
.
.
.
Sikembar pun akhirnya pulang, mereka melewati jalan yang lain tidak lewat jalur yang tadi. karena mereka akan singgah dulu ke minimarket yang tidak jauh dari taman tersebut. sikembar masih menggunakan skateboard nya, mobil itu masih mengikuti sikembar, mereka menunggu waktu yang tepat untuk menculik bocah kembar tersebut.
"Mereka pergi kemana tuh?" tanya bawahan A.
"Mungkin ke minimarket, disana ada minimarket terdekat," jawab bawahan C.
Mereka masih terus mengikuti sampai sikembar tiba di minimarket tersebut. sikembar masuk dan berbelanja macam macam cemilan, sebenarnya itu adalah bagian dari rencana mereka untuk mengalihkan perhatian para penjahat.
Setelah satu jam sikembar pun keluar dari minimarket dengan belanjaan masing-masing. Kemudian sikembar pun pulang, sikembar sengaja memilih jalanan sepi agar tidak menggangu pengendara lain.
Sikembar dihadang oleh mobil tersebut, sikembar pun berhenti. keempat penjahat itu turun dari mobil, sikembar menyeringai licik melihat keempatnya sedang maju hendak menangkap sikembar. sikembar saling pandang dan tidak perlu bicara mereka sudah tau apa yang akan mereka lakukan?
"Paman mau apa? mau minta cemilan?" tanya Ram dengan nada lembut seperti bocah polos saja, yang bikin gemes semua orang.
"Kami akan menculik kalian, dan kami akan mendapat bayaran mahal," ucap si A.
"Bodoh, kalau mau culik ya culik aja, ngapain dibilang bayaran mahal," umpat sang bos.
"Apa salah kami Paman? kami tidak punya banyak uang untuk bayar tebusan." ucap Ram lagi, sungguh bocah yang pandai sekali berakting.
"Heh bocah jangan banyak omong, sekarang ikut kami...!" perintah si A, sambil berjalan mendekat kearah sikembar dan...
Buugh... sebuah tendangan mendarat sempurna dibagian selang**ngan pria itu, pria menutup mulutnya dan pipinya menggelembung menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Aakkkhh, bo...bos te.. tel..urku pec...ah," ucap si A terbata bata.
Ya, yang menendang pria itu adalah Ram, "Gimana paman? enak ya?"
Si A sudah terduduk diaspal menahan rasa sakit itu, bahkan ia sampai terguling guling.
"Tunggu apalagi? cepat tangkap anak itu," perintah sang bos.
Keduanya merasa ragu kala melihat si A yang begitu kesakitan, mereka bergidik ngeri melihat sorot mata sikembar yang berubah tajam, tidak seperti tadi yang mereka lihat yang sangat menggemaskan.
Kedua penjahat itu maju memberanikan diri, sikembar malah mengepung mereka membuat keduanya seketika menciut.
__ADS_1
Sikembar saling pandang lalu tanpa ampun menghajar dua pria itu. keduanya tidak bisa berkutik dengan pukulan yang bertubi-tubi hingga keduanya terkapar tak berdaya, bisa dipastikan tangan dan kakinya sudah patah.
"Sekarang giliran Paman," tunjuk Ray pada sang bos penjahat.
Bos penjahat itu mundur melihat sikembar maju, sampai bos itu tersandung kepembatas jalan, hingga ia terjatuh.
"Tolong lepaskan saya, saya tidak akan ganggu kalian lagi," ucap sang bos ketakutan.
"Jangan remehkan kami, Paman. dan bilang pada orang yang menyuruh kalian, datanglah sendiri bila menginginkan kami. Maka dengan senang hati kami akan menyambutnya." Ram.
"Baik akan saya sampaikan," ucap pria itu merasa senang karena menganggap dirinya akan segera dilepaskan.
"Bangunlah Paman," ucap Ray, bos penjahat itu pun menurut, lalu...
Buugh, tendangan yang sangat kuat mendarat sempurna didada bos penjahat itu hingga terpental beberapa meter,
"Uhhukk uhhukk," bos penjahat itu muntah darah.
"Ram...!" perintah Ray.
"Siap bos," ucap Ram, lalu Ram merogoh saku celananya dan mengeluarkan satu permen karet dan mengunyahnya, setelah dikunyah beberapa kali, Ram segera menempelkan permen karet itu pada mobil penjahat tersebut.
Sikembar pun pergi meninggalkan tempat itu, sikembar menghitung mundur.
"Sepuluh... sembilan... delapan... tujuh... enam... lima... empat... tiga...dua... satu."
Duar... suara ledakan terdengar dahsyat, sikembar menyeringai puas dengan hasil ciptaan mereka.
"Aaaaaakkh mobilku, hu.hu.hu, mobilku meledak, uhhukk uhhukk, mobil kesayanganku meledak, aku belum lunas membayarnya," ucap bos penjahat itu menangisi nasibnya, ia menyesal telah menerima tawaran untuk menculik anak kecil. ternyata yang akan mereka culik adalah monster berwajah tampan dan imut berwujud anak kecil.
Seketika ia teringat perkataan salah satu dari sikembar, yang membuatnya bergidik ngeri. "ternyata benar kata anak itu, jangan remehkan kami," itulah kalimat yang menjadi penyesalannya, karena tidak menyadari kalau itu adalah kalimat mengandung ancaman.
penjahat itu masih menangisi mobilnya yang sudah hancur berkeping-keping.
Sikembar kini sudah tiba di mansion keluarga Henderson, penjaga gerbang pun membukakan pintu gerbang untuk mereka.
"Kalian dari mana?" tanya Diva, saat sikembar sudah tiba didepan pintu.
"Joging Mom, sekalian mampir ke minimarket beli cemilan."Roy.
"Pergi kok gak pamit sama Mommy, Mommy jadi risau," Diva.
__ADS_1
"Kami sudah pamit sama bibi, kami tidak mau ganggu Mommy takutnya Mommy masih tidur." Ram.
"Ya sudah, kalian mandi dulu sana. Mommy akan ajak kalian kerumah sakit untuk pemeriksaan kandungan Mommy," Diva.
"Benarkah Mom? hore," Ram.
Lalu sikembar berlari berlomba menuju lift, saat pintu lift terbuka ternyata Darmendra keluar dari dalam lift tersebut. Belum sempat Darmendra bertanya pada sikembar, mereka sudah keduluan masuk dan pintu lift pun tertutup.
"Sayang...!" panggil Darmendra, Diva pun menoleh karena posisinya membelakangi Darmendra.
"Hubby, mau ikut gak, aku mau periksa kandunganku." Diva.
"Emang sudah waktunya periksa?" tanya Darmendra.
"Belum tinggal beberapa hari lagi, tapi aku sudah tidak sabar ingin melihat anak kita dan ingin memastikan kembar atau tidak.
"Ya sudah, setelah sarapan kita pergi kerumah sakit." Darmendra.
"Oh ya, tadi sikembar dari mana, kok mereka kaya buru buru gitu?" tanya Darmendra lagi.
"Mereka pergi ketaman sekalian joging, dan pulangnya mampir ke minimarket," jawab Diva.
Tak lama kemudian sikembar turun dengan pakaian santai mereka, meskipun begitu mereka tetap terlihat sangat tampan. Kini mereka bersarapan bersama, Vera yang mendengar Diva ingin memeriksa kandungannya meminta untuk ikut juga, Jordan pun tidak mau kalah, juga mau ikut.
Sikembar tidak menceritakan tentang kejadian tadi, biarlah itu menjadi rahasia mereka. Setelah selesai sarapan, Darmendra mengambil kunci mobil yang akan mereka gunakan. mobil mewah yang muat untuk satu keluarga yaitu mobil Limousine.
"Sekarang sudah siap semua?" tanya Darmendra.
"Sebentar Dad," ucap Ram, sikembar masuk kedalam lift kembali kekamar mereka masing-masing, hanya sekejap mereka sudah kembali dengan tas ransel dipunggung mereka masing-masing.
"Kalian bawa ransel?" tanya Jordan.
"Ini penting Opa, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya," ucap Ram bijak.
Jordan hanya mengabaikan kata kata dari Ram. ah sudahlah pikirnya, Jordan gak tau dalam tas ransel itu banyak menyimpan senjata rahasia, kalau dilihat lihat ianya seperti mainan, tapi itu adalah senjata yang sudah dimodifikasi dengan baik oleh sikembar. Dan setelah mengalami hal tadi, sikembar semakin waspada karena bisa saja musuh menargetkan mereka disaat mereka lengah.
.
.
.
__ADS_1