
Dikamar hotel yang luas Fene duduk dengan menutup kepalanya dimeja, "sakit banget, sakit banget!" isaknya menatap lantai kamar.
Adrian menghampiri kemudian memeluk Fene, mengusap lembut kepala istri tercintanya, mengerti apa yang dirasakan Fene setelah menerima telfon dari Kevin. Adrian menggendong Fene agar tidur didekatnya, bisa bercerita dan berbagi.
Fene mengalungkan tangannya dileher kekar Adrian, menempelkan kepalanya didada bidang milik Adrian.
"Kenapa kita dihadapkan dengan masalah serumit ini Dri? Apa yang salah? Aku rasa kita selalu memberi yang terbaik untuk mereka. Aku mau pulang ke La. Aku nggak mau kehilangan moment lagi bersama anak-anak ku!" Isaknya menangis dipelukan Adrian.
Adrian mendengarkan, meletakkan tubuh istrinya keatas ranjang. "Aku terlalu mencintaimu! Hingga lupa dengan anak kita." Bisik Adrian masih duduk ditepi ranjang mengusap wajah Fene masih terlihat cantik.
"Brian akhirnya menikahi Marelin. Gadis simpanan Fernando!" Fene semakin terisak.
"Hmm!" Adrian menarik nafas dalam. "Dia sangat mencintai model itu," senyum Adrian.
"Aku nggak tau mesti bilang apa! Aku takut anak itu akan menyakiti anakku!" tangis Fene kesal membayangkan wajah Marelin.
"Hei, hei! Apa kau tidak pernah merasakan cinta diusia muda?" goda Adrian agar Fene lebih tenang.
"Aku hanya mencintaimu Adrian! Bram juga mencintaiku! Hingga aku lupa caranya jatuh cinta." Jujur Fene pada Adrian.
"Haaah? Kamu mencintai aku?" Adrian mengulang kembali kejujuran Fene.
"Ya, aku mencintaimu! Tapi kau terlalu mencintai Veni! Hingga Bram mengobati luka ku! Apa kau paham?" rungut Fene diwajah tampan Adrian.
"Saat aku menikahi mu! Aku tak mau kehilanganmu Fen! Aku terlalu cinta, hingga aku takut kau terluka. Saat mami dan daddy ingin membawa anak-anak, aku merelakannya. Bagi ku aku tak mau kehilangan moment lagi darimu." Tunduk Adrian menyatukan kedua jarinya.
"Ya, kita terlalu terlena, hingga kita lupa pada Brian dan tiga putri kita." ucap Fene pelan.
"Aku akan menelfon putraku! Kenapa dia menikah tidak memberitahuku! Apa dia tak menganggap ku teman?" Kesal Adrian menatap Fene dengan wajah sok garang.
__ADS_1
"Apa kamu bisa marah pada Brian? Kamu hanya bisa memarahi Stela!" Ejek Fene.
"Hmm! Ya, karena Stela lebih berani dibanding Jasmine dan Chay-in." Kenang Adrian.
Fene tak kuasa menahan rasa sakitnya, memeluk Adrian sangat erat. Adrian mengusap punggung Fene agar lebih tenang, "tenang yah! Aku akan membereskan anak-anak satu persatu." usap Adrian, mengecup kepala Fene.
Fene menyeka air mata diwajahnya, mengangguk pelan. "Aku istirahat! Karena besok adalah pernikahan putri kita Stela." Fene merebahkan kepala diatas bantal, Adrian mengecup kepala Fene, mengusap kepalanya hingga Fene terlelap.
Adrian kembali kesofa. Memandang digalery handphone miliknya, kapan dia terakhir kali menghabiskan waktu bersama keempat anaknya. Adrian kembali masuk dalam pikiran dunianya, menyesali keteledoran terhadap anak-anak.
Dikediaman yang berbeda dan mewah, penuh dengan lukisan abstrak kesukaan Keluarga Visser, Veni tersenyum kearah Miller. "Apakah mereka tidak tahu aku memiliki putra sayang?" Tanya Veni memeluk Miller masuk kerumahnya.
"Hmm! Adrian tidak punya waktu mengurus Keluarga kita!" Kekeh Miller tenang.
"Ck, kamu! Apa kamu setuju dengan keputusan kita menikahkan Dedrick saat ini?" tanya Veni menatap Miller.
"Aku tak yakin Dedrick bisa menahan semua hasrat cintanya yang menggebu Ven, apalagi gadis seperti Stela! Gadis cantik, tinggi sangat manja! Sama sepertimu." Goda Miller pada hidung Veni.
"Kamu terlalu sibuk, hingga tidak memiliki waktu untuk kami Ven!" Jujur Miller.
Veni menatap malas wajah Miller jika sudah membahas tentang pertikaian mereka hanya karena masalah waktu."Ck, malas kalau sudah begini." Veni berlalu meninggalkan Miller.
"Come on! Ven, sampai kapan kita begini?" teriak Miller saat Veni sudah menaiki anak tangga.
Veni hanya mendengus kesal menatap kearah Miller, sedang melepas dasi secara kasar, melempar jasnya kekursi.
"Sampai outlet kita terbuka luas diseluruh benua Tuan Miller!" Teriak Veni tak menghiraukan Miller yang masih kesal.
"Terlalu egois!" Geram Miller, berlalu kedapur, "Ven! I'm hungry!" Goda Miller berteriak.
__ADS_1
"I don't care Mr.Miller!" Jawab Veni.
"Ck! Istri yang aneh!" rungutnya, kembali mencari beberapa makanan didalam kulkas.
Miller seorang koki handal, masuk kedunia bisnis saat dia bertemu Bram Lincoln di Netherland, dia berhasil mengumpulkan pundi-pundi uangnya membuka restoran mewah di Netherland, berkembang pesat kebagian negara lainnya seperti Swedia, Spanyol, dan Los Angeles. Dia sangat mengenal Bram, putra tunggal Edward Lincoln. Saat kematian Bram, dia orang paling berduka selain keluarga. Miller berusaha mencari tau tentang Fene, ingin mendekati Janda Bram, tapi sangat sulit untuk bisa masuk ke Hanz Parker. Miller meminta kedua orang tuanya agar mencarikan wanita tangguh seperti Fene, gayung bersambut William Smith menerima pinangan Miller, tanpa persetujuan Veni. Perjuangan Miller menakhlukkan Veni juga tak semudah membalikkan telapak tangan, mereka saling membenci, akhirnya terjebak dalam cinta saling membutuhkan. Miller pria sangat baik dan akan berjuang demi keluarga, apalagi demi putranya Dedrick.
Ambisi Veni ingin memiliki restoran ditiap sudut Benua Eropa, ditentang keras oleh Miller, karena waktu Veni habis tersita tanpa memikirkan mereka.
Dedrick mendengar kembali surara mami dan daddynya hanya mendengus kesal, "kenapa orang dewasa sangat egois?" bisiknya menggeram.
Dedrick menghampiri Miller, "are you making dinner sir?" goda Dedrick.
"Hmm!" dengus Miller memotong beberapa bawang dan sayuran.
"Apakah memiliki istri yang egois sangat menyenangkan dad?" Dedrick menemani Miller duduk ditepi meja dapur yang luas dan sempurna.
Miller tersenyum, "momy mu tidak egois, dia hanya memiliki mimpi dan ambisi yang sangat luar biasa! Aku yang kurang memahaminya!" Jawaban Miller membuat kagum Dedrick.
"Apakah menikah itu rumit?" Senyum Dedrick menatap Miller sibuk dengan kegiatan memasaknya.
"Hmm!" Miller menghela nafas dalam, "menikah itu komitmen boy! Bukan hanya nafsu semata!" Senyum Miller.
"Apakah kau yakin aku bisa menjaga gadisku sampai usia 20?" tanya Dedrick menatap Miller dari kejauhan.
"Aku tak yakin! Kau akan diam tanpa bicara diluar sana! Karena kalian sama-sama keras! Egois, tentu karena cinta kalian! Tapi aku tidak takut dengan Adrian! Aku hanya tidak mau kau melakukan dosa, karena aku ingin kau bahagia. Mungkin kau lebih cepat jatuh cinta, berbeda dengan ku! Aku hanya mencintai wanita yang ambisinya besar seperti momy mu!" kekeh Miller sedikit menggoda Dedrick.
"Ya! Jika aku dibunuh oleh Adrian yang garang itu, apa kau akan membelaku?" Tanya Dedrick meyakinkan.
"Boy! Listen, yang dilakukan Adrian saat di Vegas, itu karena dia ingin melindungi putri tercintanya. Jika besok setelah kau menikah, kau punya hak pada Stela! Alangkah baiknya, kau menjaga Stela hingga usia 20! Karena akan lebih baik untuk kesehatan kalian berdua." Jelas Miller.
__ADS_1
"Tapi aku tak bisa menahan, jika sudah didekatnya! Gadis itu terlalu membiusku dad!" Kekeh Dedrick.
"Ya, itu pilihanmu! Yang penting jangan kau sakiti dia! Jika dia memiliki ambisi seperti momy mu! Jangan kau tinggalkan, tapi dukung dia, agar dia tidak meninggalkanmu." Bisik Miller membuat Dedrick tertawa.***