
Saat Huang dan Liu berpamitan, mereka akan bertemu besok siang di tempat yang dijanjikan. Semua bergerak cepat, tentu atas izin Agent rahasia mereka.
Adrian, Kevin, Edward, Miller dan Samuel berkumpul di ruang kerja Hanz Parker, semua mata terkejut mendengar pelaku sebenarnya.
"Apa motif Pedro membunuh Hanz?" Geram Miller.
Hal yang sama dilakukan Kevin dan Samuel.
"Anak kemaren sore bro!" Kesal Samuel.
Adrian menghubungi Alberth, agar membawa Carlos dan Tommy segera.
"Baik Tuan!"-Alberth.
Tanpa sengaja Stela dan Dedrick mendengar pembicaraan para Sugar Daddy.
****
Disisi lain di negeri kincir nan sejuk. Marelin menikmati susu coklat seorang diri, mengingat kebaikan keluarga Edward Lincoln padanya. "Hmm, walau mereka tidak menyukai ku! Mareka masih menanggung biaya hidupku! Brian, aku sangat mencintai mu!" Bisik Marelin mengenang suami 2 bulannya.
BRAAK, pintu apartemen Marelin rubuh seketika, membuat Marelin terlonjak kaget menjatuhkan gelas dari genggamannya.
Pria mata sipit dihadapan Marelin menatap wajah model cantik Netherland itu menggunakan baju kaos tanpa celana.
"Siapa kalian?" Teriak Marelin dengan wajah ketakutan.
"Pakai celanamu!" Orang suruhan Liu meletakkan senjata Colt 1911 berisi 7 buah peluru dan setiap satu butirnya siap dimuntahkan ke kepala Marelin dengan kecepatan 1.225 kaki per detik.
"Shiiit!" Batin Marelin menggeram. "Siapa kalian? Aku tidak mengenal kalian!" Marelin mengikuti semua perintah pria sipit itu.
"Passpor!" ucap orang suruhan Liu.
Dengan tangan menggigil Marelin menggapai semua legalitas dirinya, memberikan pada pria sipit yang sangat kaku tanpa senyum.
Pria itu menelfon menggunakan Bahasa Mandarin, Marelin menutup matanya berdoa, agar dilindungi oleh Tuhan.
PLAAK, tepat ditengkuk Marelin membuat tubuhnya seketika tak sadarkan diri. Pria itu membawa Marelin menuju Los Angeles.
Di satu desa kecil yang sejuk tanpa hiruk pikuk kendaraan kota, sebuah desa di Giethoorn, Pedro dikejutkan dengan senjata yang melekat dipunggungnya.
KREEK, Colt 1911 melekat tepat di punggung Pedro oleh seorang pria berjas berwajah oriental.
"Jalan!" Perintah pria itu.
"Auuugh! Ampun, jangan sakit saya!" Pedro menelan salivanya.
BHUUK, tepat di tulang rusuk Pedro pukulan itu sangat menyesakkan baginya.
"Aaagh!" Pedro merasa seperti akan mati, "ampun Tuan!" Ucapnya dengan terbata.
"Jalan!" Tatapan dingin itu sangat menakuti Pedro.
Pedro mengikuti langkah pria itu, hingga berniat untuk kabur, 'pasti mereka langsung membunuhku!' Batin Pedro melihat situasi kanan kiri.
Pedro tau ini adalah suruhan orang Lim, "Mati aku! Aku akan menjadi bulan-bulanan mereka!" Tangis Pedro pecah saat dia berada disebuah kereta.
__ADS_1
"Tuan! Bisa kau lepaskan aku! Aku janji akan menjadi anak yang baik! Jangan siksa aku, Tuan!" Tangis Pedro.
PLAAK, tamparan itu membuat luka dibibir kiri Pedro.
"Aaagh! Shiiit!" Dengan mata basah Pedro hanya pasrah menerima takdirnya kali ini.
Pria berjas oriental itu menyeret Pedro seperti anjing menuju jet pribadi mereka. Tangan dan kakinya di ikat dimasukkan kedalam kerangkeng pesawat layaknya binatang.
Pedro melihat menatap Marelin, berada tepat disampingnya.
"Maafkan aku Marelin!" Batinnya.
Pesawat terbang membawa mereka tanpa diberi makan ataupun minuman. Pedro hanya menatap wajah Marelin yang sedang menangis.
"Maafkan aku melibatkan mu, Marelin!" Isaknya.
Marelin tak menjawab, hanya menangis dan pasrah menghadapi takdir.
****
Dikediaman Keluarga Arlan, Alberth lebih sadis menghadapi mereka. Carlos yang tak terima atas perlakuan Alberth berusaha melawan.
"Apa kau kurang puas telah menyakiti ku!" Sarkas Carlos saat kedua tangannya diborgol oleh Alberth.
BHUUK, tepat diulu hati Carlos tangan kekar Alberth bertengger.
Tommy dan Fernando tak bisa melawan.
"Ada apa ini! Bisakah kita bicara baik-baik Aberth!" Tegas Fernando.
Mereka menemukan motor sport 1000cc buatan Italy ada digarasi kediaman Carlos.
"Bawa motor itu!" Tegas Alberth pada pengawal kulit hitam yang lain.
Dengan sigap mereka membawa semua barang bukti kelokasi yang mereka janjikan.
"Anjing! Siapa yang mengkibus keluarga ku!" Tegas Carlos menatap marah pada Tommy dan Fernando.
"Kalian pengkhianat!" Sarkas Carlos pada Tommy dan Fernando.
"Heeii! Aku juga tidak tau siapa pelakunya! Kenapa kau menuduhku!" Fernando tersulut emosi.
Tommy berfikir siapa dari mereka yang mengkhianati mereka.
Perjalanan menuju suatu tempat yang merekapun tidak mengetahui dimana lokasinya.
BRAAK, tubuh Carlos berada di sebuah kursi mengandung daya listrik sangat mengerikan.
"Lepaskan aku! Aku tidak akan mati disini." Teriak Carlos ketakutan.
SREET, Alberth mengencangkan ikatan tangan Carlos.
Tommy dan Fernando terduduk ditempat yang berbeda.
"Anjiiing! Lepaskan aku!" Teriak Carlos pada Alberth.
__ADS_1
Wajah tampannya sudah tampak memar karena hantaman Alberth.
CEKREK, Carlos, Tommy dan Fernando menatap Edward, Miller dan Adrian masuk keruangan mereka.
"Adrian! Apa yang kau lakukan? Aku tidak melakukan apapun padamu! Lepas kan aku Adrian!" Teriak Carlos ketakutan diatas kursi memiliki daya sangat tinggi itu.
Carlos, Tommy dan Fernando memang tidak tahu pelakunya adalah Pedro anak kandung Carlos.
"Dimana Pedro?" Tanya Adrian menatap dingin Carlos.
"Pedro! Oogh, aku tidak tau dimana Pedro, Adrian!" Jawab Carlos bingung.
PLAAK, "apa kau siap mati dikursi ini Carlos?" Tanya Adrian tersenyum sinis.
"Aku tidak tau Pedro dimana Adrian! Aku tidak tau! Bisa kita bicara baik-baik! Aku tidak mengerti ini!" Mohon Carlos.
Adrian tersenyum tipis, "Aku rasa paman ku Tommy sangat tau dimana Pedro! Karena dia mengganggu putriku di supermarket Bell Air." Adrian mengalihkan tatapannya ke Tommy.
Tommy terkejut, "Aku di Italy Adrian! Aku tidak tau keberadaan Pedro saat ini! Aku benar-benar tidak tau." Jawab Tommy menatap Adrian dan Edward.
Tangan mereka terikat rantai yang berkaitan dengan kursi Carlos. Jika kursi itu menyala, Tommy dan Fernando ikut merasakan apa yang dirasakan Carlos.
BHUUK
BHUUK
Edward yang menggeram menghajar Tommy. "Apa masalahmu pada kami? Apa tidak bisa kau menjadi sahabat yang baik Tom! Kau nikahi Marisa, tapi kau jauhkan dia dari Hanz!" Sarkas Edward.
"Aaaugh! Aku mencintai kalian Edward! Aku hanya ingin keponakanku berhasil di Vegas seperti Hanz dan Adrian." Jawabnya jujur.
PLAAK, "berbisnislah dengan baik Tom! Tanpa menyakiti, apalagi menghilangkan nyawa sahabatmu!" Sarkas Edward.
"Bukan aku pembunuh Hanz, Edward! Aku mohon!" Hidung Tommy dan sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah.
"Berarti kau Fernando!" Senyum Miller menyeringai seketika.
"Ooogh, shiiit! Kenapa kalian menuduh kami? Aku di Spanyol Miller! Merawat Carlos karena terluka ditembak Adrian!" Ucap Fernando membela diri.
"Hmmm! Kau ingin bermain dengan kami Fernando! PLAAAK!" Tamparan Miller melayang ke wajah cool Fernando.
"Shiiit! ****! Aku tidak bersalah Miller! Jika aku bersalah, aku tidak akan hadir dipemakaman Pak Tua itu!" Jelas Fernando geram.
"Alberth, nyalakan!" Ucap Edward.
"Please! Please! Jangan lakukan ini pada kami Edward! Aku mohon! Aku akan mencari keberadaan Pedro! Karena kami memang tidak mengetahui dimana dia Edward! Aku mohon!" Pinta Carlos dan Fernando.
Tommy hanya menunduk pasrah.
Edward memberi kode pada Alberth, jangan dimulai. Karena siang akan kedatangan tamu special Keluarga Arlan.
"Hmmm! Aku masih berbaik hati pada kalian! Kita lihat permainan kalian! Surprise, surprise!" Edward, Adrian dan Miller memilih pergi meninggalkan mereka didalam ruangan yang berbau listrik terbakar.
"Alberth! Awasi mereka, jangan lepaskan. Huang dan Liu sudah membawa Pedro dan Merelin kesini." Ucap Edward berlalu.
"Baik Tuan!" Tunduknya patuh.
__ADS_1
Kematian Hanz sangat menyakitkan bagi mereka. Membunuh satu keluarga itu sangat mudah bagi mereka. Tapi masih diurungkan oleh Edward, karena memikirkan perasaan Marisa adik Hanz Parker.***