SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Madu


__ADS_3

.


.


.


Setelah selesai Darmendra menebus vitamin untuk istrinya dan ibu itu, Darmendra bergegas menuju mobilnya. sementara keluarganya sudah menunggu didalam mobil, ibu itu berdecak kagum melihat mobil mewah seumur umur baru kali ini ia menaiki mobil sebagus dan semewah ini.


"Semoga suatu saat nanti anakku bisa sukses dan bisa membanggakan orang tuanya," batin ibu itu.


Diva menoleh kearah belakang dimana ada sikembar dan ibu itu duduk, sikembar yang memang tidak memandang kasta dan derajat seseorang tentu tidak merasa jijik, walau harus bersentuhan dengan gembel sekalipun. Itulah salah satu sifat sikembar yang membuat Diva merasa bangga. ternyata apa yang diajarkan olehnya tidak sia sia, dan sikembar sangat mematuhi Mommy nya.


"Ada apa?" tanya Darmendra, Diva pun menoleh kearah Darmendra.


"Aku kasihan melihat ibu itu, sepertinya ia kesulitan ekonomi, kamu dengar tadi hubby untuk menebus vitamin saja ia harus berpikir," Diva.


"Hmmm, aku tau kok, makanya tadi aku tolong," Darmendra.


"Ibu tadi kerumah sakit naik apa?" tanya Diva.


"Naik angkot, itu lebih murah ongkosnya," jawab ibu itu.


"Suami ibu tidak mengantarkan ibu?" Diva.


"Suami saya kerja, kalau tidak kerja gajinya kena potong," jawab ibu itu.


"Oh ya mas, nanti dipersimpangan belok kiri, sekitar 500 meter itulah tempatnya." kata ibu itu lagi.


Darmendra hanya mengangguk, tiba dipersimpangan Darmendra berbelok, ternyata jalannya masih banyak batu kerikil.


Akhirnya mereka pun sampai ketempat tujuan, Diva memperhatikan sekeliling ternyata ramai juga rumah penduduk, tapi tidak ada yang terlihat bagus, semua rumah terlihat sangat sederhana hanya ada satu rumah yang berbeda dengan rumah rumah yang lain, itu adalah rumah pemilik peternakan lebah tersebut.


"Rumah ibu yang mana?" tanya Diva saat mereka semua sudah keluar dari mobil.


"Yang itu neng, mari mampir." ajak ibu itu.


Diva dan yang lainnya mengikuti ibu itu, mereka tidak masuk kedalam rumah hanya duduk diteras saja, bangku yang terbuat dari bambu itulah yang mereka duduki.


"Bu kalau usaha disini seperti jualan misalnya, apa ada yang beli Bu,?" tanya Diva.

__ADS_1


"Ada neng, disini yang paling laris itu jualan kue atau jualan sayur. jualan sembako juga neng soalnya kalau mau kepasar juga cukup jauh." jawab ibu itu.


"Suami ibu bisa bawa mobil?" tanya Darmendra.


"Bisa mas, dulu suami saya kerja sebagai sopir, tapi ia difitnah hingga dipenjara 2 tahun, setelah itu suami saya tidak bisa bekerja dimana dan hanya kerja serabutan." ucap ibu itu.


"Oh ya Bu, saya ada sedikit uang ini bisa ibu dan suami ibu gunakan untuk usaha, semoga kedepannya ibu dan suami ibu bisa sukses." Darmendra pun menyerahkan amplop berisi uang yang entah berapa jumlahnya.


"Ini dari aku Bu terimalah," Ram, melihat Ram memberikan uang kepada ibu itu, saudara saudaranya yang lain juga ikut memberikan uang.


"Semoga bisa membantu ya Bu," ucap sikembar serentak.


"Terimakasih, terimakasih banyak semoga Allah membalas kebaikan kalian semua," ucap ibu itu.


"Aamiin...!" jawab mereka serentak.


Kemudian mereka pamit kepada ibu itu, dan pergi menemui orang yang sedang panen madu lebah. Diva begitu antusias melihat madu ditangan pemilik peternakan, sampai air liurnya menetes,


"Hubby aku mau yang itu," ucap Diva sambil menggoyang goyang tangan suaminya.


"Pak itu dijual gak?" tanya Darmendra.


"Begini pak, istri saya lagi hamil dan ingin madu," Darmendra.


"Oalah istrinya hamil toh, mas tinggal pilih mau yang mana, sebelum madu madu ini dipasarkan." si bapak.


Lalu Darmendra memilih satu yang banyak madunya, ternyata bukan hanya Diva yang makan madu tersebut, sikembar Oma dan Opanya pun tidak ketinggalan. bahkan Darmendra juga ikut ikutan.


"Enak sayang?" tanya Darmendra, Diva hanya mengangguk. Lalu Darmendra beralih melihat Mommy dan Daddy-nya juga begitu antusias.


"Inikah kebahagiaan yang sesungguhnya? melihat keluargaku seperti ini aku sangat bahagia," batin Darmendra.


Setelah itu Darmendra pun membayar madu tersebut, Darmendra juga membeli madu yang sudah dikemas dalam botol hanya untuk persiapan kalau sewaktu waktu istrinya mau lagi.


"Sekarang kita pulang," ajak Darmendra.


"Mommy mau cari makan, Mommy sudah lapar," Vera.


"Makan?" tanya Diva berbinar, mendengar kata makan seolah olah Diva mendapatkan berlian yang terkubur dalam tanah.

__ADS_1


"Kalau begitu kita cari makanan dulu," Darmendra.


"Daddy tau tempat yang enak, tapi bukan restoran hanya rumah makan biasa, dan ada di jalan xxxx." Jordan.


Darmendra dan sikembar seketika tertawa, Jordan yang melihat itu merasa aneh dan ia garuk garuk kepala.


"Ehh, apanya yang lucu?" tanya Jordan.


"Opa, rumah makan yang Opa sebutkan adalah tempat kami menyusul Daddy karena makan tidak bawa uang cash." ucap Ram.


"Iya Opa, Daddy modus agar minta traktir makan sama kami," Ren.


Vera dan Jordan seketika tertawa juga, aya aya wae sikembar itu mah, suka sekali menggoda Daddy mereka.


"Yuk lah kita kesana, memang masakan dirumah makan itu sangat enak," Jordan.


Sejak ada sikembar mereka jadi jarang makan di restoran mewah, kadang makan di warung tenda pinggir jalan, kadang di rumah makan yang seperti sekarang ini. pokoknya dimana mana, asalkan tempatnya bersih. Dulu baik itu Vera, Jordan dan Darmendra ada sedikit gengsi bila makan dipinggir jalan, mereka pasti akan memilih restoran mewah tempat mereka makan. Sekarang semua berubah, makan dipinggir jalan seolah olah kebahagiaan tersendiri bagi mereka. ternyata kehadiran sikembar merubah pemikiran mereka.


Kini mereka sudah sampai dirumah makan tersebut, seperti biasa pemilik rumah makan menyambutnya dengan ramah. Mereka memilih bangku panjang untuk mereka duduk. Diva seperti biasa pesanannya yang paling banyak diantara yang lain. pemilik rumah makan tersebut sudah tidak heran kalau ibu hamil bisa banyak makan. karena nutrisi makanan yang Diva makan akan berbagi dengan calon bayi yang ada dalam kandungan. apalagi Diva sedang hamil triple twins. Diva makan dengan sangat lahap, orang yang berkunjung ke rumah makan tersebut hanya menatap heran dengan cara Diva makan.


"Istri saya lagi hamil dan sangat doyan makan," ucap Darmendra seolah tau dengan tatapan mereka pada istrinya. lalu mereka pun beralih memalingkan wajah mereka kearah lain, karena kepergok menatap Diva.


Diva tidak peduli dengan pandangan orang padanya, toh dia juga tidak minta traktir pada orang lain.


"Makan, jangan pedulikan pandangan orang lain," ucap Darmendra, Diva hanya mengangguk tanpa mengangkat wajah dan malah asik makan.


Sikembar juga makan dengan lahap, mereka tidak berkomentar apa apa, hanya makan saja, Vera dan Jordan juga begitu.


"Setelah ini kita kemana lagi?" tanya Darmendra.


"Kerumah sahabatku ya, hubby. masa mau nikah diam diam saja." Diva.


"Hmmm baiklah kalau begitu." Darmendra.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2