SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Kelulusan yang tidak terduga.


__ADS_3

.


.


Sikembar pun memulai mengisi kertas soal ujian tersebut, kedua wali kelas itu memberi waktu 60 menit untuk menyelesaikan soal ujian itu. Tapi sikembar hanya butuh waktu 10 menit, semua sudah selesai.


"Kami sudah selesai Bu guru," ucap Ram.


"Hah... serius?" tanya wali kelas yang bernama Renita.


Bapak kepala sekolah tersenyum meremehkan, "paling jawaban nya semua salah."


"Tapi jawabannya semuanya benar Pak." kata wali kelas yang bernama Erina.


"Tidak mungkin," ucap kepala sekolah itu yang bernama Ferdi.


"Bapak boleh lihat sendiri, jawaban mereka semua benar." ucap Renita.


Pak Fredi melihat dengan seksama, "tidak mungkin, kalau anak anak lain kami beri waktu satu jam setengah, itupun banyak yang jawab salah, tapi ini hanya 10 menit dan jawaban semuanya benar," batin Pak Fredi.


"Bagaimana Pak? apakah anak anak saya lulus?" tanya Darmendra.


Pak Fredi mengangguk, ia merasa sangat malu karena sempat meremehkan sikembar.


"Baiklah, anak anak tuan Darmendra dan nyonya Diva akan kami tempatkan di kelas 9." ucap Pak Fredi.


"Kalau begitu kami permisi dulu Pak, sekarang kami sudah tenang anak anak kami masuk sekolah sesuai keinginan mereka." Diva.


Darmendra pun menjabat tangan Bapak Kepala sekolah itu.


"Kalian belajar yang rajin ya." pesan Diva.


"Baik Mommy, kami tidak akan mengecewakan Mommy dan Daddy." ucap sikembar serentak.


"Mommy dan Daddy pulang dulu." pamit Darmendra, sikembar mengangguk.


"Kalian, mari saya antar ke kelas 9, untuk bertemu wali kelas yang akan mengajar kalian." ucap Pak Fredi.


Sikembar pun mengikuti Pak Fredi menuju kelas 9, sesampainya di kelas 9 Pak Fredi mengetuk pintu,


Tok...


Tok..


Tok...


"Masuk...!" ucap suara dari dalam.


Pak Fredi pun masuk bersama sikembar. Pak Fredi memberitahukan kalau yang ia bawa adalah murid kelas 9, tentu saja wali kelas yang bernama Rahmat itu tidak percaya, dan malah mentertawakan sikembar. Sikembar cuek cuek saja.


"Bapak bercanda yang, masa anak sekecil ini sudah masuk kelas 9, palingan baru kelas 2 SD." ucap Pak Rahmat.


"Pak Rahmat akan tau nanti." kata Pak Ferdi.


"Baiklah, baiklah saya percaya," ucap Pak Rahmat, kemudian Pak Fredi pamit undur diri.


"Anak anak kita kedatangan murid baru, sekarang perkenalkan nama kalian." kata Pak Rahmat.

__ADS_1


"Salam kenal semua, perkenalkan namaku Rayden."


"Namaku Rendra."


"Namaku Rasya."


"Namaku Rakha."


"Namaku Raffa."


"Namaku Roy."


"Namaku Ramendra."


"Dan kami adalah saudara kembar," ucap sikembar serentak.


"Bukankah kalian itu SEVEN R?" tanya seorang murid yang bernama Raisa.


Sikembar hanya tersenyum, sambil mengangguk.


"Sekarang kalian silahkan duduk dikursi yang kosong." ucap Pak Rahmat.


Sikembar pun berjalan menuju kursi yang kosong, mereka pun duduk paling belakang karena hanya itu yang tersisa, yang depan semua sudah terisi.


"Baiklah kita mulai pelajaran." kata Pak Rahmat.


Kurang lebih satu jam mereka belajar, kini tiba waktunya istirahat. anak anak yang seusia sikembar tidak ada, semua sudah remaja hanya sikembar yang paling kecil. jadi tidak ada yang mau berteman dengan anak kecil.


Toh mereka juga tidak peduli, mereka bertujuh sudah cukup tidak perlu teman lagi. Anak anak lain pergi ke kantin, sikembar seperti biasa hanya duduk didalam kelas. waktu istirahat 30 menit sudah habis, anak anak kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. sebelum guru masuk anak anak begitu heboh dengan adanya sikembar, tapi sikembar biasa saja. mereka tidak suka pada orang yang cari muka.


(Loh mukanya kemana kok dicariin?)


"Boleh minta tandatangan kalian gak, aku sangat ngefans dengan kalian." ucap anak itu yang bernama Rere.


"Sini kertasnya," Ram.


Lalu sikembar membubuhkan tandatangan di kertas yang diberikan oleh Rere.


"Oh ya namaku Rere, selamat berkenalan," ucap Rere.


"Hmmm," jawab Ray, lalu Rere pun keluar.


"Kita pulang sekarang?" tanya Roy.


"Yuk kita pulang," Rakha.


Sikembar pun keluar dari kelas, sesampainya diluar Agus sudah menunggu mereka.


"Tuan kecil mari silahkan masuk." Agus.


Sikembar pun masuk kedalam mobil, "jalan Paman."


Agus pun mulai menjalankan mobilnya, Agus sudah terbiasa dengan situasi ini, kalau sikembar jarang ngomong. ia tidak heran lagi dengan sifat sikembar yang seperti itu.


"Paman sudah makan?" tanya Ram.


"Belum tuan kecil." jawab Agus.

__ADS_1


"Kalau begitu kita singgah di warung tenda aja, paman tidak apa-apa kan kalau makan di warung tenda?" tanya Rakha.


"Saya tidak apa-apa tuan kecil, makan dimana saja yang penting perut kenyang." jawab Agus.


"Baiklah kita makan di warung tenda." Roy.


Agus pun melajukan mobilnya agar cepat sampai ke warung tenda yang mereka maksud.


"Disini Paman," Ren.


Agus pun menghentikan mobilnya, belum turun sikembar sudah mendengar keributan di warung tenda tersebut ternyata ada 6 orang preman yang minta uang kepada penjual warung tenda tersebut dengan dalih untuk keamanan. Sikembar turun dari mobil dan disusul oleh Agus. sikembar segera menghampiri preman tersebut, pemilik warung tenda sempat dihajar oleh preman itu.


"Ada apa ini?" tanya Ren.


"Anak kecil tidak boleh ikut campur, sana pergi minum susu aja," ejek preman itu.


Ram melihat pemilik warung tenda mukanya sudah lebam dan sudut bibirnya berdarah segera menolong Bapak itu.


"Paman tidak apa-apa?" tanya Ram.


"Paman baik baik saja Nak." jawab Bapak itu.


"Dasar bapak itu pembohong, sudah jelas jelas lebam begitu mukanya masih bilang baik baik saja." gumam Ren.


Para pelanggan yang ada disitu ketakutan sejak kedatangan preman tersebut, ada yang sedang makan pun lari dan tidak membayar, mereka takut diamuk preman tersebut.


Tempat itu menjadi sepi, hanya beberapa orang saja yang masih duduk dikursi mereka.


"Paman, kalau mau uang kerja dong jangan suka memeras keringat orang lain." Ram.


"Kalian anak kecil tau apa? paling juga tahu minta kepada orang tua kalian." tanya preman itu.


"Kami sudah kerja Paman, sudah bisa menghasilkan uang sendiri." jawab Ren.


"Hahaha, kerja? anak kecil bisanya kerja apa?" tanya preman itu.


"Setidaknya kami tidak meminta uang dengan cara yang paman lakukan." Roy.


Preman itu maju hendak memukul pemilik warung tenda, tapi dihadang oleh Ray.


Buggh....


Satu tendangan mendarat sempurna diperut preman itu, preman itu terjungkal jatuh ketanah.


"Sial, ternyata kuat sekali tendangan bocah itu," batin preman itu.


"Kalian tunggu apalagi? serang bocah itu...!" perintah preman tersebut, sudah pasti ia ketuanya sehingga berani memerintah yang lainnya.


Lima preman itu maju hendak menangkap bocah kembar, tapi keduluan dihajar oleh mereka, hanya dalam sekejap preman preman itu jatuh tersungkur ditanah.


"Ternyata menang badan besar saja, tapi ilmu bela diri kosong." ejek Ren.


Ray menyuruh Agus menelpon polisi, Ram menyuruh pemilik warung tenda itu mengikat preman tersebut. Setelah preman itu dikalahkan oleh sikembar warung tenda itu kembali ramai.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2