
Jujur Dedrick kaget saat Kevin menghujamkan pukulan kewajah tampannya. Ada perasaan takut dan kecewa, karena telah mencintai gadis dari keluarga terpandang, tidaklah mudah.
Dedrick melihat Stela ditarik paksa, tidak terima kekasihnya diperlakukan kasar, tapi apa daya, tangan Dedrick tertahan dua helder yang biasa menjaga Stela.
‘Aku rasa aku mencintai gadis yang sempurna, hingga diperlakukan begini oleh keluarganya!’ batin Dedrick.
Miller tidak tinggal diam, dia menjemput Dedrick ke Boulevart Mall meminta pengawal melepaskan putranya, pengawal menunduk hormat pada Miller.
Miller melihat Dedrick seperti kehilangan sayap, tak mampu berbicara, hanya menangis dipelukannya, tak menyangka putranya akan diperlakukan seperti ini oleh Adrian.
Miller mengusap lembut bahu Dedrick, membawanya kembali ke hotel, menghabiskan waktu bersama, 'ternyata putra ku sudah dewasa!” batin Miller.
“Dad, apa salah aku membawa gadis ku untuk menghabiskan waktu? Kami tidak melakukan apapun selain berciuman!” racaunya kesal, mengusap pipinya menggunakan es batu saat dikamar.
“Kamu tidak salah! Tapi seharusnya kamu katakan pada Adrian sebelum dia masuk ke ruang rapat!” Senyum Miller mengusap kepala Dedrick.
“Bagaimana menurutmu tentang Stela!” Tanya Dedrick ingin tau.
“Hmm! Good! Dia gadis yang sempurna, seperti ibunya.” Jelas Miller.
“Apa aku salah mencintainya?” tanya Dedrick masih kesal.
“Nggak ada yang salah! Caramu yang salah!” Jelas Miller.
Dedrick berbaring diranjang kamar, menatap kelangit kamar, memejamkan matanya. Ingin sekali mencurahkan semua perasaannya pada Stela, tapi keluarganya terlalu memprotect seakan Dedrick tidak pantas meraih cintanya, membuat rasa penasaran bergejolak dihati pria berdarah Netherland ini.
Miller mengambil handphone dan dompetnya dinakas, “apa kau mau menghabiskan waktu bersama ku?” tanya Miller.
Dedrick bangkit dari ranjang, mengikuti langkah Miller, melewati koridor hotel, lift, tibalah direstoran yang nyaman. Setidaknya bisa menghabiskan malam bersama, batinnya.
Saat tengah duduk bersantai menatap layar handphone, jantung Dedrick berdegub kencang melihat Adrian Moreno Lim mendekat kearahnya, 'mau apa dia kesini?’ batin Dedrick.
Miller menyambut Adrian sangat baik, mendengarkan sangat tenang, padahal anaknya yang disakiti.
Adrian terlihat menahan emosinya walau dia sedang meminta maaf menatap Dedrick, karena mereka duduk berhadapan.
Dedrick mengungkapkan isi hatinya tanpa memperdulikan perasaan Adrian dan Miller. Kejujuran pada kedua pria yang dihargainya, jika sesuatu terjadi, jangan dia disalahkan oleh kedua orang tuanya, karena dia sudah meminta dengan gentle. Pernikahan yang dia bayangkan seperti permainan rumah-rumahan, tanpa memikirkan dampaknya, tak lagi dihiraukan, yang terpenting Adrian dan Miller tahu bahwa dirinya serius.
Adrian menghujamkan satu pukulan telak tepat diwajah Dedrick.
‘Tega banget beliau memukul wajah tampanku, padahal aku meminta dengan baik dan sopan. Kehadiran Stela dihadapanku, dapat meredakan rasa sakit dipipi yang memanas.’ Batin Dedrick.
Stela membawa Dedrick naik kekamar, Dedrick mengalihkan agar kekamarnya, dia tak mau Adrian mengekorinya, apalagi didepan kamar mereka ada dua helder sedang menanti disana. 'Kenapa mereka tidak tidur?’ batin Dedrick sedikit terkekeh.
“Maafin daddy aku, hon! Dia emosi!” ucap Stela masih memeluk Dedrick.
‘Yang sakit wajah, yang dipapah lengan, dipeluk lagi!’ batin Dedrick terkekeh geli.
__ADS_1
Dedrick membuka pintu kamar, membawa Stela masuk bersamanya.
Stela kaku, menelan salivanya, menatap Dedrick takut.
Dedrick membalikkan tubuhnya, mendengar suara pintu tertutup,“hei! Kenapa? Takut?” goda Dedrick.
“Hmm!” Stela menatap Dedrick sudah mendekat kearahnya.
Stela bersandar kepintu kamar, menanti kehadiran wajah Dedrick sudah sangat dekat dengan wajahnya.
Dedrick tersenyum mengecup kening kekasih hatinya, “bantu obatin pipi aku!” rengeknya manja.
“Hmm!” Stela tersenyum lega ketika Dedrick membawa tangannya masuk kedalam.
Stela mengambil es batu dan handuk kecil dikamar mandi. Dedrick memperhatikan gadisnya tersenyum senang. Stela masih sibuk melilitkan es ke handuk kecil.
Stela menghampiri Dedrick sudah bersandar dikepala ranjang, perlahan Stela mengusap wajah tampan itu, sangat lembut. Terlihat jari yang tidak pernah berkerja kasar, kulit yang halus, nafas tercium wangi, membuat Dedrick tak bisa menahan dirinya. Dedrick ******* bibir Stela dihadapannya.
“Huugfh! Dear!” Stela melepas ciuman mereka, menatap Dedrick.
Dedrick mencium aroma manis vanila dari bibir itu, “hmm!” Stela menggigit bibir bawahnya, “huufh!”
Dedrick tak bisa menahan, kembali ******* bibir Stela, sangat lama mereka terbuai dalam decapan menggairahkan seluruh persendian mereka, tanpa mereka sadari Dedrick telah membaringkan Stela hingga menindih tubuh gadis itu.
Dedrick menatap, memainkan jarinya diwajah halus Stela, mengecup lembut kedua mata Stela yang indah. Jarinya bermain hingga leher Stela, sangat sempurna, batinnya.
“Hmm! Aku takut!” ucap Stela.
“Hei!” Dedrick menatap mata Stela, membiarkan mata mereka bicara.
Dedrick menggenggam jemari Stela membawanya untuk melakukan yang lebih dari sekedar ciuman.
“Apa kamu siap?” bisik Dedrick ditelinga Stela, mencium lembut daun telinga itu penuh damba.
“Ya dear!” ucap Stela menikmati, sehingga terhanyut ke dunia mereka.
BRAAAK...
Pengawal mendobrak pintu kamar, Adrian dan Miller masuk ke kamar dengan rasa kesal, berdiri dihadapan kedua anaknya, menyaksikan kenekatan dua insan hampir setengah telanjang. Kancing baju Stela sudah terbuka, melihatkan dada masih tertutup bra, tangan Dedrick sudah berada disana.
Adrian tak tinggal diam, menarik leher baju Dedrick menghajar tanpa ampun. "Aku tidak akan menyerahkan putri ku pada mu! Bangsat! Miller aku akan menuntut kalian.” Tunjuk Adrian dengan wajah bengis.
“Adrian, mereka saling cinta!” bela Miller untuk putranya.
“Aku tidak peduli, dia sudah melecehkan Stela putriku.” Tuduh Adrian.
“Dad! Tidak ada pelecehan! Aku mencintai dia! Daddy egois! Daddy sangat egois!” tangis Stela pecah.
__ADS_1
Kevin memeluk menutup dada Stela yang masih stengah terbuka, membawa Stela keluar.
“Aku nggak mau pulang! Aku mau Dedrick ikut bersama ku! Kenapa kalian tak mengerti kesepian hati ku!” isaknya, membuat Adrian semakin kasar.
Adrian menarik paksa tangan Stela meninggalkan kamar Miller, meninggalkan wajah Dedrick makin babak belur, terluka di pelipis mata, terasa darah mengalir. Dedrick semakin hancur, mendengar jeritan dan tangis Stela dari kejauhan.
Miller mengepalkan tinjunya, ingin membalas perlakuan Adrian tapi tak mampu, memang salah putranya. Miller menutup pintu kamar, saat Adrian membawa Stela dengan jeritan tangis yang menggema dikoridor hotel, Miller dan Dedrick saling tatap, “kamu ikut daddy pulang!” tegas Miller, tanpa ada jawaban dari Dedrick.
Dikamar yang berbeda, Stela memukul dada Adrian, menatap benci pada cinta pertamanya. "Aku benci daddy! Aku benci!” Teriak Stela pada Adrian.
“Kita akan pulang ke Jakarta!” tegas Adrian.
“Aku nggak mau! Aku mau Dedrick, aku mau menikah dengan dia, aku menerima lamarannya.” Isak Stela masih menepuk dada bidang Adrian.
Kevin menatap keponakannya seperti melihat Fene beberapa tahun silam. Senyum Kevin membatin.
“Listen! Kamu akan menikah setelah usia 20 tahun! Not now! Oke!” Adrian menatap tajam mata putri kecilnya.
Isaknya makin terdengar, “aku akan menelfon Grandpa Edward, aku tidak ingin bersama mu! Kau tak pernah membawaku nonton, kau tak pernah ada saat aku butuh hangout! Kau selalu menyerahkan ku pada pengawal! Aku pengen menikmati masa remajaku! Aku ingin merasakan dicintai dan mencintai! Tanpa pengawalan! Kau egois, aku benci kalian berdua! Aku mau pulang ke Berlin, Brian sangat peduli pada ku, dia mencintai ku!” Stela meringkuk disudut kamar, setelah menghancurkan semua barang dinakas.
Benar-benar sulit untuk Adrian menghadapi Stela sendiri. Adrian mengusap kesal wajahnya, ingin sekali membawa putrinya jauh dari sini, "aaaagh!" kesal Adrian frustasi.
Kevin menepuk pundak Adrian, “aku keluar, mungkin kau memang tidak pernah ada waktu untuknya!” Senyum Kevin.
Adrian duduk di tepi ranjang menunggu Stela sedikit tenang, setelah Kevin meninggalkan mereka berdua.
“Dear! Apakah kita akan berjudi malam ini? Aku sudah lama tidak berjudi dengan mu, saat usiamu 13 tahun kau sering menemani ku berjudi disini, kita menghabiskan banyak uang, apa kau ingat?” goda Adrian menghibur putrinya untuk menebus rasa bersalahnya.
“No! Haram! Aku tidak ingat, aku tidak mau mengingat mu! Aku hanya ingin Dedrick” jawab Stela ketus.
“Hmm, bagaimana kita membeli ice cream, gulali, steak? Pasta! You not hungry? Setidaknya jika mau menikah, harus patuh pada daddy, dear! Ciuman juga butuh tenaga lho!” lirik Adrian kembali menggoda.
Stela mendongakkan kepalanya, mendengar semua makanan kesukaannya.
“Ya, i’m very hungry Tuan Adrian!” rengeknya mendekat pada Adrian.
“Kamu mau makan dimana? Kita makan di Grotto?” merangkul Stela yang sudah duduk dipangkuannya.
Stela mengangguk setuju, menyeka wajah, mengganti baju yang berantakan, dengan pemberian Adrian tadi.
Adrian menunggu gadisnya berdandan, menatap langit-langit kamar, memikirkan semua yang telah dia lupakan untuk putrinya. "Waktu, yaah waktu." bisik Adrian.
"Dad!" panggil Stela.
Adrian terduduk mendengar suara lembut putrinya, "woow! Kamu begitu cantik dear!” puji Adrian melihat Stela sudah menggunakan mini dress yang dibeli bersamanya.
Stela berputar bak putri raja, menyematkan cincin pemberian Brian.
__ADS_1
‘Setidaknya Stela dapat melupakan permasalahan walau sedikit!’ batin Adrian.***