
Suasana malam dikota Jakarta sangat indah diterangi cahaya lampu gedung pencakar langit sungguh menakjubkan. Restoran Keluarga Smith di Jakarta tidak pernah sepi pengunjung, karena memilik tempat yang nyaman, western special dan sangat berbeda cita rasanya. Veni membawa mereka menghabiskan waktu bersama di private room agar dapat menikmati dinner, mengabadikan foto bersama untuk diletakkan di restoran Keluarga Visser utama di Netherland..
Anak-anak kembali dari Pacific Place tempat hangout terbaik, berada dipusat kota Jakarta. Dedrick menggendong tubuh Stela dari mobil.
"Stela kenapa Dedrick?" Tanya Veni terlihat kaget.
Fene dan Veni mendekat.
"Ssst! Kecapean Mi! Kami naik yah? Chay-in udah pulang diantar Lois. Udah yah! Berat!" Kekeh Dedrick segera naik ke lantai atas.
Adrian merasa aneh pada Petter dan Holi, "kenapa mereka nggak seperti biasa?" Batin Adrian.
"Kapan terakhir kamu ke La Pett?" Tanya Adrian basa basi.
"Dua bulan lalu Dri! Mungkin aku akan pindah ke Berlin, Dri!" Bisiknya tertunduk.
"Kenapa? Sama Keluarga juga? Lo masih Dokter terbaik kami Pett! Please! Fene mempertahankan rumah sakit syaraf itu karena kamu! Pikirkanlah!" Mohon Adrian berbisik.
"Kita bisa ngobrol disiti?" Petter menunjuk arah luar persis disudut, agar bisa menikmati angin segar. "Dari tadi diruangan ber-AC terus! Kering kulit saya!" Kekeh Petter.
"Ok!" Adrian memberitahu pada Miller dan Fene.
Kevin masih mengelus perut Nichole, sebentar lagi juga akan kembali ke apartemen karena hari sudah larut.
Samuel dan Miller justru tengah menikmati sebotol sampanye yang dibawa Miller dari La.
Maria, Veni, Fene dan Holi sibuk bercerita. Jam dinding restoran menunjukkan pukul 22.30 waktu Jakarta. Jika ditanya capek pasti capek. Tapi waktu tidak akan pernah kembali. Mana tau esok atau lusa sudah kembali ke rutinitas semula.
Restorant Veni juga sudah selesai beroperasi, hanya membersihkan piring kotor, menata ruangan kembali untuk menyambut hari esok. Meninggalkan 2 orang yang menginap dan mengurus semua kebutuhan sahabat hari ini. Tentu akan memberikan tips terbaik, jika sudah dihitung lembur.
Fene menatap mata Holi, "You oke?" Tanya Fene, melihat Adrian dan Petter ngobrol sangat serius.
"Ck! Lagi nggak oke, Fen!" Tunduk Holi.
"Lo nggak mau cerita sama gue? Gue kakak lo? Ada masalah pribadi atau perusahaan?" Tanya Fene lagi.
"Pribadi!" Tunduknya.
"Apa?" Fene menatap serius.
Holi menunduk seketika dia menangis, bahunya bergetar. Mencurahkan semua isi hatinya.
"Petter nggak ereksi lagi Fen!" Bisiknya. "Udah 5 bulan, nggak tau apa penyebabnya! Berat banget masalah gue!" Isak Holi.
__ADS_1
"Oogh my God! Lo bisa berobat ke Berlin, Frankfurt, atau Singapur, atau kemanalah!" Ucap Fene. "Ke Cina! Sinshe, atau apa lagi yah!" Pujuk Fene.
Holi malah bingung melihat Fene yang asal nyeblak aja, "Gue serius Fen!" Tatapan mata Holi berubah horor.
"Gue juga serius Hol!" Tegas Fene meyakinkan. "Semua ada obatnya! Apapun masalah lo ada obatnya. Lo udah cek masalahnya apa?" Tanya Fene menatap Holi.
"Belum!" Jawab Holi terlihat lebih bodoh.
"Grrrrrh! Seharusnya sebelum nangis lo cek dulu. Apa masalahnya." Jelas Fene.
"Gue malu! Punya laki tampan barangnya DIE Fen!" Jelas Holi emosi.
"Astaghfirullah Hol! Jadi itu masalah lo? Lo nyalahin Petter gara-gara nggak idup? Lo malu buat cek? Jadi mau lo apa?" Kesal Fene.
"Ya dia aja berobat sendiri, nggak usah bawa gue!" Jawabnya asal.
"Lo nggak butuh Petter lagi?" Tanya Fene tersulut emosi.
"Nggak! Ganteng doang! Ereksi kagak!" Keselnya.
"Hei!" Tampar Fene pelan ke pipi adek terbodohnya. "Siapa seeh yang mau ngalamin itu! Dia juga nggak mau Hol! Dia butuh suport! Gue butuh Petter di Rumah Sakit, dan lo tau itu! Kalau lo nggak butuh, gue bawa Petter ke Berlin, jika sembuh gue kasih Jasmine anak gue yah!" Tegas Fene mengancam.
"Enak aja lo!" Rungutnya. "Malu gue, Fen!" Isaknya.
Fene mengusap bahu Holi, "Lo kenapa malu? Petter suami lo! Apa yang dia rasa harus lo rasain! Jika sakit lo obatin, jika dia sulit lo bantu cari solusi. Bukan lo cuekin! Mumpung baru Hol! Baru 5 bulan. Kalau udah tahunan gimana? Bisa kejang lo! Bagus lo cek, obati, terapi, nggak usah malu! Kita harus terbuka. Jangan menutup apalagi ngucilin dia. Kasihan dong! Justru lo harus sayang-sayang, biar dia nggak minder! Cowok kalau nggak bangun sensinya ngalahin emak emak lagi period, karena minder!" Jelas Fene panjang lebar.
"Gila lo! Cerai! Emang gampang! Lusi gimana?" Kesel Fene berpangku tangan karena kesal dengan keputusan Holi.
"Gue pengen Fen!" Isaknya.
"Pakay toys dulu, atau suruh Petter bantu, pakai apa, lidah, jari, what ever Holi! Come on, kita udah dewasa! Anak-anak udah besar! Jangan cerai, kasihan Lusi! Dia udah cukup tertekan sama masalah lo! Lo ribut kan depan dia?" Tanya Fene, karena Lusi mengadu pada Fene beberapa waktu lalu..
"Nggak! Di ruang keluarga iya," Jelasnya menunduk.
"Hmmm! Biasakan kalau ribut jangan depan anak-anak! Mereka akan shook! Gue udah trauma! Untung Adrian sabar banget sama gue! Kalau nggak, gue juga udah dua kali ngajuin lewat pengacara Mami." Kenang Fene.
"Itu beda Fen! Jelas Adrian selingkuh! Nah gue! Hikz! Gue nggak tau apa penyebabnya! Emang 6 bulan lalu dia terjatuh karena terburu-buru, mau operasi pasien. Selesai operasi dia muntah! Katanya masuk angin. Gue biarin dia minum obat! Dua hari setelah itu dia ngeluh sakit di pinggang, kita cek kan! Serius emang, tapi Dokter Leonal suruh bawa ke Berlin menemui Dokter Armin Kube disana. Naaah, dia minta gue temanin, karena takut gue selingkuh! Yaa, gue butuh! tentu gue mau cari selingkuhan. Ngamuk! Dia pukul gue Fen. Makanya aaagh! Nggak mau gue! Dia yang sakit, mikirnya traveling kemana-mana." Curhat Holi.
"Lo lawan dia sih! Gue juga nggak setuju kalau udah main tangan!" Kenang Fene.
"Sekarang waktu dia juga kurang! Perhatian kurang, semua kurang! Lo tau sendiri Petter orangnya kayak apa! Nggak bisa cerita, fokus sama dunia sendiri. Lusi jadi karena gue yang agresif, kalau nggak! Yaaah! Kayak ono kali!" Tunjuk Holi pada Kevin sambil terkekeh.
"Gini! Lo mau ke Berlin kapan?" Tanya Fene serius.
__ADS_1
"Dia aja deh! Males gue!" Holi merubah posisi duduknya, menghadap Maria dan Veni.
"Iiighs!" Fene mencubit geram perut tipis adiknya.
"Aaaugh! Sakit sis!" Rengeknya.
"Lo temanin Petter atau gue yang nyembuhin sampai sembuh!" Fene melototkan matanya.
"Iya! Lusa gue berangkat!" Rengeknya masih kesal karena sakit di cubit Fene. "Vin! Kawan lo ngelakuin kekerasan sama gue!" Holi mengadu pada Kevin.
"Kekerasan apa?" Tanya Kevin nggak ngerti.
"Gue di cubit!" Rengeknya.
"Lo baru dicubit! Gue, Adrian dihajar di Hawaaii! Sampai bonyok! Tau lo! Ikutin semua perintah dia! Dari pada dia gila! Toh itu buat lo! Iiiigh!" Ujar Kevin menakuti Holi.
"Ck!" Holi menatap Veni dan Maria, yang pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka. Padahal mereka dengar, hahaha. "Iya! Gue temanin!" Bisik Holi pada Fene.
"Hmmm! Good! Lo tau gue kan! Gue kasih saran selalu yang terbaik! Gue rela terluka, berdarah-darah demi orang yang gue cintai!" Jelas Fene pada Holi.
"Tapi dia lupa savety jika sudah on fire sama Carlos, yah Fen!" Goda Veni.
"Iiisgh! Belum itu maah! Belum apa-apa udah di culik Alberth saudara Kevin!" Kekeh Fene.
"Untung lo nggak sama Carlos, Fen! Kalau jadi, lo yang memar di buat Adrian!" Goda Kevin.
"Iiisgh! Nggak yah! Gue nggak sudi!" Jawab Fene asal.
"Nggak sudi apaan? Udah terjadi! Apalagi yang nggak sudi?" Tambah Kevin.
"Ntah! Otak gue udah blank in the dark!" Kekeknya.
Mereka tertawa bersama, memperhatikan Adrian dan Petter.
"Pulang yuukz! Capek!" Rengen Maria.
"Pulang deluan aja! Kami masih disini!" Ucap Samuel pada Maria.
"Ya udah, Lois udah di rumah yah Sam?" Tanya Maria.
"Udah! Nanti saya diantar Adrian atau Petter!" Ucap Samuel pada Maria.
Para sugar momy memilih pulang, sementara sugar daddy masih di resroran.
__ADS_1
Nichole dan Fene pulang bersama, karena Nichole menginap di tempat Fene, atas permintaan Fene untuk menemani Chay-in. Holi dan Maria pulang bersama, membawa kendaraan masing-masing.
Sugar daddy bicarain apa yah? Wanita? Harta? Tahta?***🤗