SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Mengunjungi Serena dan hari terakhir Serena.


__ADS_3

.


.


.


Beberapa hari telah berlalu, sikembar tidak mendapatkan gangguan apapun semuanya berjalan dengan baik baik saja.


Sementara ditempat lain lebih tepatnya di mansion milik Jonathan, pria itu marah mendapat kabar bahwa anak buah terkuatnya hilang tanpa jejak seperti ditelan bumi.


Braak.. Nathan menggebrak meja sehingga asisten dan anak buahnya yang lain terkejut.


"Bagaimana bisa keduanya hilang tanpa jejak, hah?" bentak Nathan.


"Ma.. maaf tuan, kami juga tidak tahu terakhir tuan memerintahkan mereka untuk menangkap bocah itu," ucap Robin sang asisten.


"Tidak mungkin bocah itu membunuhnya, tidak mungkin, apa yang bisa bocah itu lakukan selain hanya menangis?" Nathan.


"Mungkin saja bocah itu dikawal ketat tuan," ucap Robin lagi.


"Hmmm, ternyata Jordan sudah punya persiapan yang matang, aku semakin tidak sabar ingin menghancurkan keluarganya. Kalian cari bocah itu bila perlu datangi ke sekolahnya," perintah Nathan pada bawahannya.


"Baik tuan," ucap para bawahannya serentak.


"Aku ingin menemui Serena, Siapkan kendaraan untukku," perintah Nathan lagi.


"Siap laksanakan tuan," ucap Robin sambil menunduk hormat seraya pergi dari hadapan tuannya itu.


"Kedua anak buah terkuat ku hilang tanpa jejak, tidak mungkin kalau bocah itu membunuh mereka," gumam Nathan sambil geleng-geleng kepala.


Kemudian Robin datang dengan tergesa-gesa untuk melaporkan bahwa mobil sudah siap.


"Tuan mobil sudah siap, tuan mau berangkat sekarang?" tanya Robin.


"Hmmm," jawab Nathan, tanpa bicara lagi ia segera bangkit dari duduknya dan keluar dari mansion miliknya.

__ADS_1


Robin membukakan pintu mobil dan mempersilahkan tuannya masuk, setelah tuannya masuk barulah Robin masuk dibagian kemudi. Robin adalah asisten sekaligus sopir pribadi bagi Nathan. Mobil terus melaju di jalan raya, selama dalam perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka, Robin sebagai asisten tidak ingin bicara kalau tidak penting, bisa bisa disemprot oleh tuannya.


Akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit yang maksud, Robin segera memarkirkan mobilnya ditempat parkir khusus, kemudian ia keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk tuannya.


"Silahkan Tuan," ucap Robin mempersilahkan tuannya untuk keluar dari mobil.


"Hmmm," jawab Nathan dingin, lalu mereka menuju ruang perawatan dimana Serena dirawat.


Karena Robin sudah tau kamar tempat Serena dirawat jadi mereka tidak perlu bertanya pada suster lagi. Nathan dan Robin masuk kedalam ruangan tempat Serena dirawat. Keadaannya saat ini begitu memprihatinkan, tubuh kurus kulit yang biasa terawat kini telah berubah keriput. semua anggota tubuhnya kaku tidak bisa bergerak, hanya mata yang bisa berkedip kedip. untuk senyum saja ia tidak mampu.


"Apa kabar sayang? aku datang menjenguk mu," tanya Nathan, tapi hanya dijawab dengan kedipan mata.


Serena hanya mampu berkata dalam hati bahwa ia menyesal telah menyia nyiakan Nathan yang begitu baik dan tulus mencintainya. Andai waktu dapat diulang Serena tidak akan mengikuti dendamnya.


"Maafkan aku karena baru sekarang bisa menemuimu, aku tau kamu tidak mencintaiku dan kamu hanya memanfaatkan aku dan juga hartaku. tapi aku tidak apa-apa, hanya yang aku sesali mengapa kau bertindak gegabah tanpa memberitahu aku? kalau saja aku tau kamu kesini untuk balas dendam pasti aku akan ikut membantumu," ucap Nathan panjang lebar.


Namun semua perkataan Nathan tidak satupun dapat jawaban dari Serena. perlahan air mata Serena jatuh dari sudut matanya, Nathan tidak menyadari itu.


"Kamu tenang saja aku datang kesini juga untuk membalaskan dendamku dan juga dendammu," ucap Nathan.


"Aku mohon jangan Nathan, mereka itu seperti monster. sangat kejam dan sadis aku sudah merasakan akibat dari sifat monster mereka," ucap Serena dalam hati, karena ia tidak bisa berbicara sama sekali.


Dokter dan perawat pun segera menuju ruangan tempat Serena dirawat. Dokter memeriksa denyut nadi Serena tapi detak nadinya sudah tidak berdenyut lagi. Dokter pun menggeleng pertanda bahwa pasien sudah meninggal dunia.


"Maaf Tuan, pasien sudah meninggal dunia beberapa saat lalu," ucap dokter seraya menutup seluruh tubuh Serena dengan kain putih.


"Sebaiknya tuan urus pemakaman nyonya Serena," ucap dokter lagi.


"Baik Dok saya akan urus semuanya," jawab Nathan, lalu Nathan memerintahkan anak buahnya untuk mengurus pemakaman Serena, tapi sebelum itu pihak rumah sakit memandikan jenazah Serena terlebih dahulu.


Hari ini juga Serena dikebumikan berdekatan dengan makam Monica.


(Oh ya untuk pengetahuan readers, Monica telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, maaf sebelumnya karena tidak dibahas tentang kematian Monica).


Tidak banyak orang yang menghadiri pemakaman Serena, hanya beberapa orang saja. Setelah semuanya selesai orang yang turut membantu menerima bayaran dari Robin, mereka dengan senang hati menerima amplop berisi uang tersebut yang entah berapa jumlahnya.

__ADS_1


Nathan berjongkok didepan makam istrinya, walaupun cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, tapi tidak menyurutkan perasaannya pada Serena. Dapat memiliki Serena sudah cukup baginya.


Sebenarnya Nathan dulunya orang yang baik, hanya saja karena sakit hati kepada Jordan membuat dendam tumbuh dihatinya.


"Aku semakin yakin akan membalas dendam kepada Jordan, karena dia telah menghancurkan hidup kita." gumam Nathan sambil memegang batu nisan Serena.


Kemudian Nathan bangkit dari jongkoknya dan berjalan menuju mobil.


"Kita kembali ke mansion," ucap Nathan pada asistennya.


"Baik tuan," jawab Robin, lalu membukakan pintu mobil untuk tuannya.


"Bersiaplah untuk kehancuran keluargamu Jordan," gumam Nathan, Robin yang mendengarnya hanya bisa terdiam.


Sejujurnya Robin tidak setuju dengan keinginan tuannya untuk balas dendam, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan tuannya itu.


Sementara sikembar kini melakukan aktifitas seperti biasa, sekarang mereka sedikit sibuk karena sebentar lagi ujian Nasional akan berlangsung. Diva pun diperkirakan akan melahirkan sebentar lagi lebih kurang 3 Minggu lagi, begitulah perkiraan dokter saat ia memeriksa kandungannya, tapi itu hanya perkiraan saja, bisa jadi mundur bisa juga maju.


Darmendra selalu siaga melayani Diva yang sudah kesulitan untuk bergerak, meskipun begitu Diva masih tetap melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri, terutama kebutuhan biol***is Darmendra yang harus dis*l*rkan. Diva juga sering ikut senam ibu hamil demi kelancaran proses melahirkan nantinya.


"Sayang, kamu pasti capek ya," ucap Darmendra setelah mereka selesai aktifitas ranjang, mumpung sikembar belum pulang sekolah, jadi keduanya bisa memanfaatkan waktu bersama.


"Tidak apa-apa hubby, setelah melahirkan hubby harus berpuasa 40 hari," ucap Diva.


"Hah, selama itukah?" tanya Darmendra tercengang.


"Iya hubby, harus menunggu benar benar sembuh," jawab Diva.


Wajah Darmendra berubah lesu mendengar akan berpuasa 40 hari lamanya.


"Tidak apa-apa deh, ditahan tahan saja," batin Darmendra.


"Sabar ya hubby, gak lama kok cuma 40 hari, lebih pun tidak apa-apa," ucap Diva santai.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2