
.
.
.
Anak itu makan dengan lahap, karena sudah beberapa hari ia tidak makan. kadang ia mengutip makanan dari tempat sampah, kadang juga dari nasi sisa.
Anak yang baru berusia 6 tahun harus terlantar tanpa ada yang peduli.
"Kamu tinggal dimana? Dengan siapa?" tanya Ram pada bocah itu.
"Aku tinggal disana," tunjuk anak itu.
Mereka mengikuti arah telunjuk anak itu yang menunjukkan kearah jembatan yang berada tidak jauh dari tempat mereka makan.
"Kamu sendirian!" tanya Ram lagi, anak itu menggeleng.
"Dengan kakakku, tapi dia sakit tidak bisa berjalan," ucap anak itu.
"Ya sudah, makan dulu biar kenyang nanti baru kita temui kakak kamu," Ram.
"Kak boleh dibungkus gak, nanti buat kakakku dia juga belum makan," ucap anak itu lagi.
"Nanti kita beli lagi untuk dibungkus buat kakak kamu," Ram.
Anak itu makan dengan lahap sambil berlinang airmata, ia tidak pernah makan makanan seenak ini, hingga nasi serta bebek panggang habis dilahap olehnya. Ram perlahan mengusap airmata anak itu.
"Kenapa menangis, hmmm?" tanya Ram.
"Aku merasa terharu kak, kakak terlalu baik." ucap anak itu, Ram tersenyum.
"Sudah ya, sekarang kita temui kakakmu," ucap Ram, anak itu mengangguk.
Ram membayar semua yang mereka makan, termasuk yang dibungkus juga. Setelah itu mereka pun mengikuti anak itu.
"Abang mau ikut kita atau mau pulang?" tanya Ram.
"Ikut aja deh," jawab Ricardo.
"Ya sudah kalau begitu kita jembatan itu," kata Ram.
"Ram apa tidak sebaiknya kita telepon Paman Agus?" tanya Ren.
"Kenapa masih bertanya lagi sih Ren, harusnya punya inisiatif sendiri," Ram bertanya balik, Ren hanya nyengir.
Kemudian Ren menelpon Agus untuk datang kealamat yang telah dikirimkan oleh Ren.
__ADS_1
Kini mereka sudah tiba di jembatan tersebut, terlihat seorang anak lelaki sekitar 9 tahun sedang berbaring diatas kardus tanpa kain yang menutupi tubuhnya, sudah dapat dibayangkan kalau malam pasti kedinginan.
Ram menghampiri anak itu dan memberikan makanan, dengan tangan gemetar anak itu berusaha bangkit untuk mengambil makanan tersebut.
"Makan dulu ya, nanti kita kerumah sakit," ucap Ram.
"Tapi aku tidak punya uang," jawab anak itu dengan bibir gemetar pula.
"Tenang, nanti aku akan bantu semua biar aku yang bayarin," ucap Ram.
Anak itu menangis merasa terharu karena masih ada orang yang baik bahkan sangat baik.
"Kenapa kalian menolong kami?" tanya anak itu.
"Apakah ada alasan untuk menolong seseorang kalau ia dalam kesulitan? Kalau ada alasannya, jawabannya adalah karena sifat dan perikemanusiaan, tapi kalau tidak ada alasannya jangan ditanyakan lagi," Ram.
Anak itu terdiam, selama ini mereka hanya mencari uang dengan cara mengumpulkan botol bekas dan sebagainya untuk mereka bertahan hidup. Orang tuanya? Orang tuanya pergi dengan selingkuhan mereka masing-masing tanpa menghiraukan dua anak yang mereka telantarkan.
Tidak berapa lama kemudian Agus datang dengan membawa mobil besar, Ram meminta Agus untuk mengangkat tubuh anak itu kedalam mobil dan membawa mereka kerumah sakit.
Ram berencana untuk menampung anak itu dirumah yang mereka beli dulu, dimana anak anak jalanan yang pernah ia tolong.
Mereka semua pun masuk kedalam mobil, setelah itu mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, butuh waktu satu jam mereka sudah tiba dirumah sakit. Agus menggendong tubuh anak itu dan meletakkan di brankar yang telah suster sediakan. Anak itu dibawa keruang UGD untuk dilakukan pemeriksaan.
Ram segera kebagian administrasi untuk melakukan pembayaran biaya rumah sakit tersebut.
"Bagaimana dok!" tanya Ram setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan.
Ram menyewa kamar VIP untuk anak itu agar lebih nyaman nantinya. Suster kemudian memindahkan anak itu keruang perawatan.
Ram membelikan baju ganti untuk mereka, karena pakaian mereka tidak layak pakai. Tapi karena tidak ada yang lain terpaksa mereka memakai pakaian itu yang hanya satu satunya.
Ram menyerahkan pakaian ganti tersebut, dan menyuruh anak itu mandi. Melihat ada pakaian baru betapa bahagianya anak itu. ia pun segera mandi dan berganti pakaian.
"Kamu jaga kakakmu disini ya? Besok kami akan datang lagi kemari, dan ini ada sedikit uang untuk beli makanan nanti, beli saja makanan dikantin rumah sakit ini atau minta tolong sama suster yang merawat kakakmu," pesan Ram.
Lagi lagi anak itu menangis melihat uang merah sepuluh lembar. Baginya itu sudah sangat banyak.
"Hati hati uang nya jangan sampai hilang," pesan Ram lagi.
Kemudian sikembar pun pulang, anak itu menyimpan uangnya dengan hati hati, sedangkan kakaknya masih tertidur karena pengaruh obat.
Lagi lagi Ricardo dibuat takjub dengan sikembar. Sedikit demi sedikit ia mulai mengetahui sifat sikembar yang sebenarnya.
"Saya pulang sendiri saja ya, kita kan beda arah," kata Ricardo.
"Oh iya deh, kalau gitu kita pulang duluan," Ren.
__ADS_1
Lalu mereka berpisah, Ricardo pulang sendiri menggunakan skuter miliknya, sedangkan sikembar pulang bersama Agus sang sopir mereka.
Ricardo tersenyum kala mengingat semua kebaikan sikembar, padahal kalau dipikir-pikir Ricardo jauh lebih dewasa dalam segi umur, tapi semenjak ia mengenal sikembar banyak pelajaran dan pengajaran yang ia dapatkan.
"Bagaimana rencanamu tentang anak itu, Ram?" tanya Ren.
"Aku akan bawa mereka kerumah tempat anak yang kita tolong dulu," ucap Ram.
"Bagus deh kalau begitu, aku juga setuju," Rakha.
"Kasihan sekali dengan mereka, hidup di jalanan tanpa kedua orang tua," Roy.
Agus hanya tersenyum dengan sikap majikan kecilnya itu yang terlalu baik dan begitu peduli dengan orang susah.
"Paman nyetir yang benar, jangan senyum senyum sendiri," kata Raffa.
"Ehh iya tuan kecil, maaf," Agus gelagapan dibuatnya.
"Beruntung sekali gadis yang akan menjadi istri tuan kecil nanti, sudah dipastikan hidup mereka akan harmonis," batin Agus.
Akhirnya mereka pun tiba di mansion, Agus memarkirkan mobilnya di garasi mobil. Sikembar segera keluar dari dalam mobil dan terus berlari menuju pintu utama mansion tersebut.
"Kalau dilihat mereka lari lari dan berebut untuk masuk, pasti orang hanya menyangka mereka hanya bocah polos," batin Agus.
"Oma...!" seru Ram karena Vera ada diruang tamu.
"Kalian baru pulang? Kok lama?" tanya Vera.
"Tadi kami jalan jalan sebentar Oma," jawab Roy.
"Hmmm, bagaimana tadi kompetisinya?" tanya Vera lagi.
"Lumayan Oma, tapi kami tidak yakin bakal menang," ucap Ram.
"Ya gak apa-apa, kalah atau menang itu biasa dalam pertandingan," ucap Vera.
"Oh ya Oma, kita kekamar dulu mau mandi," kata Ren, lalu mereka saling berebut untuk menyalami Oma mereka.
Setelah itu barulah mereka menuju kamar mereka masing-masing.
Vera hanya geleng-geleng kepala, dan hal itu dilihat oleh Jordan suaminya.
"Kenapa Mom?" tanya Jordan.
"Biasalah Dad ulah cucu cucu kita," jawab Vera.
.
__ADS_1
.
.