
.
.
.
"Mau apa kalian?" tanya Ray dengan nada dingin, preman itu nyengir seolah mengejek sikembar.
"Serahkan uang kalian, kami tahu kalian banyak uang," ucap bos preman itu.
"Baik, jika kalian bisa mengalahkan kami maka kalian boleh ambil semua uang kami." Ram.
"Hahaha," preman itu tertawa, mereka semua mengejek anak kecil kepada sikembar.
"Heh bocah, kami ini preman yang terkuat di kota ini," ucap bos preman itu.
"Kalau Paman preman yang terkuat di kota ini, bagaimana dengan kami yang terkuat di dunia ini," Ren.
"Hahaha, anak kecil saja belagu." ucap si A.
Sedangkan didalam mobil sudah gemetar karena sikembar akan melawan preman tersebut, sopir itu takut anak itu kenapa kenapa.
Ram mengunyah satu permen karet dan diam diam menempelkannya dimotor preman tersebut. kemudian Ram berpindah lagi ketempat semula. Sikembar perlahan mundur beberapa meter dari preman tersebut dan...
Duar... satu buah motor meledak, ketujuh preman itu kaget karena tiba-tiba motor mereka meledak dan terbakar.
"Motorku, itu motorku," teriak bos preman tersebut.
"Bagaimana bisa meledak bos?" tanya si B.
Bos preman itu tidak menjawab ia berlutut di aspal menghadap kearah motornya yang sudah terbakar. Bos preman itu menangisi motornya.
"Bos preman nangis, katanya terkuat di kota ini ternyata cengeng," ejek Ren.
"Apa itu ulah kalian?" tanya bos preman itu.
"Itu baru satu, bagaimana kalau semuanya meledak?" Ram.
"Apa maksud kalian, bocah?" tanya bos preman itu.
"Tidak ada maksud, kami hanya memberi peringatan kecil untuk kalian," Ray.
"Habisi saja mereka," perintah bos preman itu.
__ADS_1
"Coba saja kalau bisa," tantang Ren, Preman itu maju hendak menangkap sikembar dan membunuh mereka.
"Kalau kalian lelaki sejati mari satu lawan satu," ucap Ram.
Preman itu yang sudah dikuasai amarah pun menyerang sikembar. Tentu saja sikembar dengan senang hati meladeni mereka.
Bos preman itu menendang Ram, tapi dengan gesit Ram menghindar sehingga bos preman itu hanya menendang angin.
"Tidak kena," ejek Ram, bos preman itu semakin tidak terkendali, ia kembali menyerang Ram dengan membabi buta.
Sementara yang lain juga sedang bertarung, preman itu ternyata cukup kuat tapi sikembar juga bukan orang lemah. Perlawanan sengit pun terjadi, sikembar awalnya cuma menghindar dari serangan preman itu, tapi sekarang mereka melakukan perlawanan. Hingga satu persatu preman itu jatuh terkapar diaspal. Ram masih melawan bos preman tersebut, sedangkan saudara saudaranya sudah berhenti dan hanya menjadi penonton saja. melihat pertarungan antara Ram dengan bos preman.
Ram bersalto mengangkat kakinya menendang kearah bos preman itu. Tendangan Ram tepat mengenai dada preman itu.
Bos preman itu terpental beberapa meter, dengan nafas ngos-ngosan ia melihat anak buahnya sudah terkapar diaspal, dengan santai Ram mendekat dan menendang dagu preman itu.
"Aaakh," preman itu menjerit, sekarang ia sudah tidak berdaya. mau bangun pun rasanya sudah tidak sanggup lagi.
"Aku kapok, ternyata mereka bukan anak kecil biasa," gumam preman itu.
"Jika kalian masih mengganggu orang lain maka kami tidak akan segan segan menghabisimu," ancam Ray.
Sebelum pulang mereka meletakkan permen karet kesetiap motor preman itu.
Sopir taksi itu tidak sadar kalau sikembar sudah masuk kedalam mobil.
"Ehh, iy... iya den," ucap sopir itu gugup, ia seperti bermimpi melihat tujuh anak kecil yang begitu hebatnya melawan para preman tersebut. Baru beberapa ratus meter taksi itu berjalan tiga ledakan beruntun pun terdengar.
"Jangan dipedulikan Paman, anggap saja angin lalu," kata Ram santai.
Tidak berapa lama kemudian mereka tiba di depan gerbang mansion, penjaga membuka pintu gerbang dan memberi jalan untuk taksi itu masuk hingga kedepan pintu mansion.
"Ini rumah atau istana, megah banget," batin sopir itu, ia merasa kagum dengan mansion tersebut.
Setelah sampai didepan pintu, sikembar pun keluar dari mobil dan membayar ongkos taksi tersebut yang entah berapa jumlahnya, yang pasti sopir itu menangis karena terharu akan kebaikan anak anak tersebut.
"Akhirnya aku mendapatkan uang sebanyak ini untuk biaya istriku," gumam sopir taksi itu.
Setelah mengucapkan terimakasih berkali kali akhirnya sopir taksi itu pergi. Tidak lupa sikembar juga memberikan sedikit belanjaan mereka kepada sopir taksi tersebut.
Sopir taksi itu pulang kerumah dengan perasaan campur aduk, antara takut senang terharu dan bahagia. Takut karena tadi sempat dihadang oleh tujuh preman, senang karena dapat penumpang tujuh anak kecil yang ternyata berhati malaikat, terharu karena masih ada orang sebaik itu, bahagia karena dapat uang untuk biaya istrinya.
"Kalian sudah pulang?" tanya Vera yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu sambil nonton televisi.
__ADS_1
"Iya Oma, tadi kami singgah sebentar ke supermarket membeli ini," Ram menunjukkan belanjaan mereka.
"Sekarang kalian mandi dulu ya, Mommy kalian akhir akhir ini selalu khawatir dengan kalian," ucap Vera.
"Ehh cucu Opa sudah pulang? beli apa tuh?" tanya Jordan.
"Beli cemilan Opa, Opa mau?" tanya Ram.
"Mau dong, makannya sambil santai," jawab Jordan.
Pelayan datang untuk mengambil belanjaan sikembar dan menyimpannya.
"Bibi kalau ingin makannya jangan sungkan, makan saja ini banyak kok nanti kalau habis bisa beli lagi," Roy.
"Baik tuan kecil, bibik menyimpan ini dulu ya tuan kecil," ucap pelayan itu lalu undur diri dari hadapan majikannya yang dinilai sangat baik hati.
"Kita kekamar dulu ya Opa, mau mandi habis itu istirahat," Ram.
"Baiklah, nanti makan malam kalian turun ya," Jordan.
Lalu sikembar mencium pipi Omanya dan Opanya, setelah itu mereka naik keatas menuju kamar mereka masing-masing.
Sikembar kalau mereka yang mencium, mereka mau tapi kalau mereka yang hendak dicium mereka tidak mau.
Bagaimana dengan nasib para preman itu? jangan ditanya sudah pasti mereka kapok kalau berurusan dengan bocah monster berwajah cute and cool tersebut. Tampang polos mereka bisa saja menipu para musuhnya, apalagi motor kesayangan mereka hancur karena ulah sikembar. Sadis bukan?
Sikembar kini sedang mandi, setelah selesai mandi dan berganti pakaian sikembar menemui Mommy mereka dikamar sang Daddy. Sikembar mengetuk pintu tak berapa lama pintu pun terbuka, Ram yang lebih dulu menerobos masuk, langsung mencium perut buncit Mommy nya,
"Abang mau cium adek," ucap Ram sambil menempelkan wajahnya keperut Diva.
Diva tersenyum melihat tingkah laku anak kembarnya, saudara saudaranya yang lain juga melakukan hal yang sama seperti Ram.
"Ehh adek gerak gerak Mom," ucap Ray, bocah yang selalu banyak diam dan jarang sekali berbicara.
"Tentu, karena adek senang dicium oleh Abang," jawab Diva.
Darmendra mengusap air matanya yang tanpa sadar jatuh dari sudut matanya, air mata bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Semoga kebahagiaan selalu melimpahi keluargaku," batin Darmendra.
.
.
__ADS_1
.