
Adrian tertegun, wanita yang mengaguminya selalu wanita mandiri, tidak manja. Fene walau manja tapi mandiri. Saat ini dia dihadapkan dengan Camille, yatim piatu. Dia menjadi wanita sukses juga nggak mudah.
"Apakah kamu atheis?" Adrian mengartikan tatto dibahu Camille.
"Ya! Aku atheis Dri!" Senyumnya.
"Hmm!" Adrian mengangguk. Jujur Adrian hanya mengagumi Camille. Kepintarannya diatas rata-rata mengelola kasino, bergaul dengan semua kalangan, lebih humble.
"Michel adik ku kemaren mendekatimu saat wedding Stela! Apa kau tidak ingin menjalin relationship dengannya?" Tanya Adrian serius.
Camille menatap Adrian tersenyum, "I love his brother in silence, I can't love his sister." Ucapannya membuat Adrian tersenyum tipis.
"You can't marry me Camille! I have a wife and you know it." Jelas Adrian pede diatas rata-rata.
"Who wants to marry you?" Kekeh Camille.
Adrian menaikkan alisnya, "So?" Adrian butuh pernyataan.
"Aku butuh partner! Not husband!" Jelas Camille.
"Partner ***?" Pertanyaan Adrian sedikit mendalam.
"All!" Jelas Camille.
"Bisa lebih spesifik! Agar aku paham." Kening Adrian sedikit mengkerut.
"Hmm! Aku butuh teman bisnis, sahabat, teman tidur, musuh and anything!" Tawa Camille, tapi dapat diartikan Adrian, Camille adalah wanita kesepian. "Realistis Adrian! Aku mencintai pria yang memiliki istri cantik, pintar, kaya, keluarga terhormat! Aku tidak bisa berharap lebih pada mu. Kau adalah pria baik, romantis! Fene sangat beruntung memilikimu." Jelasnya panjang lebar.
"Apa kamu mau hanya menjadi simpanan?" Tanya Adrian.
"Why not! Simpanan seorang Adrian Moreno Lim!" Senyumnya menunduk memancarkan kesedihan.
"Sorry! Aku minta maaf buat kamu tidak nyaman dengan ucapanku barusan. Aku benar-benar minta maaf." Adrian mengambil tangan Camille dari pahanya.
"Ehm! Nggak apa-apa! Aku nggak pernah begini sama pria Dri! Aku nyaman sama kamu! Sangat nyaman." Senyum Camille menatap Adrian.
Adrian mengecup punggung tangan Camille, "Hmm!" Adrian tersenyum.
'Anjiing! Mata Camille sangat indah! Aaagh! Terus menggoda!' Batin Adrian.
"I love you Dri!" Ucap Camille menatap mata Adrian.
Adrian hanya membalas tatapan Camille, tak bisa berucap. Rasanya dia seperti dicintai. 'Ya Allah! Godaan gue!' Batin Adrian geleng-geleng kepala.
"Do you want?" Camille menatap Adrian dengan senyum.
"Huufgh! Honestly I want to, but!" Adrian ragu.
"But, what?" Camille lebih mendekatkan wajahnya dihadapan Adrian. Saat ini posisi mereka berhadapan, karena Camille menggeser sofanya.
Adrian menelan salivanya. Menatap dalam manik mata Camille, tersenyum licik. Adrian menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan, tapi...
"Yes I wan!" Adrian menangkup pipi Camille dihadapannya. Mencium lembut bibir Camille, dia membalas ciuman Adrian dengan penuh perasaan. Sedikit terdengar suara desa han Camille yang mengalihkan pikiran Adrian.
Adrian mengangkat Camille ke atas ranjang, mencumbu Camille disana sangat panas. Adrian lebih senang bermain-main dibagian ehem Camille.
"Hmmfh Dri! **** me now!" Camille merasakan seluruh persendiannya menegang, Camille menekan lebih dalam kepala Adrian.
"Hmm! I need you Camille!" Adrian mengecup semua bagian tubuh wanitanya. Saat Adrian akan melakukan manuver, Camille berkali-kali menegang dalam pelepasannya. Dengan nafas terengah, menerima manuver Adrian menyatukan milik mereka. Adrian sangat menikmati permainannya kali ini. "Oogh!" Adrian mendekap erat Camille saat mencapai pelepasannya. "I'm sorry Cam! But, I need you!" Adrian mengecup kening Camille, hingga mereka benar-benar terlelap.
__ADS_1
Drrt, drrt, Adrian tak melihat nama yang tertera dihandphone miliknya, dia menggeser lambang hijau meletakan ditelinganya.
"Hmm!" Jawab Adrian masih stengah sadar.
"Lo dikamar berapa? Gue udah dibawah!"
"3086!" Adrian menutup telfonnya memejamkan matanya. Handphone masih berada di dadanya. Seketika,
Tiiing tong, ting tong.
Adrian terlonjak kaget, "Anjiiing! ****! Aaagh! Shiiit! Who?" Adrian mengambil handphonen miliknya mencari penelfon barusan. "Anjiing Kevin! Aaagh!" Adrian mengelus punggung Camille agar segera terjaga.
Camille mengusap matanya, "Ada apa?" Tanya Camille masih stengah sadar. Adrian masih sibuk memasang celana dan baju kaos miliknya.
"Dear, kamu masuk kamar mandi Kevin di luar." Adrian panik, memberi baju milik Camille, "Kamu bersih-bersih yah honey!" Adrian mendorong Camille,
"Bra aku! G-string aku Dri!" Teriak Camille kesal karena kepanikan Adrian.
Tiiing tooong, udah hampir 10 menit Kevin diluar.
Adrian mengatur nafasnya, merapikan rambutnya dengan jari, berkali-kali mengusap dadanya.
Cekrek!
Kevin tegak pinggang dihadapan Adrian. "Lo ngapain? Lo nggak nyimpen Camille di dalam kan?" Kesal Kevin.
"Ssst! Please!" Adrian meletakkan telunjuknya dibibir.
"Kenapa lo?" Kevin mengerutkan keningnya. Memperhatikan suasana kamar yang berbeda. "Hmmm! Jujur! Who?" Wajah Kevin serius, setelah melihat tas tangan wanita.
"Oogh! Oke!" Adrian mengusap wajahnya.
"Please Vin! No! Aku mencintai Fene! Tapi aku butuh dia saat ini! Please!" Wajah Adrian memohon.
Ceekrek, Camille muncul dihadapan Kevin, menelan salivanya.
"I'm sory! Sudah mencintai sahabat kamu!" Jelas Camille.
Kevin ternganga, melihat Camille dihadapannya sangat cantik, melewati Kevin mengambil tas miliknya,
"Aku permisi Dri! Kevin! Bye!" Camille berbalik.
"Tunggu Cam!" Tahan Adrian.
"Ya Dri!" Camille melihat kearah Adrian juga menatap Kevin.
Adrian mendekati Camille, "Terimakasih untuk semua! Kamu hati-hati!" Kecup Adrian pada kening Camille, membuat Kevin meloek mau muntah.
"Sama-Sama Dri! I love you!" Bisik Camille.
"I need you!" Jawab Adrian spontan.
"What?" Kevin makin menggeram, karena menjadi saksi perselingkuhan Adrian.
Camille berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Lo gila? Lo mau di gantung Hanz, Adrian!" Geram Kevin saat Camille meninggalkan kamar mereka.
"Hei, hei! Ini urusan gue! Gue laki-laki normal di goda wanita secantik dia siapa yang nggak tergiur Vin! Cara dia merhatiin gue, setidaknya gue butuh dia Vin!" Jelas Adrian.
__ADS_1
"Denger Dri! ****** lo sembunyiin, bakal tercium!" Geram Kevin pada Adrian.
"Asal bangkenya nggak lo buang kejalan! Semua akan aman kok! Camille juga tidak mengharuskan gue menikahinya. Kita sama-sama nyaman Kevin." Bela Adrian.
"Tai lo! Nyaman apaan? *****-an iya! Jangan sampai lo sakitin Fene, Dri! Gue orang paling depan yang tarik lo ke neraka. Ngerti lo!" Jelas Kevin masih tak percaya atas kelakuan Adrian. "Betewe! Lo ngapain selingkuh sih Dri? Camille ada temen nggak? Kasih gue dong satu! Gue udah putus sama pacar gue! Ketahuan sama Nichole whattsappnya." Jujur Kevin spontan.
"Haaah? Lo selingkuh dari Nichole?" Kejut Adrian.
"Ya iyalah! Gue free, gue tajir! Anak nggak ada!" Kekehnya.
"Masih ngaceng?" Goda Adrian.
"Masihlah! Justru gue nggak bisa nahan akhir-akhir ini Dri!" Jelas Kevin..
"Lo ada masalah sama Nichole?" Tanya Adrian lebih spesifik.
"Nggak ada! Fuber kedua kali." Ucapannya menjadi tawa.
"Lo ngapain disini? Bukannya lo di Jakarta?" Tanya Adrian.
"Gue di Paris kemaren Dri! Bosan, makanya gue susul lo! Pas Stela udah nyampe, gue jalan." Jelasnya menikmati cake yang dibawakan Camille.
"Bini gue sendiri dong?" Rundung Adrian.
"Ada Holi, Petter, bahkan mereka sering ke mall, bawa Chay-in. Naah, gue cengok." Kekeh Kevin.
"Kerjaan?" Tanya Adrian.
"Aman! Nggak ada masalah." Jelas Kevin lagi. "Fene tadi nelfon gue, udah dua kali miscal, nggak tau mau bicara apa! Curhatin lo kali, selingkuh sama Camille!" Tawa Kevin.
"Ck! Please! Gue cuma butuh temen! Nggak lebih!" Adrian menyalakan rokoknya.
"Lo habis ngapain lama buka pintu?" Kevin menatap serius.
"Yaaah biasalah! Gue ketiduran, dia kecapean! Makanya lo dateng, gue kalud! Rupanya lo lebih dulu nyuri start!" Lempar Adrian pake tisyu pada Kevin.
"Yah jujur, udah lama. Sama model Australi, dia sering ke Jakarta. Nichole jarang ngecek! Peluang gue lah! Terlena, eeeh ngamuk! Kita pisah! Dia ada fashion lusa di New york." Jelas Kevin.
"Lo ikut?" Tanya Adrian.
"Nggaklah! Ada ponakan ama bini gue." Kevin tersenyum.
"Camille juga ikut!" Jelas Adrian mengenang kejadian dua hari ini tersenyum sendiri.
"Terus? Lo ikut?" Tanya Kevin penasaran.
"Hmm! Ragu! Ikut yok! Gue mau kenalan sama Fernando. Dia selalu hadir diacara fashion." Jelas Adrian.
"What? Berarti dia sekarang di Paris?" Tanya Kevin membelalakkan matanya.
"Makanya gue heran lo nggak nemanin mereka! Gue mau hubungi Alberth dulu. Pengawalan buat Nichole dan Stela." Jelas Adrian.
"Ya udah deh! Gue rebahan dulu! *****'!" Kekeh Kevin meluncur keranjang Adrian.
"Setan! Sahabat kayak lo, limited edition!" Goda Adrian.
"Ya iya dong! Gue nggak terganti Adrian. Makanya harus rajin manuver! Biar awet muda." Kekehnya.
"******!" Adrian menghubungi Alberth dan memikirkan cara ke New york menemani Camille dan putrinya Stela.
__ADS_1
Alasan.***