See Eye Stela

See Eye Stela
Menerima pasrah.


__ADS_3

Dari kejauhan Adrian beradu tatap dengan besannya Miller dan Veni di koridor rumah sakit. Adrian terlonjak kaget dengan kehadiran mereka.


'Aaagh! Ngapain mereka kesini!" Bisik Adrian dalam hati.


Tatapan Miller padanya sangat hangat seperti tidak mengetahui apa yang Adrian perbuat pada putranya Dedrick.


"Adrian! Bagaimana Fene?" Tanya Veni.


"Baik! Dia istirahat didalam! Temanilah dia! Gue mau merokok diluar." Senyum Adrian kaku.


Veni meninggalkan Adrian dan Miller, berlari kecil menuju kamar Fene.


"Apakah kau akan menghakimi ku disini Miller?" Ketus Adrian menatap punggung Veni berlalu.


"Hmmm! Jika aku mau aku sudah meminta orang ku untuk menghabisi mu Adrian." Jawaban santai dan hangat merangkul bahu Adrian meninggalkan koridor rumah sakit.


Mereka berdua mencari tempat ngobrol yang sepi, diarea rumah sakit.


"Aagh! Disini tidak bisa menghembuskan asap rokok ku! Bagaimana kau bawa aku ke resto mu!" Pinta Adrian.


"Baik!" Jawab Miller, meminta sopirnya membawa mereka menuju resto sesuai permintaan orang galau.


Mobil mewah milik Miller, menandakan dia bukan orang kelas rendah. Dia adalah sosok sugar daddy yang humble, dengan mudah bisa menakhlukkan gadis abege. Jika mau.


"See! Kenapa Fene masuk rumah sakit? Apa ada masalah dengan kalian berdua?" Tanya Miller saat melihat Adrian tak banyak bicara, lebih memilih meninggalkan Fene dari pada menemaninya.


"Kami akan bercerai!" Ucapan Adrian membuat mata Miller membesar.


"Apa kau yakin? Akan membiarkan dia sendiri tanpa mu? Apa kau tidak memikirkan anak-anak mu yang lain?" Tanya Miller serius.


"Aku telah menyakitinya. Dia menuntutku!" Jawab Adrian jujur.


"Apa karena dia datang kerumah ku?" Tawa Miller.


"Ya! Dia lebih membela menantunya dari pada aku!" Jawab Adrian.


"Hmm! Aku mengagumi Fene, Adrian. Saat Bram pergi meninggalkannya!" Kenang Miller.


Ada yang berkecamuk didada Adrian atas kejujuran Miller padanya. "Kenapa kau tidak mencarinya?" Sarkas Adrian.


"Apa kau dilanda cemburu?" Kekeh Miller menggoda Adrian.


Wajah Adrian memerah menahan emosinya. "Hmm!" Jawab Adrian sedikit kesal.


"Jika kalian bercerai, semua akan hancur Adrian! Beratahanlah, mengalahlah, tenangkan pikiran kalian." Miller menepuk bahu Adrian. "Aku jamin kalian akan saling membunuh jika kalian berpisah!" Tambah Miller.


"Fene yang meminta, karena perlakuan ku kasar padanya!" Curhat Adrian.

__ADS_1


"Apa kau menyiksanya?" Tanya Miller serius.


Adrian tertunduk, "aku sangat mencintainya Miller! Aku dihantui perasaan takut, takut dia meninggalkanku." Kenangnya.


"Dan kau akan kehilangannya? Aku siap menanti janda Fene jika kau bercerai dengannya!" Goda Miller membuat Adrian mengepalkan tinjunya. "Hahaha! Kau menggeram! Aku takut Adrian!" Kekeh Miller merasa senang pada emosi Adrian. "Ternyata besanku seorang yang egois! Pantas Dedrick takut pada mu!" godanya makin membuat Adrian menggeram.


Mobil berhenti disebuah restoran mewah milik Keluarga Van Visser. Miller membawa Adrian keruangan private room, agar lebih tenang. Seluruh pelayan sangat hormat pada Miller, dua pengawalnya menunggu didepan pintu masuk agar terhindar dari paparazi beberapa hari berada disana.


Suasana sangat tenang dan damai, membuat Adrian merasakan kenyamanan berada disana.


"Selamat sore Tuan Miller!" Sambut seorang pelayan.


"Ya! Siapkan smooking room vip." Perintahnya.


"Baik Tuan!" Bergegas pelayan melakukan sesuai permintaan Miller, tak lama pelayan kembali, meminta Miller masuk ke ruangan yang disiapkan.


"Tuan! Ruangan sudah tersedia!" Tunduknya.


"Ayo Adrian! Kita masuk kedalam!" Miller membawa Adrian keruangan lebih nyaman.


Mereka memesan beberapa makanan dan minuman, saling menggoda melepaskan semua masalah pribadi.


"Kemana Dedrick membawa putriku?" Tanya Adrian menghembuskan asap rokoknya ke udara sangat tenang.


"Hmm!" Miller menarik nafas dalam. "Dia membawa Stela bulan madu!" Senyum Miller menikmati hidangan yang datang satu per satu.


"Tentu! Mereka sudah menuju La." Jelas Miller.


"Apa dia anak yang tak bisa memegang janji?" Kenang Adrian.


"Dia menikahi Stela karena ingin melepaskan hasratnya secara halal! Aku rasa mereka terbuai, tidak bisa menahan perasaan itu Adrian! Come on! Perjanjian hanya diatas kertas! Semua bisa kita rubah Adrian." Senyum Miller meyakinkan.


"Stela masih kecil Miller! Dia belum boleh merasakan itu," Kesalnya.


"Uugh! Apakah kau takut mereka akan seextrame pikiranmu?" Goda Miller.


"Aku tidak pernah menjaga mereka Miller! Mereka dibesarkan oleh Keluarga Parker! Brian dan Jasmine bersama Keluarga Lincoln! Saat putramu datang meminta putriku, itu satu hantaman keras bagiku! Aku belum siap mereka menikah! Stela sangat mirip dengan Fene, Miller! Dia wanita tegas dan ceria! Sangat pembangkang pada ku! Hanya dia yang bisa ku bawa berjudi, meeting, hanya dia Miller. Begitu cepat putramu mengambilnya dari ku!" Jelas Adrian panjang lebar.


"Jika kau mau, aku akan membiarkan mereka tetap bersama mu dikediaman Parker, tapi Dedrick bukan tipe yang suka diganggu privasinya." Senyum Miller menjelaskan putranya.


"Haaah!" Adrian tersenyum tipis, "Aku sangat mencintai Fene, hingga aku takut kehilangan Fene dan Stela." Tunduknya.


"Semua akan datang dan pergi! Kehilangan, kematian, perceraian, semua takdir Dri! Apa kau tau usia mu sampai kapan bisa bersama Fene dan Stela? Ikhlaslah! Anak punya masa depan. Kita hanya mendukung Dri! Come on! Kau orang yang berjiwa kesatria, bisa hancur karena dua wanita? Fene dan Stela?" Kekeh Miller menikmati coffe latte avocado.


Mata Miller tertuju pada Lois sahabat Dedrick bersama gadis lebih mirip Adrian. "Apa kau mengenal mereka?" Goda Miller.


"Oogh! Shiiit Chay-in bersama Lois? Putra Samuel Hu! Ck!" Adrian memijat pelipis matanya.

__ADS_1


"Seperti sudah di atur Adrian!" Senyum Miller seperti mengejek Adrian.


"Aku akan menghajarnya!" Geram Adrian ingin berdiri.


"Uuugh! Tahan Dri! Mereka ingin menikmati masa remaja." Senyum Miller menahan tangan Adrian.


"Chay-in masih 14 tahun Miller." tegas Adrian.


"Mereka hanya ngedate berdua! Why not! Toh kita tau keluarga mereka! Kecuali putrimu naksir pada ku! Pada Samuel! Itu baru masalah!" Kekeh Miller membuat Adrian menyunggingkan senyunyannya. "Jangan terlalu keras, jika kau tidak mau kehilangan anak-anakmu." Jelas Miller.


"Hmm! Kenapa media meliput perasaan cinta mu pada Fene beberapa tahun silam?" Tanya Adrian menatap serius.


"Aku mencarinya di penjuru pamansam, tapi Parker menutup akses bertemu Fene." Jelasnya. "Ck! Parker tidak membiarkan media meliput tantang putrinya Fene. Aku geram! Emosi! Fene tidak pernah menggubris ku!" Curhat Miller pada Adrian.


"Hmm! Aku salah terlalu cemburu membaca berita di media. Aku akan membicarakan ini pada Fene, walau dia akan menghindari ku!" Ucap Adrian, matanya tak luput dari Lois dan Chay-in.


"Apa karena masa lalu kau memakasanya melakukan itu dengan sangat kasar?" Tanya Miller.


"Maybe!" Jawab Adrian dingin.


"Oogh my God! You crazy? Itu hanya masa lalu Adrian! Kau juga punya masa lalu kan? Apa aku harus mencarinya sendiri atau kau menceritakannya pada ku!" Miller menatap manik Adrian, menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Ya! Fene mengetahui semua tentang ku! Sharen and!" Jujur Adrian, tapi disambung oleh Miller.


"Veni!" Lanjut Miller dengan wajah sumringah.


"Apakah Bram membicarakan semua pada mu saat kita di Netherland?" Kenang Adrian serius.


"Ya! Bram marah pada mu! Hingga membawa Fene pergi bersamanya, karena kau telah berkhianat dari Veni! Bukan begitu Adrian?" Miller coba mengingatkan, menunggu jawaban jujur dari Adrian.


Adrian menarik nafas dalam, "Ya! Aku menginginkan mereka berdua saat itu! Hingga Veni mengkhiananti ku! Kami berpisah, hingga aku memutuskan menikahi secretarisku Jasmine, agar aku dapat melupakan Fene yang telah bahagia bersama Bram." Senyum Adrian kaku menatap Miller.


"Soo! Siapa pengkhianat Adrian?" pertanyaan Miller sangat menusuk kalbu Adrian.


"Hmm! Aku sudah mengetahui semuanya Adrian! Hanya saja aku belajar dari masa lalu Veni, tentang kesetiaan. Veni tidak akan berkhianat jika tidak di khiananti." Jelas Miller.


"Ya! Aku sudah salah!" Adrian menunduk menyiratkan kekalahan atas perlakuan pada istri dan menantunya.


"Perbaikilah semua! Aku besanmu! Aku tidak suka kekerasan, tapi aku akan membunuh orang itu secara perlahan!" Ucap Miller mengangguk sambil tersenyum pada Adrian.


"Apa kau sedang mengancamku?" Tanya Adrian.


"No! Kau adik Bram! Bram sudah berjasa dihidupmu, dia sangat baik Adrian! Aku merindukannya! Aku rasa, aku melihat Lincoln! Apakah dia disini?" tanya Miller berpangku tangan.


"Ck! Ya! Untuk beberapa hari ini, aku akan tinggal diapartemen. Apa kau mau menemani ku? Kevin sudah menuju kesini! Kita akan menghabiskan waktu di Vegas." Jelas Adrian.


"Oke! Dedrick juga sudah dirumah sakit! Kita akan selesaikan semua." Senyum Miller.

__ADS_1


Adrian mengangguk tersenyum menatap besan sekaligus sahabatnya saat ini.***


__ADS_2