
.
.
.
"Siapkan anak buah kita 50 orang, pilih yang paling terkuat. saya ingin Jordan dan keluarganya musnah tanpa sisa," ucap Nathan memberi perintah kepada asisten pribadinya.
"Baik tuan, siap laksanakan," ucap Robin sambil menunduk lalu berjalan mundur dan berlalu dari ruangan itu.
"Hmmm, saatnya aku menyaksikan kehancuranmu Jordan." ucap Jonathan sambil melihat poto anak kecil yang diam diam diambil oleh bawahannya.
"Targetku adalah cucumu untuk memancingmu keluar menemuiku," gumam Jonathan sambil tersenyum devil.
"Pertama cucumu yang menjadi korban, baru setelah itu anak dan istrimu juga menantumu itu, hahaha," Jonathan tertawa jahat.
Beruntung ruangan itu kedap suara kalau tidak sudah pasti suara tawanya akan terdengar keluar ruangan.
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu diketuk dari luar, Robin masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ada apa?" tanya Nathan.
"Tuan semua sudah siap hanya tinggal menunggu keberangkatan," ucap Robin.
"Hmmm, lalu bagaimana dengan tempat tinggal kita disana?" tanya Nathan.
"Anak buah kita yang disana sudah mengurus semuanya, mereka sudah membeli sebuah mansion dan pemiliknya sudah pindah karena diancam." jawab Robin.
"Bagus, saya ingin malam ini kita berangkat." ucap Nathan.
"Baik tuan, akan saya sampaikan kepada mereka," kata Robin.
Nathan mengibaskan tangannya, Robin pun segera pergi meninggalkan Nathan diruangan itu. Akhirnya malam ini juga mereka berangkat menggunakan pesawat pribadi milik Nathan. Dengan 50 anak buah yang mengawal Nathan dan asisten pribadinya mereka pun menaiki pesawat pribadi tersebut.
...****************...
Sementara didalam kamar, sikembar sedang mencipta alat baru lagi. Mengingat kejadian demi kejadian yang selalu menimpa mereka, jadi mereka akan lebih waspada. Di Indonesia masih siang, karena perbedaan waktu yang cukup jauh.
"Bagaimana? apakah berhasil?" tanya Ren.
"Sedikit lagi, tapi kita kesulitan untuk bahan uji coba," Ray.
"Hmmm, benar juga ya. kita tidak bisa mengujinya." Ram.
"Hati hati, jarum ini beracun, siapapun yang terkena racun ini maka tubuhnya akan membengkak dan mati dalam sekejap." Ray.
"Bukankah itu terlalu bahaya?" tanya Rakha.
__ADS_1
"Memang sangat berbahaya, tapi kalau untuk musuh itu adalah hal yang wajar," Ray.
"Bagaimana cara kita menggunakan jarum ini?" tanya Roy.
"Itu gampang, kita pasang jarum ini pada jam tangan kita, kalau ingin menggunakannya tekan tombol ini, maka keluar jarum tersebut. tapi penggunaan alat ini terbatas, kalau ingin menggunakannya harus benar benar tepat sasaran," ucap Ray panjang lebar.
Kemudian Ray memasang jarum tersebut pada setiap jam tangan yang mereka pakai.
"Permen jangan sampai ketinggalan, karena itu sangat penting disaat saat genting," Ram.
"Sekarang kita keluar jalan jalan, gimana?" tanya Ram.
"Boleh, tapi izin Mommy dulu," Ren.
Setelah mendapatkan izin mereka pun keluar, tidak lupa tas ransel milik mereka selalu dibawa kemana mana. karena dalam tas ransel tersebut banyak harta Karun milik mereka. terutama uang hingga mencapai ratusan juta. Mereka mengeluarkan skuter mereka masing-masing dan pergi keluar dari mansion. sampai didepan gerbang, penjaga langsung membuka pintu untuk mereka.
"Terimakasih paman," ucap Ram.
"Sama sama tuan kecil," jawab penjaga itu.
"Kemana kita?" tanya Roy.
"Tempat biasa lah, apalagi disana pasti ramai anak anak bermain skuter," ucap Ram.
"Bagaimana kalau kita menantang mereka nanti untuk berlomba?" Raffa.
"Ide yang bagus," jawab Rasya, lalu mereka pun bertos.
Sepanjang perjalanan mereka aman aman saja, tidak ada gangguan apapun. Akhirnya mereka pun tiba ditempat yang dituju, sebuah taman yang sering mereka kunjungi.
"Hai guys, bagaimana kalau kita berlomba naik skuter?" tanya Roy.
"Kalian menantang kami?" tanya Imran.
"Cuma ngajak aja kok," Roy.
"Ayo, siapa takut?" Rudi.
Sikembar dulunya gak punya teman, sekarang semenjak jual skuter mereka jadi punya teman, tapi tetap saja saudara mereka adalah teman setia.
"Sekarang kita mulai, dari sini terus pusing dua putaran dan garis finis nya juga disini," Ram.
"Aku tidak ikut, aku jadi jurinya aja," Ray.
"Baiklah kita mulai sekarang," Ram.
Lalu Ray menghitung sampai tiga dan mereka langsung berlomba untuk menjadi pemenangnya. Sikembar unggul jauh kedepan, sedangkan yang lain ketinggalan.
Kali ini Ram yang menang, hanya selisih sedikit dari saudara saudaranya yang lain. sedangkan Imran, Rudi dan teman temannya tertinggal jauh karena mereka belum begitu lihai memakai skuter.
"Kalian kalah," ucap Ram.
"Keberuntunganmu aja tuh," Roy.
__ADS_1
"Gak peduli yang penting aku menang," Ram.
Tiba-tiba ada suara seseorang minta tolong, sikembar dengan refleks menoleh kearah asal suara, ternyata ada orang yang ingin diculik.
Sikembar tentu saja tidak tinggal diam, mereka langsung menaiki skuter mereka masing-masing dan mengejar orang tersebut.
Orang itu menggotong tubuh bocah tersebut yang sudah tidak sadarkan diri, orang tuanya begitu panik melihat anaknya diculik.
Beruntung sikembar datang tepat waktu sebelum orang itu sempat memasukkan bocah itu kedalam mobil.
"Lepaskan dia," ucap Ray dingin.
"Hahaha, apa urusanmu menghalangi kami?" tanya penculik itu.
"Kami tidak ada urusan kalau kalian tidak menculik," ucap Ram.
"Karena kalian menculik, itu menjadi urusan kami untuk membebaskan anak itu," Ren.
"Lepaskan dia atau kalian akan terima akibatnya," Roy.
"Hahaha, hanya bocah sok berani, apa yang bisa kalian lakukan untuk melawan kami, bocah?" tanya penculik itu.
"Sekarang saatnya kita menguji ciptaan kita," bisik Ram pada Ray, Ray menatap tajam kearah Ram, sedangkan Ram hanya nyengir saja.
Tanpa menunggu lama Ray diam diam menekan tombol yang ada di jam tangannya, dan melesak lah jarum yang tidak terlihat kalau tidak teliti. seketika tubuh orang itu kejang kejang, sedangkan temannya heran karena tiba-tiba saja temannya itu kejang kejang.
Lalu ia melepaskan anak itu yang tidak sadarkan diri, dengan cepat Ram menangkap tubuh anak itu sebelum jatuh ketanah.
"apa yang terjadi?" tanya penculik itu.
Sedangkan temannya masih kejang kejang, dan beberapa menit kemudian tubuh penculik itu membengkak seperti balon ditiup. Sikembar juga heran ternyata begitu reaksi racun yang mereka ciptakan, tak berapa lama tubuh penculik itu kembali seperti semula tapi ia sudah tidak bernyawa lagi.
Temannya yang masih hidup mengguncang guncang tubuh temannya yang sudah tidak bernyawa.
"Hah, sedahsyat itukah reaksinya?" tanya Ram pada Ray.
"Aku juga tidak tahu, karena kita baru menguji nya," jawab Ray.
"Gimana nih, kita sudah membunuh orang," Ren.
"Tenang saja, racun itu tidak akan bisa terdeteksi oleh tenaga medis," ucap Ray santai.
Tidak berapa lama polisi pun datang ketempat kejadian, ternyata yang menelpon polisi adalah orang tua dari anak yang diculik.
Sedangkan penculik yang masih hidup masih bengong ditempat, jujur saja ia sangat syok melihat temannya meninggal. lalu penculik itu ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.
"Terimakasih Nak telah menyelamatkan anak saya," ucap ibu itu.
"Sama sama Bu, lain kali hati hati jaga anaknya baik baik," ucap Ram.
.
.
__ADS_1
.