
Stela masih terlelap dipelukan Dedrick setelah pertempuran hangat mereka tadi malam, Dedrick perlahan memindahkan istrinya pelan agar tidak terjaga. Dia berlalu menuju kamar mandi melakukan ritual di pagi hari.
Tok tok tok,
"Dedrick!" Suara Veni terdengar dari balik pintu. Dedrick yang masih bugil memasang boxer tergeletak di lantai membuka pintu.
"Ya Mi!" Dedrick membuka pintu, membiarkan Veni masuk ke kamar mereka tanpa malu.
Stela masih terlelap tidak menggunakan sehelai benangpun. Lingeri yang dia gunakan tergeletak di lantai bersama underware milik Stela.
"Hmm!" Veni tersenyum melihat kelakuan anak menantunya.
"Stela, Stel! Bangun sayang! Kita mau berangkat. Nanti telat! Cup," Kecup Veni kekepala Stela.
Dedrick membuka horden kamar, membiarkan pelayan mengantarkan sarapan seperti biasa.
Stela mengerang, menggeliatkan tubuhnya yang masih tertutup selimut tipis memperlihatkan indahnya mainan putranya Veni. Stela terjaga, mencium aroma yang tak sedap dikamarnya, mencium bau makanan yang ingin mengeluarkan isi perutnya.
"Uueek, uuek!" Stela membalutkan selimut ditubuhnya berlari ke toilet. "Uuuek, uueek!" Stela meringkuk dicloset, perasaan sesak luar biasa.
Veni mengejar Stela yang tengah muntah-muntah, Veni sangat menyayangi Stela. Menurutnya Dedrick terlalu cuek akhir-akhir ini pada Stela.
Dedrick mengambil minyak angin memberikan pada Veni.
"Kamu kenapa sayang? Kamu hamil?" Tanya Veni lembut.
"Hmm! Nggak tau Mi! Tapi kayaknya aku nggak period dari bulan lalu!" Stela meringkuk dibahu Veni.
"Ya udah! Nanti kita periksa yah!" Veni memperbaiki rambut menantu, melihat beberapa hasil karya putranya, membawa Stela keluar dari kamar mandi agar duduk disofa kamar putranya.
"Hamil?" Bisik Dedrick pada Veni.
"Belum tau!" Veni melihat Dedrick kegirangan.
"Iighs! Kamu! Riskan hamil di usia segini! Konsultasi dulu ke dokter. Kita ke dokter, baru berangkat. Bilangin ke Daddy, Dedrick!" Jelas Veni.
Dedrick memanggil Miller diruang makan tengah sarapan, membawa kekamarnya.
"Kita pending berangkat Sayang, Stela morning sickness! Kayaknya hamil deh sayang!" Jawab Veni lemes.
"Alhamdulilah! Kita bisa ada temen Mi! Teriak Miller memeluk Veni.
"Aaagh! Daddy! Belum tau, kita periksa dulu." Jawab Veni kesal karena Miller memang menginginkan cucu dari pernikahan putranya.
"Kamu mainnya ganas juga! Ampe banyak hasil karya!" Goda Miller pada Dedrick sambil berbisik.
"Iya dong Dad! Harus hot! Sayang disisain!" Jawab Dedrick dengan rona bahagia dapat di denger Veni dan Stela.
"Stel, kamu mandi dulu yah! Bersih-bersih, keramas! Kita kedokter." Usap Veni di punggung mulus Stela.
Stela mengangguk manja, merenggangkan selimut, tanpa malu memperlihatkan punggung mulus dan bagian depan lebih menerawang berwarna pink milik istri Dedrick, menuju kamar mandi, melakukan ritual kecantikannya.
__ADS_1
Miller dan Veni mengagumi keindahan tubuh menantunya sangat sempurna dan terawat. "Pantes Dedrick minta nikah cepet, putri Adrian sangat sempurna." Bisik Veni pada Miller.
"Iya, makanya on fire terus!" Tambah Miller terkekeh.
Dedrick bersorak gembira, "Aku berhasil buat ucet Stela, Mi!" Teriaknya memeluk Veni dan Miller saat Stela menutup pintu kamar mandi rapat.
"Jangan seneng dulu! Bisa jadi telat datang bulan karena strees, karena masalah kemaren! Perjalanan lumayan jauh. Kita periksa sama-sama yah! Mami berharap pending dulu! Kasihan, masih kecil banget Dedrick!" Rengek Veni dibahu putranya.
"Iigh Mami kan pengen lihat hasil karya aku! Nggak lihat body wife! Padet gitu, sayang kalau nggak jadi Mi! Kali aja jadi Pilot, sama Dokter Spog, berwajah cantik, ganteng dari kami! Lagian masih seger, manis Mi!" Kekehnya.
"Iiighs, Anak sama Daddy sama aja! Gatel kayak ulat bulu!" Veni berlalu meninggalkan Dedrick dan Miller di kamar menuju ruang makan.
Miller saling menggoda Dedrick. "Kalau anak aku cewek namanya Natali, kalau cowok Nathan." Senyum Dedrick menghayal.
"Ck! Mami dipanggil apa?" Rengeknya.
"Ya Mami lah! Masak Sis! Atau Nenek!" Goda Dedrick.
Miller tertawa, "Kamu udah mandi?" Tanya Miller pada Dedrick.
"Belum!" Kekehnya.
"Mandi sana! Masih junub udah jalan-jalan!" Miller mengejar putranya agar segera membersihkan diri.
"Sayang! Udah! Cepat Dedrick, kita mau berangkat!" Teriak Veni naik 2 oktaf.
Dedrick masuk kekamar melihat istrinya masih menggunakan handuk, memeluk tubuh Stela dari belakang, mencium aroma wangi yang selalu membiusnya setiap waktu.
"Makasih yah! Kamu cantik, manja! Aku seneng, kamu manjanya sama aku!" Ucap Dedrick membalikkan pelan tubuh Stela agar berhadapan.
"I love to too wife, huffgh!" balas Dedrick.
Dedrick tak tinggal diam, mengeksplore bagian tubuh Stela, membuat Stela makin terlena. Dedrick sangat mencintai Stela, di usia masih sangat muda dia bertanggung jawab pada Stela yang memang lebih manja di banding Chay-in adiknya.
Mereka saling menikmati permainan di pagi hari, melakukan manuver, tanpa merapatkan pintu. Veni sengaja mengekori Dedrick memastikan mereka segera bersiap, hanya geleng-geleng kepala melihat kemesraan putranya.
"Heii! Kenapa?" Kejut Miller pada Veni saat mendengar ******* menantunya, teriakan manja Stela membuat Veni tersenyum geli meletakkan jarinya kebibir. Menutup pelan pintu kamar putranya.
"Disuruh mandi, malah mandi keringet! Sama kayak kamu! Terlalu manjain aku!" Kekeh Veni berlalu.
"Kamu mau?" Goda Miller menatap mata Veni.
"Iigh! Masih pegel sayang! Tadi malam kamu buat aku kejang! Kamu mupeng yah! Goda Veni meledek suaminya.
Miller hanya memeluk Veni, "Sedikit! Lebih ke manjain kamu aja! Karena kalau cuma sebentar nggak enak, kecuali kamu yang mau!" Cium Miller pada bibir Veni, menuju ruang makan kembali.
"Aku kepikiran sama Fene, sayang! Nggak akan mudah dia maafin Adrian!" Kenang Veni melepas kecupan Miller.
"Hmm! Aku prihatin, takutnya Camille bersatu dengan Fernando, akan mengancam anak-anak kita Ven!" Jelas Miller masih mendekap.
"Kalau itu nggak usah khawatir! Lincoln tau cara menghadapinya sayang. Aku khawatir kehilangan nyawa sayang! Seperti Bram!" Veni menatap Miller mengelus wajah tampan suaminya.
__ADS_1
"Makanya kita mengunjungi mereka, agar mengatur strategi! Aku khawatir sama Dedrick dan Stela! Kamu lihat sendiri Stela manja! Nggak keras!" Rundung Miller.
"Atau kita biarkan mereka kuliah di Nteherland sayang. Jangan disini. Pedro disini, aku takut banget." Jelas Veni.
"Boleh! Nanti kita bahas." Miller mengambil cake kembali duduk membawa Veni kepangkuannya menyuapkan beberapa potongan cake pada Veni.
"Kamu pernah selingkuh dari aku, tanpa sepengetahuan aku sayang?" Tanya Veni manja pada leher Miller.
"Mau jujur atau bohong?" Goda Miller.
"Jujurlah?" Jawab Veni memainkan dagu suaminya dengan jari.
Miller menarik nafas dalam tersenyum melihat wajah Veni, "Pernah! Dulu! Saat kita baru menikah! Kamu masih seperti kuntilanak sama aku!" Senyum Miller jujur.
"Hmm! Berapa lama?" Tanya Veni merenggangkan kepalanya, menatap mata elang milik Miller.
"Hmm! Lebih lama, 1,5 tahun. Sama secretaris lama ku. Saat itu aku tidak dapat perhatian dari kamu! Aku butuh! Terjadilah!" Jelas Miller.
"Bagaimana perasaan kamu sayang?" tanya Veni masih menatap.
"Sedih, kecewa, sama diri sendiri. Apalagi saat denger kamu hamil Dedrick, aku bener-bener berubah demi kamu dan calon anakku!" Miller mengusap punggung Veni.
"Menurut kamu laki-laki selingkuh karena apa?" tanya Veni lebih spesifik.
"Karena butuh perhatian, kondisi semua sama! Butuh Ven, bukan karena cinta!" Senyum Miller lagi.
"I see! Jadi Adrian, merasa kemaren permasalahan dia sama Fene belum selesai! Dia merasa ada ruang dengan pertemuannya sama Camille, yaaah terjadi deh! Begitu menurut kamu?" Veni memeluk Miller manja.
"Begitulah sayang, pria selingkuh hanya ingin perhatian kecil, seperti makan, nemanin ngobrol! Camille masuk disaat Adrian butuh dan waktunya tepat. Just it!" Miller membelai rambut Veni yang belum tertutup hijab.
"Iya seeh! Apalagi Adrian digebukin Hanz saat tau memukul Dedrick dirumah kita. Makanya ada perasaan kecewa." angguk Veni mengerti penyebab Adrian seperti itu.
"Ya! Peluang itu masuk! Adrian bukan tipe suka mendua! Dia hanya kesal sama perlakuan Hanz!" Jelas Miller.
"Siapa bilang! Saat Fene janda Adrian menjadikannya yang kedua. Mungkin jika Jasmine masih hidup, Adrian tidak akan begini." tambah Veni.
"Tu tau! Adrian nggak mau melakukan hal begitu! Pasti ada penyesalan! Makanya Carlos di lumpuhkannya. Udah penuh ni, disini!" Miller menunjuk dadanya.
"Mana?" Goda Veni.
"Sini! Dada kamu!" Miller malah menggoda Veni yang masih dipangkuannya.
Mereka saling menggoda cukup lama, stelah 40 menit berlalu,
"Ck! Jangan disini deh! Masih ada anak kecil!" Teriak Dedrick saat keluar kamar, menggandeng Stela untuk sarapan bersama.
"Kami nggak ambil moment yah! Sampai lupa tutup pintu! Suaranya keluar lhoo! Ampe kedengeran seluruh Beverly!" Goda Veni pada anak menantunya.
"Iighs!" Wajah Dedrick dan Stela memerah tersipu malu. "Biasa anak muda Mi! Biasanya Mami nggak disini! Kalau kami berdua aja, disini juga kami kerjakan! Ya wife!" Kecup Dedrick pada kepala Stela.
Stela mengangguk malu menatap Veni dan Miller.
__ADS_1
"Aaaugh!" Pantas panas terus rumah ini sekarang Dad!" Kekeh Veni menyiapkan sarapan untuk Dedrick dan Stela.
Mereka saling tertawa. Yaaah, happy morning.