
Chay-in dan Lois saling menggoda, sementara Dedrick dan Stela disibukkan dengan perencanaan mereka membuka butik. Dovi dan Lusi kehilangan semua moment, tidak mengetahui sama sekali pertikaian dikeluarga Stela, apalagi perceraian Adrian dan Fene. Kedua putri Adrian menutup rapat semua dari Lusi.
Beberapa kali Stela menanyakan keberadaan Nichole pada Kevin, tapi belum ada jawaban dari Kevin. "Kenapa aunty tidak membalas pesan ku yah hubby?" Peluk Stela manja.
"Sabar aja wife! Lagi sibuk mungkin." Jelas Dedrick mengusap lembut kepala, sesekali mengecup bibir manis istrinya.
Mata Dedrick melihat mobil Daddy dan mobil mertuanya terparkir di depan resto. Miller dan Kevin keluar bersama bak pembunuh berdarah dingin, mertuanya membukakan pintu seorang gadis cantik.
Stela menatap kearah yang sama menyaksikan Adrian merangkul Camille sangat mesra. "Apakah orang dewasa secepat itu dapat pengganti hubby? Itukan Aunty Camille yang di Vegas! Dia memberi ku beberapa gaun! Dia juga pemilik kasino." Jelas Stela pada Dedrick.
"Oogh! Kamu pernah ketemu?" tanya Dedrick penasaran.
"Pernah! Momy kenal! Sama Grandpa juga kenal. Biarin lah Hubby! Jika mereka selingkuh, berarti mereka sudah tidak ingin bersama." Jelas Stela pasrah.
Para pengusaha itu masuk, membuat mata ter arah pada mereka, Miller tak menyadari anak-anak mereka ada disana. Mereka juga sengaja menutup tirai, hanya bisa melihat jelas dari luar.
Stela dan Chay-in saling tatap melihat Adrian merangkul Camille. Lois mengusap lembut punggung Chay-in, mengerti perasaan gadis yang sudah resmi menjadi kekasihnya beberapa hari ini.
"Aku nginap di Mansion kamu aja gimana? Aku nggak mau pulang!" Bisik Chay-in pada Lois.
Lois menelan salivanya, "secepat inikah? Apakah kamu pengen melakukan itu?" Kekeh Lois.
"Nggak! Bete aku dirumah!" Rungut Chay-in.
"Nggak usah! Pulang aja! Ntar kalau nginap sama aku, hilang virgin mu! Aku digorok Tuan Lim!" Kekehnya.
"Hmm! Emang kamu nggak mau?" Goda Chay-in.
"Maulah! Tapi nggak sekarang juga kali! Nanti aku disuruh jadi pemain bokep sama Momy!" Jawab Lois asal dengan terkekeh.
Mereka saling tertawa berdua, menggoda penuh canda. Lois bisa mengarahkan Chay-in, bagi Lois mengenal dekat lebih baik, daripada memutuskan menikah muda. Chay-in juga masih belia banget, songongnya masih terlihat jelas.
Dedrick dikejutkan dengan kehadiran Veni dan Fene, "Oogh! Bakal ada perseteruan seru nih!" Kekeh Dedrick berbisik pada Stela.
Stela saling tatap dengan manik Fene dan Veni, berdiri menghampiri dua wanita hebat menurutnya.
"Momy janjian sama Daddy?" Tanya Stela polos.
"Hmm! Nggak! Momy hanya ingin menemani Veni menghabiskan waktu!" Senyum Fene. "Why?" Tanya Fene penasaran.
"Daddy disini sama Daddy Miller dan Uncle Kevin, hmm!" Jelas Stela tak berani melanjutkan.
"Apakah Daddy bersama Camille Clark?" Tanya Fene sangat tenang.
"Hmm!" Jawab Stela menatap Fene.
"Oke!" Senyum Fene, merangkul lengan Veni besannya menuju ruangan yang direserfasi Veni private room.
Kevin melihat keberadaan Fene dan Veni. "Oogh my God! Dri, Fene disini!" Bisik Kevin pada Adrian.
"Oya?" Adrian celingak celunguk mencari keberadaan Fene. "Hmm! Apakah kau memberi kabar kita disini?" Tatap Adrian pada Kevin dan Miller.
__ADS_1
"No! Mereka nggak tau kita disini!" Jelas Miller.
"Wait and see!" Ucap Adrian santai.
Camille memohon izin untuk ke toilet, tubuh semampai itu sangat menarik perhatian 3 pria diruangan itu. Pria mana yang tidak tertarik padanya, sangat sempurna, terkesan anggun dan menarik.
Fene dikejutkan dengan kehadiran Camille ditoilet bersamaan beradu tatap dicermin toilet.
"Hai Fen! Kamu disini?" Sapa Camille yang tidak tau permasalahannya dengan Adrian.
"Oogh ya! Kebetulan kita berjumpa disini! Kamu sama siapa?" Tanya Fene menyimpan kecemburuan teramat sangat.
"Hmm! Sama Adrian, Kevin dan Miller! Kebetulan aku sedang menunggu temanku disini!" Senyum Camille berlalu masuk toilet.
Fene menghela nafas dalam, matanya basah seketika. Merasakan sakit dan cemburu dihatinya. 'Adrian sangat tega menyakitinya seperti ini.' Batinnya.
"Fen! You oke?" Tanya Camille melihat Fene menunduk saat keluar dari toilet.
"Apakah kamu memiliki hubungan special dengan Adrian?" Tanya Fene sedikit sinis.
"What? Apa aku seperti menggoda Adrian?" Senyum Camille.
"Apa Adrian tidak bicara pada mu?" Tanya Fene masih menatap cermin.
"Bicara apa? Kamu ada masalah sama Adrian?" Tanya Camille semakin bingung.
"Hmm! Nggak! Semua baik-baik saja!" Senyum Fene tipis agak terpaksa.
"Sama besan ku, Veni!" Jelas Fene.
"Oogh ya! Adrian mengundangku untuk acara keluargamu!" Camille memperbaiki rambutnya, mengoles sedikit lipstik kebibir tipisnya.
"Ya! Aku menunggu mu! Nice to meet you!" Fene berlalu lebih dulu meninggalkan Camille ditoilet dengan wajah bingung.
"Hmm!" Camille berlalu, menuju tempat duduk temannya yang telah menunggu.
Fene menggeram kesal, membuka pintu ternyata Kevin dan Miller ada disana menemani Veni.
"Kevin!" Kejut Fene menatap Kevin tengah asik mengobrol.
"Hai!" Kevin menyambut Fene memberi pelukan sebagai sahabat yang saling merindu. "Adrian menunggu lo diruangan sebelah! Pergilah, selesaikan masalah lo! Besok acara putri lo! Jangan kecewakan anak lo, karena keegoisan lo! Jangan biarkan masalah semakin berlarut!" Bisik Kevin mengusap lembut punggung Fene.
"Hmm!" Fene menatap Miller dan Veni.
"Saya akan memberi peluang buat kalian melakukan lebih mesra lagi!" Goda Miller mencium bahu Veni.
Veni dan Kevin saling menggoda tertawa.
"Jangan egois! Demi anak-anak!" Ucap Veni menatap Fene penuh keyakinan.
Fene berlalu meninggalkan ketiga sahabat terbaiknya, walau besan tapi sangat pengertian.
__ADS_1
Fene membuka pintu beradu tatap dengan Adrian. Fene menelan salivanya terlihat sangat gugup. Adrian masih sok cool, tak menyambut Fene walau sebenarnya dia sangat merindukan Fene saat ini.
"Oogh, surprise!" Goda Adrian menatap kehadiran Fene dihadapannya.
"Bisa nggak sebelum kita berpisah lo jangan bawa-bawa perempuan dulu?" Kesal Fene menatap Adrian tengah asik memainkan jarinya dilayar ponsel miliknya.
"Hmm!" Jawab Adrian masih cuek.
"Adrian, gue ngomong!" Suara Fene terdengar menggeram.
Adrian menghentikan jarinya dari layar ponsel, menatap mata Fene tengah menatapnya. "Why? Lo cemburu? Apakah Camille lebih cantik dari lo? Apakah Camille membuat hati lo terbakar? Apakah Camille rival lo?" Sarkas Adrian.
"Setidaknya lo hargai perasaan gue, Adrian!" Fene tak melepas tatapannya dari wajah Adrian.
"Haah! Gue ngehargai perasaan lo? Lo yang minta Fen! Lo yang nggak mau hidup bersama gue! Gue berhak melakukan apa saja karena gue Imam dirumah tangga kita! Bukan lo! Ngerti!" Tegas Adrian membuat Fene terdiam.
"Tapi bukan begini Adrian!" Fene semakin kesal.
Adrian berdiri menarik tubuh Fene agar semakin dekat dengannya, "Lo terlalu sempurna buat gue! Tapi lo nggak mau bersama lagi! Apa lo lupa semua permintaan lo, dengan menggugat gue! Gue nggak pernah menceraikan lo, Fen! Sampai saat ini lo masih istri gue! Lo bisa ngerti sedikit perasaan gue sebagai seorang suami? Hargai gue, Fen! Hargai gue!" Adrian ingin sekali mencium bibir Fene yang sangat dia rindukan, tapi diurungkan karena keegoisan Fene masih terlihat dimatanya.
Fene menutup matanya, menanti kecupan Adrian yang sangat dia nantikan. "Gue masih mencintai lo, Dri!" ucapnya dengan mata masih tertutup.
Adrian merasakan hangatnya nafas istri dihadapannya. Adrian mencium bibir Fene dengan lembut, Fene membalas ciumannya. Fene merindukan Adrian yang hangat seperti hari ini, Fene terbuai. Menyentuh rahang kokoh wajah suaminya. "Huufgh! Hmmm!" Adrian dan Fene saling menikmati ciuman mereka.
CEKREEK, Camille mengahalau lamunan mesra mereka, "uups! Sory!" Camille menutup pintu kembali. Mengusap dadanya, atas pemandangan yang dia lihat barusan. Menarik nafas dalam, membuka kembali pintu ruangan, melihat Fene dan Adrian tengah salah tingkah. "Hmm! Sory! Adrian, Fene! Aku balik dulu ke hotel! Karena ada beberapa pekerjaan! Nanti kita berkabar saja ya Dri!" Senyum Camille, mengambil tasnya.
"Kamu sama siapa?" Tanya Adrian mendekati Camille.
"Sama temen ku! Kebetulan pekerjaan ku dadline! Nanti malam kita bertemu! Oke dear!" Camille mengusap lembut pipi Adrian dihadapan Fene kemudian memeluk sebagai salam perpisahan, Camille memeluk mesra Fene. "Nice to meet you too dear!" Kecup Camille pada pipi Fene.
Mereka saling tertegun. Fene menatap Adrian, tanpa mau melanjutkan pembicaraan mereka. Memilih meninggalkan Adrian sendiri, tapi Adrian menahan lengan Fene. "Kamu mau kemana? Aku butuh kamu!" mohon Adrian menarik tangan Fene kepelukannya.
Fene merasakan kehangatan Adrian kembali saat berada didekapannya. "Apakah kamu menyukai Camille?" Bisik Fene terdengar lucu oleh Adrian.
"Ya! Aku menyukainya karena dia pintar dan ****!" Goda Adrian, akan tau reaksi Fene.
"Hmm!" Jawab Fene kesal.
"Anak-anak disini! Apakah kita akan begini? Apakah kamu tidak merindukan aku?" Tanya Adrian.
Fene menutup matanya, menikmati pelukan Adrian yang sudah lama dia rindukan. "Apakah kamu akan membawa gadis itu kepesta kita besok?" Rungut Fene.
"Ya! Aku membawanya untuk menaikkan ratting butik Camille. Aku tak peduli dengan semua gosip! Karena Irene telah mengajukan perceraian kita! Sebelum kalian menariknya aku tidak akan pulang! Kamu harus menyelesaikan semua ini sebelum aku meniduri Camille!" Tegas Adrian.
"Apa kau sengaja membuatku cemburu?" Kesal Fene.
"Ya! Agar kamu kembali kepelukan ku!" Jelas Adrian tersenyum picik.
"Aaagh! Kamu menyebalkan!" Rungut Fene.
"Kamu temanin aku diapartemen, atau kamu mendengar berita aku menghabiskan waktu dengan Camille malam ini! Aku tidak mengancam! Aku ingin kamu membelaku dihadapan Hanz dan Irene. Jika kamu tidak datang, aku akan melakukan hal yang menyakitkan untukmu." Adrian berlalu meninggalkan Fene.
__ADS_1
"Adrian! Adrian! Uuugh! Egois! Tapi aku merindukannya!" Usap Fene pada wajah cantiknya. Menarik nafas dalam menuju ruangannya bersama Veni.***