SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Bertemu teman lama


__ADS_3

.


.


.


Setelah selesai mandi Diva pun berganti pakaian, kini Diva berdiri di balkon kamar hotel. kebetulan kamar yang mereka tempati menghadap kelaut. Diva memandangi laut dan ombak yang menghempas pantai. Diva teringat kala dulu ia dan teman temannya sangat suka pergi ke pantai. hampir setiap hari Minggu mereka berlibur ke pantai. kini setelah Diva tamat sekolah, Diva tidak pernah lagi bertemu dengan teman temannya itu. Diva teringat saat Anisa mengatakan bahwa ia akan kuliah diluar negeri. mereka kini sudah lost contact, jadi tidak lagi saling berhubungan. Dulu mereka adalah empat sahabat yang tidak terpisahkan, tapi setelah acara pesta perpisahan semua telah berubah. Diva tidak lagi bertemu dengan sahabatnya itu. Diva menerawang jauh mengingat beberapa tahun lalu.


Flashback on...


"Diva, lo mau lanjut kuliah dimana?" tanya Anisa sahabat Diva yang paling dekat.


"Aku disini saja, gak perlu jauh-jauh." jawab Diva.


"Gimana kalau ikut kita aja? gue mau kuliah di Jerman." Anisa.


"Iya Div, ikut kita aja agar kita selalu menjadi best friend forever." Aryana.


"Kalau aku tidak ikut kalian, apakah kalian akan melupakan aku?" tanya Diva dengan wajah sendu.


"Bukan begitu maksudnya, maksud kita, biar kita tidak berpisah selalu bersama kemana mana, gitu." Adefa.


"Tidak apa-apa lah, aku kuliah disini saja yang penting kalian tidak melupakan aku dan kita jadi sahabat selamanya." Diva.


Flashback end...


Sejak saat itu mereka tidak pernah lagi bertemu, Diva sering kepantai ini berharap akan bertemu kembali dengan sahabatnya. tanpa terasa bulir bening jatuh disudut mata Diva.


"Mungkin inilah takdir, aku dipisahkan dengan kalian dan dipertemukan dengan si kembar." batin Diva.


Sementara ditoko baju Darmendra sedang memilih milih baju yang cocok untuk dirinya.


Bruuk...tak sengaja Darmendra menabrak seorang gadis.


"Kalau jalan lihat li...." gadis itu tidak dapat melanjutkan kata katanya.


"Mbak tidak apa-apa, maaf saya tidak sengaja," Darmendra.


"Ganteng banget, uh meleleh hatiku." batin gadis itu.


"Mbak, Nona anda tidak apa-apa?" Darmendra mengulangi pertanyaannya karena tidak mendapat respon dari gadis itu.


Sedangkan gadis itu masih menatap Darmendra tanpa berkedip, lamunannya buyar saat dua sahabatnya menepuk pundak gadis itu.


"Hei... ngelamunin apa sih?" tanya Adefa.


"Itu... ehh mana dia?" Anisa baru sadar kalau Darmendra sudah pergi.


"Siapa sih?" tanya Aryana.


"Tadi itu ada cowok ganteng banget," Anisa.


"Gue tidak melihat ada cowok disini, jangan halu deh," Adefa.


"Benaran tadi gak sengaja kami bertabrakan," Anisa.


"Terus, sudah dapat belum yang dicari?" Aryana.


"Nih, mari kita bayar." Anisa.


Setelah itu mereka pun kembali kekamar tempat mereka menginap. sedangkan Darmendra sudah dari tadi kembali ke kamarnya dan mendapati Diva sedang melamun. Diva terkejut saat Darmendra mengusap air matanya.


"Ada apa hmmm?" tanya Darmendra, Diva menggeleng.


"Pasti ada sesuatu sampai kamu nangis gitu? yang aku tau kamu adalah gadis yang tangguh dan tegar, cerita lah." Darmendra.

__ADS_1


"Aku hanya merindukan Mama dan Papa, sudah lama tidak mengunjungi mereka." Diva.


"Bagaimana kalau nanti kita berziarah kemakam beliau sekalian minta restu." Darmendra.


"Benarkah? kalau begitu Minggu depan kita kesana." Diva.


"Jangan sedih lagi, masih ada aku, si kembar, Mommy dan Daddy. anggap saja mereka pengganti kedua orang tuamu." Darmendra.


Diva merasa terharu mendengar ucapan Darmendra, iapun langsung memeluk pria itu.


"Terimakasih banyak, kalian lah keluargaku." Diva.


Darmendra membiarkan saja Diva memeluknya, bahkan Darmendra membalas pelukan tersebut, "kesempatan," pikir nya.


"Oh ya si kembar." Diva baru tersadar dan melepas pelukannya.


"Tenang si kembar sedang tidur siang, mungkin mereka kecapean." Darmendra.


"Ya sudah mandi sana, mas belum mandi kan?" Diva.


"Iya ini juga mau mandi." Darmendra


Kemudian Darmendra pun masuk kekamar mandi. Diva masih duduk di balkon sambil memandang cincin yang melingkar dijarinya. dulu sempat ia lepas, tapi Darmendra meminta untuk memakainya kembali, nanti bila sudah resmi menikah baru cincin itu diganti. begitu katanya.


"Maafkan aku kak, bila aku menggantikan posisimu semua kulakukan karena aku sangat mencintai dan menyayangi si kembar." batin Diva. kemudian Diva pun masuk.


Bersamaan dengan itu Darmendra sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.


"Kita ke kamar si kembar?" Darmendra.


"Yuk lah, mungkin mereka sudah bangun." Diva.


Diva dan Darmendra pun masuk kedalam kamar si kembar, dilihatnya si kembar sudah bangun dari tidurnya.


"Kita makan yuk, dibawah ada restoran seafood." Darmendra.


"Ajak Oma dan Opa juga, Dad." Ram.


"Oh tentu sayang." ternyata yang menjawab adalah Vera.


"Mari...!" Jordan.


Mereka pun turun kebawah menuju restoran di hotel tersebut. Setibanya di restoran, mereka duduk dikursi khusus untuk keluarga. jadi tidak perlu repot-repot nambah kursi lagi. Diva tidak menyadari kalau ada tiga orang sedang memperhatikannya.


"Bukankah itu Diva?" tanya Aryana, Anisa dan Adefa melihat kearah tunjuk Aryana.


"Itu kan cowok tadi, kenapa bersama Diva?" batin Anisa.


"Kamu benar, kita samperin yuk." Adefa.


"Tunggu, itu tadi cowok yang nabrak gue," Anisa.


"Udah jangan pikirin cowok itu, mending kita samperin Diva." Aryana.


"Permisi," Adefa.


Diva dan yang lainnya menoleh, Diva langsung bangkit dari duduknya.


"Kalian, gak nyangka bertemu disini." ucap Diva sambil memeluk sahabatnya itu.


"Iya kami kesini juga berharap bertemu dengan Lo," Anisa.


Lalu ketiga sahabat Diva menoleh kearah Darmendra dan si kembar.


"Mereka siapa?" tanya Aryana.

__ADS_1


"Mereka...." belum sempat Diva meneruskan ucapannya sudah dipotong oleh Darmendra.


"Kenalkan saya suami Diva, dan ini anak anak kami dan itu orang tua saya." ucap Darmendra lantang.


"Haa..." ketiganya melihat si kembar dengan seksama, ketiganya bengong seketika.


"Mereka kembar?" tanya Adefa, Diva pun mengangguk.


"Subhanallah kembar tujuh?" Aryana.


"Lo, hutang penjelasan kekita." Anisa.


"Apa yang perlu dijelaskan? semua sudah jelas, mereka anak anakku." Diva.


"Gak, gak. kita belum puas sebelum Lo cerita kekita." Adefa.


"Udah deh, kalian tidak berubah ya?" Diva.


"Sayang ini sahabat Mommy, kenal kan diri kalian." Diva.


"Hai kakak cantik, perkenalkan namaku Ramendra, ini kakakku yang pertama namanya Rayden," Ram


"Aku Rendra, anak kedua."


"Aku Rasya anak ketiga."


"Aku Rakha anak keempat."


"Aku Raffa anak kelima."


"Aku Roy anak keenam."


Begitulah mereka mengenalkan diri mereka satu persatu. tak lama pelayan pun datang membawa buku menu.


"Silahkan Tuan mau pesan apa?"


"Udang asam manis, cumi saus tiram, dan kepiting saus Padang." Darmendra.


Pelayan itu mencatat pesanan mereka.


"Kalian mau pesan apa?" Diva.


"Meja kita sebelah sana." Anisa.


"Gabung aja disini biar rame, kakak cantik kan sahabatnya Mommy," Ram.


"Baiklah, samain aja deh." Adefa.


"Minum nya tuan?" tanya pelayan itu.


"jus alpukat empat, sayang kalian minum apa?" Diva.


"Jus buah naga." jawab si kembar serentak.


"Mommy sama Daddy mau minum apa?" Diva.


"Samain aja dengan si kembar." jawab Vera.


"Mas mau minum apa?" Diva.


"Jus jeruk aja?" Darmendra.


"Baiklah mohon ditunggu sebentar ya tuan dan nona." kemudian pelayan itu pun undur diri.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2