See Eye Stela

See Eye Stela
Murka keluarga.


__ADS_3

Kevin mendatangi kediaman Van Visser, mencari Dedrick Visser.


BRAAK, Kevin meremas kasar rambut Dedrick saat dia hendak keluar dari rumah diatas kap mobil miliknya.


"Apa masalahmu membuat keponakanku seperti ini? Haaah! Bangsat kau! BHUUK," Kevin menghajar Dedrick hingga babak belur.


Veni yang mendengar keributan diluar berlari mencari suara keributan.


"Yaa Allah! Kevin, Dedrick!" Teriak Veni melerai mereka.


"Aku akan menghajar putramu, karena dia mencampakkan keponakanku, Ven!" Geram Kevin menghujamkan pukulannya,


BHUUK,


BHUUK,


"Kevin! Stop! Stop Kevin!" Teriak Veni.


Miller yang baru memarkirkan mobil, bergegas meleraikan mereka.


"Kevin!" Miller menarik tubuh Kevin yang tersulut emosi.


"Tega lo yah! Anjing! Bangsat! Apa salah keponakan gue? Haaah? Lo ceraikan dia di depan gue dan istri gue. Puas lo! Bajingan! Laki-laki kayak apa lo!" Sarkas Kevin tanpa peduli pada Miller dan Veni.


"Kevin stop!" Tegas Miller. "Kita bicara didalam." Miller menarik Dedrick masuk kerumahnya.


Veni sangat shook, beberapa hari ini dia menutupi dari keluarga, akhirnya terbongkar juga. "Fen, maafin putra gue!" Batinnya menangis.


"Beri Kevin minum!" Tegas Miller pada Veni.


Veni berlalu dengan tubuh bergetar membayangkan menantu kesayangan yang manja tidak tahu keberadaannya.


"Duduklah Vin!" Miller menatap Dedrick penuh amarah.


Kevin mendengus kesal.


"Apa Stela meminta mu kesini?" Tanya Miller.


"Sama sekali Stela tidak menceritakan apapun pada saya! Tapi anak anda datang kemaren malam, menceraikannya dan saya mendengar dari kamar." Tegas Kevin menatap penuh kebencian pada Dedrick.


"Oogh shiit!" Miller mengusap kasar wajahnya.


"Berarrti kau memang tidak ingin mempertahankan Stela, Dedrick? Bisa ceritakan apa masalah kalian? Kau akan aku bunuh jika tidak mengakui di depan ku! Jawab Dedrick!" Bentak Miller menatap Dedrick.


"A a aku hanya tak ingin dia dengan pria lain. Pedro bersamanya Dad!" Kesal Dedrick.


"Pedro! Aku yang membayar orang untuk mengeluarkan Pedro dari penjara! Aku membayar mahal! Aku yang mengirim dia kesini! Agar kau tau memperjuangkan cintamu! Bukan meninggalkannya. Sekarang Stela dimana? Dia menghilang sudah dua hari!" Sarkas Miller menatap Dedrick penuh amarah.

__ADS_1


"Aku sudah mencarinya Dad! Aku tidak menemuinya. Pedro juga menghilang!" Tangisnya.


"Anjing! Kau yang bodoh! Kau yang salah! Kau sangat ceroboh Dedrick!" Miller mendekat pada Dedrick,


"Tahan honey! Stop! Jangan memukulnya lagi! Aku mohon!" Veni memeluk Miller. "Dimana Stela, Vin?" Tanya Veni menatap Kevin.


"Gue nggak tau! Gue call handphonenya nggak aktif. Gue nggak bisa melacaknya. Pedro sudah berangkat kemaren ke Spain! Gue yang antar ke bandara!" Jelas Kevin menutup keberadaan Stela.


"Buat malu! PLAAK!" Miller menampar Dedrick karena kesal. "Kau cari Stela, bawa dia pulang! Sebelum Adrian membunuhmu! Pengecut! Aku menyayangimu! Tapi kau mengecewakanku!" Kesal Miller kembali ke kursi semula.


"Tahan sayang!" Tangis Veni bersimpuh dihadapan Miller.


Dedrick mengacak rambutnya. "Uncle, dimana Stela?" Tangisnya.


"Mana gue tau! Lo cari aja sendiri! Gue aja mau ke Paris! Jangan sampai Adrian mendengar berita ini! Bisa setengah mati lo! Putri kesayangannya lo giniin!" Jelas Kevin.


"Siapkan perlengkapan, kita ke Jakarta sekarang!" Tegas Miller pada Veni.


Veni menelan salivanya, menurut perintah Miller.


"Kau! Ikut aku ke Jakarta! Jangan pengecut jadi laki-laki!" Sarkas Miller.


Setelah membicarakan pertikaian Dedrick dan Stela, Kevin meninggalkan kediaman Visser dengar senyum sumringah. "Takut juga dia sama keluarga kita!" Kekeh Kevin membatin.


"Mampus lo Dedrick! Gue harap lo dihajar oleh Adrian meninggalkan anaknya seperti itu, yang penting perasaan gue udah lega menghajar anak songong sok keras itu." Tawanya senang di depan kemudi.


Nichole meminta Stela untuk menghandle pekerjaannya. Tentu Stela menyetujui semua yang ditawarkan Nichole.


Sudah 3 hari berlalu, Stela menghabiskan waktu diapartemen Jakarta merawat tubuhnya. Terlihat bekas luka dibahu, membuat dia mengenang semua luka yang terukir perih selama di Netherland.


Tiiing..


"Haai! Menghilang aja, udah seminggu nggak aktif! Kamu sehat dear?"-Pedro.


"Kangen yah! Aku lagi semedi!"-Stela.


"Iya!"-Pedro.


"Aku pengen sendiri! Bye!"-Stela.


Stela tersenyum menatap layar handphone miliknya, berharap sang suami yang memberi kabar, tapi sudahlah. Hanya mimpi, batinnya.


Adrian dan Miller telah menjalin komunikasi, ketika Stela sampai di Jakarta. Ingin rasanya Adrian mencekik Dedrick, karena telah berani menyakiti putri kesayangannya. Saat Kevin menghajar Dedrick. Adrian sangat senang. "Jika ingin bermain, jangan sama putri ku! Bisa hancur aku buat! Mau itu anak Miller atau anak siapapun, aku tidak pernah takut." Batin Adrian tertawa.


Miller bertemu Adrian, tepat dikantor Fene, tentu membawa Dedrick dengan wajah memar.


"Hmm! Bagus juga hasil karya Kevin," kekehnya dalam hati.

__ADS_1


Dedrick menatap takut pada Adrian dan Fene.


"Maaf Tuan, aku sangat mencintai putrimu! Tapi aku terlalu cemburu padanya, kerena kedekatannya dengan Pedro! Awal aku berusaha mengerti, tapi perasaan ku sangat tidak bisa aku bohongi Tuan!" Ucap Dedrick jujur.


"Ck! Simpan amarahmu untuk preman terminal! Jangan dengan putri ku! Dia putri kesayanganku." Sanggah Adrian menggenggam jemari Fene.


"Aku mohon izinkan aku bertemu dengan Stela, Tuan!" Tangisnya.


Miller dan Veni mendengus kesal karena kebodohan putranya, memilih diam, memijat pelan pelipisnya masing-masing.


"Stela tidak disini! Dia bersama Nichole dan Kevin! Jangan kau pikir, dengan kau mencampakkannya dia akan menerima Pedro! Tidak semudah itu Dedrick! Aku tau putriku! Mungkin dia tidak akan melirikmu lagi!" Ejek Adrian secara tidak langsung meremehkan Dedrick.


"Bantu aku Mi! Please, aku ingin menemui Stela! Aku tidak tau dia dimana Mi!" Mohon Dedrick pada Fene.


"Hmm! Apa yang kami takutkan terjadi! Kalian tidak bisa mengendalikan emosi kalian. Lebih baik kalian menyelesaikan kuliah kalian, hiduplah masing-masing!" Tegas Fene.


"Jangan Mi! Aku janji! Hidupku menjadi hancur beberapa bulan ini, karena memikirkan Stela! Sakit Mi! Sangat sakit!" Tangisnya.


Disisi lain, Stela bergegas ke kantor Fene, karena sudah ada janji dengan Luisa. Stela meminta sopir mengantarkannya.


Hari ini Stela hanya menggunakan tangtop ketat berwarna cream, celana pendek levis, ditutup blazer sepanjang celana, tangan blazer ditarik hingga lengan. Stela yang sudah seminggu lebih mengalami strees berat, ingin hangout bersama Luisa saat jam pulang kantor, bersama salah satu anggota Adrian penganut LGBT.


"Eeeh! Udah datang si cantik Daddy!" Senyum Luisa.


"Iiighs! Mami ada?" Tanya Stela dimeja secretaris Fene.


"Ada dong! Palingan besok Mami dan Daddy visit ke Jogja! Jenguk Chay-in." Jelas Luisa menatap layar jadwal Fene dan Adrian.


"Aku masuk yah! Nanti kabari aja kita jalan jam berapa! Aku pengen nonton!" Senyum Stela, mendorong hendel pintu.


CEKREEK, "Mami! Uups!" Langkah Stela terhenti beradu tatap dengan Dedrick, Veni dan Miller.


"Stela!" Pekik Dedrick mengejar Stela.


Stela berbalik arah pergi meninggalkan ruangan Fene, berlari dengan cepat menuju lift.


"Stela! Stela! Stela stop!" Dedrick menggapai lengan Stela.


"Apa lagi seeeh! Kita udah selesai! Game over! The end! Finish!" Sarkas Stela.


"No! Aku yang salah! Aku mau kita mulai dari nol!" Mohon Dedrick.


PLAAAK, lima jari melayang ke wajah Dedrick.


"Kau pikir hati aku kayak pom bensin! Seenaknya kau bilang mulai dari NOL Dedrick Visser! Lihat wajahmu! Apa yang kau lakukan? Hingga seperti ini! Apa salahku? Haaaah? Kau sudah menceraikan aku! Kau cari Stela yang lain di luar sana! Kita finish sesuai mau mu!" Stela yang bingung mau kemana memilih berlalu menghindari Dedrick menuju ruangan Adrian dan menguncinya.


"Stela! Stela! I love you!" Teriak Dedrick frustasi.

__ADS_1


"**** you boy!" Stela memberi jari tengahnya berteriak sekerasnya tak peduli.***


__ADS_2