
Stela menghabiskan waktu dikamar miliknya, tak menghiraukan panggilan Irene. Kepergian Fene dan Adrian membuat dirinya kesal, "kebiasaan meninggalkan aku sendiri!" rungutnya dikamar.
Stela menatap wajah Dedrick dilayar handphone miliknya, melamun, mengenang kisah cintanya semasa di Vegas. Sangat bahagia, walau sesaat. "Daddy sengaja menjauhkan aku darinya! aku membenci daddy! Aku akan bicara pada Grandpa! Biar daddy dimarahin mereka! Geramnya.
Tiiing,
"Dear, I love you." Pesan wattshap Dedrick masuk kehandphone miliknya.
"I love you too dear! kamu dimana?" Balas Stela langsung dijawab Dedrick.
"Aku selalu didekat mu! Tunggu aku! Kita akan bersama seumur hidupku." Membuat Stela makin menggila karena pesan singkat Dedrick.
"Aaaagh! Aku akan menunggumu Dedrick Visser, I love you so much!" teriak Stela mencium handphone berkali-kali.
Tok tok tok,
"Ya!" Stela mendekap bibirnya.
"Ada Non Lusi di luar Non!" Ucap pelayan.
Stela berlari kepintu membuka pintu kamar melihat keluar, "mana Lusi? Suruh kekamar aja!" perintah Stela pada pelayan.
"Baik Non!" Pelayan berlalu meninggalkan Stela.
'Ck! ganggu aja!' kesal Stela kembali keranjang bigsize kamarnya.
Lusi mengetuk, nerobos masuk tanpa izin dari Stela.
"Kamu nggak ke kampus?" tanya Lusi menatap Stela sangat berantakan.
"Malas, lagi pengen dirumah menikmati kasur!" rungutnya.
"You oke, dear?" tanya Lusi pelan, mendekati Stela.
"Aku benci daddy!" Kesalnya.
"Why?" tanya Lusi penasaran.
"Dia melarangku dekat dengan Dedrick, tanpa alasan. You know, Uncle Kevin menghajar Dedrick saat di Vegas! Daddy ikut menyakitinya. Aku hanya berciuman Lusi! Nggak lebih! bisiknya.
"Oogh my God!" Lusi spechles, "and?" tanya Lusi makin penasaran.
__ADS_1
"Aku memilih pergi dari mereka! Aku akan hidup bersama Dedrick!" Stela tak bisa membendung air mata yang mengalir kepipi mulusnya.
"Haah? Aku kan udah bilang, semua nggak akan mudah dear! Aku tau keluarga kita." Jelas Lusi.
"Aku nyaman Lusi, Dedrick beda! Dia sangat lembut pada ku! Kami akan menikah dan hidup bersama! Aku tidak peduli dengan semua ini!" rengeknya memeluk Lusi, "dia memperlakukan aku sangat baik! dia menciumku penuh perasaan, bukan nafsu! kau tau, aku menemukan cinta ku! Aku dapat merasakannya! Dia tak menyentuhku tanpa izinku! Dedrick beda Lusi!" Stela menangis dipelukan Lusi hingga bahunya bergetar meratapi kisah cinta yang tak mudah.
"Ogh dear! Apakah kau benar-benar gila karena Dedrick?" bisik Lusi, mengusap rambut Stela.
"Ya! Aku mencintainya Lusi! Dia sangat baik dan sopan pada ku! Aku rela dia meniduriku!" Isak Stela dibahu Lusi.
"Listen dear! Cinta itu bukan hanya *** saja! Tapi apa kau yakin dia bisa membahagiakan mu, dear?" Tanya Lusi lagi.
"Aku yakin, dia bukan pria biasa! Dia pemilik semua! Aku mendengarnya dari pengawal jelek diluar itu! Kalau Miller Van Visser adalah mafia di Netherland! Dia sangat baik! Sangat tenang! Tidak seperti daddy, nyebelin!" Isaknya lagi.
"Hmm! Apa daddy punya story buruk sama Miller?" Tanya Lusi penasaran.
"Aku tidak tau! Aku hanya ingin Dedrick memelukku!" rengeknya seperti anak kecil.
"Wait, kita cari informasi dari Marelin, dia model di Netherland, kekasih Brian! Mereka sudah tinggal serumah! Aku dengar mereka sudah menikah tanpa sepengetahuan daddy dan momy." bisik Lusi.
"What? Brian! Maried? Apakah dia tidak menganggap kita adiknya?" Stela cemberut.
"No! Momy tak mengizinkan Brian dan Marelin bersama!" bisik Lusi melanjutkan.
"Karena Marelin pernah berhubungan dengan pria lain yang, hmm, yah hidung belang! But, I don't care! Yang penting Brian bahagia bersama wanita cantik itu." tambah Lusi.
Mereka menghela nafas dalam, masuk kepikiran mereka masing-masing, berbaring bersama, masuk ke dunia mimpi mereka.
Situasi berbeda dengan Adrian dan Fene, mereka tiba di Netherland dengan pengawalan ketat. Adrian sudah membuat temu janji dengan Miller. Mereka akan bertemu disalah satu restoran mewah milik Keluarga Van Visser, tentu dengan penjagaan ketat, hanya pertemuan keluarga.
Saat masuk direstoran pukul 13.23 waktu Netherland. Restoran yang sangat mewah, terkesan sejuk dan hangat. Fene menatap beberapa lukisan sejarah Netherland yang dihias apik sangat sempurna, clasik tertata mewah, patung-patung penyambut tamu sangat lucu. Fene dikejutkan dengan sosok wanita berhijab sangat cantik.
"Veni!" bisik Fene, "ngapain Veni disini?" batinnya.
Veni dan Fene beradu tatap, Adrian masih diluar menerima telfon dari koleganya.
"Heeii Fen!" sapa Veni mendekati Fene masih tertegun.
Fene melihat seorang pemuda bersama Veni, Dedrick. Pemuda itu yang membuat Stela menggila, batin Fene kesal.
"Haii!" Fene menerima pelukan Veni yang telah mendekat kearahnya.
__ADS_1
"Long time no see!" Isak mereka berdua saling menatap setelah melepas pelukan.
"Kamu cantik sekali!" Puji Fene.
"Hmm! Kamu juga makin cantik sweety!" Tawa mereka pecah, sama-sama menyeka air mata.
"Ayuuk! kemeja sana!" Veni membawa Fene ke meja yang sudah di reserfasi atas nama Keluarga Lim.
"Ternyata Adrian sudah mengubah namanya jadi Tuan Lim?" Goda Veni mengiringi Fene kemeja mereka.
"Iya, karena keahliannya bisa bahasa mandarin! Jadi lengket deh Lim!" kekeh Fene.
"Gimana kabar kamu Fen? Anak-anak gimana? Brian udah besar dong? kangen pengen ngumpul lagi kayak dulu!" Kenang Veni mengusap lembut pipi mulus Fene.
"Hmm! Kamu menghilang, nggak mau berteman lagi dengan ku!" rungut Fene.
"I'm sorry dear!" Veni tersenyum mengecup tangan Fene dihadapannya, "oya, Adrian mana?" tambah Veni.
"Lagi on call!" kekeh Fene.
"Hmm! kalian terlalu sibuk, hingga baru sekarang menginjakkan kaki kesini." rungut Veni.
"Ck, bukan begitu! Kamu tau di Jakarta gimana sibuknya!" jawab Fene.
"Haii sayang!" Adrian menatap Fene dan Veni tak kalah terkejut. "Veni? You?" kaget Adrian.
"Hmm! Ya, aku! Aku Adrian! Aku muslim sekarang." Senyum Veni menyambut Adrian memberi salam tanpa bersentuhan.
"Wooow! Spechles gue!" tawa Adrian duduk dihadapan Veni dan Fene, ada perasaan tak enak dihati Adrian. "Are you the wife of Mr Miller, the owner of this restaurant?" Tanya Adrian meyakinkan.
"Oogh, Ya! Miller Van Visser, suami ku! Sebentar lagi dia akan tiba! Kenapa? kalian ada bisnis sama Miller? Karena dia memesan restoran atas nama Lim tanpa tamu lain! Apa itu kalian?" tanya Veni sedikit bingung.
"Oke! Ya! aku ada janji dengannya." Adrian mengusap wajahnya, menatap kearah Dedrick yang duduk sendiri disudut dekat kaca. "Apakah yang duduk disudut itu putramu?" tanya Adrian untuk meyakinkan hatinya.
"Ya! Dia putra ku! Dia sedang patah hati! Makanya pulang!" Kekeh Veni pelan.
"Ooogh!" Fene menatap Adrian dengan senyuman kaku.
Adrian masih terdiam, tak bisa berucap, perasaannya semakin berkecamuk. Membiarkan kedua wanita ini reuni, sementara Adrian seperti berfikir sangat berat. Fene terus menatap mata Adrian.
"Oya, aku minta maaf, karena tidak datang di pemakaman Jasmine waktu itu!" Kenang Veni, masih menggenggam jemari Fene.
__ADS_1
"Nggak apa-apa! Jasmine kecil sudah dewasa, sedang meniti karier Obstetrician di Berlin!" Jelas Fene, pikirannya masih belum mengerti dengan semua kejutan.***