
Kevin membawa Nichole bersamanya, sengaja membawa beberapa makanan kesukaan Fene dan Veni untuk menyogok sahabatnya.
Mata Fene menatap kearah Kevin saat mereka tiba dikediaman Smith.
"Keviiiin!" Fene berlari memeluk sahabat sekaligus musuh bebuyutannya beberapa bulan ini, "I miss you Vin!" Fene mengalungkan kedua kakinya dipinggang Kevin, tentu menjadi pemandangan menyakitkan untuk Adrian. Fene menciumi wajah Kevin tanpa rasa malu. "I miss you, cup! I hate you, cup! I love you, cup!" Fene memeluk erat, Kevin masih mendekap tubuh Fene yang ada di gendongannya.
"Gue naik ni!" Kekeh Kevin menatap Fene dengan penuh rasa sayang, rasa cinta, rasa penyesalan atas pengkhianatan yang dia lakukan.
"Naiklah! Gue rela! Biar lo nggak selingkuh sama perempuan kayak begitu." Ucap Fene. Mereka saling mendekap menangis berdua.
Adrian mengambil Fene dari gendongan Kevin, yang sangat sulit dia lepaskan. "Fen, ntar ***** dia sayang!" Kalimat Adrian membuat Nichole dan Veni terkekeh.
"Biarin! Biarin dia *****! Gue kangen sama dia, pelukan gue juga pelukan kangen, Nichole aja nggak cemburu!" Jawab Fene masih memeluk Kevin.
"Gue gendong Nichole ni!" Ucap Adrian.
"Beeeegh! Ogah gue di gendong lo Dri!" Usap Nichole pada wajah Adrian.
"Udah Fen! Gue sayang sama lo! Jangan gebukin gue lagi! Trauma gue! Tangan Daddy sangat menyakitkan buat gue!" Bisiknya mengusap lembut rambut Fene yang tidak menggunakan hijab.
"Uuugh, lo nyebelin! Kalian nyebelin!" Fene melepaskan tubuhnya dari Kevin masih marangkulkan tangannya dileher Kevin.
"Gue ***** lo yah!" Tatap Kevin pada Fene.
"Main ***** aja lo! Bini gue, setan!" Adrian menarik lengan Fene agar melepaskan pelukannya dari Kevin.
"Iigh! Gue masih kangen Adrian!" Ucap Fene kesel.
"Kita pulang aja yuuk! Gue yang ***** ngelihat kalian!" Kekeh Adrian memeluk Fene.
"Ck! Lo nggak ada off-nya!" Kekeh Kevin.
"Ada Vin! Saat gue libas di Berlin!" ucap Fene menjadi tawa untuk Nichole, Miller dan Veni.
"Eegh! Gue normal! Lo pakai barang bagus! KO-lah gue!" Ejek Adrian jujur.
"Nggak mantab lo!" Ledek Kevin.
"Non stop Vin! Tepar gue 5 hari." Jujur Adrian di depan sahabatnya.
Tawa Kevin dan Miller makin kencang, mendengar kegilaan mereka.
"Trauma lo!" Ledek Kevin.
"Sangat!" Ucap Adrian membuat Fene tersenyum.
Dedrick mendengar keseruan orang tuanya, hanya tersenyum. Mengusap lembut Stela yang masih tertidur pulas, menggendong Stela kekamar, agar tidak terganggu dengan kehebohan keluarganya.
__ADS_1
"Drick! Lo bawa anak gue kemana?" Goda Kevin saat melihat Dedrick menggendong tubuh langsing Stela.
"Biasa Uncle! Berlabuh!" Kekeh Dedrick.
"Setan! Bapak *****-an, dapat menantu lebih *****!" Kekeh Kevin.
"Biarin, anak muda! Daripada ngambek mulu!" Ucap Veni.
"Ambekan menantu lo Ven?" Tanya Nichole.
"Beegh! Manja banget Nic! Ampe gue gemes banget lihatnya! Bukan Fene, tapi Adrian!" Jujur Veni menatap ke Fene dan Adrian.
"Iyalah! Anak kami berdua!" Adrian mendekap Fene gemas, membawanya kepelukannya.
Fene menikmati pelukan Adrian, setiap manusia pasti melakukan salah, yaaah. Memaafkan gampang, melupakan yang sulit.
"Udah, kami didepan! Kalian reuni disini dulu!" Ucap Miller membawa Adrian dan Kevin duduk diluar menikmati pemandangan dan pengunjung restoran.
"Seru disini yah! Rame! Sumpek gue lihat tembok mulu diapartemen." Ucap Kevin.
"Iya! Saya juga baru menikmati! Sudah lama nggak ke Jakarta." Jelas Miller.
Adrian dan Kevin mengangguk. Miller dan Veni memang sangat sibuk, jarang memiliki waktu. Ini karena kondisi yang sudah tidak kondusif, makanya melarikan diri dari kenyamanan di tempat masing-masing. Carlos dan Camille juga menghilang dari peredaran.
"Jadi bagaimana? Dimana kita akan stay?" Tanya Miller mengingat Pedro ada di La.
"Iya! Gue juga udh sebulan disini." Jelas Kevin.
"Holi dan Petter dimana Vin? Kok jarang nongol?" Tanya Adrian.
"Hmm! Biasa, kemaren gue denger dari Luisa, Holi lagi ada masalah sama Petter. Mau pisah juga! Nggak tau masalahnya apa! Petter terlalu sibuk, nggak ada time buat Holi." Kenang Kevin.
"Eeehm! Emang berat akhir-akhir ini. Gue baik juga karena demi anak-anak dan perusahaan. Jasmine memohon sama gue! Brian juga. Sedih gue, ngelhat anak-anak. Chay-in untung ada Richard. Kalau nggak mungkin udah kabur dia sama Lois. Semua berubah, terasa rumit!" Kenang Adrian dengan wajah sendu.
"Itulah ujian, kita jalani dulu! Nikmati, syukuri." Jelas Kevin.
"Tumben bener hidup lo!" Goda Adrian.
"Habis Nichole ngancamnya ngeri bro! Seluruh aset buat dia! Gue disuruh pergi pake kolor doang! Mohon lah gue! Mikir, merenung, gereja! Syukurnya dikasih jalan keluar! Walau Nichole juga nggak sepenuhnya mau nerima gue." Curhat Kevin.
"Wanita dan pria berbeda bro! Mereka selalu mengingat! Naaah kita, jangankan ngingat, apa yang terjadi hari ini aja lupa kalau nggak di ingetin!" Kekeh Miller.
"Ya betul! Kadang gue mau minum racun biar mati kayak Romeo!" Tambah Adrian terkekeh.
"Ck! Masak minum racun! Fene kan mau ngegantung lo di Vegas!" Kevin tertawa terbahak-bahak.
Adrian tersenyum tipis, mendengar ledekan Kevin.
__ADS_1
"Betewe Fene kok bisa kenal sama Carlos, Dri?" Tanya Miller.
"Kan temen sekolah kita Mil! Carlos itu dulu bareng kita di Swiss, nggak tau kok bisa udah kaya di Berlin. Dia kembaran Fernando!' Jelas Adrian. "Ternyata mereka keponakan Tommy suami Mami Marisa. Dunia ini sempit! Kita dipertemukan itu-itu aja orangnya." Jelas Adrian panjang lebar.
"Terus?" Tanya Kevin.
"Ya, dia cinta sama Fene! Rupanya Carlos nikah sama Sharen, punya anak Pedro! Kekasihnya Marelin! Mereka nikah sirih Vin! Nggak resmi. Daddy udah menegaskan pada Brian, agar melepaskan Marelin. Sekarang Brian juga pusing! Gue udah suruh dia nyusul kita kesini. Biar aman! Dia atur dulu sama Marelin, Daddy emang nggak mau Brian sama Marelin." Jelas Adrian panjang lebar.
"Ooogh! Bisa jadi Camille mencari mereka Dri!" Jelas Kevin.
"Pasti! Samuel menang lelang, karena Papi membantu, Alui juga nggak bisa kita percaya Vin! Gue jamin Camille sengaja sok baik juga buat memikat gue, ada niat buruk! Buktinya ketahuan cepet, seminggu bro! Seminggu!" Kenang Adrian tertawa.
"Itu lo aja yang apes!" Kekeh Kevin. "Gue masih itungan bulan seeh!" Jelas Kevin.
"Saya 1,5 tahun dulu mendua!" Kenang Miller.
Kevin dan Adrian membulatkan mata, "Nggak ada yang murni!" Tawa mereka pecah.
"Apa yang nggak murni bro!" Suara Samuel mengagetkan Adrian, Miller dan Kevin.
"Haaaii! Sang actor and produser. Buatin gue film dong! Perjalanan selingkuh seminggu judulnya!" Kekeh Kevin.
"Pemainnya Adrian, Camille dan Fene!" Tambah Samuel tertawa.
"Setan! Nggak ada yang bener kalian! Suka banget ngegoda gue!" Rungut Adrian.
"Gimana nggak lucu! Lo selingkuh mesranya cuma seminggu, berakhir digebukin! Dibalas lagi sama Fene! Seru dong!" Kevin dan Miller tertawa hingga mengeluarkan air mata menahan perutnya.
Adrian malah tertawa mengenang cerita cintanya yang tragis.
Samuel tertawa mengambil rokok milik Adrian.
"Lo ngerokok Sam!" Tanya Kevin.
"Nyoba! Kali aja model Australi bisa ngelirik saya!" Goda Samuel.
"Ck! Dia itu anak-anak! Sok keras, pas berhadapan sama Fene ciut!" Kenang Kevin sedikit mengusap air matanya.
"Tapi Fene kalau nggak begitu hancur kalian! Percayalah!" Jelas Miller.
"Iya! Gue akui itu!" Tambah Kevin. "Siapa yang hubungi Daddy dan Papi, Dri?" Tanya Kevin penasaran.
"Alberth lah! Siapa lagi. Fene kan anak dan menantu kesayangan. Keluar sama Carlos aja dibolehin sama Daddy, padahal sesaknya lagi kumat! Mau marah gimana! Mau nerima gimana! Untung Alberth bisa gerak cepat! Kalau nggak tambah hancur gue!" Jelas Adrian.
"Hmm! Fernando lebih serius Dri! Dia akan melakukan apa saja untuk membalas luka Carlos!" Kenang Miller.
"Ya! I know!" Senyum Adrian. "Jalani aja dulu! Semoga ada jalan keluar untuk kita!" Kenang Adrian.
__ADS_1
"Ya!" Para sugar daddy masuk ke pikiran dan dunia masing-masing.***