See Eye Stela

See Eye Stela
Kaget.


__ADS_3

Stela terjaga dari tidur, tidak menemukan Dedrick disampingnya. Suasana kamar sangat sepi, melihat kamar sudah diterangi sinar pagi matahari, menunjukkan pukul 09.00 waktu Hawaii.


"Eeegh!" Erang Stela menggeliat diranjang. "Hmm! Hubby!" Teriak manja Stela masih bermalas-malasan diranjang.


Pintu kamar terbuka, Dedrick membawa beberapa sarapan untuk Stela. "Morning wife! Sepertinya kamu kelelahan sekali, sehingga tertidur pulas!" Goda Dedrick menciumi tubuh istrinya yang masih terasa wangi dan segar.


"Hmm! Aku masih capek hubby! I love you!" Peluk Stela merangkulkan tangannya ke leher Dedrick.


"Kamu selalu menggoda ku," Dedrick mengecup wajah Stela mencumbunya kembali.


"Dedrick no! Geli!" Teriak manja Stela membuat Dedrick melakukannya lagi dan lagi.


Dedrick mengusap kening istrinya, menatap mata indah milik Stela, "Look, your eyes are so beautiful! I really like the beauty of your face my wife." Kecup Dedrick pada kedua mata Stela.


"Hmm! Apakah kamu hanya menyukai mataku? Bukan yang lain?" Tanya Stela mengusap lembut punggung Dedrick.


"Aku menyukai semua yang ada ditubuhmu sayang! Kamu sangat sempurna, membuat aku tak bisa membendung semua! Setialah bersama ku Stela! Aku akan melakukan semua untuk mu! Semua!" Bisik Dedrick ditelinga Stela.


Wanita mana yang takkan luluh lantah atas perlakuan pria yang tampan, sangat romantis. Disuport dengan kekayaan keluarga sangat luar biasa.


Dedrick dan Stela menuju loby hotel, karena keluarga sudah menunggu mereka disana untuk segera pulang ke Los Angeles.


"Hmm! Susah menunggu pengantin baru!" Sindir Lois.


"Ck! Cobain deh! Pasti nggak akan keluar kamar!" Kekeh Dedrick, menatap Lois. Tapi Adrian dan Samuel saling menggeram menahan tawa.


Miller dan Veni pulang lebih dulu menuju Netherland.


Keluarga Samuel dan Adrian melanjutkan perjalanan mereka menuju La. Saat mau meninggalkan loby, Stela diberi buket oleh pelayan hotel, titipan dari seseorang. Tentu Dedrick mencampakkan buket masuk ke trash can tak jauh dari reception.


Adrian menggenggam tangan Stela dan Dedrick agar segera meninggalkan hotel.


"Dad! Ada apa?" Tanya Stela sedikit panik.


"Masuk! Nanti kita bicarakan dirumah!" Jelas Adrian, meminta kedua putrinya memasuki mobil, tentu membawa Dedrick dan Fene bersama kembali ke Los Angeles.


Setiba di Bel Air, Hanz Parker dan Irene menyambut anak dan cucunya. Memeluk hangat Fene dan Adrian. "Jangan biarkan media membicarakan perselingkuhanmu dengan Camille Clark, Adrian!" Geram Hanz, tentu disambut tawa oleh Adrian.


"Aaagh, Pi! Itu hanya untuk keperluan bisnis! Bukan yang lain!" Jelas Adrian.


"Jika Camille serius pada mu, bagaimana?" Tanya Hanz dengan tatapan serius.

__ADS_1


"Oogh Pi! Come on! Aku dan Camille hanya teman! Nggak lebih. Jika itu terjadi, rasanya tidak mungkin karena Fene selalu bersama ku!" Jelas Adrian.


"Hmm! Aku tidak akan memaafkan mu jika kau berselingkuh Adrian!" Geram Hanz sambil berlalu membawa Adrian masuk keruangan keluarga, sementara anak-anak dan Fene menuju kamar mereka.


"Pi, Aku besok akan ke Jakarta membawa Chay-in! Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Kasihan Kevin disana. Fene juga akan aku bawa. Mungkin Dedrick dan Stela akan menyusul Miller di Netherland." Jelas Adrian panjang lebar.


"Oough! Aku akan berlibur ke Italy kalau begitu, menghabiskan waktu bersama Adikku Marisa, kenapa dia tidak hadir dipesta meriah kita." Hanz memijat pelipisnya.


"Ya! Aku dengar Tommy dan Fernando ada hubungan bisnis. Apakah mereka akan menjadi musuh baru kita Pi?" Tanya Adrian serius.


"Ya, Tommy diimingi keuntungan besar oleh Fernando! Lebih baik anak-anak diamankan ke Jakarta." Jelas Hanz pada Adrian.


"Lebih baik Stela dan Dedrick disini dulu Pi, untuk beberapa waktu! Mereka masih ada kuliah, Papi coba hubungi Mami Marisa! Jika ada apa-apa Papi bisa kabari aku atau Kevin! Kalau memang Papi akan ke Italy, Dedrick dan Stela menyusulku atau Miller." Jelas Adrian.


Hanz mengangguk setuju. Adrian melihat Stela berlalu keluar.


"Dedrick! Dedrick!" Teriak Adrian dengan suara beratnya.


Dedrick muncul melihat dari atas, "Ya Dad!" Dedrick menatap Adrian.


"Stela kemana?" Tanya Adrian mendengar kanalpot Ferrari berlalu meninggalkan kediaman mereka.


"Hah! Dia pergi?" Kaget Dedrick.


Dedrick menyusul Adrian, memasuki mobil mertuanya. "Kamu nggak tau Stela kemana?" Tanya Adrian menggeram melirik kearah Dedrick.


"Dia baru datang bulan Dad! Aku rasa dia ke supermarket! Kita lihat disebelah sini Dad!" Pinta Dedrick.


Benar saja Ferrari Hanz Parker terparkir manis diparkiran supermarket kawasan Bel Air. Adrian dan Dedrick menunggu Stela hingga keluar dari supermarket.


"Ck! Buat panik saja!" Batin Dedrick masih menatap parkiran.


Adrian menerima beberapa telfon dari Kevin dan Holi. "Aaagh! Begitu banyak pikiranku!" Geram Adrian dalam hati.


"Dad! Apa kau mengenal pria yang sedang mengobrol dengan Stela?" Mata Dedrick dikejutkan dengan sosok Tommy suami Mami Marisa.


"Uncle! Kenapa dia tidak mampir kerumah Papi?" Bisik Adrian.


Dedrick dikejutkan dengan kehadiran Pedro memberikan buket indah pada Stela, tentu Stela menolak dengan mendorongkan tubuh Pedro memasuki mobil miliknya. Dedrick menggeram ingin turun menghajar pria yang mendekati Stela.


"Tahan! Putriku sudah masuk ke mobil!" Bisik Adrian.

__ADS_1


Stela mengetahui mobil Adrian mengikuti dari belakang. Dia juga lupa membawa ponselnya. Saat tiba diparkiran Dedrick turun lebih dulu mengejar Stela, tentu mengomeli Stela melebihi perempuan datang bulan.


Adrian menaikkan satu alisnya, mendengar omelan menantunya mengalahkan omelan Fene. "Hmm! Ternyata orang akan lebih suka panik jika dihadapkan dengan segala permasalahan hati yang dilanda cemburu!" Batin Adrian tersenyum tipis berlalu melewati kamar putrinya.


"Dad!" Teriak Stela saat melihat Adrian hanya melewati kamarnya.


"Hmm!" Adrian terhenti tanpa menoleh.


"Dedrick nyebelin! Paniknya mengalahkan Daddy!" Rungutnya manja menatap Adrian.


Adrian tersenyum, " nikmati saja!" Adrian berlalu membuka pintu kamarnya, menatap Fene tengah menggunakan handuk melilit di tubuhnya. Adrian mendekat, memeluk Fene dari belakang, mencium leher dan bahu Fene, "kamu wangi banget! Istri siapa siih?" Goda Adrian.


"Dri! Lo mesum banget iigh! Males gue!" Geram Fene tapi menikmati ciuman Adrian.


"Kamu tu wangi banget makanya aku nggak mau melewatkannya, kamu pandai merawat tubuh Fen! Masih cantik aja, ****, seger! Adrian melepas handuk Fene membalikkan agar tubuh mereka saling berhadapan.


"Hmm! Dri!" Fene menikmati, mengakui tak bisa menolak jika Adrian sudah mencumbunya begini.


"Hhufgh! Fen! Wangi banget!" Bisik Adrian saat terbuai dibawah sana.


Fene tak kuasa menahan desahannya, menikmati permainan Adrian sedikit liar, seketika.


CEKREK.


"Dad!" Mata Stela melihat perlakuan mesum Adrian terhadap Fene.


"Aaagh!" Teriak Fene menutup tubuhnya, posisi Adrian tengah berjongkok menikmati bagian intim Fene sore yang indah itu seketika terlonjak kaget dengan kehadiran Stela disusul Dedrick dibelakangnya.


Tentu menjadi pemandangan yang menakjubkan bagi anak dan menantunya.


"Shiiit!" Adrian naik keatas ranjang menindih tubuh Fene dengan tubuhnya. "Ngapain nggak gedor dulu Stela! Get out! Close the door!" Geram Adrian dengan suara berat menggema seisi ruangan kamar mereka.


Tentu mengagetkan Hanz dan Irene yang berada ditangga, untuk menuju kamar mereka.


"Ada apa Stel?" Tanya Irene.


"Hmm! Nggak apa-apa Grandma." Stela menutup pintu kamar Adrian mengusap dadanya akan pemandangan yang barusan dilihat.


"Kamu lihat! Semesum apa Momy dan Daddy!" Bisik Stela pada Dedrick.


Dedrick malah menggendong Stela setelah melihat kejadian barusan.

__ADS_1


"No! Hubby, I'm on my period!" Teriak Stela manja, membuat Dedrick terkekeh geli.


Hanz dan Irene semakin tidak mengerti. " Mereka melebihi pasangan muda yang sedang berpacaran!" Kekeh Hanz merangkul bahu Irene.***


__ADS_2