SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
penyerangan


__ADS_3

.


.


.


Anak buah Nathan tergesa-gesa memasuki mansion, nafasnya masih belum teratur karena habis lari lari.


"Ada apa?" tanya Nathan dingin.


"Lapor tuan, saya melihat Jordan sedang membeli makanan disebuah rumah makan, dan saya mengikutinya ternyata ia kerumah sakit.


"Hmmm bagus, siapkan anggota kita untuk menyerang nya," perintah Nathan.


"Baik tuan, saya akan kerahkan seluruh anggota kita untuk menyerang mereka." jawab pria itu.


"Tuan mau menyerang? aku harus cari akal agar tidak bisa ikut," batin Robin.


Robin sebenarnya adalah orang baik, hanya karena Nathan berjasa kepadanya jadi ia tidak bisa lepas dari jeratan Nathan yang semena-mena memerintahkan dirinya untuk membunuh orang.


Robin berpikir keras untuk bisa bebas dari semua ini, Robin sudah tidak mau lagi untuk membunuh orang dan ingin hidup normal dan jauh dari mafia. Tiba tiba Robin mendapatkan ide konyol supaya tidak bisa ikut tuannya.


"Aaah, aku ada ide semoga ideku ini akan berhasil." batin Robin.


Lalu Robin pergi ke apotik membeli obat pencahar, ia rela sakit asalkan tidak mengikuti penyerangan ini.


Setelah mendapatkan obat tersebut, Robin segera kembali dan masuk kedalam kamarnya. Dengan cepat ia meminum obat itu, setelah itu baru ia menemui tuannya.


"Ada apa tuan memanggil saya?" tanya Robin.


"Kita akan melakukan penyerangan saat ini juga, musuh sudah keluar," ucap Nathan dengan tegas.


"Baik tuan, saya siapkan anggota kita," kata Robin.


Semua anggota klan mafia serigala hitam sudah bersiap dengan senjata masing-masing, seperti layaknya seorang prajurit yang siap berperang.


"Silahkan Tuan," ucap Robin mempersilahkan tuannya untuk masuk ke mobil.


"Hmmm," kata Nathan sambil masuk kedalam mobil, Robin juga masuk dan duduk didepan kemudi.


Saat mobil dihidupkan Robin tiba-tiba merasakan mules yang luar biasa dan...prooot, terdengar suara begitu nyaring didalam mobil dan mengeluarkan aroma sangat busuk.


"Maaf Tuan, perut saya sangat sakit," ucap Robin sambil keluar dari mobil dan langsung berlari kedalam mansion untuk mencari toilet.

__ADS_1


"Sial, apa yang dia makan sehingga bau sekali," umpat Nathan.


Merasa tidak tahan dengan bau busuk tersebut Nathan pun berganti mobil. Robin sedang buang air besar didalam toilet, walaupun terasa sakit di perutnya dia rela, diam diam Robin tersenyum tipis mengingat tadi saat dia kentut, sudah pasti baunya memenuhi mobil tersebut.


"Semoga rencanaku berhasil," batin Robin.


Tak lama kemudian dia sudah berada didalam mobil kembali bersama tuannya.


"Maaf Tuan, saya tidak sopan," ucap Robin.


"Hmmm, sekarang kita jalan." perintah Nathan.


Namun baru saja Robin menghidupkan mesin mobilnya bunyi yang sama terdengar lagi dengan bau khasnya. Robin sekali lagi harus berlari ke toilet.


"Akh, sial banget sih," umpat Nathan, lalu menghampiri anak buahnya dan ikut bersama mobil anak buahnya, sedangkan Robin yang masih didalam toilet tidak tahu kalau tuannya sudah pergi.


Saat Robin kembali kemobilnya dilihatnya semua orang sudah pergi, Robin tersenyum lebar hingga menampakkan gigi giginya.


"Rencanaku berha... aduh." Robin kembali lagi berlari ke toilet.


Sementara Nathan dan anak buahnya kini sedang menuju rumah sakit tempat Diva dirawat. Didalam mobil Nathan sudah membayangkan kehancuran Jordan dan keluarganya.


"Kali ini sampai disinilah hidupmu akan berakhir, Jordan. Kamu dan seluruh keluargamu akan saya habisi tanpa sisa," batin Nathan, sambil menyeringai, anak buahnya yang duduk didepan kemudi bergidik ngeri.


Sedangkan Diva ngobrol dengan sahabatnya bercerita masa masa sekolah, dan masa kuliah mereka waktu di Jerman. Diva tidak mungkin kan menceritakan peristiwa yang ia alami sewaktu pulang dari pesta perpisahan sekolah beberapa tahun lalu.


Diva hanya menceritakan bahwa Darmendra adalah teman kecilnya yang memang sudah dijodohkan orang tuanya.


"Jadi kalian sudah kenal lama?" tanya Adefa.


"Iya, lebih tepatnya sejak kecil, tapi kami harus berpisah karena dia harus tinggal diluar negeri." ucap Diva penuh drama.


"Pantas saja kamu selalu menolak setiap pria yang mendekati kamu," kata Anisa.


"Kalian tentu mengerti kan? dan juga semua cowok yang ada disekolah kita dulu tidak ada satupun yang membuat aku berdebar." Diva.


"Kok sama ya? sekalinya dengan yang sekarang walaupun sudah jadi suami tetap saja ada rasa berdebar." ucap Anisa, lalu mereka pun tertawa, hanya Diva yang tersenyum saja.


"Kamu sudah punya anak sepuluh tapi tetap saja terlihat seperti gadis," puji Aryana.


"Kalian bisa aja, mana ada gadis yang sudah punya anak? lihat saja mereka sudah sebesar itu." kata Diva.


"Ya, itu kan cuma perumpamaan, karena kamu cantik dan bentuk tubuhmu juga wow, kalau kamu jalan sendiri pasti orang akan mengira bahwa kamu masih gadis." Adefa.

__ADS_1


"Hmmm, kalian juga seperti itu kok, kalian tidak kalah cantik dari aku, ingat gak sewaktu sekolah dulu, kita berempat menjadi idola para cowok cowok," ucap Diva, seketika para suami mereka menoleh kearah mereka, Diva spontan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Cerita apa sih, seru banget kelihatannya?" tanya Aldo.


"Gak ada, kami hanya ngobrol biasa," jawab Anisa.


"Kalau tidak salah dengar tadi kalian menyebut cowok cowok gitu, apa aku salah dengar ya?" tanya Darmendra.


"Gak, gak salah dengar, ehh maksudnya gak ngomongin siapa siapa, apalagi cowok, ya gak?" Diva menaik turunkan alisnya memberi kode kepada para sahabatnya. Tapi sahabatnya hanya cuek saja seolah olah tidak ingin ikut campur.


Darmendra menghampiri Diva dan mengelus rambut panjangnya, Anisa, Adefa dan Aryana segera menjauh memberi ruang untuk mereka.


"Jangan cerita cowok lain ya, karena Sayang sudah punya delapan cowok yang sangat tampan." kata Darmendra.


"Kami hanya cerita masa masa sekolah hubby, hubby kan tau kalau aku tidak pernah pacaran selain dengan suamiku sendiri," Diva.


Darmendra seketika hatinya mencair mendengar kata kata Diva yang memang ada benarnya.


"Sudahlah, sayang harus banyak banyak istirahat agar cepat pulih," ucap Darmendra lalu mencium kening istrinya.


"Hubby, malu dilihat orang," rengek Diva.


Disaat mereka sedang bahagia, sedang asik berbincang berkumpul bersama, terdengar suara keributan diluar rumah sakit.


"Ada apa? apa yang terjadi?" tanya Jordan.


"Kemudian pengawal bayangan yang biasa menjaga sikembar masuk memberitahukan bahwa terjadi kekacauan diluar rumah sakit.


"Tuan muda, sekelompok mafia berjumlah ratusan orang menyerang tempat ini, katanya mencari Tuan besar," kata pengawal itu.


"Pasti ini ulah Nathan, sebenarnya apa sih maunya?" tanya Jordan dalam hati.


"Panggil teman temanmu datang, kita akan bereskan masalah ini," perintah Darmendra pada pengawal bayangan tersebut.


"Apa Daddy punya musuh?" tanya Darmendra.


"Setahu aku cuma Nathan yang dendam denganku," jawab Jordan.


"Baik, mari kita selesaikan semuanya," ucap Darmendra.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2