa mendukung mereka?" Rungut Fene.
"Kita akan berpesta saat ulang tahun Stela! Aku akan membiayai pernikahan besar untuk cucuku! Aku tak ingin menunggu hingga 20 tahun. Belum tentu usia ku akan panjang! Apa kau tidak memikirkanku?" Tegas Hanz.
"Papi, bukan biaya! Media!" Rengeknya.
"Aku jamin, kalian akan semakin sukses! Karena Miller pengusaha handal! Ingat, akan banyak musuh stelah mereka tahu, Adrian dan Miller bersatu." Senyum Hanz.
"Stela jawab mami! Apa kamu?" tanya Fene serius.
Stela mengangguk jujur.
"Ooogh my God! Kamu! Aaaagh, papi aku akan menjadi nenek di usia muda! Aku nggak mau!" Rengek Fene sedih tapi ada perasaan bahagia, karena dia akan lebih sempurna seperti ucapan Kevin dan Hanz.
"Hmm! Momy yang aneh!" Kesal Hanz.
Irene mendekati Stela, "Apa kamu bahagia sayang?" tanya Irene lembut.
"Sangat grandma! Aku sangat bahagia! Walau masih perih!" Rengeknya pada Irene.
"Apa kau mau melakukannya lagi?" Goda Hanz tersenyum simpul menatap Stela.
"Grandpa! Aku sangat menyukai Dedrick! Dia sangat pandai membuat aku bahagia!" Ucap Stela dengan mata berkaca-kaca.
Hanz memeluk cucu kecilnya, yang dia rawat sejak kecil. Saat ini telah dewasa dan bahagia. "I love you dear!" ucap Hanz mengusap lembut punggung Stela.
"I love you too Grandpa!" tunduk Stela malu.
"Apa kalian akan bulan madu?" tanya Hanz.
"Hmm!" Stela bingung. "Dedrick akan membawaku ke Netherland!" Jujur Stela membuat Fene geram pada kepolosan putrinya.
"Ya! Aku mengizinkan mu!" Ucap Fene.
Stela memeluk hangat Fene, "Makasih mi! Apa aku boleh menginap dirumah suami ku? Aku merindukannya!" bisik Stela membuat Fene kesal.
__ADS_1
"Hmm! Tapi aku mohon! Jangan bicara kan ini dulu pada Adrian, Pi! Dia belum siap Stela dibawa Dedrick." Jelas Fene.
"Hmm! Dia terlalu bar bar yang menyebalkan." Kekeh Hanz.
"Papi! Dia itu cinta ku! Dia bar bar hanya pada ku." Rungut Fene.
"Hmm!" Peluk Hanz pada putri dan cucunya.
"Stela, pinta Dedrick menginap disini! Aku akan bicara padanya." perintah Hanz.
"Iya Grandpa! Aku keatas yah!" Izin Stela pada Fene, Hanz dan Irene.
"Masakkan sesuatu yang special untuk cucu menantu baruku! Kita makan bersama malam ini." Pinta Hanz pada Irene.
"Makasih pi!" Fene enggan melepas pelukan Hanz.
"Apa kau mengenal *** saat bersama Bram?" Goda Hanz pada Fene. Wajah Fene memanas seketika, menatap pria disebelahnya sangat tampan.
"Hmm! Aku mengenal *** sangat lambat Pi, usia 24 tahun dan orangnya Adrian! Dia merenggut ku!" Jujur Fene.
"Wooow! Kau mencintai Bram juga Adrian, mereka saudara tiri dear," Tambah Hanz.
"Hmm! Panjang ceritanya papi! Adrian itu sahabat ku sejak kecil, aku menicintainya, sangat mencintainya, tapi dia tidak peka! Dia lebih sering menggodaku." Jelas Fene.
"Itulah cinta dear! Unik! Kita takkan tau! Saat ini Jasmine dilirik seorang Dokter Spesialis Anak, aku rasa Jasmine sangat bingung diantara dua pilihan, antara Mesy dan Alenso." Cerita Hanz membuat Fene terkejut.
"Maksud papi? Mesy orang kepercayaan kita di Swiss?" tanya Fene penasaran.
"Ya! Apa kau tidak tahu?" tanya Hanz.
Fene menunduk, "mereka takut untuk jujur pada kami papi!" rengek Fene ditubuh Hanz.
"Kalian payah, terlalu egois dan keras! Kalian harus paham, apa yang mereka butuh. Stela dia lebih manja! Dia butuh pria seperti Dedrick, tegas dan romantis seperti hari ini." Kekeh Hanz. "Aku akan memeberikan Ferrariku pada mereka." Kecup Hanz pada puncak kepala Fene.
"Terimakasih pi! Aku disini untuk memahami mereka!" Jelas Fene.
"Kapan Adrian pulang?" Tanya Hanz melirik wajah Fene berada dibawah dagu tampannya.
"Saat ulang tahun Stela, Pi!" Jawab Fene.
__ADS_1
"Baik, kita buat dia sport jantung! Aku akan menghajarnya jika dia menyakiti menantu baruku!" Kesal Hanz.
"Papi!" rengek Fene memeluk semakin erat.***