SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
sebuah rahasia (part 1)


__ADS_3

.


.


.


"Mana Dok anak saya, kok gak kelihatan?" tanya Darmendra.


Dokter itu tersenyum, "Coba Bapak perhatian betul betul, ada yang nampak kecil kecil, tapi belum jelas kayanya kembar deh, dan belum bisa dipastikan ada berapa?" ucap dokter itu.


"Hah kembar dok?" tanya Diva.


"Itu baru kemungkinan, karena belum begitu jelas, dan usia kehamilan ibu baru tiga Minggu. nanti bulan depan ibu datang lagi kesini untuk memastikan kembar atau tidaknya."Ucap dokter itu.


Sedangkan Darmendra masih terlihat bingung, dia tidak melihat anak nya.


"Hubby calon bayi kita belum berbentuk menjadi bayi, baru hanya gumpalan darah." Diva.


"Hah, dok saya semakin tidak mengerti, masa anak saya sekecil itu?" Darmendra.


"Begini pak, saat ini usia kehamilan istri anda baru tiga Minggu, jadi hanya terlihat seperti biji kacang saja. nanti bila usia kehamilan sudah mencapai 5 bulan atau lebih baru berbentuk bayi ada kaki tangan dan anggota tubuh lainnya." dokter tersebut menjelaskan.


"Oohhh, gitu ya Dok," Darmendra.


"Oh ya Bu, untuk kandungan ibu sangat kuat, meskipun begitu harus tetap waspada jaga kesehatan dan makan makanan yang seimbang, seperti buah dan sayur. susu ibu hamil sangat penting untuk menjaga kesehatan janin dan kecerdasan otak janin, dan disini saya jelaskan untuk berhubungan suami istri boleh boleh saja asal dilakukan dengan hati hati, ada keluhan Bu seperti mual atau muntah kurang selera makan mungkin?" dokter.


"Saat ini tidak ada dok, bahkan saya tidak tahu kalau sedang hamil, hanya saja pengen dekat dekat sama suami dan pengen gitu gituan." ucap Diva malu malu.


Dokter tersenyum, "hal itu biasa bagi ibu hamil, berarti dedek bayinya pengen dimanja oleh Daddy nya."


Diva tersipu, wajahnya sudah memerah sedangkan Darmendra sudah bersorak dalam hati mendengar kejujuran dan kepolosan Diva dalam berkata.


"Nanti saya resepkan vitamin dan obat anti mual, hanya untuk berjaga-jaga kalau sewaktu waktu ibu mual atau muntah. silahkan ditebus diapotik." dokter.


"Baik dok, kalau begitu kami permisi." Darmendra.


Dokter mengangguk, "silahkan, jangan lupa bulan depan datang lagi."


Darmendra dan Diva pun keluar dari ruangan tersebut dan langsung menuju apotek di rumah sakit ini. setelah menebus vitamin dan obat anti mual Darmendra dan Diva pun pulang ke mansion. mereka akan mengabarkan kabar gembira pada orang tuanya dan sikembar.


Darmendra melajukan mobilnya dijalan raya dengan kecepatan sedang, ia takut calon bayinya kenapa kenapa.


"Sayang kamu lapar gak?" tanya Darmendra.


"Tidak hubby, hubby lapar?" Diva.


"Lapar sih, dari tadi belum sempat makan," Darmendra.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kita makan dulu kebetulan ini juga sudah malam." Diva.


"Kita makan dimana?" tanya Darmendra.


"Aku mau makan martabak manis isi kacang dengan keju dengan ketan hitam." Diva.


"Baiklah kita cari dulu ya." Darmendra.


Hampir satu jam Darmendra dan Diva berkendara mencari penjual martabak, hingga akhirnya ketemu juga. Darmendra memarkirkan mobilnya dipinggir jalan. Darmendra dan Diva pun keluar dari mobil menuju gerobak penjual martabak tersebut.


"Pak martabak manis isi kacang dengan keju dengan ketan hitam ada gak?" tanya Diva.


"Oh ada neng, mau berapa neng?" tanya mamang itu.


"Sepuluh ya pak." jawab Diva.


"Baik neng, sementara menunggu neng duduk dulu dikursi biar gak capek." ucap mamang itu.


"Sayang, aku mau beli bakso dulu ya." Darmendra.


Kebetulan ada juga penjual bakso didekat penjual martabak tersebut. jadi Darmendra tidak perlu jauh-jauh.


"Hubby, aku juga mau." teriak Diva.


Akhirnya Darmendra memesan dua mangkuk bakso. Darmendra meskipun orang kaya, tapi soal makanan ia tidak pilih pilih, yang penting tempatnya bersih meskipun dipinggir jalan. Kebanyakan orang kaya akan gengsi kalau makan dipinggir jalan, pasti sudah memilih restoran mewah tempat mereka makan. Darmendra membawa dua mangkuk bakso dan duduk disamping Diva.


"Untuk apa gengsi, makan dipinggir jalan atau di restoran mewah bedanya cuma tempatnya dan di lidah saja, tapi kalau sudah sampai keperut sudah tidak ada bedanya lagi, dan keluarnya pun tetap menjadi kotoran." Darmendra.


"Ya biasa orang kaya kan begitu." Diva.


"Tidak semua orang kaya seperti itu, contohnya aku dan sikembar." Darmendra.


Tak terasa satu mangkok bakso telah berpindah keperut mereka masing-masing. dan martabak pesanan mereka pun siap. Diva pun membayarnya.


"Sudah?" tanya Darmendra, Diva mengangguk.


"Kalau begitu kita pulang, sikembar pasti sudah menunggu kita." Darmendra.


Akhirnya keduanya pun pulang, sekitar 40 menit mereka sampai ke mansion. waktu sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB. Darmendra dan Diva masuk, diruang tamu masih ada Vera dan Jordan serta sikembar yang masih menonton televisi.


Diva memberikan martabak kepada pelayan untuk dihidangkan kedalam piring. tidak lupa pelayan juga kebagian, itu sebabnya Diva membeli banyak.


"Daddy ada kabar baik untuk kalian," Darmendra.


"Kabar apa Dad?" Ram.


" Mommy kalian hamil, berarti kalian akan punya adik." Darmendra.

__ADS_1


"Hore... kita bakal punya adik." teriak Ram.


"Hei, kalian tidak senang?" tanya Darmendra pada Roy dan yang lainnya. karena hanya Ram yang tampak kegirangan.


"Senang, tapi gak kekanak-kanakan seperti itu," sindir Ray pada adiknya.


"Cih, dasar kulkas, senyum aja susah." Ram.


"Sekarang kalian masuk ya, besok mau sekolah." Diva.


"Kalau sudah sang Mommy yang memerintah mana bisa sikembar membantah. akhirnya mereka masuk kekamar masing masing.


"Kamu hamil Nak?" tanya Vera.


"Iya Mom, baru tiga Minggu dokter bilang kemungkinan anak Kami kembar, padahal tiada gen kembar, tapi kok bisa kembar ya?" Diva.


Vera menghela nafas panjang lalu menghembuskannya. kemudian ia menoleh kesuaminya dan diangguki oleh suaminya seakan tahu dengan apa yang akan dibicarakan oleh istrinya itu.


"Sebenarnya Darmendra ada saudara kembar, tapi sayangnya telah meninggal sebelum lahir kedunia." ucap Vera sendu.


"Maksudnya?" tanya Darmendra.


"Dari gen Monalisa ada gen kembar dan dari gen kami juga ada gen kembar terutama Darmendra." ucap Vera.


"Langsung saja ke intinya Mom," kata Jordan.


"Baiklah Mommy akan cerita satu rahasia yang selama ini kami pendam," Vera.


Flashback...


"Dad aku hamil," teriak Vera dari dalam kamar mandi setelah ia mengeceknya melalui testpack.


"Benarkah sayang? kalau begitu kita periksa kerumah sakit." Jordan.


"Iya Dad, aku sudah tidak sabar ingin melihat calon bayi kita," Vera.


"Kalau begitu kita pergi sekarang saja, sayang." Jordan.


"Yuk Dad, " ucap Vera begitu antusias.


Jordan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, saat ini keduanya sangat bahagia karena buah cinta mereka telah hadir dirahim Vera. sekitar tiga puluh menit keduanya tiba di rumah sakit. Jordan mendaftarkan atas nama istrinya untuk mendapatkan nomor antrian, karena yang akan memeriksa kehamilan lumayan banyak ada sekitar 10 orang, jadi Vera harus ikut antrian. sebenarnya bisa saja kalau ia mau menggunakan kekuasaannya untuk tidak mengantri, tapi demi kenyamanan mereka memilih untuk mengantri.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2