SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Bumil doyan makan


__ADS_3

.


.


.


Pagi hari...


Diva menggeliatkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya. yang pertama dilihatnya adalah suaminya yang masih tertidur.


"Sangat tampan, aaaaaa pengen aku ikat dan kukurung dikamar aja," gumam Diva pelan sambil jari telunjuknya menyelusuri wajah Darmendra yang memang sangat tampan.


Ketika jari telunjuk Diva tiba dibibir suaminya, Darmendra membuka mulutnya dan menggigit jari Diva yang bermain disana.


"Aww, sakit hubby, nakal banget sih?" Diva mencebikkan bibirnya membuat Darmendra gemas.


Cup... Satu kecupan mendarat dibibir Diva. bibir yang merah alami walau tanpa lipstik. mata Diva melotot mendapat kecupan tiba tiba. Kemudian Darmendra mendekatkan bibirnya kembali, Diva yang memang bernaf** ketika hamil selalu tidak tahan dengan sentuhan dari suaminya. akhirnya ci**an panas pun terjadi, kini Diva yang berinisiatif duluan. Diva membuka piyama milik Darmendra dengan sedikit kasar hingga beberapa kancing piyama tersebut terlepas. Darmendra malah menikmati keganasan Diva


"Kalau begini, sering sering aja istriku hamil bisa olahraga pagi siang dan malam, hahaha," batin Darmendra.


Entah sejak kapan keduanya sudah sama sama polos, kini posisi Diva diatas dan sedang memimpin pendakian. Setelah beberapa menit pendakian Diva merasa kelelahan dan nafasnya ngos ngosan, melihat itu Darmendra mengambil posisi untuk dia yang memimpin pendakian tersebut. hampir satu jam pendakian keduanya pun berhenti karena sudah mencapai puncak. Darmendra beralih kesamping Diva dan memeluknya.


"Kita mandi yuk, sama sama biar irit waktu," ajak Darmendra, dan Diva pun mengangguk.


Akhirnya keduanya pun mandi bersama, Darmendra mengisi air kedalam bathtub dan tidak lupa memberi pewangi berjenis sabun cair. hingga busa melimpah didalam bathtub tersebut. Darmendra membawa Diva kedalam bathtub dan keduanya berendam disana. Diva tidak tahan melihat tubuh suaminya yang sangat bagus itu.


"Hubby mau lagi," bisik Diva ditelinga Darmendra. tanpa menjawab Darmendra langsung melakukan aksinya. Hingga terjadilah pendakian yang selanjutnya.


Setelah selesai mandi keduanya berpakaian lalu keluar dari kamar menuju dapur. sikembar sudah dari tadi pergi sekolah, mereka sejak umur lima tahun memang sudah mandiri hingga tidak lagi memerlukan baby sitter, mantan baby sitter mereka yang dulu terpaksa dipindahkan bekerja di perusahaan yang Diva kelola, walaupun sebagai cleaning servis tapi mereka sangat bersyukur tidak dipecat, setidaknya mereka masih punya pekerjaan untuk membiayai keluarga mereka dikampung.


"Mau makan apa sayang?" tanya Darmendra saat mereka sudah berada dimeja makan. Vera dan Jordan menghampiri keduanya, walaupun Vera dan Jordan sudah sarapan tadi bersama sikembar. tapi mereka ingin menemani menantunya.


"Aku mau makan sate kambing, sate ayam dan sate sapi," jawab Diva enteng.


"Pesan saja bagaimana?" tanya Darmendra, Diva menggeleng.


"Aku mau pergi ketempat nya dan melihat langsung mereka membakarnya, hmmm pasti enak." Diva membayangkan akan makan sate ditempatnya yakni tempat penjual sate tersebut.


"Sekarang baru jam 10 pagi, apa ada orang jualan sate," batin Darmendra, lalu ia mengambil ponselnya dan membuka internet mencari informasi rumah makan yang jualan sate.

__ADS_1


"Dijalan xxx ada jualan sate, dan baru buka beberapa menit lalu," batin Darmendra.


"Hubby kok malah main ponsel sih?" Diva.


"Ini lagi cari informasi tempat penjual sate," jawab Darmendra.


"Sudah ketemu?" tanya Diva, Darmendra mengangguk.


"Ya sudah ayo kita kesana," ajak Diva antusias.


"Giliran begini rasanya tidak pengen istri hamil, tapi giliran sering dia yang berinisiatif duluan diranjang rasanya pengen istri sering sering hamil," batin Darmendra.


"Mom, Dad kami berangkat ya, cari makan nih buat bumil yang doyan makan," Darmendra.


"Iya, turutin saja keinginannya lagi pula tidak setiap tahun kok sikapnya seperti itu." Vera.


Mereka pun berangkat menuju rumah makan tersebut, Darmendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, lambat sedikit tidak masalah juga.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit, akhirnya mereka pun sampai ketempat yang mereka tuju. Diva dengan tidak sabar langsung turun dari mobil setelah Darmendra memarkirkan mobilnya. mencium aroma sate yang sedang dibakar membuat Diva menelan ludah. Darmendra menghampiri Diva dan mengajaknya duduk dikursi plastik yang sudah disediakan.


"Kita duduk sayang," ajak Darmendra, dan Diva malah menggeleng.


Darmendra tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan Diva, dengan wajah bahagia Diva melihat proses pembakaran sate tersebut.


"Pak, aku mau sate kambing 30 tusuk, sate ayam 30 tusuk juga sate sapi 30 tusuk." ucap Diva berbinar.


Darmendra melongo mendengar permintaan Diva, bukan karena tidak mampu beli, tapi makanan sebanyak itu apakah bisa habis? begitulah pikir Darmendra. Diva masih memperhatikan bapak itu yang sedang membakar sate.


"Baik... tunggu ya. Apakah istrinya sedang hamil tuan," tanya bapak itu.


"Iya Pak, istri saya lagi ngidam." jawab Darmendra.


"Tuan beruntung karena istri tuan doyan makan, dulu istri saya juga ngidam anak pertama kami, dan istri saya tidak mau makan hingga akhirnya istri saya meninggal dunia," ucap Bapak itu sedih.


"Apa sampai segitunya pak?" tanya Darmendra terkejut, karena baru kali ini ia mendengar cerita orang ngidam sampai meninggal.


"Mungkin memang sudah ajalnya, hanya saja melalui dengan cara seperti itu, sekarang saya sudah menikah lagi karena amanah dari istri saya yang selalu datang lewat mimpi," ucap Bapak itu.


"Terus pak?" tanya Darmendra, yang mulai kepo dengan cerita tersebut.

__ADS_1


"Setelah itu saya tidak pernah bermimpi kan dia lagi, terakhir dia mengatakan dia sudah tenang melihat saya bahagia." ucap Bapak itu.


Darmendra seketika teringat dengan yang pernah ia alami, karena hampir mirip dengan bapak itu alami, selalu didatangi istrinya didalam mimpi. tak terasa sate itu pun matang, karena porsinya banyak jadi bapak itu membakar lagi dan lagi.


Diva makan dengan begitu lahap, hingga kuah sate belepotan dibibir Diva. dengan telaten Darmendra mengelapnya dengan tisu.


"Bapak jualan menu apa saja disini?" tanya Darmendra.


"Ayam bakar, nasi ayam penyet, pecel lele, pecel ayam, soto, sop kambing, dan sop iga sapi." jawab Bapak itu.


"Aku mau SOP iga sapi," ucap Diva sambil mengunyah sate.


"Haah," Darmendra kaget Diva juga mau, padahal porsi satenya saja masih belum habis.


"Hubby cepat pesan sop iga sapi untukku," Diva.


"Iy... iya, iya." Darmendra jadi gagap dengan tingkah Diva.


Akhirnya Darmendra memesan sop iga sapi dua porsi. untuk dirinya dan untuk Diva. Darmendra tidak tahu seperti apa calon bayinya sehingga membuat ibunya doyan makan.


"Wanita hamil yang doyan makan itu bagus tuan, seperti istri saya yang sekarang juga doyan makan sewaktu hamil." ucap Bapak itu.


Akhirnya Bapak itu pun sudah selesai membakar sate, dan sop iga sapi pesanan Darmendra juga sudah tiba, mereka berpindah duduk dikursi yang ada mejanya.


"Enyak," ucap Diva dengan mulut penuh, segitu lahapnya Diva makan, hingga sate dan sop iga sapi semua ludes. Darmendra lagi lagi dibuat tidak percaya dengan Diva, sedangkan Darmendra satu porsi saja masih belum habis. untung saja Diva tidak muntah muntah saat ngidam. hanya doyan makan dan sikap yang terkadang aneh.


.


.


Hanya sekedar hiburan, gak gitu juga kali orang ngidam kalau makan, hehe.


Semoga para readers suka dengan karyaku.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2