
.
.
.
Kemeriahan pesta terus berlanjut, sikembar melakukan persembahan dengan lebih baik, mereka tidak ingin mengecewakan sahabat dari Mommy nya. para tamu seakan terhipnotis dengan persembahan mereka, para wartawan yang tadinya meliput pengantin kini berbalik malah meliput tentang sikembar.
"Hubby anak kita," ucap Diva.
"Iya sayang, anak kita memang hebat." Darmendra.
Diva mengusap perutnya, "aku ingin anak anakku nanti bisa jenius semua," batin Diva.
"Kamu bahagia sayang?" tanya Darmendra.
"Iya hubby, aku bahagia." Diva.
Ada beberapa tamu yang melihat kemesraan Darmendra dan Diva berdecak iri ada juga yang kagum. sedangkan kedua pasangan pengantin nampak terlihat sangat bahagia keduanya saling pandang lalu tersenyum.
"Apa yang honey rasakan?" tanya Aldo.
"Aku bahagia mas, terimakasih telah menerima aku yang banyak kekurangan ini," Anisa.
"Kita adalah makhluk Allah yang paling sempurna, tapi kesempurnaan yang sesungguhnya adalah milik Allah." Aldo.
"Ternyata mas orangnya bijak juga," ucap Anisa, Aldo hanya tersenyum Anisa membalas senyuman itu.
Sikembar masih terus bernyanyi ini sudah lagu mereka yang ketiga dan setelah itu mereka baru berhenti. para tamu undangan masih tetap antusias menyaksikan mereka hingga pasangan pengantin terabaikan untuk sementara waktu. para tamu masih berdatangan meskipun acara sudah berlangsung separuh jalan.
Sementara disisi lain, pasangan yang juga akan menikah sebentar lagi yakni Jhon dan Aryana, Robert dan Adefa sedang bermesraan, makan pun suap suapan. seolah dunia milik mereka saja. Berbeda dengan Diva yang tiba tiba merasa mual karena ada seorang pria mendekat kearah mereka.
"Diva...!" sapa pria itu, merasa namanya dipanggil Diva menoleh dan sontak saja cairan dari mulut Diva keluar mengenai baju pria tersebut.
"Sayang...!" Darmendra jadi panik tidak biasanya Diva seperti itu.
"Maaf," ucap Diva merasa bersalah.
"Tidak apa-apa," jawab pria itu padahal mukanya sudah memerah jas mahalnya terkena cairan dari mulut Diva.
Hueek, sekali lagi Diva muntah mengenai pria itu, pria itu langsung kabur ke toilet, ya pria itu adalah Irfan seangkatan mereka waktu sekolah dulu, Irfan diam diam menyukai bahkan mencintai Diva, tapi selalu dapat penolakan dari Diva dengan alasan masih ingin belajar, padahal itu hanya alibi Diva saja untuk menolak. Bukan Irfan saja yang Diva tolak cintanya masih ada beberapa orang lagi, tapi yang tidak menyerah hanya Irfan. Dia kuliah keluar negeri demi keinginannya untuk mendapatkan Diva. Karena alasan Diva menolaknya salah satunya Diva ingin pria yang mapan dan mandiri, sedangkan Irfan termasuk anak Mommy (anak manja).
__ADS_1
Diva diantar ke toilet oleh Darmendra, saat keluar keduanya berpapasan lagi dengan Irfan, lagi lagi Diva muntah didepan Irfan tapi tidak mengenai dirinya.
"Maaf istri saya lagi hamil, jadi seperti ini.
Duar bagai petir dimalam hari, detak jantung Irfan seolah berhenti mendengar ucapan dari Darmendra, ia mematung ditempat, selama ini ia berjuang keras agar bisa sukses tanpa bantuan dari kedua orang tuanya, tapi apa sekarang yang ia dapatkan pujaan hatinya telah menikah. Hancur sudah harapan seorang Irfan.
"Hamil? istri?" gumam Irfan pada dirinya sendiri. Lalu ia mendatangi Aryana dan Adefa untuk memastikan semuanya, karena Aryana dan Adefa teman dekat dengan Diva.
"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Irfan to the point.
"Bicara apa? bicaralah." Adefa.
"Boleh gak jangan disini?" Irfan, Adefa dan Aryana menoleh kepada pasangan masing-masing seolah meminta persetujuan. Robert dan Jhon pun mengangguk. mereka tidak ingin mengekang pasangan mereka.
"Ngomong apa?" tanya Aryana saat mereka sudah berada diluar hotel.
"Apa benar Diva sudah menikah?" tanya Irfan to the point, karena ia tidak mau basa basi.
"Benar" jawab mereka serentak, seketika wajah Irfan berubah muram.
"Bahkan dia sudah punya anak, tuh anak mereka," Adefa menunjuk kearah pentas.
"Diva sekarang sudah bahagia dengan kehidupannya, jika lu tulus mencintai dia ikhlaskan, biarkan ia bahagia dengan keluarga nya yang sekarang. lu tau tau kenapa Diva menolak cinta lu? karena dia tidak punya perasaan apapun sama lu. ingat cinta tidak harus memiliki, tapi kalau lu masih ngotot untuk mengejar dan memiliki Diva, itu namanya bukan cinta tapi obsesi." ucap Aryana panjang lebar.
"Dan satu lagi, kalau lu mau perusahaan lu yang sudah lu bangun dari nol baik baik saja, jangan berurusan dengan bocah kecil itu, karena mereka bisa menghancurkan siapa saja dan perusahaan manapun hanya dalam waktu hitungan menit." Adefa.
Gleek... Irfan menelan silivanya, "Semengerikan itukah?"
"Hmmm," Aryana dan Adefa mengangguk serentak.
"Oke tunangan gue udah nungguin tuh, ntar dia cemburu lagi," Adefa.
"Ingat, jangan ganggu Diva kalau mau aman, lebih baik cari cewek lain ingat bro bunga bukan setangkai yang harus diperebutkan." Aryana.
Kemudian keduanya berlalu meninggalkan Irfan yang masih mematung dengan pikiran sendiri. saat Irfan hendak berbalik tiba tiba ia menabrak seorang gadis yang mau masuk kedalam hotel tersebut hanya demi menyaksikan sikembar dipentas. Reflek Irfan memegang pinggang gadis itu dan tidak sengaja bibir mereka bertabrakan.
Irfan dan juga gadis itu merasakan perasaan yang aneh dalam diri mereka masing-masing.
"Perasaan apa ini? sebelumnya tidak pernah begini?" batin Irfan.
Dan hal itu disaksikan oleh Aryana dan Adefa, juga orang yang ada disitu. Gadis itu spontan mendorong tubuh Irfan hingga mundur dua langkah.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Irfan.
"Gak apa apa, aku juga tidak lihat jalan," jawab gadis itu menahan malu.
Saat gadis itu mulai menjauh Irfan memanggilnya.
"Hei...! siapa namamu nona?" Irfan
"Aku Gadis," jawab gadis itu.
"Cantik," ucap Irfan pelan, sambil memegang dadanya yang berdetak lebih cepat. lalu ia pun pergi dari tempat itu.
Sedangkan Gadis naik keatas pentas untuk bertemu idolanya dan meminta tandatangan, dengan senang hati sikembar memberikan tandatangan itu. setelah itu Gadis pun pergi dengan riangnya karena telah berhasil bertemu idolanya dan meminta tandatangannya.
Pesta pernikahan masih berlanjut, tapi Diva, Darmendra dan sikembar sudah pamit pulang.
"Sayang kamu kenal dengan pria tadi?" tanya Darmendra saat mereka sudah didalam mobil.
"Pria yang mana?" tanya Diva yang memang lupa dengan pria yang ditanyakan Darmendra. Seketika Diva terkikik geli bila teringat hal tadi.
"Sepertinya anakku tidak menyukainya," jawab Diva malah tidak nyambung.
"Dia siapa sayang?" tanya Darmendra lagi.
"Namanya Irfan hubby, seangkatan waktu sekolah dulu, dia sudah lama suka sama aku bahkan dia mengungkapkan perasaannya langsung aku tolak, karena aku tidak punya perasaan apapun padanya." Diva.
"Syukurlah," gumam Darmendra.
"Hubby cemburu? tidak ada alasan untuk hubby cemburu, kita sudah punya anak tujuh bahkan hampir sepuluh, kurang apalagi coba?" Diva.
"Sayang aku cemburu karena aku cinta," Darmendra.
"Tapi cemburu juga ada alasannya hubby, Aku bukan wanita yang kegatalan sudah punya suami masih cari yang lain. hubby adalah suami sempurna buat aku." Diva.
Darmendra diam, tapi dalam hatinya berbunga bunga dipuji sedemikian rupa.
.
.
.
__ADS_1