SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
itulah yang diajarkan


__ADS_3

.


.


.


Ram memberikan nasi goreng yang tadi dibawa lalu menyerahkannya kepada kedua anak itu, tentu saja keduanya sangat senang.


"Ini ada sedikit makanan dari kami," kata Ram sambil menyerahkan plastik tersebut.


"Terimakasih banyak kak," ucap anak itu.


"Nenek sudah makan?" tanya anak itu.


"Sudah, Nenek tadi makan bersama mereka," jawab sang Nenek.


"Oh ya Nek kalau begitu kami permisi dulu," pamit Ram.


"Terimakasih banyak ya Nak," ucap Nenek itu


"Terimakasih banyak kak," ucap anak itu.


Sikembar pun pergi dari tempat itu dengan perasaan haru, melihat kehidupan orang orang yang tidak mampu membuat hatinya selalu tergerak untuk menolong karena itulah yang diajarkan oleh Mommy mereka.


Setelah kepergian sikembar, Nenek dan kedua cucunya pun masuk, anak itu membuka plastik yang diberikan oleh Ram kepada mereka dan melihat ada amplop berisi uang didalamnya.


"Nek ini apa?" tanya anak itu, Neneknya pun menggeleng pertanda tidak tahu dengan tangan gemetar Nenek itu membukanya dan alangkah terkejutnya Nenek itu melihat begitu banyak uang didalamnya.


Nenek itu berlari kedepan gang dan mendapati sikembar masih berada disana, Nenek itu pun menghampiri mereka.


"Nak ini barang kalian ketinggalan," ucap Nenek itu.


"Itu rezeki dari Allah untuk Nenek, Allah menitipkan melalui kami," ucap Ram bijak.


Sekali lagi Nenek itu menangis ia tidak dapat membendung air matanya.


"Terimakasih banyak Nak, terimakasih," ucap Nenek itu sambil menangkup kedua telapak tangannya.


"Berterimakasih lah kepada Allah, karena pertolongan Allah ada dimana mana," kata Ram lagi.


"Ini juga Nek terimalah," keenam saudaranya juga memberikan sedikit uang.


"Oh Tuhan, mengapa kalian begitu baik?" tanya Nenek itu.


"Rezeki bisa datang dari arah manapun, bisa jadi dari kami atau orang orang yang ada disekitar Nenek," ucap Ram.


"Sekarang Nenek kembalilah kerumah, dan pergunakan uang itu sebaik mungkin," ucap Roy.

__ADS_1


"Sekali lagi terimakasih banyak," ucap Nenek itu.


Sikembar memeluk tubuh Nenek itu, walaupun tubuh Nenek itu kusam dan bau tapi tidak masalah bagi sikembar, menurut mereka orang yang bau itu orang yang mempunyai hati busuk.


Sikembar pun pergi dari dari tempat itu, sedangkan Nenek itu segera kembali kerumahnya ia takut nanti ada orang jahat jadi ia buru buru kembali.


Nenek itu tersenyum mendapati kedua cucunya makan dengan lahap, kebetulan makanan enak, seumur umur keduanya cucunya itu belum pernah merasakan makanan seenak itu.


Ayah anak itu sudah meninggal, dan ibu mereka pergi bersama pria lain entah kemana? Tinggallah Nenek itu yang merawat cucu cucunya. Dulu kehidupan mereka lebih baik daripada ini, tapi setelah anak Nenek itu meninggal mereka jadi hidup susah ditambah lagi menantu perempuannya kabur entah kemana?


Sementara sikembar sudah tiba di kediaman keluarga Henderson, penjaga pun membukakan pintu gerbang untuk mereka.


Sekarang mereka jarang diantar oleh supir, karena itu kemauan mereka untuk tidak diantar oleh supir. Sikembar masuk ke mansion dan mendapati Oma dan Opanya sedang menimang cucu mereka.


"Kalian sudah pulang?" tanya Diva, sikembar hanya tersenyum.


"Kalian mandi dulu, baru bermain dengan adik," perintah Vera.


"Baik Oma cantik," goda Ram.


Seperti biasa mereka berebut memasuki lift, akhirnya mereka juga sama sama masuk kedalam lift itu. Sampai diatas, sikembar menuju kamar mereka masing-masing, mereka duduk sejenak sebelum mandi, setelah itu mereka pun segera masuk kedalam kamar mandi. setelah 20 menit entah kebetulan atau apa yang pasti mereka selalu bersamaan ketika membuka pintu kamar mereka masing-masing. Dan sekali lagi adegan rebutan masuk pintu lift pun terjadi.


Sesampainya dibawah, sikembar langsung menghampiri adik mereka. kali ini adiknya terbangun, sikembar pun begitu senang.


"Kalian sudah makan!" tanya Diva.


"Teman? sejak kapan kalian punya teman?" tanya Diva lagi.


"Sejak tadi, dia itu sering di-bully disekolah karena dia menyamar jadi culun dan miskin." kata Ram.


"Padahal aslinya dia orang kaya, dan cafe itu miliknya," ucap Roy.


"Kita tidak boleh memandang seseorang dari luarnya saja, ibarat buah durian yang kita lihat dari luar berduri tajam tapi siapa sangka dalamnya lembut dan manis, dan ibarat buah kedondong luarnya mulus dan cantik tapi siapa sangka rasanya asam dan berserabut. intinya jangan menilai buku dari sampulnya saja." nasehat Diva panjang lebar.


"Iya Mom, kami tahu kok membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik," ucap Ren.


"Bagus deh kalau gitu," Diva.


Sikembar kini bermain dengan baby Angel yang sedang tertawa, sikembar semakin gemas dengan tingkah laku adiknya itu.


"Mom adik makin lucu ya?" Ram sambil menoel noel pipi baby Lina.


"Tentu saja, semakin hari semakin menggemaskan," jawab Diva


Sedangkan sikembar yang lain juga bermain dengan Lita dan Lica, mereka begitu senang.


"Daddy pulang," suara Darmendra terdengar dari depan pintu.

__ADS_1


"Tumben pulang cepat?" tanya Diva.


"Mumpung lagi gak banyak pekerjaan, jadi bisa selesai dengan cepat. lagi pula aku kangen sama baby Angel," kata Darmendra.


"Mandi dulu sana, jangan menyentuh baby Angel kalau tidak mandi," Diva.


"Oke deh, boleh siapkan air untuk mandi?" tanya Darmendra.


"Boleh, sebentar ya nitip baby Angel dulu ke Mommy," jawab Diva, padahal Vera ada didekat situ.


"Mom titip baby Angel dulu, aku mau layani suamiku," Diva


"Pergilah, baby Angel tidak akan menangis ada Abang Abang mereka," kata Vera.


Diva pun menyusul suaminya kekamar, sesampainya dikamar, Diva terkejut ada tangan memeluknya dari belakang.


"Apa sudah boleh?" tanya Darmendra, Diva mengangguk.


"Nanti malam aja ya, sekarang waktunya mepet," jawab Diva.


Mendengar nanti malam wajah Darmendra seketika cerita, lalu ia mengeratkan pelukannya dan langsung mencium bibir istrinya, pelan tapi pasti Diva juga men*kmati ciuman itu. Kemudian Darmendra memperdalam ciumannya bahkan me**mat bibir Diva. Diva pun membalasnya.


"Aku mau siapkan air dulu," kata Diva.


"Sebentar lagi, aku merindukannya," jawab Darmendra.


Kemudian mereka pun kembali berciuman, seperti orang yang baru berpacaran saja. Padahal anak sudah sepuluh. Kemudian Darmendra pun melepaskan pelukannya dan ciuman mereka pun terlepas.


"Jangan lupa nanti malam," ucap Darmendra.


"Iya, aku ingat kok," kata Diva, sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi dan menyiapkan air untuk suaminya.


Setelah selesai Diva keluar dari kamar mandi dan pergi keruang ganti untuk menyiapkan pakaian suaminya. Setelah semuanya selesai barulah ia keluar kamar dan turun kebawah menemui anak anaknya.


"Baby Angel tidak menangis Mom?" tanya Diva.


"Tidak, jarang sekali mendengar suara tangisan mereka," jawab Vera.


"Seperti Abang Abangnya dulu jarang sekali menangis," ucap Diva.


"Berarti adek akan pintar seperti kami?" tanya Ram.


"Tentu, Abang Abangnya pintar adek juga pintar," jawab Diva.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2