See Eye Stela

See Eye Stela
Tanpa ampun


__ADS_3

Carlos murka, meminta Fernando segera membantu untuk membalas perbuatan Alberth. Batang hidungnya patah dan retak.


"Sialan helder kulit hitam itu! Menghajar aku lagi menikmati Fene. Aaagh!" Geramnya.


"Tuan! Tuan Fernando sudah dibawah." Jelas pengawal.


"Suruh dia masuk! Jangan biarkan dia membawa anjingnya! Haram!" Kekeh Carlos.


Carlos menatap wajah tampannya di cermin, 'Setidaknya Fene membalas ciuman ku!' Senyumnya merekah merona indah.


"Ck! Kenapa kau tidak mendengar nasehat ku? Sekarang wajahmu babak belur! Kau apakan istri Lim?" Tanya Fernando duduk disofa kamar Carlos tanpa dipinta.


"Aku hanya memberi dia obat perangsang dan barang baru Netherland." Jawabnya jujur.


"Apa? Aaagh! Tak bisa kah kau memperlakukan wanita dengan baik? Kalau dia mati, habis kau dibenamkan Lincoln dan Lim di basemen miliknya." Jelas Fernando.


"Aku ingin menikmatinya, tapi dia enjoy saat aku menciumnya! Dia sangat menggairahkan Fernan! Aku harus mendapatkannya!" Carlos menyalakan cerutu deli yang dia dapat dari sahabat bisnisnya.


"Aku tak yakin kau akan aman Carlos!" Bisik Fernando.


"Setidaknya aku ingin memiliki sahabat lama ku Fernando! Kenapa aku mencintai bekas Adrian semua yah? Aku mencintai Sharen, sekarang Fene!" Rungutnya.


"Makanya aku bilang, kau cari model saja! Tidak usah Fene! Karena Pedro sangat mencintai Stela! Putrinya lebih cantik dan dia model. Pemilik butik di Paris dan New york. Aku melihat gadis itu sangat menawan!" Jelas Fernando pada Carlos.


"Ck! Aku trauma sama model! Matre! Fene sama sekali tidak menerima pemberianku! Aku mengaguminya. Dia tak tergiur dengan hartaku." Kenang Carlos menghembuskan asap cerutunya.


PRAANK... DOR... DOR...


Asap tebal menutupi pandangan Fernando dan Carlos.


"Augh! Siapa kau! Lepaskan aku! Fernando! Uhug uhug! Bangsat! Kalian akan menyesal telah menyakiti ku! Binatang!" Badannya sudah berada di kabin mobil, tanpa dia tau akan dibawa kemana.


"Carlos! Carlos! Bangsat! Pengawal, selamatkan saudara ku." Teriak Fernando masih terbatuk-batuk karena asap tebal dikamar Carlos.


"Binatang! Siapa yang berani memberi akses masuk kerumah keluarga ku! Dasar pengkhianat!" Geram Fernando.


Fernando menghubungi Tommy agar segera membantunya di Berlin.


"Kejar mobil itu! Jangan biarkan dia membawa Carlos! Anjing! Apa kalian tidak diberi makan oleh Carlos? Kenapa gerak kalian begitu lambat?" Fernando berlari ke mobil, mengejar mobil yang membawa Carlos saudara kembarnya.


Dikediaman Edward, tak kalah paniknya mendengar obat perangsang yang diberi Carlos ke Fene, di tambah 2 butir barang Netherland kualitas terbaik. Fene diberi obat penenang oleh dokter agar lebih tenang menikmati flynya.


"Pantas nggak pernah puas!" Batin Adrian menggeram. "Dad! Berapa lama pengaruh obat itu?" Tanya Adrian berbisik pada Edward.


"Biasanya 2 sampai 3 hari! Tenanglah! Fene baik-baik saja. Aku ke basemen, Aberth sudah datang. Akan aku benamkan dia meracuni menantuku." Geram Edward mengambil semua alat miliknya.


"Dad! Aku ikut!" Mohon Adrian.


"Ya!" Edward berjalan lebih dulu menuju basemen.

__ADS_1


Adrian berbisik pada Katty agar terus menjaga Fene.


"Dad!" Panggil Stela.


"Ya!" Adrian menatap putrinya.


"Maafkan aku! Aku sangat mencintaimu!" Stela memeluk Adrian setelah menyaksikan Adrian saat menenangkan Fene dari pengaruh barang haram itu.


Adrian menghela nafas dalam. "Aku mencintai kalian semua, maafkan aku! Aku berjanji akan terus bersama kalian!" Adrian mengecup kepala Stela, berlalu menuju basemen.


Rumah Edward ada ruang tersembunyi untuk membenamkan seluruh musuh mereka. Jika mati akan dikubur dengan baik, jika cacat ditanggung seluruhnya, jika melawan akan dijinakkan dengan cara Edward.


BHUUUK,


BHUUK,


BHUUK,


PLAAAK,


"Aaaugh Tuan! Patah tiga hidungku! Baru tadi malam diperbaiki, patah lagi!" Rengeknya menahan sakit.


"Kau apakan menantuku? Haah? Sudah rindu kau melihat peti mati mu!" Edward menghajar Carlos.


"Aku mencintainya Tuan! Dia mencintai aku! Dia membalas ciuman ku!" Jawab Carlos sangat pede.


Adrian muncul bak pembunuh berdarah dingin. Duduk dihadapan Carlos dengan wajah penuh dendam.


Adrian tak menjawab, dia menikmati asap rokoknya menghembuskan pelan ke udara.


"Apa kau bilang?" Tanya Edward menarik kerah baju Carlos.


"Cerai Tuan! Mereka bercerai! Fene mengatakan pada ku! Makanya aku berani membawanya ke Mansionku! Salah? Jika aku membawanya? Itu izinmu! Kami menikmati malam itu!" Jelas Carlos tanpa malu.


BHHUUK,


"Aaugh! Ampun Tuan! Biarkan aku hidup! Aku tidak akan mengganggu Fene hingga dia benar-benar bercerai dari Adrian, Tuan! Aku sangat mencintainya! Sangat Tuan, dia wanita menggairahkan!" Carlos memohon.


PLAAAK,


"Aaaugh! Rontok gigi gue! Anjing! Sakit!" Kesal Carlos.


"Kau tau, Adrian tidak akan bercerai dari Fene! Jangan pernah kau mengganggu keluarga ku! Parker, Lincoln, Lim, Helberg dan Stuard! Jika kau masih ingin hidup di dunia ini." Geram Edward mengingatkan Carlos.


"Tapi cucumu mengambil wanitaku Marelin! Dia menikahinya! Apa salahku pada kalian? Hingga kalian menghancurkan hidup ku!" Carlos menantang.


"Apa kau bilang? Cucuku hanya membantu Marelin! Mereka hanya menikah sirih, dan dia akan meninggalkan Marelin! Karena aku tak sudi punya menantu bekas kau!" Edward meremas wajah Carlos.


"Serahkan Marelin pada ku! Atau aku dan anakku Pedro akan merebut putrimu Stela!" Jelas Carlos sangat bodoh dan jujur.

__ADS_1


DOR..


Adrian menghujamkan senjata kesayangan Bram tepat dilutut Carlos.


"Aaaaaaagh!" Carlos menjerit kesakitan.


"Jangan kau ganggu keluargaku! Masih banyak wanita diluar sana!" Tegas Adrian.


"Kalian yang merusak kebahagiaan kami! Apa kau tidak kasihan pada Pedro, Dri! Dia putra Sharen! Almarhum istriku." Dengan nafas terengah Carlos menjelaskan siapa Pedro Febian Arlan.


Adrian tak menghiraukan, karena keluarganya sedang terancam.


"Dengar Carlos! Aku tidak ada urusan dengan Sharen, dia masa lalu ku! Aku sudah lama melupakannya." Jelas Adrian kaku dan dingin.


"Tapi kau pernah bersamanya Adrian." Teriak Carlos.


PLAAK..


"Bawa dia! Obati lukanya!" Perintah Edward pada Alberth.


"Baik Tuan!" Alberth menutup kepala Carlos, membawanya dari basemen kediaman Edward.


Edward menepuk pundak Adrian. "Setidaknya dia mencintai dengan cara yang salah! Bersihkan ruangan ini!" Perintah Edward pada pengawalnya.


"Ya Tuan!" Tunduk pengawal Edward.


Adrian dan Edward berjalan menuju lantai atas. Ada penyesalan bagi Adrian telah menyakiti Carlos, tapi dia melakukan itu karena ingin melindungi anak dan istrinya dari ancaman orang luar.


"Ck! Maafkan aku Fen!" Batin Adrian menangis.


"Alberth, berapa kau digaji Edward! Hingga tega kalian menghajarku tanpa ampun! Dimana tadi itu? Aku akan membalas kalian! Aku akan mengancurkan kasino kalian! Biar kalian miskin, kemudian datang kerumah ku memohon untuk makan!" Racau Carlos tak jelas dengan wajah tertutup.


Alberth membawa Carlos ketempat biasa, memaksa keluar dari mobil yang berbeda.


BRAAK,


"Obati dia! Beri obat terbaik! Tuan besar akan menyelesaikannya untuk kalian." Alberth melempar tubuh Carlos di tempat tidur klinik langganan mereka.


"Baik Tuan!" Jawab Dokter yang menangani.


Alberth menghubungi Fernando, agar menjemput Carlos disesuatu tempat.


"Aaaaaagh! Bangsat! Sakitnya! Pelan-pelan dong! Kaki ku hampir pecah gara-gara Lim, Cina tak jelas itu." Racaunya.


"Oogh Fene! Beginikah mencintai mu? Sakit banget! Lebih sakit dari menguliti mu. Hei Alberth! Aku akan membayarmu dengan emas ku! Kau jaga Mansion ku!" Kekeh Carlos tanpa malu.


Alberth hanya diam, melihat Carlos diobati oleh dokter.


"Udah gue dibonyokin, di obatin! Lucu kalian! Bodoh! Aaaugh! Fene, sakit Fen! Aku mencintai mu, Fen! Jika Fene berpisah dari Adrian tolong kau kasih tau aku Alberth! Aku akan membawanya bulan madu ke bulan! Agar Adrian tidak mengganggu ku!" Rungutnya.

__ADS_1


Alberth tersenyum mendengar ucapan kalimat Carlos. Bandit kampung, kekeh Alberth dalam hati, hahah.***


__ADS_2