
.
.
.
Wardina sudah dipindahkan keruang perawatan, Cahaya terperangah melihat ruang perawatan itu yang sangat mewah.
"Sus, kenapa ibu ku ditempatkan dikamar mewah seperti ini? Bagaimana cara aku membayarnya?" tanya Cahaya pada suster yang merawat ibunya.
Suster itu tersenyum, "kamu tenang saja ya semua perawatan termasuk kamar ini sudah tuan kecil bayar, ia yang menanggung semuanya," kata suster itu.
Seketika airmata Cahaya jatuh dan isak tangis pun terdengar, suster itu pun merasa iba melihat gadis kecil itu menangis. Lalu memeluknya.
"Sudah jangan menangis, saya yakin ibumu pasti sembuh," ucap suster sambil mengelus rambut panjang Cahaya.
"A..aku terharu suster, aku terharu ternyata masih ada orang baik di dunia ini yang rela menghabiskan banyak uang untuk membantu orang lain," ucap Cahaya sambil menangis.
"Iya, tuan kecil memang terkenal baik bahkan sangat baik. Saya juga pernah dibantu oleh mereka," kata suster itu.
"Aku akan membalas semua kebaikan mereka," kata Cahaya, suster itupun mengangguk.
"Sudah ya jangan menangis lagi, saya masih ada tugas untuk pasien yang lain." kata suster itu, Cahaya mengangguk.
Setelah kepergian suster tersebut Cahaya duduk disamping ranjang ibunya ia memegang tangan ibunya yang belum sadarkan diri.
"Ibu, kalau besar nanti aku ingin menjadi dokter yang hebat aku akan menolong orang yang kurang mampu untuk berobat agar tidak ada orang yang menderita seperti kita," gumam Cahaya sambil mencium telapak tangan ibunya.
"Doakan semoga Aya sukses ya Bu, agar bisa membalas kebaikan orang yang sudah menolong kita dan menyembuhkan ibu," gumam Cahaya.
Sementara sikembar sudah tiba di mansion, mereka berhamburan berlari memasuki mansion, kalau diperhatikan sikapnya seperti ini siapa yang menduga kalau mereka anak anak yang jenius berhati malaikat kepada orang susah, dan berhati iblis kepada musuhnya.
"Kalian darimana saja? Kenapa sudah malam baru pulang?" tanya Diva.
"Kita tadi ke cafe terus kerumah sakit," jawab Ram.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Diva.
__ADS_1
"Calon ibu mertua Ram, Mom," goda Roy.
Buugh... satu tendangan mendarat di kaki Roy. Roy hanya bisa meringis menahan sakit.
"Masih kecil sudah pandai main perempuan," Diva.
"Tidak Mom, Roy bohong tuh, mana ada begitu. Kami hanya menolong ibu itu," kata Ram sambil menyerahkan keripik singkong dan pisang yang iya beli dari Cahaya tadi.
Tidak lupa Ram juga membagi bagikan kepada pelayan dan penjaga di mansion ini. Karena keripik itu banyak jadi mereka bagi bagikan.
"Apa ini?" tanya Diva.
"Keripik Mom, Mommy mau?" tanya Ram, Diva pun membuka satu dan memakannya.
"Enak, dimana kamu beli ini?" tanya Diva.
"Dari anak yang kami tolong ibunya," ucap Ram jujur.
"Mau dong sayang," kata Darmendra yang baru turun dari lantai atas dan langsung duduk disamping Diva.
"Diva menyuapi suaminya dengan keripik singkong tersebut.
"Kalian mandi dulu, jangan dulu temui adik adik kalian kalau belum mandi," ucap Vera yang juga bergabung diruang tamu tersebut.
Sikembar pun pergi kekamar mereka masing-masing kali ini mereka tidak berebut seperti biasa. Entah angin apa yang merasuki tubuh mereka sehingga tidak saling berebut rebutan.
Ram masuk kedalam kamarnya dan menyimpan kalung dari Cahaya didalam laci. Setelah itu baru ia masuk kedalam kamar mandi. Selang 30 menit Ram sudah berpakaian lengkap dan keluar dari kamarnya, saat membuka pintu saudara saudaranya juga membuka pintu. Kebetulan seperti ini bukan hanya sekali dua kali tapi hampir setiap kali. Entahlah mungkin itu karena insting mereka saja. Mereka pun turun kebawah untuk makan malam, karena sekarang sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Adik sudah tidur ya Mom?" tanya Ram.
"Sudah sejak tadi, dari kalian belum datang," jawab Diva.
Kini mereka sudah duduk dimeja makan, seperti biasa mereka tidak mau dilayani. Akhirnya mereka semua pun makan tanpa ada yang berbicara.
Setelah selesai makan, sikembar kembali kekamar mereka masing-masing setelah mereka berpamitan kepada Oma Opa Mommy dan Daddy-nya, karena besok mereka harus kesekolah.
Keesokan harinya...
__ADS_1
Ram membuka lagi laci tersebut dan melihat kalung yang berukirkan nama Cahaya paradina, Ram mengamati kalung tersebut kalung emas bertatahkan berlian kecil.
"Pasti kalung ini sangat berharga bagi dirinya, tapi kesehatan kesembuhan ibunya adalah hal yang lebih berharga, semoga kedepannya kamu baik baik saja dan aku akan menjaga kalung ini sesuai dengan keinginanmu," monolog Ram.
Kemudian ia menyimpan kembali kalung ini didalam laci dan tidak lupa Ram memasukkan kalung itu kedalam kotak kecil. Lalu Ram pun segera berpakaian.
Kini sikembar sudah berada dimeja makan, hidangan untuk sarapan sudah tersedia dan ditata rapi oleh pelayan. Mereka pun sarapan bersama dengan nikmat.
"Ini bekal kalian untuk makan siang nanti," ucap Diva sambil menyerahkan Tupperware kepada sikembar. Dan sikembar pun memasukkannya kedalam tas ransel milik mereka masing-masing.
"Kita berangkat dulu ya Mom Dad Oma Opa," ucap sikembar lalu mencium tangan mereka satu persatu.
Darmendra dan Jordan merasa senang karena sikembar mencium pipi mereka. Ya kalau sikembar yang mencium tidak masalah, tapi kalau mereka yang dicium baru mereka marah.
Sikembar pun berangkat ke sekolah dengan menggunakan skuter mereka masing-masing, mereka akan menghadiahkan skuter kepada Ricardo nanti.
Sesampainya disekolah sikembar langsung masuk, ternyata sudah ada Ricardo yang juga baru masuk, penampilan Ricardo kini berubah 180° derajat.
Ayu dan Mita tidak berkedip melihat sosok seorang pria tampan didepan mereka. Keduanya tidak percaya kalau orang yang selalu mereka rendahkan ternyata adalah berlian yang tersembunyi. Para siswa dan siswi yang lain juga tidak bisa berkutik, termasuk Ayu dan Mita apalagi setelah mereka dikalahkan oleh bocah 8 tahun, semakin membuat keduanya tidak berkutik. Kini Ayu dan Mita lebih banyak diam, mereka tidak lagi meremehkan orang lain, pelajaran yang mereka dapatkan dari sikembar sangat membekas di hati dan pikiran mereka, begitu juga dengan siswa dan siswi yang lain.
Tidak berapa lama bel sekolah pun berbunyi pertanda bahwa pelajaran akan segera dimulai.
Para siswa dan siswi masuk kedalam kelas mereka masing-masing, dan duduk di bangku mereka masing-masing.
Kini tidak ada lagi suara Ayu dan Mita yang biasa senang sekali mencemooh orang lain, mereka hanya duduk anteng sesekali menoleh kebelakang dimana sikembar dan Ricardo duduk.
"Mengapa mereka tampan sekali sih, masih kecil aja sudah setampan itu apalagi bila besar nanti," monolog Ayu dalam hati.
Ternyata Mita diam diam melirik Ricardo yang berubah penampilan, yang dikira cupu ternyata suhu.
"Ada benarnya perkataan sikembar itu, jangan menilai buku dari sampulnya saja," monolog Mita dalam hati.
Tak lama Bu Tessa masuk dengan senyum cerahnya secerah mentari pagi.
.
.
__ADS_1
.