
Pengawal Carlos memberi informasi tentang Fene Claire Zurk.
"Tuan, Nyonya Fene hanya visit disini. Dia selama ini stay di Jakarta dan Los Angeles. Suami pertamanya Bram Lincoln, suami keduanya Adrian Moreno Lim. Nyonya Fene baru seminggu berada di Berlin tinggal di kediaman Edward Lincoln. Nyonya Fene adalah Putri Hanz Parker pemilik kasino terbanyak di Vegas. Suaminya Adrian pemilik kasino peninggalan Mark Calire Zurk, yang baru di kibus oleh Tommy dan Fernando. Bisnis beliau Garmen di FeneSwiss Group, Rumah Sakit dan Sekolah Internasional di Jogja dibawah naungan Fene Group Tuan!" Jelas pengawal panjang lebar.
"What! Anjiing, dia lebih kaya dari aku ternyata! Oogh, pantas dia menolak semua pemberianku." Geram Carlos mengingat kebodohannya dihadapan Fene.
"Hubungi kembaran ku yang bodoh itu! Jangan ganggu keluarga calon istriku!" Tegas Carlos pada pengawal. "Apa kau tau kediaman Pak tua itu? Aku akan membawa buket mawar putih untuk calon istriku! Kau siapkan Limousin ku. Aku bersiap-siap.
"Baik Tuan!" Tunduk pengawal mengerjakan sesuai perintah.
Carlos mencukur bersih wajahnya, menggunakan baju kemeja termahal yang dia miliki dilemari, celana jeans, jam tangan, aksesoris yang tipis sesuai permintaan Fene tadi siang. "Aku akan mengajaknya makan malam!" Bisik Carlos menatap cermin penuh percaya diri.
"Jesika! Jesika!" Teriak Carlos pada asistennya.
"Ya Tuan!" Tunduk Jesika.
"Kau siapkan kamar yang indah bertaburan mawar putih! Aku akan membawa calon istriku untuk memadu kasih!" Kekeh Carlos.
Jesika tersenyum menatap Tuannya kali ini lebih tampan, dari kemaren. "Baik Tuan." Jesika berlalu meninggalkan Carlos.
Carlos menuruni anak tangga, dengan penuh percaya diri. Dia akan di cintai oleh Fene, cinta masa sekolahnya. "Ck! Adrian sangat menjijikkan! Kenapa dia bisa mendapatkan Fene? Kenapa bukan aku? Aku akan menggunakan voodoo jika dia tidak mencintai ku!" Kekehnya merasa geli dan bodoh.
"Tuan!" Tunduk pengawal, membukakan pintu mobil untuk Carlos.
"Buket?" Tanya Carlos.
"Sudah tuan!" Jawab pengawal.
"Besar?" Carlos melirik kedalam mobil melihat buket berukuran sedang. "Kau mau melamar janda kaya! Harus membawa yang besar! Bukan sekecil itu! Bodoh!" Kesal Carlos.
"Maaf Tuan!" Tunduknya.
"Sudah, cepat jalan! Aku tidak mau jandaku menunggu lama! Dia sudah lama free dan pasti akan enak bermain-main dengannya." Carlos tersenyum membayangkan adegan mesum di otaknya.
Saat di perjalanan Carlos mendapat telfon dari Fernando saudara kembarnya.
"Hmm!" Jawab Carlos dingin.
"Kau kenapa? Yang kita lakukan seperti rencana Carlos! Ada apa denganmu?" Tanya Fernando sedikit kesal.
"Fene suami kedua Adrian, dia cintaku! Jangan kau hancurkan dia! Karena mereka punya kekuatan bodoh! Aku akan merebut Fene dari Adrian. Kau mengerti Fernando Arlan?" Jelas Carlos sedikit emosi.
__ADS_1
"Aagh! Kisah cinta kau terus yang aku urus! Kau cari saja model, pengganti Marelin! Aku sudah lelah menggung dosa mu! Diluar sana mereka menyangka aku yang memiliki *** gila! Padahal kau!" Jawab Fernando.
"Kau! Akan ku habisi jika kau melawan! Gimana putraku Pedro? Apakah dia telah menemukan Stela cintanya?" Tanya Carlos sinis ingin tau.
"Stela itu putri Fene Lim, Carlos! Apa kau tidak tau! Putra Fene Lim yang merebut Marelin darimu! Kau dengar aku! Brian Lincoln itu anak dari Fene dan Bram." Jelas Fernando lebih detail.
"Bangsat! Apakah keluarga mereka selama ini yang mengganggu hidup ku?" Geram Carlos.
"Aaagh kau! Hanya emas kau saja yang kau urus! Musuhmu kau tidak tau." Jawab Fernando kesal.
"Berarti Miller besan Fene?" Ingat Carlos.
"Ya! Miller dan Lim telah bersatu! Makanya aku menghabisi kasino mereka dengan uang palsu!" Jelas Fernando.
"Aaagh! Shiit! ****!" Geramnya. "Aku akan membawa Fene, malam ini. Akan aku ***** tubuhnya." Kesal Carlos.
"Hati-hati! Karena Alberth tidak akan diam! Kau mengerti Carlos!" Pesan Fernando.
"Ya!" Carlos menggeram, menahan emosinya. "Ternyata dunia ini sempit, sesempit punya Fene aku rasa!" Kekehnya.
"Pengawal! Kau siapkan bius untuk membawa cinta ku keranjang malam ini. Barang Netherland jangan lupa!" Tegas Carlos.
"Baik Tuan." Tunduk pengawal di depan kemudi.
"Buka kan pintu ku bodoh!" Teriaknya pada pengawal.
"Baik Tuan!" Pengawal tergesa-gesa turun dari mobil, mempersilahkan Carlos turun dengan selamat.
Carlos menatap pintu rumah Edward dengan senyuman indah. Alberth melihat aneh orang asing keluar dari mobil mewah membawa buket.
"Who?" Batin Alberth.
Alberth mendekati Carlos. "Gutten Nagh Herr!" dalam bahasa Deutch, yang artinya Selamat malam Tuan.
"Ya! Saya ingin menemui Fene!" Ucap Carlos dengan senyum termanisnya.
"Sebentar! Saya panggilkan!" Jelas Alberth.
Carlos menunggu diluar, menikmati kesejukan di perkarangan kediaman Edward. 10 menit Fene keluar.
"Haii!" Senyum Fene menatap Carlos.
__ADS_1
"Haii!" Hati Carlos luluh lantah melihat mata indah Fene, melupakan dendam kesumat, voodoo yang ada dikepalnya sebelum berangkat.
"Lo menemukanku Carlos!" Tawa Fene menuruni anak tangga menghampiri Carlos masih berdiri di samping mobil.
"You very beatiful! Aku tidak bisa menunggu lama untuk menemukan mu, Fen! Kau sangat cantik!" Carlos bertekuk lutut dihadapan Fene, memberikan buket mawar putih kesukaan Fene.
Fene tersenyum mengangguk, "hmm, sweet!" Kekeh Fene.
"Bisa kita dinner malam ini? Asisten ku sudah menyiapkan makanan terlezat untuk mu!" Pinta Carlos memohon dengan lembut.
"Hmm! Not now baby! Aku masih ingin dirumah." Senyum Fene.
"Oogh! Kau mengecewakan ku sayang! Ayolah! Aku menemukanmu dengan bersusah payah! Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Hanya 1 atau 2 jam saja! Tidak lama! Aku janji!" Mohon Carlos dihadapan Fene.
"Hmm! Oke! Aku ambil tas dan bilang ke Daddy dulu! Wait!" Fene berlalu masuk ke dalam.
Tak menunggu lama, Fene keluar menggunakan tas kecil merk termahal buatan Italy.
"Oogh! Perfect!" Senyum Carlos tersenyum sumringah.
Fene menggunakan selendang, penghangat dan sepatu booth. Setelah meminum beberapa obat agar tidak menimbulkan sesak karena cuaca sangat dingin. Sarung tangan buatan Paris, melekat ditangan Fene yang lentik.
"Kita jalan sekarang?" Senyum Fene.
"Ya!" Carlos tersenyum senang, membukakan pintu untuk cintanya. "Yes! Aku akan menikmatinya malam ini! Good bye Adrian." Kekehnya tersenyum kemenangan.
"Jalan!" Perintah Carlos.
Fene tersenyum lucu memandang wajah Carlos sangat tampan jika tidak menggunakan brewok. Terlihat muda dan lebih fresh.
"Lo tau darimana kediaman gue?" Tanya Fene tersenyum.
"Taulah! Gue kan detektif! Gue juga tau suami lo Adrian!" Rungutnya.
"Ck! Kita mau pisah Carlos!" Senyum Fene.
"Bagus dong! Gue punya kesempatan buat nikahin lo! Secara, gue suka sama lo sejak sekolah! Lo aja nggak peka! Malah nikah sama Cina nggak jelas itu! Tampang aja keren, tapi menyebalkan!" Jelas Carlos menggerutu tak jelas.
"Udah aagh! Jangan bahas dia! Kita mau kemana?" Tanya Fene.
"Ke rumah gue yah! Jujur gue pengen menghabiskan malam sama lo!" Carlos mengambil tangan Fene disebelahnya, memberanikan mencium punggung tangan itu dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Deg, Fene menghela nafas dalam. Untung sebelum pergi dia sudah meminta Aberth untuk mengawasinya. "Gila ni orang!" Batin Fene. "Hmm!" Fene menjawab dengan senyuman.***