
.
.
.
Ricardo ingin melihat langsung bagaimana perlakuan Mommy sikembar kepada anak anaknya, itulah yang membuat Ricardo penasaran. Ricardo tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya, karena keduanya selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ricardo selalu diabaikan oleh orang tuanya seolah olah Ricardo bukan anak kandung mereka.
"Abang menginap disini saja ya, besok kita sama sama kesekolah." ucap Ram.
"Seragam sekolah saya gimana?" tanya Ricardo.
"Sudah aku suruh cuci kepada pelayan, besok bisa kering," ucap Ram.
Kini mereka sedang berkumpul diruang keluarga, ada Oma dan Opanya sikembar ada Mommy dan Daddy juga sikembar 3 yang sedang aktif aktifnya.
"Ini teman kalian?" tanya Vera pada sikembar.
"Iya Oma, namanya Ricardo." ucap Ram.
"Sini duduk dekat Oma," kata Vera, Ricardo merasa kehangatan sebuah keluarga, sampai ia meneteskan airmata.
"Beginikah rasanya punya keluarga? Selalu berkumpul bersama bercerita bercanda tentang apa saja,?" batin Ricardo.
"Jangan bengong," ucap Vera mengelus rambut pirangnya Ricardo.
Ya Ricardo adalah keturunan Jerman dan Indonesia. Papa nya dari Jerman dan Mama nya asli Indonesia, jadi Ricardo berwajah bule mengikuti gen Papa nya.
"Loh kenapa nangis?" tanya Vera, Ricardo menggeleng.
"Jangan menangis, anggap saja kami ini keluargamu, kamu pasti merindukan keluargamu ya?" tanya Vera lagi.
"Saya tidak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga seperti ini, Papa dan Mama selalu sibuk dan tidak peduli sama sekali dengan saya, dari sejak kecil saya hanya diasuh oleh baby sitter, terkadang saya iri melihat sikembar begitu disayang oleh keluarganya," jawab Ricardo.
"Sering sering lah kemari, pintu mansion ini akan selalu terbuka untukmu," ucap Jordan.
"Iya Opa," jawab Ricardo. Ricardo tersenyum melihat tingkah baby Angel yang sudah mulai berjalan serta mengoceh entah apa yang bicarakannya, tidak ada yang mengerti. Hanya Diva lah yang mengerti dengan ocehan baby Angel.
"Nyonya makan malam sudah siap," ucap pelayan di mansion ini. Vera pun mengangguk.
Lalu mereka menuju meja makan, baby Angel dijaga oleh pelayan, tadi mereka sudah makan bubur. Sikembar dan yang lainnya sudah duduk dikursi meja makan, lagi lagi Ricardo merasa kehangatan sebuah keluarga. Sedangkan Ricardo tidak pernah makan bersama keluarganya, selalu makan sendiri. Sebab itulah ia terbiasa menyendiri.
__ADS_1
Diva melayani suaminya dan juga kali ini melayani Ricardo mengambilkan nasi dan lauk pauknya sikembar seperti biasa tidak mau dilayani. Ricardo benar benar merasa terharu. Kemudian mereka pun makan dengan nikmat. Setelah selesai makan mereka berkumpul diruang keluarga Ricardo diperlakukan seperti keluarga oleh mereka.
"Andai saja orang tua saya seperti ini, sudah pasti saya tidak akan kekurangan kasih sayang, dan tidak merasakan kesepian," batin Ricardo.
Jam sembilan malam mereka pun masuk kekamar masing-masing, terutama sikembar yang akan bangun awal esok pagi. Darmendra memeluk istrinya dari belakang dan menempelkan dagunya dipundak istrinya.
"Sayang, aku lihat teman sikembar beberapa kali menitiskan air matanya," kata Darmendra.
"Iya hubby, karena ia tidak pernah seperti itu dengan keluarganya, dia kekurangan kasih sayang, hubby. Itu sebabnya ia merasa terharu dengan perlakuan kita terhadapnya." ucap Diva.
Hubby tidak marah kan, kalau aku memperlakukan anak itu seperti sikembar?" tanya Diva.
"Tidak, aku tau sayang begitu baik pada orang lain," jawab Darmendra.
"Takutnya hubby cemburu," ucap Diva.
"Cemburu suami kepada istrinya itu wajar tapi harus ada tempatnya juga, kata orang cemburu tandanya cinta, tapi bukan cemburu buta," ucap Darmendra.
Diva berbalik menghadap ke suaminya dan mengecup kening suaminya, Darmendra tersenyum.
"Hubby harus percaya padaku, bahwa hati ini hanya untukmu seorang, mungkin cinta dan kasih sayang bisa terbagi untuk anak anak tapi hati dan tubuh ini hanya untuk hubby tersayang," kata Diva membuat Darmendra merasa berbunga bunga.
"Kita naik gunung yuk," ajak Darmendra dan Diva pun mengangguk.
"Capek?" tanya Diva, Darmendra menggeleng.
"Aku mau lagi," jawab Darmendra.
"Dikamar mandi aja yuk sekalian mandi," ucap Diva. Tanpa aba-aba Darmendra menggendong Diva kedalam kamar mandi, Darmendra mengisi bathtub dan memberinya sabun cair aroma terapi agar lebih nyaman, wangi aroma terapi dapat menenangkan. Keduanya yang memang sudah sama-sama ingin naik ke gunung pun melakukan pendakian sekali lagi, kali ini sedikit lebih lama baru mereka sampai kepuncak.
"Aku sangat bahagia hubby, semoga rumah tangga kita akan tetap kekal seperti ini," ucap Diva.
"Aku berharap juga begitu, dan semoga tidak ada orang ketiga diantara kita," kata Darmendra.
"Kadang aku merasa berdosa dan juga egois karena tidak memberitahukan yang sebenarnya kepada sikembar, bahwa aku ini bukan ibu kandung mereka," ucap Diva sendu.
"Biarkan saja mereka tidak tahu, aku tidak ingin mental mereka terganggu. Tidak apa-apa kita menjadi orang tua yang egois, semua demi kebaikan mereka." ucap Darmendra.
Diva pun bangkit dan menghidupkan shower lalu mengguyur tubuhnya hingga busa sabun menghilang. Darmendra mengikutinya dan memeluk Diva sambil disiram dengan air hangat, keduanya mandi saling berpelukan.
Setelah selesai mandi keduanya berpakaian lalu berbaring diatas ranjang setelah mengeringkan rambut mereka. Kemudian keduanya pun tertidur sambil berpelukan.
__ADS_1
Keesokan harinya...
Sikembar sudah terbangun padahal hari masih gelap, jam 5 pagi matahari belum terbit dari ufuk timur. Tapi sikembar sudah bersiap siap untuk pergi ke sekolah, pelayan mengantarkan baju seragam milik Ricardo, yang pastinya sudah dicuci dan disetrika.
"Yuk bang kita turun kebawah," ajak Ram, karena Ricardo tidur sekamar dengan Ram.
Saat tiba dimeja makan, Diva sudah berada disana sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
"Pagi Mom," sapa Ram.
"Pagi Tante," sapa Ricardo.
"Pagi, kalian sudah bangun? Yang lain mana?" tanya Diva.
"Sedang bersiap siap Mom, mungkin sebentar lagi mereka turun," jawab Ram, benar saja keenam saudaranya sudah rapi dan siap untuk pergi kesekolah.
"Selamat pagi Mom," sapa sikembar serentak.
"Pagi sayang," sapa Darmendra, lalu mencium pipi Diva.
"Hubby depan anak anak," ucap Diva. Sikembar tidak peduli mereka sudah terbiasa dengan situasi seperti itu, tapi bagi Ricardo jarang melihat pemandangan seperti itu, ia sendiri tidak tahu kehidupan Papa dan Mamanya seperti apa?
"Selamat pagi semuanya," sapa Vera.
"Selamat pagi Oma Opa," jawab sikembar.
"Bagaimana tidurnya sayang," ucap Vera sambil mengelus rambut Ricardo. Lagi lagi Ricardo dibuat terharu dengan perlakuan keluarga ini.
Diva dibantu pelayan menata makanan dimeja, Diva melayani suaminya dan juga Ricardo, sedangkan Vera melayani suaminya juga. Sikembar jangan ditanya, sudah pasti mereka mau sendiri.
Setelah selesai sarapan sikembar pun pamit untuk pergi kesekolah, sikembar mencium tangan Daddy dan Mommy nya serta Oma Opanya juga, hal itu ditiru oleh Ricardo yang melakukan hal yang sama seperti sikembar. Sikembar diantar oleh supir karena mereka tidak ingin telat untuk tiba disekolah.
Setibanya disekolah, mereka langsung masuk. Tapi sebelumnya mereka mengatakan pada Agus agar tidak usah dijemput nanti. Karena mereka akan pulang menggunakan skuter.
Jam pelajaran masih setengah jam, jadi sikembar bisa lebih santai. Karena hari ini mereka sedang melaksanakan ujian Nasional untuk hari berikutnya.
Tidak berapa lama bel sekolah pun berbunyi, pertanda jam pelajaran akan segera dimulai.
Bu Tessa masuk dengan membawa kertas ujian nasional. Bu Tessa tersenyum manis melihat anak anak begitu semangat akan mengikuti ujian Nasional selanjutnya.
.
__ADS_1
.
.