See Eye Stela

See Eye Stela
Bukan cinta biasa.


__ADS_3

Kevin menyambangi apartemen Adrian di Santa Monica Hollywood. 'Heran gue! Udah tua pakai ngambek! Hmm, apa kata dunia kalau mereka berpisah! Pasti Fene akan menjadi detektif mengawasi Adrian. Pekerjaan gue semakin banyak!' Kekeh Kevin membatin.


Kevin menuju restoran sesuai pengarahan Adrian, dikejutkan dengan sosok wanita cantik menemani Adrian disampingnya, Miller berada dihadapan Adrian. 'Playboy beraksi!' Kevin makin terkekeh.


Kevin menghampiri Adrian tengah asik bercengkrama hangat, sangat senang dengan kehadiran Kevin dihadapannya. "Heei!" Senyum Kevin mengarah pada wanita anggun dan berkelas, "who?" Kevin tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Hmm! Kenalkan ini Camille Clark, pemilik butik di Vegas." Senyum Adrian mengetahui pemikiran Kevin.


"Hai!" Camille mengulurkan tangan pada Kevin, tersenyum sangat anggun.


"Hmm! Oke!" Kevin menatap Miller, "Haii bro! how are you!" tanya Kevin memeluk Miller ramah.


"Fine!" Peluk Miller erat, "duduklah!" sambut Miller , memanggil waiters memesan beberapa makanan.


"Oya! Acara Stela beberapa hari lagi Dri! Lo datangkan?" Tanya Kevin pada Adrian sesekali mencuri pandang pada Camille.


"Oogh! Ya, gue datang!" Senyum Adrian.


Kevin memberi kode pada Adrian, meyakinkan Camille diundang atau tidak.


"Oogh! Hmm! Besok acara peresmian pernikahan Stela dan Dedrick yang diadakan Hanz. Gue datang sebagai tamu, tentu bersama Camille! Kamu mau menemani saya dear?" Goda Adrian menatap mata Camille.


"Ya! Oke!" Camille manyandarkan punggungnya disofa.


Adrian tersenyum menatap Kevin. Kevin menghembuskan asap rokoknya keudara, menatap Adrian penuh rasa penasaran dan geram.


"Lim, saya permisi dulu yah! Kebetulan tamu saya sudah datang." Jelas Cemille mohon izin berpisah dari mereka, berpindah ke private room.


"Oke!" Adrian memeluk Camille memberi salam perpisahan.

__ADS_1


Camille berlalu dengan sangat anggun. Menggunakan mini dress berwarna hitam desaign pribadinya. Mengunakan tas hermes mungil dibalut gelang kecil nan unik, sangat sempurna sebagai gadis dewasa yang mapan. Usia berkisar 40, tapi mapan dan sangat matang. Rambut dicepol keatas memperlihatkan keindahan leher yang sangat indah, sedikit tatto 3D dibahu gambar bunga bercampur siluet mengartikan kedamaian.


"Temen lo yang mana ni?" Tanya Kevin penasaran.


"Temen bisnis di Vegas! Dia pemilik butik dan kasino! Kenal juga sama Hanz Parker! Kebetulan free dia nyusul gue kesini! Napa? Salah?" Goda Adrian.


"Bro! Urusan lo sama Fene belum kelar! Jangan tambah masalah lagi!" Jelas Kevin didepan Miller tanpa rasa malu.


"Oke! Listen! Gue sama Camille, just friends, nggak lebih! Dia single, gue free why not! Gue hanya ingin berteman! Nggak salah dong! Toh ada Miller yang nemanin gue. Besan gue!" Senyum Adrian.


"Ck! Hargai perasaan Fene lah Dri!" Kesal Kevin.


"Oke! Gue jelasin sama lo! Hanz nonjok gue, Irene nampar gue, Fene nampar gue! Trus mereka bilang, akan gugat gue! Ya udah! Ngapain gue pertahankan! Jika itu pun terjadi, gue jalani Vin! Walau sakit disini atas perlakuan mereka ke gue!" Geram Adrian menunjuk dadanya dengan wajah sangat kesal.


"Lagian lo ngapa ngehajar Dedrick seeh? Dia udah resmi jadi suami Stela, Dri!" Tanya Kevin.


"Yaah! Terserah! Gue sama Miller nunggu kabar kebahagiaan lo!" Kekeh Kevin.


"Siapa yang mau cerai seeh Vin! Fene nggak pernah ngomong cerai ama gue! Kemaren mungkin dia udah gue sakitin lahir batin makanya dia berani minta cerai!" Tunduknya tersenyum tipis. "Jika ini yang terbaik! Mungkin gue akan ke Swiss! Hidup disana hingga akhir hayat gue." Kenangnya.


"Oogh man! Fene sangat mencintaimu! Nggak mungkin dia akan melepasmu begitu saja!" Jelas Miller.


"Nggak ada yang nggak mungkin bro! Dia memang cinta, tapi tidak mau lagi sama gue! Ya udah. Gue paling malas memelas! Seperti nggak ada wanita lain! Toh wanita lebih banyak di dunia ini!" Mereka terkekeh.


"Saham kita masih stabil! Mudah-mudahan foto lo barusan tidak merusak FeneSwiss Group dan Fene Group Dri!" Jelas Kevin menatap layar handphone.


"Ck! Paparazi ada dimana saja!" Kesal Adrian.


Camille menghampiri Adrian kembali duduk disebelahnya. "Lim, aku akan ke restoran Van Visser! Kamu mau temanin aku?" Bisik Camille di telinga Adrian.

__ADS_1


"Oogh! Bentar!" Adrian menatap Miller dan Kevin. "Gue mau antar Camille ke resto Van Visser! Kalian ikut?" Tanya Adrian.


Miller mengangguk setuju, "oke! Kita jalan sekarang." Miller menghubungi pihak restoran, agar menyiapkan ruangan seperti kemaren.


Kevin mengikuti langkah Adrian dan Camille, tangan Adrian sangat mesra melingkar dipinggul gadis mapan itu.


Miller dan Kevin sudah tau, Adrian akan melakukan hal nekat jika Fene tidak memperjuangkannya. Kevin sengaja mengirim beberapa foto Adrian dan Camille ke handphone Fene. Agar Fene segera mengambil tindakan sebelum semua benar-benar hancur.


Fene tengah menghabiskan waktu bersama Veni dikamarnya, merasakan getaran handphone dinakas.


Fene berjalan menuju nakas membuka pesan singkat yang dikirim Kevin, melihat foto mesra Adrian bersama Camille Clark diarea apartemen milik mereka. "Adrian! Kenapa lo lakuin ini seh sama gue! Gue aja masih galau! Tega banget seeh lo! Emang nggak cinta lo sama gue?" Bisik Fene.


Veni melihat perubahan Fene dihadapannya, "napa besan?" Senyum Veni.


"Ck! Lo lihat deh! Kevin ngirimin kebersamaan Adrian sama Camille Clark desaigner di Vegas." ucap Fene memberikan handphone miliknya.


Veni melihat wanita cantik nan semampai. "Iigh! Adrian nggak ada habisnya." Veni membesarkan layar gambar agar lebih jelas melihat kemesraan mereka. "Soo? Lo emang mau pisah? Saran gue jangan Fen! Kasihan anak-anak kalian! Anak almarhum Bram dan Jasmine. Pikirkan lagi dear!" Jelas Veni.


"Hmm!" Fene duduk disamping Veni, "Camille ini pemilik kasino juga! Dia single! Mereka memang bersahabat! Kemare dia memberi baju pada gue, Stela dan Chay-in! Desaignnya lumayan! Orangnya juga baik!" Jelas Fene.


"Terus! Lo ikhlas Adrian sama dia?" goda Veni.


"Gue cinta Ven sama Adrian! Cinta gue bukan cinta biasa! Saat dia kasar aja, gue berusaha nikmati! Walau perih banget bagian intim gue, gue nikmatin kok! Gue cinta sama Adrian, Ven! Gue nggak bisa jauh! Dia soulmate gue, Ven!" Isak Fene menangis menutup wajahnya.


"Oogh dear!" Veni membawa Fene dalam pelukannya. "Menangislah! Mengalah! Adrian nggak akan meminta sama lo! Adrian menunggu lo hadir dihadapannya. Selesaikan, kalian baru akan menjadi orang tua yang sempurna punya menantu baru! Masak nerima menantu, cerai dear! Nggak lucu!" Goda Veni.


"Kita keresto gue yuuk! Nikmati suasana sore! Sangat indah disana! Ganti baju lo! Dandan yang cantik!" Goga Veni pada puncak hidung Fene.


Fene mengikuti semua saran Veni, setidaknya dapat melupakan permasalahan sejenak. Veni meminta pelayan menyediakan private room.***

__ADS_1


__ADS_2