See Eye Stela

See Eye Stela
Semakin berubah


__ADS_3

6 bulan sudah Stela berada di Netherland. Mengikuti kegiatan yang diatur oleh Veni didunia fashion. Miller membukakan butik untuk Stela kelola di Netherland, tentu disuport dari Paris untuk produk terbaru mereka. Stela semakin berubah, sejak Dedrick semakin berubah padanya. Beberapa kali dia diperlakukan kasar oleh Dedrick untuk melayani nafsu bejatnya. Stela diam tak mengadu pada keluarga atau sepupunya Lusi.



Rumah Mode Van Visser.


Saat pulang dari Rumah modenya, Stela menemukan Dedrick sedang minum-minuman alkohol bersama temannya disalah satu restoran. Stela tak menghiraukan, karena dia lebih memilih pulang kerumah dan beristirahat.


Stela memutuskan tinggal bersama Miller dan Veni karena takut jika terjadi sesuatu padanya atas saran Adrian.


Saat tiba dirumah Stela disuguhkan hidangan lezat oleh Miller dan Veni.


"Haii sayang! Assalamualaikum!" Senyum Veni penuh semangat menyambut menantu kesayangan.


"Waalaikumsalam Mi!" Kecup Stela pada kedua pipi Veni.


"Dedrick nggak jemput kamu?" Tanya Veni melirik ke arah Miller.


"Hmm! Nggak, tadi aku lihat dia sama teman-temannya." Jelas Stela tampak tak peduli.


Veni menarik nafas dalam, "hubungan mereka sedang tidak baik!" Batin Veni.


Stela menikmati hidangan, sesekali terkekeh geli menatap layar handphone miliknya.


Veni dan Miller menatap iba pada putri sahabatnya. Ada perasaan bersalah telah membawa Stela ke Netherland, karena Stela lebih tertutup dan tak mau peduli dengan Dedrick. Sangat berbeda dengan di La.


"Mil! Lakukan sesuatu!" Bisik Veni.


Miller meletakkan telunjuk dibibinya. "Ssst! Wait and see." bisik Miller bergumam.


Selesai makan, Stela berlalu tanpa berucap. Membawa tas, tangan masih fokus pada layar handphone miliknya. Dia melakukan ritual seperti biasa, bersih-bersih dan bersantai dikamar, hingga pagi. Begitu sterusnya tanpa bosan.


Malam ini Stela menggunakan baju tidur kemeja hingga lutut berbahan sutra, sangat lembut. Saat akan memejamkan matanya.


BRAAK, Stela terlonjak kaget melihat Dedrick hadir dihadapannya dengan wajah kusut dalam keadaan mabuk.


"Hubby!" Stela mendekati Dedrick untuk membawanya ke ranjang mereka.


BHUUK, Dedrick mendorong Stela hingga membuatnya terjatuh.


"Aaugh! Dedrick, kau menyakitiku!" Ringis Stela mengusap pahanya terasa nyeri.


Dedrick mendekat, "You bich!" Ucapnya dengan meremas pipi Stela.


Stela terkejut mendengar ucapan suaminya yang mengatakan dia ******.


"Haaah! Aku istrimu, hubby! Ada apa denganmu?" Air mata sudah menumpuk dipelupuk mata.


"Hhmm! Istri? Istri yang gampang berciuman dengan pria lain?" Sarkasnya masih menggenggam pipi Stela.


PLAAK, tamparan Stela melayang kewajah Dedrick yang ada dihadapannya.


"Kau!" Dedrick menggeram, meremas erat lengan Stela membawanya keranjang.


"Dedrick! No! Aaaagh! Dedrick! Help me! Help me please!" Teriak Stela menangis sejadi-jadinya tak terima atas perlakuan Dedrick padanya.

__ADS_1


"Kau istriku Stela! Kau istriku." Dedrick membuka kancing bajunya dan membuka paksa baju Stela.


"No! Please Dedrick! Lepaskan aku." Teriak Stela.


Stela meronta karena Dedrick mengunci tubuhnya. Hanya bisa berteriak menangis tak terima atas perlakuan suaminya.


BHUUK,


PLAAK,


Miller melayangkan pukulan tepat dirahang putranya dan menamparnya.


Stela menangis, ketakutan menutup tubuhnya yang sudah berantakan.


"Daddy!" Dedrick tak menyangka Miller akan memukul, karena seumur hidupnya Miller tak pernah berlaku kasar.


Veni masuk mengejar Stela agar tenang.


"What happened to you? Do you want to torture him?" Kesal Miller menatap marah pada putranya.


"Dia mengkhiananti ku Dad! Dia mencintai Pedro! Dia tidak mencintai ku!" Isak Dedrick.


"Dengar boy! Jika dia tidak mencintai mu! Dia tidak akan ikut denganmu! P A H A A A M!!"


Stela menangis dipelukan Veni, membawanya ke kamar mereka.


Dedrick terdiam dengan ucapan Miller.


"Dari mana kau! Jawab aku! Jika kau tidak berubah, aku akan menyerahkannya pada Adrian. Aku tidak mau melihat putri kesayangannya kau siksa seperti ini. Egois! Kau yang memberi izin! Kau pula yang menyiksa! Apa isi kepalamu boy? Buat malu keluarga! Minta nikah, baru setahun buat ulah! Bersihkan dirimu!" Bentak Miller membuat Dedrick tak berkutik.


Veni menghampiri Miller di kamar Dedrick.


"Bagaimana Stela?" Tanya Miller kaku.


"Sudah tidur!" Jawab Veni lembut.


"Keluarlah, aku akan mengurus anak ini! Jika masih belum berubah seminggu ini, aku akan membawa Stela pulang pada Adrian." Ucap Miller.


"Ya! Jangan terlalu keras." Veni mengingatkan.


"Harus dikeraskan! Karena dia sudah kasar pada istrinya." Jelas Miller.


Dedrick keluar dari kamar mandi dengan perasaan takut dan menggigil. Bekas pukulan Miller masih terasa sakit. Setelah memasang baju, Dedrick duduk disamping Miller.


"Apa mau mu?" Ucap Miller.


"Aku mau berpisah dari Stela, Dad!" Jawab Dedrick tanpa ada rasa berdosa.


BHUUK, pukulan emosi Miller melayang kembali. "Apa maumu?" Tanya Miller lagi.


"Aaaugh Dad! Sakit!" Isaknya.


"Apa mau mu?" Tanya Miller dengan nada keras dan lantang.


"Aku akan menceraikan Stela, Dad!" Ucapnya tanpa ada perasaan bersalah.

__ADS_1


Miller terdiam, menatap dalam mata putra kesayangannya. "Baik! Kau akan menyesal." Miller menutup pintu kamar Dedrick.


BRAAK.


Dedrick terdiam, mengingat keputusan yang baru dia ucapkan. Lama dia terdiam, tak bisa memejamkan mata.


"Kenapa denganku? Kenapa aku menyakiti Stela? Dia sangat baik pada ku selama ini!" Batin Dedrick menatap disatu titik masih terisak. Ada penyesalan dalam hatinya dengan keputusan yang baru terucap, hingga dia terlelap.


Saat terjaga Dedrick melihat sedikit cahaya dari balik horden mendengar kicauan burung. Lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.00 waktu Netherland.


Seperti biasa Dedrick berolah raga dan mandi pagi. Dia tak mendengar suara siapapun dirumah. Seketika melihat mobil Miller masuk ke perkarangan.


"Daddy?" Batinnya. Dedrick menuju lantai bawah mengejar Miller yang tengah berbincang dengan Veni.


"Dad!" Panggil Dedrick menganggap tadi malam tidak terjadi apa-apa.


Miller tak menjawab, hanya Veni berusaha ramah.


"Stela dimana Mi?" Tanya Dedrick pada Veni.


"Hmmm! Bukannya kau sudah menceraikannya? Dia tidak istrimu lagi!" Tegas Miller.


Deg, Dedrick seketika kaku, "kemana dia Mi?" Tanya Dedrick panik.


Miller mengangkat bahunya, tersenyum tipis, berlalu meninggalkan mereka.


"Sayang, Aku ke kantor yah!" Miller mengecup bibir istrinya.


"Boy, menikah bukan kemesraan sehari dua hari! Tapi seumur hidup!" Kekeh Miller menepuk pundak Dedrick, sengaja membuat kesal.


"Dad! Dimana Istriku!" Teriak Dedrick.


"Lagi sama Pedro di apartemen!" Kekeh Miller sedikit berteriak.


Deg, Dedrick bergegas mengambil kunci mobil menuju apartmennya. dipusat kota, tapi tidak menemukan siapapun disana.


Dedrick bergegas menuju Rumah mode Stela, ternyata benar ada Pedro disana. "Kapan dia datang? Kapan dia keluar dari penjara?" Batin Dedrick menggeram. "Beraninya dia mendekati istriku!" Dedrick benar-benar menggeram.


Dia turun dari mobil, menuju Stela dan Pedro yang tengah mengobrol.


"Eeeits! Ada kau!" Geram Dedrick, menggapai tangan Stela.


"Tahan! Jangan nafsu gitu bro!" Ejek Pedro.


"Dia istriku, anjing!" Dedrick akan melayangkan pukulannya pada Pedro, tapi dapat terelakkan.


BRAAAK, Dedrick terjatuh.


Stela hanya meringis. Pedro mengambil tangan Stela berlari meninggalkan rumah modenya. Mereka berlari kencang meninggalkan Dedrick sambil tertawa, tertawa bahagia karena bisa memberi pelajaran pada pria kasar dan kaku itu.


Sifat Dedrick ternyata sangat kasar, dia tak memiliki banyak teman, karena dia introvert, susah bergaul. Jika sudah dekat dia akan berlaku kasar. Itulah Willems Dedrick Visser.


Tumbuh dikeluarga kaya, sama seperti Stela, Lois dan Dovi. Masing-masing mereka memiliki masalah keluarga, karena kesibukan orang tua yang tidak ada waktu untuk mereka.


"Stelaaaaaa!" Teriaknya frustasi.***

__ADS_1


__ADS_2