See Eye Stela

See Eye Stela
Melupakan.


__ADS_3

Dedrick membawa Stela kembali ke apartemennya. Begitu banyak drama saat berada di rumah Keluarga Visser, Stela merengek seakan mengingat sesuatu. Bahkan sesuatu yang menyakitkan membuat dia ketakutan.


"Hubby! Go home! Aku nggak nyaman disini!" Rengeknya didepan Miller dan Veni.


Veni berusaha membujuk Stela agar betah dirumah mereka, tapi tidak untuk Stela.


"Sebentar lagi yah sayang! Kamu mau istirahat diatas?" Ucap Dedrick.


"No, aku mau pulang! Aku tidak suka disini!" Isaknya menangis di pelukan Dedrick.


Dedrick menarik nafas dalam, membawa Stela duduk di teras rumah, dia diam dan ketawa. Mau bermanja dengan Veni dan Miller,


Deg, "jangan-jangan dia mengingat saat aku menyakitinya dulu." Batin Dedrick.


Dedrick memejamkan matanya, memutuskan untuk membawanya pulang. Tapi Stela memeluk dan mencium bibir Dedrick duduk dipangkuannya dengan sangat mesra, "Hubby, I want!" Bisiknya tanpa ada rasa sungkan dihadapan Miller dan Veni.


"Apa kamu mau sekarang?" Tanya Dedrick menatap Stela telah sibuk menciumi cerug leher Dedrick. "Aaagh!" Dedrick mulai terbuai.


Veni dan Miller menaikan alisnya, "Pulanglah!" Miller tersenyum menatap putranya yang merasa serba salah.


Dedrick menatap Stela, menangkup kedua pipinya. "Apa kamu mau aku lakukan sekarang?" Tanya Dedrick menggeram, karena jujur Dedrick memang tak kuasa menolak apapun keinginan istrinya.


"Ya!" Stela mengangguk.


Dedrick menggendong Stela, sambil terus men cium bibir istrinya, menuju kamar tamu berada dibawah.


Veni dan Miller, hanya menaikkan bahu sangat mengerti. "Besok kita ikut mereka ke Italy! Lusi dan Dovi menikah! Adrian tadi nelfon aku, menanyakan Stela! Sekaligus memberitahu tentang pernikahan Lusi. Fene dan Adrian sudah berangkat. Mereka menunggu kita di Roma. Karena pernikahan mereka di lakukan di Greja Ketedral Basilica Santa Maria in Aracoeli." Jelas Miller.


"Hmmm!" Veni menaikkan alis tanda setuju berlalu meninggalkan Miller masuk kedalam rumah.


"Ven! Come on! I'm sory! Laurens datang kesini hanya berkunjung! Bukan mau menghabiskan waktu! Please, jangan begini. Malu sama Dedrick, Ven!" Miller mengikuti langkah Veni yang masih kesal karena cemburu.


"Apa? Berkunjung? Jika dia berkunjung biasa, kenapa ngajakin jumpa sama lo di hotel? Hmm?" Kesal Veni mencubit perut Miller.


"Auuugh! Sakit!" Miller menahan tangan Veni yang berani menyentuh perutnya.


"Lepas Mil!" Kesal Veni menarik tangannya.


"Aku hanya duduk direstoran, tidak menemani hingga ke kamar!" Jelas Miller lembut mendekat pada Veni.


"Aaaagh! I hate you Mil!" Veni ingin segera berlalu,


"I love you, Ven!" Tangan Miller sudah menahan punggung Veni untuk berbalik.

__ADS_1


Veni terdiam, jujur dia sangat mencintai Miller, "Kenapa dia menemui mu? Apa dia memerasmu?" Tanya Veni kesal.


"Nein! Dia hanya ingin bertemu! Aku salah tidak mengajakmu! Saat ini dia sudah kembali ke Spain! Aku tidak melakukan apapun dengannya." Jelas Miller.


Miller menatap mata Veni, "Jangan marah lagi! Aku sudah cukup stress dengan anak-anak! Aku minta maaf." Miller mencium lembut bibir Veni, mendekap tubuhnya agar lebih dekat.


Veni meletakan tangan yang kaku didada Miller, awalnya untuk menahan, ternyata hasratnya juga tak bisa menahan rasa ingin pada Miller. Semarahnya Veni, dia tidak akan bisa menolak Miller jika lebih agresif mendekapnya.


"Mil!" Bisik Veni.


"Hmm!" Jawab Miller masih menciumi leher jenjang Veni.


"Aaagh! Nanti anak-anak keluar!"Bisik Veni yang sudah terbuai.


"Hmm! Jangan pikirkan, aku sudah sangat merindukan mu!" Bisik Miller membuka perlahan baju Veni.


"Mil, ini ruang tamu!" Bisik Veni.


"Hmm! Ven, jangan buat aku gila!" Miller semakin mengunci tubuhnya disofa.


Miller semakin tak kuasa menahan, setelah pertikaiannya dengan Veni membuat dia sulit untuk berfikir jernih karena menghadapi kecemburuan Veni.


Wajarlah Veni cemburu, Laurens pernah menjadi selir hati Miller selama 1,5 tahun. Kini datang lagi, apa tujuannya jika tidak merusak hubungan Miller dan Veni.


"Wait Ven! Again!" Teriak Miller mengejar Veni.


Meninggalkan pakaian berserakan di lantai ruang tamu.


Miller seperti sedang kehausan. Tak memikirkan siapapun yang mendengar mereka. Dedrick hanya tersenyum mendengar kelakuan orang tuanya.


"Ternyata segala sesuatu, beresnya di ranjang!" Kekehnya berbisik, kembali ke kamar, stelah dari dapur mengambil air sesuai permintaan Stela.


"Kenapa sayang?" Tanya Stela.


"Hmm! Nggak apa-apa! Tidurlah, pelayan sudah menyiapkan semua kebutuhan kita di Italy." Jelas Dedrick.


Stela mengangguk, kembali tidur menutup tubuh telanjangnya dengan selimut tipis. Dedrick mencium bahu Stela, mengecup puncak kepala itu.


Stela terlelap dengan nyenyak, Dedrick meninggalkan istrinya, menuju minibar. Seperti biasa, jika sudah musim dingin Dedrick akan lebih sering meminum yang beralkohol untuk menghangatkan tubuhnya.


"Heii," kejut Miller pada Dedrick.


"Haii Dad! Mana Mami?" Tanya Dedrick pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Hmm! Wanita jika sudah bercinta, lebih suka bermalas-malasan hingga pagi!" Kekeh Miller.


"Eehm! Ya, tapi jangan bercinta di ruang tamu juga Daddy!" Goda Dedrick.


Miller tertawa, "Apa kau mendengar kami?" Tawanya semakin pecah.


"Ya! Aku mendengarnya, rasanya aneh!" Kekeh Dedrick.


"Kamu baru mendengar boy! Saya beberapa kali melihat mu!" Senyum Miller menunjuk hidung mancung sang putra.


Dedrick seketika tersipu malu. "Itu dulu Daddy, sekarang aku lebih ingin menutup diri! Kecuali depan Daddy dan Mami!" Jawab Dedrick asal.


"Kalian nginap disini? Besok kita sama-sama ke bandara." Jelas Miller.


"Ya Dad! Stela sudah tidur, jadi aku mau keluar sebentar." Izin Dedrick.


"Heii! Nanti Stela bangun, kamu nggak ada, kami susah." Miller mengingatkan.


Langkah Dedrick terhenti, baru mengingat kondisi Stela yang tidak baik. "Hmmm! Ya, aku lupa!" Senyumnya, kembali duduk mendekati Miller.


Belum lama Dedrick meletakkan pantatnya, Stela benar-benar berteriak dikamar tamu. Dedrick berlari menenangkan Stela, memeluk tubuh yang menggigil dan pucat. Miller mengikuti Dedrick dari belakang.


"Wife! Kamu kenapa? Kamu mimpi buruk?" Tanya Dedrick.


"Aku pengen pulang! Aku nggak tau tempat ini, ditempat ini aku pernah disiksa seseorang hubby!" Tangisnya dipelukan Dedrick dengan nafas terengah.


Deg, Dedrick menutup mata, terus mengusap punggung Stela, memberi ketenangan. "Tidak ada yang menyakiti mu disini sayang, aku disini. Selalu disini!" Pujuk Dedrick.


"Tidak dia mengasari ku hubby! Dia menyakitiku! Aku dan dia sudah berpisah lama! Sudah beberapa bulan lalu aku berpisah darinya!" Jelas Stela, dapat didengar oleh Miller.


Dedrick menganggap Stela bercanda, "jika dia katakan beberapa bulan lalu, pria itu adalah aku, tapi saat ini dia masih mengingat ku! Apakah memorynya melupakan semua kenangan yang menyakitkan tentang ku?" Bisik Dedrick.


Miller mengusap punggung Dedrick agar menemani Stela, "Daddy kembali ke kamar yah? Istirahatlah! Besok kita akan berangkat." Ucap Miller berlalu meninggalkan anak menantunya.


"Ya Dad! Terimakasih." Bisik Dedrick, kembali mendekap Stela yang kembali terlelap, kamu pakai baju kaos aku? Besok pagi pengawal akan membawa baju kamu kesini." Jelas Dedrick.


"Iya, baju kaos kamu ini aja! Agar aku merasakan bau kamu terus." Ucap Stela.


Dedrick melepas baju kaos ditubuhnya, memakaikan pada Stela. Menarik nafas dalam, kembali mengecup puncak kepala itu, mengusap hingga Stela terlelap kembali.


"Ya Allah, sembuhkan istriku! Aku membutuhkannya." Tangis Dedrick.


Mohon Like and Vote...❤️❤️🥰

__ADS_1


__ADS_2