
.
.
.
Sementara disebuah apartemen, seorang wanita sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu anak buahnya yang dikirim untuk memata matai sikembar. karena wanita itu mendapat informasi bahwa sikembar adalah cucu dari orang yang ia cintai sekaligus ia benci. wanita itu menerawang pada kejadian puluhan tahun lalu sewaktu ia masih kuliah.
Flashback...
"Tooolloonng....!" teriak Serena, saat ini dirinya sedang dikepung oleh beberapa seniornya. Serena berusaha melepaskan diri dari cengkraman tiga lelaki itu.
"Tolong, lepaskan aku," Serena terus memohon untuk dilepaskan, seniornya yang bernama Nathan menyentak pakaian yang dikenakan oleh Serena. Nathan menyeringai melihat bahu mulus milik Serena.
"Sekarang kamu tidak bisa lagi menolak aku," seringai jahat Nathan.
Ya Nathan sudah lama menyukai Serena, bahkan mereka sempat pacaran. tapi Serena mulai berubah sejak kehadiran Jordan. Serena terus berusaha mendekati Jordan, tapi Jordan selalu menghindar. karena Jordan sudah punya kekasih yang bernama Vera.
Serena terus memohon untuk dilepaskan, tapi Nathan seolah olah tuli. kebetulan Jordan lewat dan mendengar jeritan Serena, iapun segera menolong Serena. walau bagaimanapun Jordan bukan pria breng**k yang tega membiarkan seorang wanita dilec*hkan.
Buggh...satu pukulan mendarat tepat diwajah Nathan sehingga bibirnya berdarah. Nathan tidak tinggal diam lalu membalas pukulan tersebut. akhirnya perkelahian pun terjadi antara tiga orang melawan satu orang.
Jordan yang memang ahli beladiri dalam taekwondo dan pemegang sabuk tertinggi tentunya sangat mudah untuk mengalahkan lawannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jordan.
"Untung ada kamu, kalau tidak sudah pasti aku...." Serena tidak dapat meneruskan kata katanya. ia menangis dan hendak memeluk Jordan, tapi Jordan dengan cepat menghindar dan berlalu dari situ.
"Lain kali hati hati," ucap Jordan tanpa menoleh. Sejak saat itu, Serena yang memang sudah mencintai Jordan selalu berusaha untuk mendapatkan hati Jordan, walaupun dengan cara curang. Serena bahkan selalu memfitnah Vera, padahal sebelumnya Vera adalah teman baik Serena.
Hingga suatu hari Serena mengungkapkan perasaannya kepada Jordan, tapi jawaban Jordan begitu menyakitkan. tapi anehnya Serena tidak menyerah untuk mendapatkan Jordan, apalagi Serena tau kalau Jordan adalah pewaris tunggal keluarga Henderson.
Dalam pada itu Serena juga sering gonta-ganti pasangan diatas ranjang. itulah alasan mengapa Jordan seolah jijik dengan Serena, bagi Jordan wanita seperti itu tidak ubahnya seperti sampah. Tapi lambat laun ambisi Serena untuk memiliki Jordan semakin kuat, tapi hanya untuk balas dendam.
Flashback end...
"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Serena pada orang suruhannya, pria itu meletakkan amplop coklat keatas meja.
"Bacalah sendiri," jawab pria itu, Serena pun membuka amplop tersebut, ada foto bocah tampan disana.
"Hmmm jadi benar informasi itu, kalau bocah ini cucu Jordan?" tanya Serena.
"Benar nyonya. bahkan mereka kembar tujuh." jawab pria itu.
"Aku ingin kamu culik mereka, dan bawa kemarkas kita." Serena.
__ADS_1
"Baik nyonya," jawab pria itu lalu undur diri dari hadapan Serena.
"Aku ingin melihat kehancuranmu Jordan, gara gara kamu aku menjadi jal**g." Serena.
(Ye salah sendiri malah nyalahin orang lain)
Serena tertawa jahat, karena sebentar lagi usahanya untuk membuat Jordan menderita akan segera terwujud.
"Aku kembali, Jordan," seringai Serena.
Sementara sikembar sedang berkumpul dikamar Ray, mereka berdiskusi tentang orang yang selalu mengintai mereka.
"Apakah orang itu akan berniat jahat pada kita?" tanya Ram.
"Biar apapun kita harus tetap waspada, instingku mengatakan kalau orang itu ada niat jahat," Ren.
"Perlukah kita beritahu Daddy?" tanya Roy.
"Sebaiknya jangan, kalau kita beritahu Daddy otomatis Mommy akan risau dan itu bisa mempengaruhi kehamilan Mommy," Rakha.
"Lalu bagaimana dengan yang akan kita ciptakan?" tanya Raffa.
"Besok kita akan membuatnya, besok kan weekend jadi kita libur," Rasya.
"Sebaiknya kita percepat, kita tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi nanti?" Ray.
"Oh ya, jam tangan kita harus diperbaharui dan dibuat lebih canggih lagi." ucap Ray lagi.
Mereka pun bekerjasama membuat alat yang bisa untuk mengalahkan musuh nantinya. serta alat yang bisa melacak keberadaan korban tanpa menggunakan alat pelacak.
Dikamar sebelah, Darmendra dan Diva masih tertidur sambil berpelukan. Diva merasa sangat nyaman didalam dekapan suaminya. Apalagi Darmendra, keadaan seperti ini adalah kesempatan baginya walaupun tidak ngapa ngapain, tapi sudah cukup membuat Darmendra senang. Darmendra belum pernah merasakan sebahagia sekarang. dulu sewaktu bersama Monalisa, Darmendra tidak pernah menyentuhnya apalagi sampai memeluknya. perlahan Darmendra membuka matanya dan melihat diva masih tertidur pulas, Darmendra tersenyum.
"Kebahagiaanku adalah kalian, bukan harta yang berlimpah." batin Darmendra.
Perlahan Darmendra mengelus pipi diva dengan lembut, tapi Diva sama sekali tidak terusik. Darmendra mendekatkan bibirnya pada bibir Diva dan mengecupnya berulang ulang. Diva tetap tidak terusik sama sekali.
"Pasti kamu sangat kekenyangan ya sayang, hingga tidurmu pun tidak terusik. kalau kamu lapar pasti kamu bangun," gumam Darmendra. Lalu Darmendra bangkit dengan perlahan, dan berniat untuk mandi, tapi belum sempat ia bangkit pinggangnya sudah ditahan oleh tangan Diva. Darmendra kembali tersenyum.
"Divya Dewi Aurora, aku mencintaimu," bisik Darmendra ditelinga Diva.
"Aku juga mencintaimu, hubby." jawab Diva, tapi matanya masih tertutup rapat.
"Kamu bermimpi sayang?" tanya Darmendra, tapi tidak ada jawaban.
"Lucu banget sih istriku, jadi makin gemas," bisik Darmendra, lalu mencium pipi Diva dengan lembut. Darmendra melirik jam yang ada didinding, ternyata sudah pukul 5 sore. Darmendra tetap membiarkan Diva memeluk pinggangnya. lalu iapun membalas pelukan tersebut. semakin membuat Diva mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Sayang, sudah sore mandi dulu yuk nanti kita beli martabak manis," bisik Darmendra.
"Ha...ayo hubby cepat," ucap Diva yang spontan bangun dari tidurnya.
"Kita mandi dulu yuk," ajak Darmendra.
"Hmmm...malas ah," Diva.
"Nanti bau loh kalau tidak mandi," Darmendra.
Diva mengendus-endus tubuhnya, "tidak bau,"
"Ayo sayang, nanti kita ajak sikembar, besok kan weekend," Darmendra.
"Hmm... gendong..!" Diva merentangkan kedua tangannya seperti anak kecil yang minta dimanja oleh ayahnya, dengan senang hati Darmendra menggendong Diva dan membawanya kekamar mandi, keduanya berendam didalam bathtub.
Diva dengan senang hati bermain busa sabun yang melimpah didalam bathtub tersebut, sesekali ia melemparkannya kemuka Darmendra. Diva dan Darmendra tertawa riang seperti anak kecil mendapatkan mainan baru.
"Kapan kita periksa ke dokter, sayang?" tanya Darmendra.
"Dua Minggu lagi hubby." jawab Diva.
"Masih lama ya?" Darmendra, Diva pun mengangguk saja. Dan malah asik mengusap usap dada bidang milik Darmendra.
"Kamu suka sayang?" tanya Darmendra, Diva mengangguk.
"Apa yang kamu suka?" tanya Darmendra lagi.
"Entahlah, aku suka aja," jawab Diva masih mengelus dada bidang milik Darmendra.
"Satu ronde yuk sayang," ajak Darmendra, Diva menggeleng.
"Kenapa?" tanya Darmendra.
"Nanti malam aja ya, sekarang kita mau beli martabak manis," Diva.
"Iya ya, tapi sikembar belum diberitahu," Darmendra.
"Setelah kita mandi kita akan ajak mereka," Diva.
.
.
.
__ADS_1